Abu-Abu

Abu-Abu
Menuju yang terakhir


__ADS_3

Eren yang tidak mengatakan hal apapun lagi, kembali mencuri ciuman dari bibir mungil gadis didepannya itu. Hanya sekejap ia bisa menumpahkan perasaan yang tiba-tiba meluap dalam hatinya untuk Laras. Namun kemudian tatapan mata Eren berubah dingin dan kejam. Karena begitu gejolak itu menggebu pada diri Eren, sosok lain muncul dari arah belakang punggung Laras dengan tidak bersahabat.


Laras yang deg-degan bukan main karena tindakan yang tiba-tiba di lakukan Eren, langsung bergidik ngeri begitu ia mengenali sebuah hawa kelam yang menyeruak dan mengelilinginya. Itu adalah hawa dingin yang sama saat dirinya terjatuh di lembah kesengsaraan. Hawa yang menurutnya adalah bagian terdalam dari lembah kesengsaraan. Tapi hawa itu cukup di kenali Laras dari sesuatu yang bergerak pelan dari balik punggungnya.


Dibalik semak-semak tempat yang biasa Laras gunakan sebagai jalan pintas menuju sekolahnya, tiba-tiba mengeluarkan hawa gelap dan dimensi waktu yang tidak menyenangkan. Bersamaan dengan semua hawa tidak menyenangkan yang mengelilingi mereka, Eren maupun Laras langsung bersiaga dengan kegelapan yang langsung menyusup dan menyergap mereka dalam dunia yang tidak mampu mereka kenali.


Sesosok mahkluk berjubah hitam dengan seluruh mata berwarna hitam pekat menyemburkan senyum yang tidak bersahabat kearah Eren dan Laras dari kejauhan. Tangannya yang nampak tua dan keriput tapi lebih menyerupai tulang tengkorak manusia yang hanya terbungkus oleh lapisan kulit keriput, menggeliat-geliat dan siap menarik apapun yang bermaksud tangan itu raih.


Hawa hitam pekat yang tidak mengenakan menyerang punggung Laras dan membuat Laras mau tidak mau bersiap dengan hal buruk yang tengah mengintai dirinya dan Eren dari balik semak-semak.


Mengeluarkan serangan begitu saja, Eren membawa Laras yang kaget ke dalam pelukannya.


Sekali lagi Eren menghindari serangan tanpa aba-aba dari sosok lain berjubah hitam bermata hitam pekat tersebut.


Dibalik jubah hitamnya, sosok itu mengeluarkan serangan hanya dalam hitungan detik. Setiap kali mampu mengelak, serangan lain sudah datang dari arah yang berbeda.


"Dia yang terlarang harus menghilang dari dunia ini!!" suara itu terdengar seperti kaset rusak namun suara yang keluar cukup jelas untuk didengar Laras.


Hal lain lagi diingat Laras dalam sekilas. Itu adalah sosok yang memanggil dirinya sebagai sosok yang terlarang. Sosok yang sempat menekan tubuh Laras dalam lembah kesengsaraan dan sosok yang beberapa kali muncul dalam mimpi Laras.


Serangan pamungkas dari sosok dibalik jubah hitam itu. Serangan itu cukup berakibat besar pada lingkungan sekelilingnya dan semua itu berhasil dilebur Eren dengan kepakan sayap asap hitam pekat dibalik punggungnya.

__ADS_1


Laras yang awalnya berpegang erat pada sosok lain Eren lalu membalikan badannya ke hadapan sosok lain di balik jubah hitam itu. Berbaliknya Laras menghadap ke arah lawannya, bersamaan dengan munculnya sosok lain Eren yang berupa sosok penjaga berjubah abu compang-camping.


Perubahan sosok di belakang punggung Laras sangatlah berbeda dari sosok lain Eren yang biasanya. Sosok itu bertudung sedikit kerucut dan hanya menampakan semburat cahaya merah pada bagian matanya. Sosok lain Eren melayang dan membentengi apapun yang menyerang Laras dari balik punggung gadis itu. Laras yang terlindungi oleh sosok lain Eren sebagaai sosok penjaga berjubah abu compang camping lalu tersenyum dengan tidak biasa menghadapi sosok tidak bersahabat di balik jubah hitam itu.


"Kau mencoba bangkit?!" suara seperti kaset rusak itu bergema di seluruh dimensi yang ada. "Aku tidak akan membiarkannya!"


Sosok di balik jubah hitam itu kembali menyerang. Dengan munculnya sosok lain Eren yang jauh berbeda dari sosok yang biasanya, sosok lain di balik jubah hitam itu menyerang dengan lebih cekatan dan cepat.


Semburat asap hitam yang bercampur percikan api melayang-layang pada setiap bagian jubah sosok lain Eren. Matanya sudah menatap dan tidak melepaskan sedikitpun tatapan itu pada sosok lain di balik jubah hitam yang tiba-tiba muncul dan menganggu paginya bersama Laras.


"Kau ingin menghentikan apa!" suara parau itu menggema sama luasnya dengan suara kaset rusak dari sosok di hadapannya. "Mari hentikan sekarang juga!"


Dalam perlindungan sosok lain Eren yang berupa penjaga berjubah abu compang camping, sosok lain Laras hanya berdiam diri dan mengamati setiap pergerakan yang dilakukan sosok lain dibalik jubah hitam yang menyerang kearahnya.


Laras memejamkan matanya. Membiarkan setiap suara serangan bercampur suara dentuman lain mengalun di telinganya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Laras mendengar suara gemerincing lonceng kecil pada pergerakan angin yang dihembuskan oleh serangan yang sesekali dihalau oleh kilatan rantai pada sosok lain Eren sebagai sang penjaga berjubah abu compang camping.


"Lakukanlah tugasmu.." suara bisikan di telinga Laras itu membawa Laras dalam kedamaian dan ketenangan dalam keheningan yang dilakukan gadis itu sembari mendengar kembali suara gemerincing yang kembali mengusik pendengarannya.


Suara lonceng terakhir lalu disusul oleh suara tetesan air yang jatuh perlahan membawa Laras pada kesadaran lainnya. Suara gemerincing semakin banyak terdengar disekelilingnya. Laras membuka mata pelan dan mendapati sosoknya sedang berdiri ditengah-tengah jalanan setapak batu bata merah yang menjadi awal dia melakukan pengantaran pada jiwa-jiwa untuk menuju perjalanan terakhirnya.


"Kenapa aku sampai disini?!" gumam Laras perlahan. Dia mencari dan mencari sosok lain Eren di setiap sudut tempat yang ada. Tapi yang didapati Laras adalah sosok lain. Sosok lain berpakaian serba hitam dengan sayap berupa tulang belulang melekat pada punggungnya. Ditangan kanannya dia membawa buku yang sama seperti buku yang di bawanya. Buku tua bersampul hitam yang menjadi catatan buku kematian seseorang.

__ADS_1


"Bagaimana kabar mu, Laras?" tatapan mata itu menatap tajam pada sosok lain Laras yang muncul dihadapannya begitu dirinya mendapatkan panggilan tugas tanpa jiwa yang menyertai pengantaran yang dilakukannya.


Laras terdiam. Dia mengingat kalimat terakhir yang ia dengarkan dari sosok lain Eren sebagai sang penjaga berjubah abu compang camping.


"Aku baik." jawab Laras dengan sosok lainnya. Dia membuka buka tua bersampul hitam miliknya. Membuyarkan semua warna di jalanan setapak batu bata merah dan menerbangkan begitu banyak dedaunan kering disekelilingnya.


Sosok lain bersayap tulang belulang yang tidak lain adalah Aksara itu mulai mengepakkan sayapnya untuk melindungi diri dari dedaunan kering yang bisa saja menyayat seluruh bagian jiwa itu.


Halaman buku yang terbuka menampilkan sebuah semburat hitam membentuk banyak jiwa bermata kelam.


Suara tawa anak-anak terdengar di benaknya. Suara tawa anak-anak yang tengah bergembira ditengah nyanyian memilukan yang sering Laras lantunkan di usianya yang sudah menginjak usia remaja.


Dia menatap sosok Aksara di balik perlindungan sayap tulang belulangnya dengan tegang dan tidak biasa. Tatapan itu di balas Aksara dengan cara yang sama karena suara tawa dan nyanyian anak-anak itu langsung menggema di seluruh jalanan setapak batu bata merah tersebut.


"Tolong selamatkan jiwa anak-anak itu"


Kalimat itu diingat Laras begitu semburat bayang hitam pada halaman buku itu menggeliat satu persatu.


Mereka!!" seru Laras dan Aksara disaat yang bersamaan.


__ADS_1


__ADS_2