Abu-Abu

Abu-Abu
Aku merindukanmu!!!


__ADS_3

Laras terperanjat dari tidurnya. Seperti ia tengah mengalami mimpi aneh, Laras seakan melupakan hal apa yang sebelumnya terjadi.


"Ternyata hanya mimpi..." gumam Laras mengusap-usap wajahnya dengan sembarang.


Langkahnya pagi ini masih terasa seberat pagi-pagi sebelumnya setelah kematian nenek dan kakeknya juga menghilangnya sosok Eren dari kehidupan yang dijalani Laras. Sembari berjalan, Laras mengusap-usap matanya lalu memasuki kamar mandinya dengan pikiran yang entah berada dimana. Didalam kamar mandi ia membasuh wajahnya di wastafel, menggosok giginya kemudian keluar dan bersiap untuk kegiatan paginya di hari minggu. Mengantar koran dan mengantar susu pesanan kepada para pelanggan di lingkungannya.


Laras baru saja mengambil topi abu-abu pemberian Eren dan bersiap menggunakannya. Didepan cermin, Laras lama menatap bayang dirinya. Diingat lagi ingatannya tentang Eren yang ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka.


"Selamat pagi," Laras mengenakan Topi itu. Menatap lagi sosok dirinya pada cermin lalu tersenyum. "Larasathi!"


Kayuhan sepeda dan lampu tamaram dari sepedanya menghiasi jalanan yang masih gelap gulita. Wajar saja karena hari masih menunjukan pukul lima pagi. Hari yang teramat pagi untuk menjalani rutinitas. Tapi memang sudah jadi kebiasaan Laras dalam mengatur waktu kegiatannya. Semua dimulai di pagi hari sampai matahari menampakan sinarnya.


Laras sudah mengirimkan hampir semua pesanan pelanggannya. Dan hari ini ada hal yang janggal pada pesanannya karena lebih satu paket. Satu paket berisi satu gulungan koran dan dua kotak susu lain. Laras melihat lagi check list daftar pelanggan koran dan susu miliknya.


"Sudah benar!" gumam Laras melihat tanda centang pada buku catatannya. "Memang ada penghuni baru dimana?" Laras menggaruk-garuk bagian kepala dengan pulpen yang dipegangnya.


"Itu pesanan ku!" Sosok pemuda mengenakan training dan baju serba putih mengambil sekotak susu dari paket yang tersisa di keranjang depan Laras. Pemuda itu langsung membuka dan meminum habis susu yang baru saja diambilnya.


Laras terdiam sejenak. Lalu mengalihkan pandangannya dari tempat ia menghentikan laju sepedanya. Itu telah menjadi kebiasaannya semenjak menghilangnya sosok pemuda itu dari hidup Laras. Setelah mengantarkan semua susu dan koran kepada pelanggannya, Laras akan menghentikan laju sepedanya pada sebuah rumah tua diujung lingkungan perumahan itu. Satu-satunya rumah tua dengan tatanan masa penjajahan belanda yang aesthetic dan menyeramkan. Tapi hal itu tidak berarti bagi Laras karena ia mengetahui dan mengenal sosok yang sebelumnya tinggal dirumah itu.


Menghilangnya sosok pemuda itu secara tiba-tiba memang sempat membuat Laras benar-benar bingung dengan semua masalah dan perasaan yang ia punya. Sampai ia akhirnya berusaha bangkit kembali untuk bisa menerima kenyataan bahwa sosok pemuda itu bukanlah sosok yang akan bisa ia gapai baik di kehidupan ini ataupun di kehidupannya yang lain. Namun kini, sosok pemuda itu tiba-tiba berdiri lagi dihadapannya dengan santainya.


"Mau jalan-jalan?" tawar sosok pemuda itu. Dia menyodorkan satu kotak susu lainnya pada Laras. "Turun!" sosok pemuda itu mengambil posisi Laras yang mengendarai sepeda dan dengan santainya sosok pemuda itu meminta Laras untuk duduk dibagian belakang pada boncengan sepeda.


"Kita kemana?" tanya sosok pemuda itu pada Laras yang masih terlihat tidak percaya dengan kemunculan sosok pemuda yang tidak lain adalah Eren tersebut.

__ADS_1


"Jadi....yang itu bukan mimpi?" Laras terheran-heran.


"Kita memutari kota saja ya?" Eren menarik tangan Laras dan melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya. "Pegangan!" setelah berkata demikian, Eren menepuk-nepuk tangan Laras yang dengan antengnya mengikuti arahan pemuda yang kini sedang mengayuh sepedanya itu.


Sepanjang jalan Laras masih merasa tidak percaya kalau lagi-lagi dia mengulangi minggu cerahnya bersama sosok Eren. Pemuda yang membuatnya memiliki banyak rasa membingungkan dalam hidupnya. Mulai dari jantungnya yang dibuat berdebar-debar tidak menentu dan terkadang rasa bersalah juga muncul terhadap kisah kelam sosok sang penjaga yang bersama Eren.


Pikiran Laras kembali tidak berfokus pada pegangannya. Banyak rasa bercampur jadi satu dalam ingatannya, membuat Eren harus secara tiba-tiba menghentikan laju sepedanya ditepi sebuah jembatan penghubung kota.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Eren menjitak kening Laras dengan pelan.


Laras hanya merespon dengan menatap jengkel pada Eren. Dia mengerutkan keningnya lalu menggeleng pelan.


"Kenapa kau menghilang begitu lama?" ucap pertama Laras setelah kediamannya yang cukup lama. Menunggu Laras mengeluarkan uneg-unegnya itu, Eren masih tetap membuat mereka menepi di jembatan penghubung kota yang jarang dilewati kendaraan di minggu pagi.


"Cuma itu?" tanyanya berbalik melihat ke arah Laras.


"Memangnya kenapa kalau aku menghilang?"


Lama tidak mendapatkan jawaban, Laras tanpa ragu langsung memeluk pemuda dihadapannya. Mengambil satu langkah untuk tetap bisa sedikit lebih lama memeluk si pemuda, tidak menyurutkan keinginan Laras untuk meluapkan perasaannya yang tertahankan selama enam bulan terakhir.


Tidak peduli dengan respon apa yang diberikan Eren, Laras hanya tetap memeluk sosok yang ia rindukan itu dengan semua luapan perasaanya yang tidak tertahankan.


"Biarkan hanya untuk sebentar saja." ucap Laras lirih begitu Eren menggerakkan kedua tangannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada sosok pemuda itu.


"Apa kau begitu merindukan ku selama ini?!"

__ADS_1


Laras tidak menjawab dengan kata-kata. Dia kembali menguatkan pelukannya pada sosok pemuda itu.


"Tolong jangan pergi lagi seperti kemarin!" ucap Laras. Dia melepaskan pelukannya dan menatap sosok Eren dan seketika sosok sang penjaga berjubah abu compang camping muncul dalam drama romantis itu.


Sang penjaga berjubah abu compang camping hanya terdiam. Kemudian membuka tudung jubah pada bagian kepalanya dan memperlihatkan kembali bagaimana sosoknya kini. Sebagian besar wajahnya bukan lagi tertutupi tulang tengkorak, tapi kini tulang tengkorak itu menjadi bagian dari sebagian wajahnya dan satu matanya bersinar merah kehitaman.


"Inilah diriku yang sekarang?" ucap Eren melepaskan pelukan Laras pada dirinya.


Laras terdiam.


"Aku bukanlah sosok yang kau inginkan?!" suaranya kembali terdengar parau dan tertahan. Suara yang benar-benar berbeda dari suara riang pemuda bernama Eren yang baru saja mengusik paginya.


Tidak peduli dengan apa yang dikatakan sosok lain Eren atau sosok penjaga berjubah abu compang camping itu, Laras kembali melangkah mendekat dan memeluk sosok itu sekali lagi. Dengan cepat dan singkat.


"Sosok mu ataupun sosok Eren, bagi ku kalian tetaplah sama!" jawab Laras yang yakin dengan apa yang dikatakannya. "Entah siapapun yang muncul dihadapan ku, aku tetap merasakan perasaan yang sama pada sosok itu dan perasaan itu tidak pernah aku rasakan pada orang lain dihidup ku!"


Giliran sosok sang penjaga berjubah abu compang camping yang terdiam.


"Apa kau baru saja menyatakan perasaanmu pada ku?" Sosok Eren kembali menunjukan dirinya. Dia terlihat tersipu malu tapi juga menatap jahil pada Laras yang tidak menemukan jawaban apapun untuk menyanggah apa yang ditebak oleh Eren terhadap pernyataannya.


Laras menunduk. Perasaannya kembali campur aduk. Dia memegang bagian perutnya yang tiba-tiba terasa melilit. Banyak rasa bercampur aduk dalam dirinya yang Laras tidak mampu menahan semua itu sampai ia merasakan mual karena menahan semuanya.


Kini giliran Eren yang maju dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Membenamkan wajah gadis itu pada dada bidangnya. Memeluk erat sang gadis dengan begitu lembut.


"Aku merindukan mu selama ini..." Eren menatap mata Laras yang mendongak mendengar ungkapan perasaan diri pemuda itu. "Benar-benar merindukanmu..." Satu kecupan di kening diterima Laras dan hal itu membuat satu hari itu akan menjadi kenangan termanis dalam hidupnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2