Abu-Abu

Abu-Abu
Lembah Abu-abu, Lembah tak bertuan


__ADS_3

"Bebaskan semua kutukan kami!!"


"Bawa dia yang terlarang kembali..."


"Biarkan dia menjalankan takdirnya!!!!"


"Dia harus kembali menjadi abu!"


"Dia tidak pernah ada. Sosoknya tidaklah nyata."


"Dia mengambil terlalu banyak hak hidup."


"Abadikan dia dalam kegelapan."


jiwa hitam lembah abu-abu meronta. Memberontak dan membuat keadaan lembah abu-abu menjadi tidak terkendali dalam beberapa waktu. Jiwa putih dan Abu-abu hanya terus mengitari tempat tanpa terpengaruh semua kemarahan dan kebencian dari jiwa hitam pada lembah abu-abu. Masing bergerak kearah yang tidak menentu. Ada yg berputar-putar mengelilingi tempat di sekelilingnya. Ada yang hanya berdiam pada tempatnya. Ada pula beberapa yang dengan riangnya mengitari pohon tua yang menjadi pusat lembah abu-abu.


"Apa yang kalian ributkan!" sosok sang penjaga menghentak keras. Membuat tempat itu sedikit bergetar dan mengalihkan semua pandangan pada sosoknya.


"Kau mengkhianati kami!"


"Kau biarkan dia yang terlarang berkeliaran bebas!"


"Kalianlah yang mengkhianati tempat ini." ujar sang penjaga.


Kalimatnya menggema disekitar lembah. Semakin mengalihkan pandangan semua bayang abu dan putih pada sosoknya yang kini tengah dihakimi oleh semua jiwa hitam di lembah itu.


"Dia hanya harus menyelesaikan semua tugasnya. Dia harus menyelesaikan waktu penebusannya untuk bisa kembali."

__ADS_1


Sosok sang penjaga mengepalkan tangannya. Mengingat bagaimana sosok Laras dengan tatapan tajamnya. Bola matanya yang berwarna merah terang memperlihatkan, sebanyak apa kehancuran yang bisa terjadi pada kejadian sore itu.


Dia kembali fokus, meratap ke dua jiwa abu-abu yang mana salah satunya termakan dendam dan kebencian, dan jiwa yang satunya terlalu memiliki keinginan bersama jiwa penuh kebencian itu. Membuat sosok mereka menjadi ambigu. Tidak putih juga tidak hitam tapi tidak bisa menjadi tegas. Mereka hanya akan menjadi jiwa berwarna abu dengan semua ketidakjelasan keinginan mereka berada disini.


"Itu jauh lebih baik dari pada mereka...." dia menatap jiwa hitam yang kembali melayang-layang. Dan jiwa putih seketika menjelma menjadi sosok seperti bayangan manusia yang hanya menampilkan bagian mata dan mulut yang utuh.


"Apakah dia mau kembali?"


"Apa benar kalau mereka mengalahkannya?"


"Apakah dia tidak memberontak?"


"Seperti waktu itu."


Semua bayang putih menunjuk waktu pada batu yang muncul setelah masuknya Laras ke lembah itu. Jarum pada batu itu berputar perlahan. Sangat pelan. Tidak sepadan dengan laju waktu yang berjalan ditempat itu. Berbeda pada ingatan para bayangan putih yang kembali untuk melihat bagaimana semuanya bermula. Kenapa lembah abu-abu ini tidak mampu ditinggalkan oleh mereka, para jiwa hitam, putih dan abu-abu.


//


Ada banyak jiwa yang datang dan pergi penuh dengan kegembiraan saat melewati tempat itu. Walau hanya sekedar menjadi tempat untuk lewatnya beberapa jiwa, tempat itu membuat iri beberapa jiwa yang salah jalan setelah memasuki tempat itu.


Dalam perjalanannya, para jiwa yang melewati tempat itu akan menemukan tiga pintu untuk mereka pilih. Itu adalah pilihan terakhir dari para jiwa yang melewati lembah. Satu pintu menuju kebahagiaan yang utama. Pintu yang lain memberi kesempatan memperbaiki apa yang masih belum dicapai. Sementara pintu terakhir, membawa setiap jiwa pada kegelapan tak berujung.


Hari itu menjadi hari tak biasa. Ada begitu banyak jiwa yang tiba-tiba melewati tempat itu. Anak-anak, remaja, dewasa, lansia. Mereka orang-orang yang meninggal dalam insiden tidak terduga. Mungkin itu sebuah bencana alam dan hal yang membuat kematian tidak biasa pada begitu banyak orang. Beberapa orang tua ada yang berjalan sendiri dengan tenangnya. Beberapa lainnya nampak kebingungan dengan menggandeng tangan anak, saudara, suami, ataupun anggota keluarga mereka.


Dipertengahan jalan, seorang wanita setengah baya menghentikan langkahnya dengan bingung. Dia seperti ketakutan dalam perjalanannya dengan menggandeng seorang anak laki-laki yang begitu polosnya.


_Mungkin dia tidak menyadari kalau dirinya telah meninggal_ batin sang penjaga tanpa sayap kala itu. Dia menatap mata anak laki-laki yang nampak se'senang dirinya ditempat itu. Anak laki-laki itu tersenyum lembut dan dibalas oleh sang penjaga.

__ADS_1


"Nona! Taukah anda dimana jalanan ini akan berujung?" tanya sang wanita paruh baya. Sejenak dia memperkuat genggaman tangannya pada bocah laki-laki yang hendak kabur dari pegangan tangannya.


Sosok sang penjaga tidak terlalu memperhatikan pertanyaan sang wanita paruh baya, dia hanya terus memperhatikan bocah kecil itu yang kembali meronta untuk membebaskan diri. Selain itu, ini juga pertama kali untuk sang penjaga disapa oleh jiwa yang melewati lembah ini.


"Nona..." sapa lagi sang wanita paruh baya dengan tetap menjaga kesopanan tutur katanya. "Jalan manakah yang baiknya saya pilih? Bolehkah saya tahu pendapat nona?"


Sang penjaga menatap penuh makna beberapa saat, sebelum akhirnya menghentikan langkah kedua jiwa itu menuju banyaknya kerumunan jiwa didepan mereka.


"Maukah anda juga tinggal disini?" sang penjaga menghentikan langkah sang wanita. "Dia..." menuding bocah laki-laki yang bersama sang wanita paruh baya, " ... sepertinya dia menyukai tempat ini."


Sang wanita paruh baya langsung mendekap bocah laki-laki itu. Melindungi sosok bocah itu dan menatap sang penjaga dengan ketakutan. Sang penjaga yang tidak melakukan apapun juga, hanya terdiam dengan ekspresi yang ditunjukan sang wanita pada sosoknya. Sang penjaga mundur perlahan dan sesuatu terjadi pada sosok sang penjaga. Itu sudah tahun ke seribu untuknya. Dimana juga merupakan hari dimana dia mendapatkan sayap untuk pertama kalinya. Sayap itu tidaklah sempurna, dia hanya berupa lekukan tulang berbentuk sayap yang terbungkus oleh bulu-bulu tipis keemasan.


Merasakan sesuatu yang kuat menempel pada dirinya, sosok sang penjaga kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat. Sayap itu membuat jiwanya menjadi baru dan berkilau. Dan begitu kesadarannya kembali, jiwa-jiwa yang tadinya sudah memasuki pintu gua batu dihadapan mereka keluar dengan kemurkaan. Menyerang dan mencabik-cabik sayap sang penjaga yang baru saja terjaga dari keheningannya. Sang penjaga tidak mampu melakukan hal apapun. Rasa sakit setiap kali sehelai demi sehelai bulunya yang tercabut membuat sang penjaga lagi-lagi kehilangan kesadarannya. Bangkit dengan kemurkaan, sang penjaga mengepakkan sisa sayapnya yang tersisa. Membuat cipratan bulir-bulir darah kemana-mana. Mengenai dan menyentuh setiap jiwa yang penuh kemurkaan. Membuat setiap sudut dari tempat itu dipenuhi oleh kekelaman.


"Setiap jiwa!" kalimat itu mengglegar diiringi rintihan kesakitan dan gemuruh. Laju awan menjadi tidak menentu, angin bertiup dengan kencangnya. "Atas sayap yang telah hilang pada sayap ku, setiap rasa sakit akan terbayar ditempat ini."


Seketika lembah menjadi kelam. Semua warna menghilang seiring dengan menghilangnya sosok sang penjaga dengan tetesan bulir darah yang membuat setiap jiwa yang murka menjadi bayang-bayang tidak berwujud. Beberapa jiwa lain berubah menjadi abu. Lebih banyak jiwa yang menjelma menjadi jiwa abu-abu. Saat itu hanya terdapat dua bayang putih. Mereka adalah sang anak kecil dan jiwa seorang kakek tua yang berjalan paling akhir pada rombongan jiwa itu. Jiwa kakek itulah yang satu-satunya menyaksikan benar bagaimana lembah itu menjadi lembah kelam bernama lembah abu-abu.


//


"Kegelapan itu datang lagi..."


Salah satu jiwa putih itu menunjuk pada satu jiwa hitam yang berada dibalik batu waktu. Jiwa yang baru pertama kali dilihat oleh sang penjaga berjubah merah maroon.


Sosok jiwa hitam dengan mata merahnya. Satu-satunya jiwa hitam yang berkeliaran tanpa terpengaruh poros waktu. Satu-satunya jiwa hitam yang menjadi titik awal terciptanya lembah abu-abu.


"Dia...." sang penjaga terdiam. Sekilas ingatan terlintas dalam kedipan matanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2