Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Teman atau Musuh?


__ADS_3

Arashi baru saja membuka mata ketika mendapati Mari tengah berdiri didepan pintu kamarnya dengan canggung.


"Ada apa lagi?" tanya Arashi santai.


Mari menggeleng sembari menunduk.


"Sudah malam, kembalilah ke kamarmu!"


Tidak banyak bicara lagi, Mari berjalan menuju kamarnya. Pintu kamar Arashi belum tertutup rapat saat Aksara masuk setelah kepergian Mari, terdengar gadis itu berteriak kencang dari dalam kamarnya. Teriakan yang cukup membuat semua penghuni apartemen itu keluar untuk mengecek kejadian yang tiba-tiba terjadi.


Hanya bermaksud melihat dari depan pintu kamarnya, baik Arashi dan Aksara langsung menuju ke kamar itu dengan kecepatan yang tidak terduga. Sekilas bayang hitam yang menjadi musuh bebuyutan bagi keduanya berseliweran didalam bilik kamar itu.


Beberapa langkah sebelum mereka berdua berhasil sampai di kamar itu, pintu kamar sudah terbuka dengan kasar. Menampilkan sosok gadis dengan dress merah hatinya. Tatapan mata kemerahan itu menyala dan menatap kedua pemuda dihadapannya dengan tajam.


Arashi langsung terdiam kaku dihadapan gadis itu, namun Aksara malah terkesima dengan pemandangan yang dilihatnya.


Bayang kegelapan itu berseliweran tidak tentu arah dan sosok Mari meringkuk dipojok ruangan sembari menutupi wajahnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan?!"


Arashi yang sudah berhasil menenangkan dirinya langsung mengambil posisi menghadapi gadis dengan dress merah hatinya. Dihadapan gadis yang sudah sangat ia kenali sosoknya, Arashi hanya bisa menunjukan wajah lempeng dengan sedikit rasa penyesalan. Tapi yang terjadi sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah lagi. Hanya bisa bertanggung jawab dan menjalani akibat dari hal yang telah terjadi.


Tidak mendapatkan jawaban apapun,gadis dengan dress merahnya langsung membuka peti segel yang dia bawa. Bermaksud mengurung jiwa kegelapan itu, sosok gadis itu lalu diam untuk beberapa saat. Dengan enggan, dia mengarahkan serangan pada sosok Mari yang meringkuk ketakutan di pojokan ruangan itu.


"Hentikan!" sentak Arashi melepaskan serangan yang berbeda untuk memecahkan serangan yang lancarkan oleh gadis dengan dress merah hatinya.


Hanya mendapatkan tatapan tidak senang dari sang gadis, Aksara tanpa aba-aba langsung mengarahkan serangannya kepada gadis itu. Gadis yang membuatnya enggan melepaskan serangan, namun sosok itu bukan lagi sosok yang sama yang ada di dalam ingatannya. Sosok itu mempunyai aura dan tatapan yang berbeda. Bahkan nampak begitu dingin dan tidak bersahabat.


Kaget dengan apa yang Aksara lakukan, Arashi langsung mengarahkan serangannya pada Aksara. Padahal awalnya hanya bermaksud menghempaskan serangan itu, tapi sisi lain jiwa kegelapan yang mereka incar mengalihkan sedikit serangan itu tanpa ia sadari.


Jadilah Aksara terpental dengan membentur tembok pembatas apartemen di hadapan ruangan tersebut. Arashi berbalik kaget dengan tindakannya, mendapati Aksara memandangnya dengan rasa yang lebih tidak percaya akan apa yang di alaminya.


Satu serangan langsung menyusut ke tubuh Mari, membuat gadis itu kembali berteriak dengan kencang. Seakan tubuhnya telah digerogoti sesuatu, sesuatu membuat kerongkongan Mari tersendat. Dia mengerang dengan begitu kesakitan sampai membuat sosok jiwa kegelapan yang ingin disegel oleh gadis dengan dress merah itu berangsur hilang kendali dan lenyap sedetik setelahnya.


Tindakan gadis itu mendapat perlawanan dari Aksara yang langsung bangkit dan melepaskan serangan tanpa henti ke arahnya. Namun setiap serangan yang dilancarkan selalu dipatahkan oleh Arashi yang malah berbalik melawan Aksara.


Melihat setiap serangan yang mengarah kearahnya, gadis itu tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Dia hanya bergerak sedikit ketika satu atau dua dari sekian serangan yang ditangkis itu melewati pertahanan Arashi.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan!!" sentak Aksara begitu dia bertatapan langsung dengan jarak yang begitu dekat dengan Arashi.


"Sebaiknya kita hentikan!" Arashi berusaha menahan serangan Aksara yang berikutnya.


"Kita harus menyadarkannya!"


Mata Aksara membulat besar tepat dihadapan Arashi. Tepat saat Arashi berpaling memandang ke arah yang sama, serangan bola petir merah kehitaman itu sudah berhasil melumpuhkan keduanya. Baik Arashi maupun Aksara langsung tergeletak tidak sadarkan diri.


Menghampiri Mari yang mengerang kesakitan, gadis itu hanya menatap dingin. Sekali lagi serangan itu dihempaskan tepat dihadapan mata sasarannya. Kilatan bola petir itu memercik dengan dahsyat di hadapan sosok Mari. Gadis itu terdiam kaku ketika sekilas cahaya menyilaukan membuat matanya menjadi tidak mampu melihat apapun.


Merasa apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil sama sekali, gadis dengan dress merahnya itu hanya memandang korbannya yang tengah tergeletak tidak sadarkan diri. Sedetik kemudian sosoknya menghilang dari ruangan itu. Meninggalkan tiga sosok lain yang tergeletak tidak berdaya didalam ruangan.


Satu dari tiga sosok yang tidak sadarkan diri itu, bukan benar-benar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Melainkan membiarkan semua terjadi sesuai dengan perkiraan dan permainan yang sedang dijalankan. Senyum yang hanya nampak dibagian dibibir itu melengkung kecil dengan begitu manisnya. Menyisakan sisi kegelapan yang akhirnya tergantikan dengan kilau cahaya matahari.


Ketiganya masih di posisi tidak sadarkan diri pada posisi masing-masing. Yang pertama kali sadar adalah Aksara lalu di susul oleh Mari barulah Arashi terbangun setelah dibangunkan dengan kasar oleh Aksara.


"Kamu tidak sadarkan diri? Apa yang telah terjadi?" tanya Mari mendapati dua sosok dihadapan Aksara yang menatap Mari dengan heran.


Apa dia orang yang sama? Wajah Aksara nampak sedikit kebingungan.


Jangan sekaget itu! Kau baru pertama melihat wajahnya! Wajah Arashi sedikit datar dengan sikap Aksara itu.


"Lo nggak mengingat kejadian semalam?" tanya Aksara yang mulai bingung dengan keadaan yang dialaminya.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Mari polos.


"Kamu kaget karena ada kucing hitam berkeliaran masuk kesini!" ujar Arashi.


"Lalu kenapa kamu tadi..."


"Di jedotin dia kearah pintu karena takut tikus!" jawab Arashi lagi.


"Tikus?" tanya Aksara balik. Hanya mendapatkan sedikit lirikan, Aksara langsung manggut-manggut. "Iya tikus!" jawab Aksara. "Sepertinya tikus itu yang membuat si kucing hitam datang!"


"Begitu kah?!" tanya Mari lagi sembari meragukan jawaban yang ia terima.


"Kucing dan tikusnya sudah pergi!" jawab Arashi lalu menarik kerah baju Aksara untuk segera pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


"Terima kasih..." teriak Mari dari posisinya disudut ruangan. Dia sampai mendongakkan kepalanya lalu memandangi bayangan dirinya sendiri dilantai kamar. Bayangan yang harusnya berada dibelakang gadis itu karena bias cahaya pagi mulai menyela apartemen itu dari arah depannya.


Senyum manis kembali nampak begitu dingin namun penuh dengan hawa yang tidak mengenakan.


Aksara melangkah pelan dibelakang Arashi untuk menuju ke kamarnya.


"Kemarin lo apa-apaan!" sentak Aksara.


"Oh!" tanggap Arashi. "Lo ingat!!"


"Maksud lo! Ingatan gue ini sudah kembali seperti sedia kala yah!" jawab Aksara ngotot.


"Semuanya bentuk tanggung jawab atas tindakan yang sudah ku lakukan!" ucap Arashi dengan tatapan menerawang memandangi sosok gadis berambut pendek sebahu yang tengah membawa beberapa kotak pada kedua tangannya.


"Tanggung jawab?" Aksara menatap Arashi dengan penuh kemungkinan.


Gadis itu mengalihkan tatapannya pada Arashi dengan penuh harap sembari membawa gantungan berserta kuncinya. Kamar yang dituju gadis itu adalah satu-satunya kamar yang belum pernah berpenghuni sama sekali sejak bangunan apartemen 4 lantai ini dibangun diarea tersebut. Ingatan Arashi ini merupakan bagian dari desas desus yang selalu ia dengar dari beberapa penghuni apartemen yang menuruni anak tangga menuju jalan utama yang tepat berada di ujung bangunan tersebut.


"Ka..mu?" ujar Aksara tidak percaya dengan pandangannya.


Gadis didepan mereka itu hanya tersenyum kelu sembari mengerutkan sedikit alisnya.


"Boleh minta bantuan?" ucapnya.


"Tentu!" jawab Aksara. Namun Arashi lah yang sudah mengambil kunci itu dari tangan sang gadis lalu membuka pintu ruangan itu untuk sang gadis.


"Baru pindah?" tanya Arashi.


"Ya!" jawab gadis itu. "Makasih!"


Begitu masuk ke dalam kamarnya, gadis itu langsung menutup pintu kamar itu. Menyisakan Arashi dan Aksara yang terdiam dengan pemikiran masing-masing akan kebetulan atau kemungkinan yang sedang berjalan.


"Kita harus mewaspadainya!" ujar Arashi sebagai sosok penjaga tertinggi yang membuat Aksara langsung terperanjat kaget dengan pengelihatannya itu.


"Tentu!" jawab Aksara. "Tapi... Apa itu benar dia?!"


"Masih ada banyak waktu untuk bertanya!" Arashi langsung berjalan mendahului Aksara. Dengan semua kemungkinan yang muncul di dalam benaknya, Arashi lalu menghilang begitu saja tanpa peduli kalau sosok lain dibangunan itu tengah mengintip dengan berani ke arah pertemuan ketiganya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2