Abu-Abu

Abu-Abu
Tulisan kehidupan


__ADS_3

Sosok itu baru saja terbangun ditepi sebuah lembah kecil. Jubah yang menutupi diri dan pakaiannya sedikit basah karena terlempar kedalam air sebelum ia akhirnya menepi ke sisi lembah. Sosok bertudung jubah abu compang camping itu menoleh ke sekitarnya. Memperhatikan setiap sisi lembah yang tidak berpenghuni, sosok itu melihat ke arah batu waktu disamping pohon tua dengan bunga bermekaran berwarna merah muda dengan sari bunga berwarna kuning keemasan. Dahan pohon itu menghijau begitu sosok itu melangkahkan kakinya menuju bagian tengah lembah.


"Tempat yang sepi." ujarnya mengibaskan beberapa bagian jubah dan pakaiannya yang masih basah. Sesekali tangan putih nan lentik itu meremas bagian ujung jubah dan pakaiannya yang belum juga kering.


Dia berjalan disekitar sebelum menghampiri batu waktu yang sepertinya ia kenali. Sesekali menyusuri tepian air yang menyerupai danau itu, sosok berjubah abu compang camping itu memainkan air dengan menyiramkan airnya ke sisi dalam lembah. Satu tetesan mengenai bayangannya, pohon tua ditengah-tengah lembah itu bergoyang perlahan. Lalu menumbuhkan tunas daun dan bunga yang baru. Dahan dibagian bawah pohon lalu menggugurkan dedaunan yang sudah mulai menguning di satu waktu.


Sosok berjubah abu compang camping itu memperhatikan. Dia kembali menyirami pohon tua itu. Hal yang sama kembali terulang. Kali ini tunas daun dan tunas bunga yang baru, menjelma menjadi dauh berwarna hijau muda dan bunga itu mulai sedikit mekar. Sekali lagi, sosok berjubah abu compang camping itu melakukan hal yang sama. Tunas daun dan tunas bunga baru bertumbuh. Daun berwarna hijau muda berubah menjadi dauh yang sudah tua. Bunga yang setengah mekar, akhirnya mekar dengan sempurna.


Sosok itu tersenyum di balik tudung jubahnya. Dia bangkit dari sisi danau itu lalu melangkah mendekati pohon tua yang sudah tumbuh Tunas baru pada bagian dahannya.


"Terima kasih..." suara itu terdengar serak dan tidak jelas. "Ups!" dia menutup bagian mulutnya dengan satu tangannya. Menyadari suaranya yang jauh berbeda, sosok berjubah abu compang camping itu menyapukan kedua tangannya pada sisi jubahnya.


"Aku akan beristirahat disini sampai waktunya tiba." Ujar sosok berjubah abu compang camping itu lalu merebahkan dirinya dibawah dahan pohon yang tumbuh dengan rindangnya. Suara gemericik air yang mengalir perlahan ke sisi lembah menjadi melodi tersendiri dari sosok berjubah abu compang camping dalam lembah tanpa ujung tempatnya terlempar dari lembah kesengsaraan.


Kini matanya terpejam. Membayangkan sebuah kehidupan yang dimana ia tengah menjalani kehidupan sebagai seorang manusia. Dia melihat bagaimana dirinya bereinkarnasi. Dan sebelum terlahir kembali, di dalam lembah reinkarnasi, sosoknya bertemu dengan dia yang sangat ia rindukan. Sosok pemuda bersayap hitam pekat dengan jubah abu compang camping nya.


//


Gadis itu baru saja terbangun dari tidurnya. Dai melihat jam weker disebelah tempat tidurnya.


"Kenapa aku selalu terbangun pada jam ini!!" keluhnya.


Gadis itu berambut pendek sebahu. Bulu matanya lentik dan bola matanya bulat besar. Bentuk alisnya sedikit menyatu di bagian kening. Bibirnya kecil mungil tapi begitu merah merekah. Kulitnya putih langsat yang membuat gadis itu sedikit terlihat berbeda dari remaja seusianya.


Poni itu menutupi keningnya, dan membuatnya terlihat jauh berbeda dari umurnya yang seharusnya.


"Baru juga 19 tahun." Gadis itu menepuk-tepuk wajahnya didepan cermin.


"Cermin. Cermin didinding!" ucapnya. " Siapakah gadis termanis dirumah ini?!" dia lalu mengedipkan satu matanya pada sisi cermin.


"Tentu saja aku!!" dia kembali menunjuk ke dirinya sendiri.


Setelah berbicara dengan dirinya sendiri pada cermin didepannya, gadis itu memukul keras kepalanya dan kembali berkata cuek.

__ADS_1


"Bodoh! Kau bicara sendiri lagi, Laras!!!"


Gadis itu kembali merebahkan dirinya ke atas tempat tidurnya. Tengadah ke langit-langit kamarnya lalu mengatur nafas sambil menikmati beberapa lagu yang mengalun lembut pada telinganya.


Dalam sepintas tindakan yang di lakukan gadis itu, sebuah ingatan membuatnya terperanjat bangun.


"Mimpi apa itu?!" gumamnya dan mengusap bagian dahinya lalu mengabaikan hal yang baginya hanya sebuah bunga tidur.


Dia lalu mendekati jendela kamar dan membukanya. Membiarkan mentari pagi menyinari wajahnya yang baru saja terbangun dari tidur singkatnya.


"Selamat pagi dunia. 😇" Ucapnya penuh syukur.


Belum sempat angin sepoi-sepoi menyapa wajahnya yang putih mulus, sebuah aksi dari saudara gadis itu membuat dirinya menoleh kesal.


"Ingat! Kita harus berangkat pagi-pagi untuk bisa mengejar pelajaran mu yang tertinggal." sosok perempuan berambut ikal panjang itu mendobrak pintu kamar gadis satunya dan menatap dengan mata yang membelalak dengan cukup lebar. Alisnya yang beradu di dahi menunjukan keseriusan ucapannya.


"Iya, Rein!" jawab malas gadis yang menyebutkan dirinya sebagai Laras itu.


Selama didalam kamar mandi, dia membasahi bagian rambutnya. Setiap kali matanya terpejam, bayangan yang sama melintas dibenak gadis itu. Itu adalah bayangan seorang yang tertidur dibawah sebuah dahan pohon ditempat yang entah dimana. Sosok itu nampak tidak asing baginya. Tapi sampai beberapa kali pun bayang ingatan itu muncul, gadis bernama Laras itu tetap tidak mampu melihat jelas wajah di balik tudung abu yang menutupi sebagian wajah sosok dibawah dahan pohon itu.


"Ada apa?" tanya gadis disebelah Laras.


Dia tengah asyik mengemudikan mobilnya sembari bersenandung ria sebelum menyadari bahwa seorang disampingnya tidak seperti dirinya yang biasanya.


"Tidak ada." jawabnya lalu menatap ke kaca mobil didepannya.


Begitu kaca itu ia bengkokkan ke arah dirinya, bayang sebagian wajah gadis yang tertidur dibalik tudungnya melintas di benak gadis itu. Dia mengerutkan dahinya lalu menghela nafas membuang pandangan ke arah luar jendela mobil temannya itu.


"Ada berapa banyak hal yang aku lupakan?" tanyanya menerawang. Dia melihat bayangan dirinya pada sisi kaca mobil milik temannya. Menuliskan sebuah nama yang paling dia sukai. Itu adalah namanya sendiri dan nama sebuah bayangan yang selalu saja dia ingat.


Pada buku tua bersampul hitam yang dimilikinya, nama itu tertulis dengan jelas dari tinta berwarna hitam keemasan. Ditulis dengan pena khusus karena tidak bisa terhapus dari halaman buku tua itu.


"Kau masih mengingat nama itu?!" celoteh gadis dibalik kemudi yang dipanggilnya Rein itu. Rein melihat kearah tulisan yang di guratkan temannya itu pada sisi kaca mobilnya menggunakan jarinya.

__ADS_1


"Aneh" ucapnya.


"Iya." jawab gadis disebelahnya.


"Padahal tadi masih sangat cerah, kenapa tiba-tiba hujan?!"


Rein mendongakkan kepalanya kearah depan. Memperhatikan cuaca yang tiba-tiba berubah. Menurunkan hujan yang cukup lebat dan membuat keduanya terjebak dalam kegalauan karena parkiran kampus dengan bangunan utama berjarak sangat jauh satu sama lainnya.


Mereka berdua terjebak didalam mobil di area parkiran kampusnya. Keduanya menghela nafas panjang setelah saling bertukar pandang satu sama lain.


"Aku tidak mungkin turun dan membuat semua riasan ku menjadi luntur!" Rein membalik kaca depan untuk menghadap padanya.


"Aku juga tidak mau pakaian ku basah!" Gadis bernama Laras itu mengeluh membayangkan dirinya masuk ke kelas dengan pakaian yang basah kuyup.


Dia, gadis berambut pendek bernama Laras mengetuk-ketuk kaca mobil dengan jarinya. Hawa semakin terasa dingin dan kaca yang berembun itu memperlihatkan kembali guratan nama Eren yang dituliskan Laras pada sisi jendela.


Keheningan di antara keduanya pecah, begitu seorang mengetuk pintu kaca mobil itu dari arah luarnya.


Kedua gadis itu terperanjat kaget. Menyisakan gerakan yang membuat mereka mengelus dada karenanya.


Sekali lagi, pintu kaca mobil itu diketuk. Laras perlahan membuka kaca jendelanya dan sebuah payung lipat di serahkan sebuah tangan dibalik payung berwarna hitam itu.


"Pakailah ini!"


Hanya kalimat itu yang terdengar dan disusul langkah kaki yang menjauh dari sisi mobil itu. Padahal masih hujan gerimis, tapi suara langkah kakinya mempunyai ritme tersendiri dibenak gadis yang dipanggil Laras itu.


Bayang lain kembali mengusik gadis bernama Laras. Itu adalah langkah kaki seorang pria yang hanya terlihat jelas bagian kakinya saja yang sedang melangkah.


Gadis bernama Laras itu terpaku dengan memegang payung berwarna merah muda itu dalam genggamannya.


...***...


__ADS_1


__ADS_2