Abu-Abu

Abu-Abu
Permainan waktu


__ADS_3

Pada malam harinya, Laras tidak bisa tidur dengan tenang. Banyak hal yang membuat Laras terus terjaga dalam keadaan mata terpejam. Kadang Laras merasa ketakutan. Kadang dia merasakan panas pada seluruh tubuhnya. Kadang dia terlihat begitu kedinginan. Tubuh itu juga terlihat menggeliat gelisah, keringat kadang mengucur dari keningnya, air mata mengalir dari ujung matanya, dan tangannya sesekali terlihat meremas selimut yang digunakannya.


"Apa yang sedang tubuhmu alami kini?"


Sosok lain Eren disudut ruangan terus memperhatikan bagaimana Laras melewati malam keduanya setelah terjatuh dilembah kesengsaraan. Sosoknya itu pun merasakan hal yang aneh dengan keberadaan kakek dan nenek Laras yang harusnya sudah meninggal delapan bulan yang lalu dirumah ini.


Sembari mengawasi Laras dalam gelapnya malam, Sosok lain Eren pun berusaha mencari tahu kejanggalan yang terjadi. Sesuatu benar-benar mengusik pikirannya. Terlebih dengan kemunculan tiba-tiba Aksara dan Zara dihalaman rumah gadis yang kini tengah mengigau tidak jelas.


Konsentrasi sosok lain Eren terpecah. Di satu sisi, ia ingin menenangkan Laras, dan disisi lainnya dia bermaksud mempertanyakan tentang keberadaan kakek dan nenek Laras di dunia ini pada Aksara maupun Zara.


"Tidak! Aku tidak mau! Jangan lakukan itu!" Laras semakin mengigau dengan tidak jelas. Kali ini tubuhnya kembali mengkerut, membuat sosok lain Eren langsung mendekati dan coba menenangkan Laras dengan mengusap- usap bagian dahi sang gadis yang masih terganggu dalam tidurnya.


"Tenanglah...." ucap sosok lain Eren yang kembali ke bentuk sejatinya sebagai Eren.


Dia terus mengusap-usap kepala gadis itu untuk menghilangkan kegelisahannya. Membawa gadis itu dalam keadaan yang mulai tenang, Eren akhirnya lebih memilih fokus pada sang gadis dari pada memecahkan permainan waktu yang terjadi disekitarnya dan mengabaikan keberadaan dua mahkluk lainnya yang datang lalu pergi beberapa kali dihalaman rumah milik Laras.


Awan malam melaju cepat. Angin berhembus pelan lalu cepat beberapa kali. Membuat waktu disekitar berjalan dengan tidak menentu.


Sekali lagi, Eren kali ini merebahkan dirinya sendiri disebelah Laras. Membuat mereka kembali tertidur bersama dalam satu ranjang. Bedanya hanya pada ukuran ranjang yang kini mereka tempati jauh lebih kecil dari ranjang dirumah pemuda itu.


Eren terus menatap gadis dihadapannya yang sudah tenang dalam tidurnya. Membelai lembut kepala gadis itu sambil tersenyum karena dia begitu menyukai ketenangan yang diperlihatkan sang gadis kini.


Matanya baru akan terpejam ketika Laras menahan tangan itu diatas kepalanya.


Laras clingukan. Sedikit mengira dirinya bermimpi, Laras menampar pemuda disebelahnya itu.


"Sakit." ujar si pemuda penahan tangan Laras pada pipinya.


Dia mendapat respon yang sama seperti respon Laras di pagi hari saat mendapati kalau mereka tidur di ranjang yang sama.

__ADS_1


"Kebiasaan tidurmu benar-benar buruk ya!" ujar Eren lagi yang setengah mengantuk.


"Apa kau nyata?" Laras masih tidak kuasa melepaskan tangannya dari genggaman tangan si pemuda di pipinya. Tangan itu ditarik pun, Laras masih belum bisa melepaskannya.


"Ya! Ini kenyataan!" jawab malas Eren. Matanya menatap setengah sayu pada sosok gadis yang kini menunjukan rasa tidak percaya dan berharap apa yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi.


"Aku tidak akan melakukan hal seperti yang kau pikirkan."


Kalimat yang sama seperti tadi pagi. Tapi kali ini memang terdengar sedikit lebih tulus. Dan itu artinya, kalimat itu bukan kalimat penghibur tapi meyakinkan bahwa Eren memang tidak akan melakukan hal apapun.


Memang hal apa yang aku pikirkan?" Laras mengerutkan keningnya.


Tunggu???? Memangnya aku memikirkan hal apa?


Laras mendorong tubuh pemuda itu jauh-jauh sehingga si pemuda jatuh dari atas tempat tidur yang memang berukuran kecil untuk mereka berdua bisa tertidur di ranjang yang sama.


Laras langsung duduk dari posisi tidurnya dan menatap pemuda di lantai bawahnya dengan tatapan kesal bercampur bingung. Kesal karena si pemuda telah mencuri kesempatan dengan mengulangi hal yang membuat Laras cukup bingung dengan perasaan yang dia punya ke si pemuda.


"Kau sendiri mahkluk seperti apa!!!" Laras meluapkan emosinya yang tertahan. Tapi itu bukanlah emosi yang disebabkan oleh sebuah kemarahan atas sikap lancang si pemuda, melainkan luapan emosi yang menandakan keakraban diantara keduanya. Tatapan itu beradu, membuat Laras terdiam beberapa saat.


Angin melaju pelan dibelakang diluar kamar itu, suara gesekan ranting pohon dan dedaunan yang saling bertabrakan karena hembusan angin, membuat keheningan benar-benar terasa dari dalam kamar sang gadis.


Suara gesekan ranting ke sekian kalinya, membuat telinga Laras kembali berdenging. Bayang ingatan yang samar-samar kembali mengusik dan membuat Laras merasakan sakit pada bagian kepalanya. Dia memegangi bagian kiri kepala itu dan sesekali memukulinya pelan.


Eren memperhatikan. "Ada apa?" tanya Eren yang meski sudah menyadari kalau sang gadis sedang merasakan kesakitan yang tidak tertahankan.


Eren bangkit dari duduk, berjalan dan mendekat pada sosok Laras yang memegangi kepala itu dengan dua tangannya. Menarik dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


Mereke berteleportasi. Laras dan sosok lain Eren baru saja menginjakan kakinya pada sisi luar lembah kelam, lembah abu-abu. Dimana lembah itu kini tertutup dengan rapat dan tanpa celah cahaya. Tidak ada yang bisa menembusnya sama sekali. Bahkan kunci cahaya milik sosok lain Eren pun tidak bisa lagi membuka lembah itu.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?!"


Sosok lain Eren sambil memegangi Laras yang sudah tidak sadarkan diri, terus berdiam diri di depan gerbang yang menjulang tinggi sampai ke langitnya. Dia melihat sedikit demi sedikit semak belukar berduri kehitaman dari ujung atas telah menyusut dengan lambat dihadapannya.


"Selama apa aku harus menunggu?!"


Sosok lain Eren akhirnya menggendong Laras dan bermaksud kembali ke dalam kamar sang gadis. Tapi diurungkan niatnya itu. Sosok lain Eren ingat ada tempat yang dimana jika dilewati akan memberi penyembuhan pada sakit ataupun luka yang dimiliki setiap mahkluk sepertinya.


Sosok lain Eren menginjakan kakinya di jalanan setapak batu bata merah. Dalam hening nya suasana dijalanan itu, sosok lain Eren membawa Laras melewati tempat itu sambil menggendong sang gadis.


Sosok lain Eren tidak menyadari sedikitpun, begitu sampai dijalanan setapak batu bata merah itu, sosok lain Laras lah yang tengah ia gendong. Sosok perempuan berambut panjang terurai dengan tali merah berisi lonceng perak kecil menghias pada rambutnya. Mengenakan jubah berwarna merah maroon dan memperlihatkan kepulan asap berwarna abu gelap yang menyerupai sayap pada bagian punggungnya.


Satu langkah demi satu langkah yang diambil, sosok lain Laras berangsur-angsur menghilang. Satu demi satu bagian tubuh Laras kembali menjadi dirinya yang di awal digendong sosok lain Eren. Itu adalah Laras dengan hoodie pink dan training biru muda bergaris putih pada bagian sampingnya.


Laras membuka mata, dia menyadari tubuhnya seperti melayang dan samar-samar melihat pemandangan di depannya dengan tidak jelas. Tangan itu mengucek matanya dan begitu benar-benar meyakinkan pandangannya, Laras terkesima.


Sosok lain Eren kembali ke bentuk sejatinya. Menghentikan langkah kakinya pada ujung lembah lain yang memang sangat jarang ia kunjungi.


Itu adalah ujung dari jalanan setapak batu bata merah yang lain. Di ujung jalan itu terdapat lembah dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata.


Eren menurunkan Laras dari gendongannya. Membiarkan gadis itu menikmati pemandangan yang tersaji dihadapannya.


"Tempat apa ini?" tanya Laras.


Di benak Eren, Laras sudah menyadari siapa dirinya dan setidaknya dia tidak melupakan jalanan setapak batu bata merah yang mereka lewati.


"Apa aku sudah mati dan bisa tinggal ditempat seindah ini?" Laras memperhatikan setiap sudut tempat yang begitu menenangkan. Dia menghirup udara yang ada dengan pikiran mungkin dirinya meninggal karena mengalami sakit kepala yang tidak tertahankan dan sosok lain Eren adalah penjemput kematiannya.


"Apa kau tidak mengingat jalanan ini sama sekali?" Eren membalik kasar tubuh Laras untuk menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Dalam hitam bola mata Laras, Eren melihat apa yang di alami Laras pada lembah kesengsaraan. Bagaimana keping demi keping ingatan Laras tersapu bersih menjadi abu. Kecuali satu ingatannya akan sosok dirinya sendiri di awal pertemuan mereka.


...***...


__ADS_2