
Laras baru akan mengetuk pintu kamar Rein, tapi gadis itu sudah tidak lagi berada di dalam kamarnya. Tempat tidur itu sudah rapi dan Rein sudah tidak ada didalam bersama tas kebanggaannya.
Laras mengangkat bahunya. Menutup pintu kamar Rein lalu turun menuju lantai bawah untuk bersiap sarapan bersama Rein.
Begitu sampai di lantai bawah, Rein pun tidak ada di meja makan. Dia melihat semua ruangan lain yang tersisa. Ruang baca dan kamar mandi tamu, Rein pun tidak ada disalah satu ruangan itu.
Laras tetap melangkah santai. Dia membuka pintu depan dan mendapati mobil sudah menghilang dari garasi disamping bangunan utama itu. Laras terdiam sejenak.
"Kenapa dia berangkat pagi-pagi sekali?" gumam Laras.
Begitu akan mengunci pintu pagar rumahnya, Laras terperanjat kaget dengan suara klakson mobil dari arah jalanan.
"Butuh tumpangan?" suara itu membuat jantung Laras berdetak kencang.
Berbalik cepat, dia mendapati sosok yang menyita perhatiannya kemarin sore di tikungan pintu masuk rumah sakit.
"Aku baru pindah kemarin, dan pernah melihatmu di kampus beberapa kali!" ujarnya lagi setelah turun dari mobilnya dan menghampiri Laras yang baru saja membalikan badannya menghadap kearah badan jalan.
"Aku tidak tahu kita satu komplek perumahan?"
"Terima kasih." jawab Laras tersenyum simpul.
Dia menatap si pemuda dengan santai dan dibalas dengan senyum simpul oleh pemuda dihadapannya itu.
"Apa kabarmu?" Dia memainkan kunci mobilnya sembari menimbang-nimbang sesuatu untuk dikatakan.
"Apa aku mengenalmu?" Laras menatap sosok itu.
Didalam ingatannya ada bayangan sesosok bersayap yang nampak kabur apakah itu perempuan atau laki-laki begitu bertemu tatap dengan sosok pemuda yang kini tersenyum simpul padanya.
"Sepertinya.." jawabnya tidak peduli dengan tatapan aneh yang Laras tunjukan. "Bukan kali ini saja kau memperlihatkan keanehan mu!"
Mengulurkan jabat tangan, pemuda itu memperkenalkan dirinya.
"Eren!"
Si pemuda dan Laras saling bertukar pandang. Sementara pemuda yang menyabet tanda jabat tangan perkenalan itu, tersenyum dengan santai dan cukup cuek dengan keadaan yang diciptakannya.
Kedua sosok lain dipunggung masing-masing pemuda itu menunjukan jati dirinya. Memberi warna asap berbeda pada setiap tatapan yang diberikan satu sama lainnya.
"Aksara!" pemuda pertama menarik uluran tangannya namun tetap menyebutkan namanya dengan enggan.
__ADS_1
"Apa kalian selalu seperti ini?" Laras menengahi tatapan aneh kedua pemuda dihadapannya.
"Terkadang." jawab Aksara.
"Jika ingin saja..." jawab pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Eren kepada Laras. Juga yang menyerobot jabat tangan Aksara pada Laras.
Laras membalikan badannya, merasakan pusing seketika, Laras berpegang erat pada pagar rumahnya.
"Ikut dengan ku saja!" Eren menarik tangan Laras, dan seketika Eren merasakan sesuatu yang kuat tengah menyedot sebagian dari dirinya.
Hal yang sama juga dirasakan Laras. Satu detak jantung kuat menimbulkan bayangan diri Laras yang sebenarnya. Laras berambut panjang dengan poni menutupi keningnya. Mengenakan dress hitam berjubah abu compang camping setinggi lutut kaki dan hawa kegelapan yang menyeruak dari seluruh tubuhnya.
Walau sesaat, hal itu diperhatikan oleh Eren dan Aksara dengan cukup detail. Keduanya saling bertukar pandang kemudian menatap Laras dengan tatapan sedikit penasaran akan apa yang mungkin dirasakan gadis itu.
"Aku bisa berjalan sendiri." Laras menjawab lalu menghampiri mobil yang terparkir disamping Aksara. "Ayo berangkat!"
Laras membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Memilih duduk disamping kemudi, Laras menciptakan suasana hening yang berbeda bagi dirinya dan Eren.
Laras menatap bayangannya pada kaca mobil disebelahnya. Menampilkan sosok yang berbeda lagi dari yang dilihat oleh Eren dan Aksara di depan pagar rumah itu. Itu adalah sesosok bayang bertudung dengan hawa kegelapan yang menyelimuti. Bayang itu menampilkan segurat mata yang siaga dan aktif namun dengan ekspresi yang tenang dengan minim pergerakan.
"Ada apa?" Eren membuyarkan tatapan Laras.
"Tidak ada." jawab Laras.
"Apa kau tidak mengingatku?" Eren bertanya sekali lagi.
Setelah sore menjelang malam pada hari kemarin, Eren menyadari ada hal yang aneh terjadi pada Laras. Dia Laras, tapi bukan benar-benar sosok Laras. Hanya tubuh dan jiwa itu memang milik Laras yang dia rindukan.
"Aku sedang tidak bisa mengingat siapapun." bayang pada kaca mobil itu muncul kembali.
Membisik pelan seperti suara penyihir tua yang jahat. Suara dengan serak yang mendesis. Suara desis dan bisikan tidak jelas itu terus mengganggu Laras sepanjang perjalanan yang dilakukannya bersama Eren.
"Kesalahan apa yang membuatmu sampai dititik yang sekarang!"
Suara parau dan berbisik itu memecah ketidak ketenangan yang Laras tunjukan. Laras membalik badannya cepat menghadap Eren yang masih tenang menghadap ke depannya.
"Kita mau kemana?" tanya Laras curiga. "Ini bukan arah ke kampus?!"
Sedikit panik, Laras lalu menatap santai tatapan yang baginya begitu menenangkan hatinya saat ini. Terlebih setelah siang hari kemarin dimana bayangan lain sosok Laras telah bangkit dari tidurnya. Menyita setiap bayangan yang Laras tunjukan pada beberapa kaca yang ia lewati.
"Bolos sekali!" Eren menjawab santai. "Aku ingin bersamamu untuk waktu yang lebih lama!"
__ADS_1
Mendengar hal itu keluar dari mulut Eren, Laras merasakan detak yang familiar terhadap pemuda yang kini menatap santai ke arah depannya.
"Percaya padaku?" tanya Eren lagi.
Laras mengangguk. Bukan seperti terhipnotis, lebih ke patuh yang memang karena Laras mempunyai rasa percaya yang besar dan rasa aman terhadap Eren.
"Duduklah dengan tenang!"
Tidak menjawab, Laras hanya mengikuti apa yang Eren sampaikan padanya. Sepanjang jalan itu mereka hanya diam. Perjalanan yang cukup panjang. Dimana mereka melewati sebuah terowongan yang diterangi dengan beberapa lampu tamaram. Keluar dari terowongan, laju mobil itu memasuki kawasan hutan yang samar-samar Laras mampu untuk mengingatnya.
"Aku sering memimpikan tempat ini." gumam Laras.
"Begitu kah?"
"Iya! Entah itu mimpi atau kenyataan." jawab Laras lagi semakin menelusuri jalanan itu.
Itu adalah beberapa meter jalanan setapak batu bata merah yang menyanyikan hutan hujan berdaun merah keemasan dengan hamparan bunga lili lembah disepanjang tepian jalan itu.
"Kenyataan." jawab Eren tersenyum simpul. Lalu melanjutkan laju mobilnya memasuki pemukiman rumah diseberang bukit bukit yang cukup jauh dari jangkauan kota. Dan menghentikan laju mobil itu begitu sampai pada parkiran sebuah perbukitan.
Laras memalingkan pandangannya dengan bingung. Dia melihat sekelilingnya yang hanya di kelilingi oleh hutan lindung dan hamparan padang rumput nan hijau. Laras menoleh ke arah Eren untuk bertanya, namun mendapati si pemuda tengah memejamkan matanya dengan bersandar tenang pada sandaran kursi mobilnya.
Laras akhirnya memilih diam dan ikut bersandar pada sandaran kursinya. Beberapa saat kemudian, dia memperlihatkan wajah yang sedikit kebingungan. Desir angin membawa hawa yang membuat Laras ingin keluar untuk menikmati keindahan alam yang disajikan tempat itu.
"Mau turun?!" tanya Eren sembari matanya terpejam.
"Hmm." jawab Laras. Dia mengangguk kecil lalu bersiap membuka pintu mobil seperti anak kecil yang sudah ingin sekali bermain keluar rumah.
Eren membuka kunci pintu mobil, dan membiarkan Laras untuk menikmati keindahan halaman bukit belakang sekolahnya dulu.
"Terima kasih." jawab Laras menoleh sebentar kepada Eren.
Begitu satu kakinya menapak menyentuh tanah perbukitan itu, desir rindu yang kuat menghantam jiwa Laras. Detak jantung itu membuat Laras meneteskan air matanya.
Perasaan yang begitu kuat dan hangat itu membawa Laras pada perasaan rindu pada sepasang jiwa yang tersenyum lembut dari bawah- salah satu- pohon perindang di hamparan bukit tersebut. Sebelum bayang kedua jiwa itu benar-benar menghilang tersapu angin, Laras sempat menangkap dua sosok berambut putih itu.
"Siapa?!"
Bayang kegelapan langsung menyergap Laras. Mengikat Laras dalam kegelapan yang terus menutupi dan menelan setiap ingatan yang Laras miliki.
...***...
__ADS_1