Abu-Abu

Abu-Abu
Dibuat Berdebar-debar


__ADS_3

Minggu Laras yang cerah telah kembali. Hidupnya yang sempat berantakan dan gelap selama beberapa waktu mulai sedikit menemukan gairah untuk dia lanjutkan. Meskipun hal yang akan dihadapi kedepannya tidaklah pasti, Laras yang hari ini sedang bersiap didepan cermin kamarnya untuk kesekolah dikagetkan dengan suara klakson mobil yang terus saja berbunyi dari luar halaman rumahnya.


Bukannya marah, jantung Laras rasanya berdebar tidak karuan. Dia memandangi wajahnya di cermin lalu menepuk-tepuk kedua pipinya dengan gemas sendiri.


"Laras sadar! Dia hanya Eren!" gumamnya yang semakin bersemu merah. Laras segera berjongkok guna menahan semua lonjakan yang terus saja menggelitik seluruh perutnya. Kembali Laras mengatur nafasnya begitu klakson itu kembali berbunyi.


"Iyaa! Aku keluar." jawabnya bersuara lantang. Begitu langkahnya memasuki halaman rumahnya yang cukup lapang, Laras menghentikan langkahnya untuk sesaat. Memastikan ada sosok yang begitu mengisi perasaannya saat ini dan sosok itu kini berdiri didepan mobil itu dengan gagahnya. Laras mengencangkan tali tasnya. Mengatur nafas sekali lagi. Lalu melangkahkan kaki dengan cukup meyakinkan.


"Pagii." sapa pemuda itu pada Laras yang kembali terdiam tidak percaya dengan kehadiran sosok pemuda bernama Eren itu di hidupnya.


"Pagi..." jawab Laras lalu terdiam lagi. Bayang ingatan di pagi kemarin membuat Laras merasakan jantungnya berdebar dengan begitu hebat. Lagi-lagi Laras harus mengatur nafasnya.


"Kenapa wajahmu memerah seperti itu?" Eren menepuk kening Laras dan mendiamkannya beberapa saat. "Tidak panas?!" Eren menaikan satu alisnya. Menatap gadis dihadapannya dengan cukup jahil.


"Kau benar-benar menyukai ku rupanya.." Suara parau itu kembali bersamaan dengan munculnya sosok lain Eren yang mengenakan jubah abu compang camping.


Mendengar kalimat itu, Laras hanya mampu menunduk malu. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya dan apapun rasa yang ia punya saat ini untuk sosok Eren.


"Naiklah. Kita sudah terlambat ke sekolah." Eren membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Laras masuk. Setelah menutup pintu mobil disamping kemudi, Eren menuju kursi pengemudi dan menatap Laras yang tertunduk disampingnya.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar menyukai sosokku yang ini?" suara parau dan sosok lain Eren menyita ruang didalam mobil tersebut.


Sekali lagi, Laras mengatur nafas.


"Bisa kita jalan saja!" ucap Laras tegas. "Bukankah kau bilang tadi kita sudah hampir terlambat!" mata itu menatap dengan berani sosok lain Eren. Kedua tatapan itu beradu dan Laras kalah. Ia menunduk untuk mengatur lagi nafasnya.


Masih begitu gelap dan kelam... batin Laras. Perasaannya mulai campur aduk untuk sosok pemuda disampingnya kini. Setelah beberapa waktu penuh dengan luka dan rasa sepi, kini mendadak Laras merasakan senang yang tidak akan bisa ditukar dengan hal apapun di dunia ini.


"Rasanya duniaku berputar cepat seperti roller coaster saja!" gumam Laras setelah keheningan lama yang ia ciptakan dalam dirinya. Ada banyak hal yang tiba-tiba ingin Laras luapkan dari dalam benaknya yang mengundang tawa dari pemuda dibalik kemudi mobil yang ia tumpangi.


"Hidupmu memang harus berjalan cepat," Eren melirik dan menatap Laras dengan begitu teduh. Dipandangi lama pun, rasanya waktu akan terasa kurang untuk Laras mengagumi tatapan Eren itu terhadap dirinya.


Melihat sosok sang gadis menatapnya dengan terkagum-kagum, Eren langsung menepuk-tepuk kepala Laras lalu merusak tatanan poni gadis itu dengan sangat gemas.


"Mulai hari ini, aku adalah seniormu..." ujar Eren begitu keluar dari dalam mobilnya. Dia mengenakan kaca mata hitamnya dan menyita perhatian hampir seluruh penghuni sekolah yang sedang melintas didekat parkiran area sekolah itu.


Eren menghampiri Laras yang tetap tidak percaya kalau sosok Eren muncul kembali di sekolah dengan cara yang sama anehnya sejak pertemuan pertama mereka.


"Ayo! Bel masuk sudah berbunyi." Eren menarik tangan Laras dan menggandengnya sepanjang perjalanan dari halaman sekolah sampai didepan pintu kelas. Dan sepanjang jalan itu, mereka menjadi pusat perhatian seisi sekolah. Terlebih, kemunculan Eren yang setelah hampir satu semester penuh menghilang dari sekolah tanpa pemberitahuan apapun.

__ADS_1


Ada banyak bisikan tak berarti disekitar Laras dan Eren sepanjang perjalanan mereka, dan Eren santai saja dengan hal itu karena memang selalu menjadi pusat perhatian. Berbeda dengan Laras, walaupun dia benar-benar menyukai hal yang dilakukan Eren terhadapnya, tetapi menunjukannya didepan khalayak ramai sungguh bukan tipenya. Laras tidak suka menjadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan. Rasanya sedikit singkuh, itu sebabnya Laras melepas pegangan tangan Eren tepat didepan pintu kelas dan masuk kelas dengan cepat.


Mengerti dengan sikap yang ditunjukan Laras, Eren memasukan kedua tangannya ke dalam saku dan mengikuti langkah Laras menuju bangku belajarnya dengan santai.


"Apa kau malu-malu memperlihatkan perasaanmu pada orang lain?" bisik Eren ditelinga Laras. Posisi Eren kini sedang membungkukkan setengah badannya dan sisanya tengah bersandar pada bangku belajar disampingnya.


Apa yang dilakukan Eren cukup membuat Laras langsung bersemu merah padam. Dirinya benar-benar merasa malu dengan keadaan yang ada. Terlebih detak jantungnya sudah tidak bisa lagi ia kendalikan. Dan banyaknya tatapan yang tertuju pada dirinya membuat Laras merasakan hal yang tidak pernah ia bayangkan. Laras tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Karena itu, selama ini dirinya cukup merasa leluasa dalam melakukan banyaknya kegiatan di sekolahnya dan cuek terhadap segala hal yang terjadi disekelilingnya. Lalu begitu menjadi pusat perhatian, Laras malah tidak bisa bersikap cuek seperti sebelumnya.


Laras menarik sedikit ujung seragam bagian bawah milik Eren, dia menariknya beberapa kali dan meminta Eren untuk berhenti menggoda dirinya di depan teman-teman sekelasnya.


"Duduklah!" pinta Laras berbisik sambil membenamkan wajah itu di balik tas sekolahnya. "Dan berhenti menggoda ku seperti ini!"


Laras semakin membenamkan wajahnya begitu Eren coba mendekatkan telinganya pada wajah Laras. Hal itu sontak menjadi bahan sorakan teman-teman sekelasnya. Tapi beberapa ada juga yang berdecak kesal dan terlihat iri pada apa yang dialami Laras dengan kejahilan Eren itu.


Merasa sudah cukup puas mengetahui perasaan yang Laras punya terhadap dirinya dan mendapat begitu banyak perhatian dari teman-teman di dalam kelas, Eren lalu bangkit dari bungkuknya dan dengan santai menarik kursi didepan meja Laras lalu duduk dengan mengguratkan sedikit senyum yang terkesan puas dengan hasil dari tindakan yang dilakukannya.


Apa yang disajikan Eren dan Laras mulai dari parkiran sekolah sampai di dalam kelas bukan hanya menjadi pusat perhatian seluruh siswa disekolah itu. Bahkan dua sosok lain yang antara kasat mata dan tidak kasat mata pun tidak melepaskan pandangan mereka pada pagi yang tiba-tiba membawa hawa aneh kedalam circle kehidupan di Sekolah SMA bernama SMA Kenanga. Terutama menyangkut sosok Laras yang mereka tandai sebagai mahkluk terlarang karena kelahirannya yang diluar jalur takdir hidup manusia. Ditambah dengan kedua sosok itu menangkap sosok yang berbeda jauh pada diri pemuda yang mereka juga memanggilnya Eren. Sosok itu bukanlah sosok yang biasa untuk mereka yang sudah beratus tahun lamanya menjalani dan mengalami perjalanan ke berbagai macam pintu dan bertemu dengan begitu banyaknya sosok penjaga. Diantar begitu banyaknya sosok penjaga yang mereka ketahui, tidak banyak penjaga yang seperti sosok yang kini Eren tampilkan. Sosok itu bahkan tidaklah banyak di semesta ini dan sosok yang kini ditampilkan Eren, yang mereka tahu tidaklah pernah bersahabat dengan yang namanya sebuah kehidupan ataupun takdir hidup manusia.


"Apa tujuannya mendekati dia yang terlarang?" gumam salah satu dari sosok lain itu.

__ADS_1


Tatapan itu tiba-tiba bertemu dengan sosok yang mereka perhatikan dari kejauhan. Hawa gelap menyeruak dan semua menjadi gelap pada pandangan mereka yang memperhatikan sosok lain Eren itu.


...***...


__ADS_2