Abu-Abu

Abu-Abu
Buku Takdir milik Laras


__ADS_3

Laras menoleh kearah belakangnya. Dia tidak melihat Eren mengikutinya. Dan kini pandangannya disambut oleh wajah penasaran Aksara dan Zara yang saling bertukar pandang di hadapannya.


"Ada apa?"


"Kau benar-benar membingungkan?" Zara berdecak.


"Aku mendapatkan buku takdir atas nama mu!" Aksara mengeluarkan bayang sebuah buku berwarna coklat tua pada Laras. Tentunya hal itu hanya Laras yang bisa melihatnya. Juga kedua temannya yang datang dengan bukan sosok manusianya.


Laras memperhatikan bayang buku tua bersampul coklat yang diperlihatkan Aksara padanya. Teriakan yang sama dengan teriakan pada halaman buku tua bersampul hitam miliknya lagi-lagi didengar oleh Laras. Dia menutup telinganya yang mulai merasa sedikit bising. Ada suara teriakan dan suara gemuruh air yang sangat deras. Laras memejamkan matanya karena terlalu bisingnya suara yang masuk kedalam telinganya.


Dan sebuah tepukan tangan pada pundaknya, menyadarkan Laras tentang kebisingan yang ia dengarkan.


"Apa yang kalian lakukan?" Eren mengalihkan pandangan Laras pada dirinya. Sementara dua sosok lain di hadapan Laras menatap sosok Eren dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.


"Apa tadi kau salah jalan?" tanya Laras mengabaikan kebisingan yang masih mengganggu pendengarannya.


"Tidak!" Eren kembali bersikap seperti saat berada di balik pohon kenanga dibelakang punggungnya. Dia tidak melepaskan sama sekali tatapannya dari Aksara maupun Zara. Dan bahkan ketiga mahkluk itu saling menatap dengan cara yang tidak biasa satu sama lainnya.


"Apa yang sudah kau ketahui dari semua ini?" Aksara kembali memperlihatkan bayang buku tua bersampul coklat pada tangannya. Dia meyakini Eren mengetahui sesuatu tentang buku takdir yang tiba-tiba muncul dan menuliskan satu hal yang tidak biasa tentang satu-satunya mahkluk ambigu di antara mereka berempat yang kini berdiri ditempat itu.


Sementara mereka bertiga bersitegang dengan tatapan masing-masing, Laras mulai merasakan pusing dan kebisingan itu mulai mengganggu konsentrasinya.


"Kalau ada yang mau kalian bicarakan, aku akan ke kelas duluan." gumam Laras. Dia berusaha menahan setiap rasa sakit akibat kebisingan yang ia rasakan pada kemunculan buku tua bersampul coklat yang menjadi buku takdir hidupnya.


Laras berjalan dengan lambat dan tidak biasa. Hal itu menjadi perhatian Eren yang langsung mengabaikan kedua sosok di hadapannya dan menyusul Laras dengan cepat.

__ADS_1


"Tunggu!" Eren menahan pundak Laras dan gadis itu menghentikan langkahnya namun tidak membalikan badannya sama sekali. Terdengar nafasnya memburu dan sedikit tertahan. Eren pun terdiam dengan itu. Dia menunggu beberapa saat sampai mereka tiba-tiba berpindah ke jalanan setapak batu bata merah.


Gemerincing lonceng perak Laras membuat harmoni di sekeliling jalanan setapak batu bata merah itu menjadi sedikit kacau. Sesekali terdengar seperti lengkingan yang membuat siapapun yang mendengarkannya langsung kehilangan fokus dirinya dan berhalusinasi dengan apa yang dilihatnya.


Aksara dan Zara yang baru sampai langsung merasakan diri mereka berputar dan mengulang banyak kejadian dimasa lalu. Bayangan demi bayangan mengantarkan mereka pada rasa ketidakberdayaan yang membuat keduanya lemah dan kehilangan kesadaran diri mereka.


Disisi lain, Eren yang tetap memegang Laras hanya mampu tetap terjaga dengan konsentrasi penuh agar tidak kehilangan kesadaran sama seperti yang di alami dua mahkluk lain jauh didepannya.


Bayangan gelap terus menghantui ingatan Eren. Bagaimana sosoknya yang terhubung dengan sebuah kejadian di sebuah lembah berdarah. Dimana setiap bulir-bulir darah yang melayang menghapus semua warna pada lembah yang dilihatnya. Dimana saat sayap berbulu emas di punggungnya tercabut dan lenyap terbakar sehelai demi sehelai, ada sosok lain yang merasakan sakit yang sama seperti dirinya. Sosok lain yang pasrah menerima dirinya dikuliti oleh jiwa-jiwa bermata kosong yang menginginkan keabadiannya. Teriakan pilu yang tertelan oleh teriakan puas dari jiwa-jiwa yang berubah menjadi gumpalan-gumpalan asap yang melayang-layang mengitari lembah yang berubah warna tersebut.


Setiap tetes darah berwarna merah keemasan yang menetes dari sayap mahkluk itu mengubah seluruh lembah menjadi berwarna hitam putih. Menghapus setiap warna yang ada dan menghukum setiap jiwa bermata kelam dalam kutukan abadi.


Satu teriakan pilu itu menghentikan waktu tetapi derasnya suara air terjun dibalik lembah tidak teredam sedikitpun oleh pendengaran. Suara air terjun itu menjadi pengiring teriak kepuasan jiwa-jiwa bermata kelam yang terhasut untuk mendapatkan keabadian dunia. Dan dalam keheningan yang tercipta sesaat, lembah itu tersegel untuk waktu yang cukup lama.


Eren tersengal dan kembali dari ingatannya. Dia melihat Laras tertunduk dihadapannya dengan berlinang air mata.


Tidak mendapat jawaban dari sosok dihadapannya, Eren menatap ke dua mahkluk lain dibelakang Laras dengan seksama.


"Apa yang terjadi?" Suara parau itu membawa kesadaran Laras kembali. Segera mengusap kasar air matanya, Laras langsung memeluk sosok itu dengan erat.


"Jangan pernah lagi melakukan hal seperti tadi!" isak Laras yang tetap memeluk sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping.


"Kami yang harusnya bertanya, kemana saja kau sejak tadi?" tanya Zara jengkel. Dia menarik kasar tubuh Laras yang masih memeluk sosok mahkluk lain dihadapannya. "Hentikan tindakanmu ini!" bentaknya pada Laras. Gadis itu menahan Laras yang tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi di jalanan setapak batu bata merah tersebut.


"Apa ada yang menyeret kesadaran mu ke dunia kehampaan?"

__ADS_1


"Harusnya sosok itu tidak lagi berada disini bukan?" Zara menambahkan. Dia masih menahan tangan Laras dan coba menghentikan setiap gerakan Laras untuk mendekati sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping.


Eren memperhatikan setiap detail dirinya. Menyadari dari mana ia mendapatkan detail dirinya yang sekarang, Eren hanya menatap santai kedua mahkluk dihadapannya.


"Kesadaran ku tidak pernah kemana-mana. Sosok ini pun sama." suara parau itu menjawab pelan.


"Apa yang kalian maksud??" Laras kembali mencoba melepaskan tangan Zara yang menahan dirinya untuk bergerak. Laras menatap Aksara kemudian berpaling cepat pada Zara. "Bisakah kalian menjelaskan maksud perkataan kalian?"


"Tidak ada yang perlu di jelaskan." pemilik suara parau itu langsung menarik tubuh Laras hanya dengan mengulurkan tangannya kehadapan nya.


Laras sudah berpindah ke tangannya. Sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping berdiri membelakangi gadis itu dan menghalangi pandangan Laras dari Aksara dan juga Zara yang berjaga dengan sikap yang di tunjukan sosok lain Eren itu.


"Berikan buku itu pada ku?!" ucap Eren yang kembali ke wujud manusianya. "Buku itu tidak ada gunanya untuk kalian!" tatapan matanya memicing tajam. Memastikan setiap gerak gerik dua mahkluk di hadapannya.


"Apa pentingnya buku itu?" Laras menoleh dari balik punggung Eren.


Dia menatap kedua teman yang menatap dengan sikap dingin terhadap Eren. Biasanya mereka berdua bersikap siaga pada Eren, tapi kali ini lebih ke sesuatu yang siap untuk melakukan pertarungan hanya untuk masalah buku tua bersampul coklat yang menjadi buku takdir milik Laras. Setidaknya hal itu lah dibicarakan tiga sosok mahkluk di hadapan dirinya.


"Ini hanya bayangan nya saja, apa gunanya juga untuk mu?!"


"Tidak berguna bagiku, tapi bayangan itu akan berguna untuknya!" Eren sama sekali tidak menunjuk siapapun pada ucapannya. Tapi untuk mereka yang saling berhadapan, mereka tahu persis siapa yang dimaksudkan Eren.


"Seorang manusia memegang buku takdirnya sendiri?" Aksara menutup bayangan buku tua bersampul coklat itu dari tangannya. "Jangan bercanda!!"


Serangan itu berhasil di pecahkan dan menyebar menjadi pecahan abu api yang lenyap tersapu angin.

__ADS_1


Kedua sisi saling berpandangan tegang dan tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.


.....


__ADS_2