Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah : Pria berbaju hitam


__ADS_3

"Laras, apa itu benar dirimu?!" kata pria berpakaian serba hitam itu dihadapan Laras.


Laras tidak menjawab. Dia hanya diam sembari menyelidik terhadap sosok pria dihadapannya kini. Beberapa ngengat beterbangan dibalik punggung si pemuda berambut cepak tersebut. Dibawah setelan hitam yang dipakainya, tidak ada hal lain yang mencolok dari sosoknya.


"Kamu siapa?"


"Kau bertanya aku siapa?"


"Ya! Siapa kamu? Kenapa kau tahu namaku?"


"Apa yang membuatmu melupakan ku?! Aksara kah?!" geram pria itu. Sebuah bayang hitam menyerupai sayap muncul dibalik punggung pria dihadapan Laras itu. Hawa hitam menyeruak dari seluruh bagian tubuhnya.


"Siapa kau sebenarnya???" Laras semakin menekankan kata-katanya.


Pria dihadapan Laras mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan gejolak emosi yang meluap akan ingatannya pada kejadian di lembah tanpa nama yang sempat menenggelamkan jiwanya ke dalam kegelapan.


"Apa begitu mudahnya untuk mu melupakan ku?!"


"Ya!" tegas Laras akan pertanyaan yang diajukan pria yang kini semakin melebarkan rentang sayapnya yang berupa kepulan asap berwarna hitam itu. Menelan semua cahaya yang ada disekitar Laras dan membuat semuanya menjadi begitu gelap.


Laras membuka matanya perlahan. Melihat ke sekelilingnya. Melihat gorden pada jendela kamarnya terkibaskan angin yang masuk melalui sela ventilasi pintu kamarnya.


"Mimpi?!" gumam Laras. Gadis itu menepuk-nepuk wajah itu dengan kedua tangannya. "Cerita itu terbawa sampai ke mimpi."


Laras kembali menarik selimutnya. Membenamkan wajah itu pada bantal dihadapannya dan melanjutkan tidurnya dengan damai. Cahaya matahari yang mulai menyeruak melalui celah jendela kamar, tidak menyurutkan niat Laras untuk melanjutkan tidurnya.


Baru 5 menit memejamkan matanya, bayangan Rein terdorong pada lembah yang kelam dan curam menyita pikiran Laras.

__ADS_1


"Rein!" teriak Laras dan suara lainnya dalam bayangan itu.


Laras kini terperanjat. Dia mengacak-acak rambutnya karena tiba-tiba memikirkan hal yang tidak ingin dia pikirkan.


"Ini hari minggu, Laras!" ujarnya pada diri sendiri. "Nikmati hari mu! Dan nikmati liburanmu!" Laras kembali lagi merebahkan kepalanya pada bantal dibelakangnya.


Menatap langit-langit kamarnya, lalu memejamkan matanya untuk kesekian kalinya. Kini wajah pria dalam mimpinya menyita pikiran Laras. Sayap berwarna hitam pekat, setelan hitam dari atas sampai bawah, dan wajahnya yang terbungkus topeng tengkorak yang sangat nyata.


"Aaakh!!" Laras kembali membuka matanya. Bayangan terkahir dari wajah pria yang dimimpikannya membuat Laras kembali merasa dihantui untuk tidak bisa melewati hari minggu pagi dengan melanjutkan tidurnya.


Laras bergegas mengambil handuk dan menggantungkan handuknya itu pada bahunya. Dia melangkah santai keluar dari dalam kamarnya. Duduk di teras kamar lalu memandangi halaman rumahnya yang nampak begitu semerawut. Padahal baru beberapa hari yang lalu warga sekitar bergotong royong untuk membersihkan rumahnya yang ditumbuhi semak belukar.


Detak suara jam dinding membuat keheningan yang Laras nikmati, menjadi kabur. Dia melihat ke sekitar dengan heran guna mencari arah suara detak jarum jam dinding itu. Mendapati sebuah jam dinding terpasang pada tembok di sisi kanan bangunan itu membuat Laras berpikir bahwa temannya lah yang membawa dan memasang jam itu pada dinding rumahnya.


"Kenapa semalam aku tidak menyadarinya." gumam Laras. Dia bangkit dari duduknya. Tatapannya terarah pada halaman belakang bukit sekolah yang menjulang dan terlihat jelas dari teras depan halaman rumahnya. "Ayo kita kesana!" Laras menuding.


"Kalau ini benar dirimu...lalu siapa dia yang wajahnya begitu mirip dengan wajahmu..."


"Mungkin cuma perasaanku saja!" gumam Laras melanjutkan aktifitasnya.


Laras melangkah perlahan melewati jalanan yang dulu dia lewati untuk berangkat ke sekolah SMA nya. Dimana jalanan ini selalu ia lewati menggunakan sepeda tua pemberian kakeknya. Sayangnya sepeda itu kini sudah karatan dan dan tidak bisa digunakan lagi. Jadilah Laras menikmati minggu paginya dengan berjalan kaki menuju bukit belakang halaman sekolahnya.


Jalanan yang ia lewati terasa semakin rindang begitu memasuki jalanan utama dan jalanan satu-satunya menuju sekolahnya di masa SMA. Di ujung jalanan utama sebelum gerbang sekolah, Laras berbelok menaiki jalanan setapak untuk menghindari cahaya matahari yang bersinar dengan cukup terik di pagi ini.


Langkah Laras sudah memasuki halaman parkiran bukit. Dimana pada halaman parkir itu, hanya ada hamparan padang rumput yang cukup luas. Mendongak ke bagian atasnya, Laras menemukan sebuah pohon tua yang menjadi icon dari bukit tersebut. Pohon itulah yang menjadi puncak utama bukit ini. Jika melihat keindahan alam sekitar dari bawah pohon itu, kita akan disajikan tiga pemandangan yang berbeda. Sisi depan yang menyajikan keindahan alam berupa perbatasan jurang dan perbukitan lainnya. Sisi samping kanannya yang memperlihatkan keindahan sebuah perumahan dan perkotaan. Sisi yang menghadap belakang yang memperlihatkan keindahan dan kemegahan tatanan bangunan sekolah SMA bernama SMA Kenanga.


Sebelum menuju jalanan tanjakan berbatu yang menjadi jalan utama untuk sampai ke pohon itu, Laras tanpa sengaja melihat sesosok pria yang duduk dibawah pohon disisi samping jalanan setapak berbatu itu. Dia mengenakan pakaian serba hitam dengan leher baju yang tinggi menutupi sampai bagian lehernya. Rambutnya cepak tapi tidak terlalu pendek sama seperti pria dalam mimpinya. Laras bermaksud menghentikan langkahnya untuk melihat kembali sosok pria itu. Namun Laras mengurungkan niatnya begitu pemuda itu berpaling menoleh ke sampingnya. Atau lebih tepatnya lagi menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Laras menunduk dengan terus melanjutkan langkahnya. Dia menaikan kembali sisi kerah jaket yang dipakainya sehingga sampai menutupi setengah bagian wajahnya. Dia berfokus pada langkahnya sampai tidak menyadari kalau langkah lain tengah mengikuti dirinya dari arah belakangnya.


Satu langkah kaki Laras menaiki satu tangga pada jalanan setapak berbatu itu, satu langkah lain dibelakang kembali mengikuti tindakan Laras itu. Begitupun pada langkah-langkah Laras berikutnya. Sampai di ujung puncak bukit itu, Laras berdiri puas diujung jalanan. Menghalangi langkah berikutnya dari sosok yang juga mengikuti langkah Laras dari belakangnya.


Laras merentangkan tangannya. Menyambut angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya dan mengibaskan rambut itu ke belakangnya. Rambut yang terkibas itu disambut dengan senyuman kecil oleh sosok dibelakangnya.


"Manis." katanya yang langsung mengalihkan tubuh Laras untuk reflek menoleh ke arah belakangnya.


"Maaf!" ucap Laras terdiam kaku.


Pria itu akhirnya melewati Laras, lalu mencari posisi duduk dibawah pohon dihadapannya. Sebuah topi yang dibawanya sedari tadi ia gunakan untuk menutupi sisi wajahnya yang langsung ia pejamkan.


"Sekali lagi, maaf."


"Tidak masalah." jawabnya. "Aku yang tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti langkahmu sampai ke atas sini." tambahnya dengan wajah yang masih tertutupi oleh topi yang dibawanya.


"Topi yang bagus." ujar Laras basa-basi.


"Ya! Topi ini hanya ada di dunia."


Laras mengangguk. Topi itu berwarna abu dengan sisi topi memiliki list warna hitam. Pada bagian depan topi terdapat tulisan berwarna emas.


"Amor?!" gumam Laras yang tanpa sadar menyebutkan tulisan berwarna emas pada topi itu keras-keras.


"Menyatu!" jawab pria itu. Dia menurunkan topinya sampai kebagian dadanya. Menatap Laras lekat-lekat. Lalu tersenyum dengan santai. "Amor yang bisa berarti cinta, tapi makna amor dari tulisan ini artinya menyatu."


"Menyatu?!" Laras tertegun.

__ADS_1


"Ya! Menyatu!" suara parau itu membalas dibalik senyum sang pria.


...***...


__ADS_2