Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah : Paralel Lembah Kesengsaraan


__ADS_3

"Dimana Laras?!"


Setelah cengkraman tangan itu semakin kuat dan menyakiti, mata biru keemasan itu berkilat sekali lagi. Kilatan yang menghitamkan kembali bola mata dari pemiliknya. Menenggelamkan mata biru keemasan dari tubuh gadis dihadapan Eren.


Laras kini terpaku dengan menatap satu persatu dari mereka bertiga. Namun tatapan itu hanya berlangsung beberapa saat. Laras tiba-tiba berbalik dari hadapan ketiganya dan merebahkan dirinya pada tempat tidur itu.


Zara dan Aksara langsung bertukar pandang dengan perubahan respon dan sikap Laras. Berbeda dengan pemuda dihadapan mereka, dia terpaku dengan tangan yang masih


"Apakah dia sudah kembali seperti yang dikatakannya?" Zara bertanya dengan wajah yang sedikit kesal.


"Sepertinya begitu...." jawab Aksara dibelakang sosok Eren.


"Lalu bagaimana?" Aksara bertanya dengan santainya.


"Bagaimana apanya?"


"Bunga es abadi seribu tahun..." gerutu Eren yang entah ditujukan untuk merespon pertanyaan siapa. Tangannya mengepal kuat. Bayangan akan sosok bunga itu melintas di benak Eren. Bunga yang dipenuhi hawa dingin yang mematikan. Warna ditengah kegelapan terpancar dari bunga yang dimaksudkan itu. Bunga yang berada dititik tergelap dan titik tercuram dari lembah tergelap yang pernah dia lalui.


"Bunga itu seperti apa?" Aksara mendekati sosok Eren yang nampak termenung dalam pikirannya. "Apa kau mengetahui sesuatu tentang itu?"


"Permintaan yang langsung membunuh setiap jiwa yang menginginkannya!" desis Eren dengan senyuman sinis nya. "Untuk itukah dia meminta ku mencari bunga es itu?"


"Dia tidak meminta khusus hanya padamu," Zara menepuk pundak Eren yang termenung dan bergumam untuk dirinya sendiri. Sebuah gumaman yang terdengar jelas oleh kedua mahkluk lain disampingnya.


"Bukankah dia mengatakannya dihadapan kita bertiga?"


Aksara memperhatikan Eren dengan seksama. Semakin melihat ekspresi dengan tatapan mata berkilat kemerahan dimata Eren, membuat Aksara meyakini, ada makna lain dari permintaan sebuah jiwa lain dalam tubuh Laras tersebut. Jiwa dengan mata biru keemasan. Yang meminta mereka untuk menemukan bunga es abadi seribu tahun. Atau permintaan itu bukan tertuju untuk mereka, melainkan untuk satu sosok diantara meraka. Dan sosok itu tidak lain adalah Eren. Sosok yang kini tetap termenung setelah dicecar dengan banyak pertanyaan dan pernyataan oleh Zara.

__ADS_1


"Jadi..." Aksara coba menerka. "Permintaan itu sebenarnya hanya tertuju hanya padamu?"


"Kenapa memusnahkan jiwa dari yang mengambilnya? Seburuk apa tempat bunga itu tumbuh?"


"Apakah tempat itu, tempat yang jauh dan mematikan?"


"Atau tempat itu tidak terjangkau oleh mahkluk manapun?"


"Kurang lebih seperti itu!" Eren terjaga dari pikirannya yang berlarut. Dia berpaling pada kedua mahkluk disampingnya. Melempar senyum simpul lalu menghilang begitu saja dari hadapan keduanya.


Tubuhnya melintasi waktu. Melayang-layang diatas jembatan rapuh yang sudah mulai putus. Dilihat dari atas, beban dari jembatan itu tidak seimbang sehingga tali pegangan jembatan itu mulai rengat dengan cepat di ujung pandangannya. Jarak pandangnya tertutupi kabut, namun samar-samar Eren melihat sebuah ilusi yang menyerupai bayangan dengan wujud manusia telah berjalan mendekat kearahnya. Arah sosoknya melayang tepat diatas titian papan kayu yang menopang jalan jembatan itu.


Bayangan itu awalnya terlihat berpegangan pada pegangan tali di kanan dan kirinya. Membuatnya nampak seperti mahkluk lidi yang tiba-tiba menjadi bervolume lalu menyusut kembali seperti bayangan tidak jelas. Lama tertegun dengan bayangan yang berjalan perlahan dibalik kabut dihadapannya, Eren dikejutkan dengan suara dengungan yang memekakkan telinganya. Dengungan dari segerombolan kupu-kupu hitam. Kupu-kupu hitam yang sama, yang dulu pernah menyerangnya ketika terpental ke sebuah jalanan yang menyerupai jembatan.


Eren memalingkan pandangan ke belakangnya. Mengingat tempat yang sama yang telah dilaluinya dulu bersama Laras. Sebuah jalanan berupa jembatan kayu yang disekitarnya tertutupi oleh kabut dan seperti sebuah jembatan yang melayang diatas awan.


Eren kembali fokus. Bermaksud menghampiri bayangan yang seakan sedang menggantung pada tali tambang yang menjadi bagian dari jembatan yang sudah ambruk itu, Eren diserang oleh sekumpulan kupu-kupu berwarna hitam tanpa aba-aba. Menyayat setiap jengkal tubuhnya yang dilewati oleh sekumpulan kupu-kupu itu.


Tubuh Eren terguncang. Denyut jantung yang kuat berdetak sekali dan menumbangkan sosoknya jatuh bersama dengan sekumpulan kupu-kupu hitam yang terus menutupi setiap jengkal bagian tubuhnya. Pandangannya mulai tertutup oleh kupu-kupu yang berkerubung menutupi bagian wajahnya.


Perlahan tertelan oleh kegelapan dengan banyaknya suara decitan, sosok lain Eren menghempas tangannya. Merentangkan tangannya dan membiarkan kesadarannya mengambil alih tubuh yang mulai terasa ringan.


Sial! umpatnya ketika tubuh itu membentur sebuah bebatuan yang langsung jatuh dan semakin membawa tubuhnya jatuh ke bagian bawahnya. Tidak membiarkan dirinya terjebak terlalu lama dengan kupu-kupu hitam yang terus menyayat tubuh itu, Eren merubah sosoknya menjadi sosok penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya. Jubahnya terkibaskan. Melenyapkan semua kupu-kupu berwarna hitam yang mengerubungi tubuhnya. Menyisakan letupan kecil berwarna kemerahan yang terus berjatuhan dan lenyap seperti kertas yang terbakar di udara kebagian bawahnya.


Dari sisa letupan bercahaya kemerahan itu, Eren menemukan sesosok mahkluk berambut panjang tergeletak diujung sebuah gundukan bebatuan disisi tebing. Samar-samar dalam pandangan yang tertutupi kabut, Eren dapat melihat tubuh sosok itu ditempeli beberapa kupu-kupu hitam pada bagian lengan, kaki, dan sisi lain wajahnya yang tidak terbaring sepenuhnya. Kepak sayap kupu-kupu hitam itu terlihat begitu lambat namun menutupi bagian penting sosok mahkluk itu.


Perlahan setelah kepakan sayap kupu-kupu hitam yang kesekian kalinya, kupu-kupu itu lenyap. Lenyap tertelan oleh sosok mahkluk yang sedang tidak sadarkan diri itu. Eren mendekati sosok itu. Memenuhi sosoknya dengan cahaya dari lingkaran 7 bola api di belakang kepalanya.

__ADS_1


Matanya tercengang. Dia mendapati sosok yang tidak asing. Bahkan sosok itu merupakan sosok yang baru saja dia temui bersama dua mahkluk kematian lainnya. Sosok yang sejenak bermata biru keemasan. Sosok yang meminta Eren menemukan bunga es abadi seribu tahun yang hanya tumbuh pada dasar lembah kelam, yaitu lembah kesengsaraan. Lembah yang tidak bisa diukur kedalamannya.


Lembah yang hanya menunjukan sisi kelam dan kegelapan sepanjang ingatannya. Lembah yang melenyapkan setiap sayap para penjaga. Melenyapkan setiap ingatan dan jiwa dari siapapun yang terlempar kedalamnya.


Eren mengangkat tubuh itu dengan menggunakan kekuatannya. Membuat sosok tubuh itu melayang dan sampai ke arahnya yang tengah melayang pada sisi lembah yang tidak ia sadari keberadaannya.


Sampai dihadapannya, Eren memposisikan tubuh itu berdiri dihadapannya. Memperhatikan dengan baik sosok yang sama dengan sosok yang baru beberapa saat lalu ia temui.


"Apa ini benar dirimu?"


"Kau terlalu bercahaya ditempat segelap ini..." gumamnya lirih.


Dalam tubuhnya yang terbalut dress hitam dengan jubah abu-abu gelap, berambut panjang sepinggang dengan poni menutupi sampai bagian alisnya, Laras menjawab sembari membuka matanya perlahan. Mata yang bercahaya biru keemasan. Kupu-kupu hitam yang menempel pada bagian pipi kirinya langsung lenyap seperti sebelumnya.


"Akhirnyaaa...." ujar Laras lagi setelah tubuhnya terbalut beberapa hawa berupa asap merah kehitaman yang lenyap bersamaan dengan lenyapnya kupu-kupu hitam yang menempel pada bagian tubuhnya.


Laras tersenyum simpul. Dia mengulurkan tangannya pada Sosok lain Eren dihadapannya.


"Aku butuh seorang untuk bisa berdiri dengan baik!" sosok Laras tersenyum lagi.


Melihat sosok itu tersenyum dengan cara yang sama pada dirinya, sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi tidak tahu lagi harus mengucapkan apa. Atau membalas bagaimana permintaan itu, kecuali menerima uluran tangan itu dan menarik Laras berdiri dihadapannya.


"Bunga es abadi seribu tahun ada disana!"


Laras menuding dengan yakin. Menunjuk pada sebuah goa yang hanya memunculkan semburat cahaya berwarna kebiruan yang berkedip tidak menentu.


"Waktu kita tidak banyak!" jawab sosok lain Eren dengan suara paraunya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2