
Aksara terdiam setelah mendapat tatapan tidak suka dari Eren. Dia mengangkat kedua tangannya lalu berbalik pergi dari hadapan Eren begitu saja.
"Menyebalkan!" gumam Eren bermaksud kembali ke dunia lembah.
Namun tubuh itu tahu-tahu sudah berada diatas tempat tidur dari sosok manusianya yang bernama Arashi.
"Kenapa harus berakhir ditempat ini?!" ujarnya kesal dengan penuh tanya.
"Entahlah!" jawab Aksara dari kursi disamping tempat tidur Arashi. "Gue juga heran kenapa bisa kembalinya kesini?!"
Arashi atau Eren melirik kesal. "Kenapa lo tiba-tiba harus disini?"
"Gue nungguin lo!" jawab Aksara. "Karena gue kembali kesini, gue juga yakin tubuh lo pasti juga sama!"
Arashi berdecak kesal. Ia menarik lepas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Melemparkan sembarang dan bermaksud bangun dari tempatnya duduk.
"Kamu sudah sadar?" tanya suara berbisik dibelakang telinga Aksara.
Sontak hal itu membuat Aksara maupun Arashi melompat kaget dari tempatnya masing-masing. Menatap kaget ke arah pintu dan mendapati Mari menunduk setelah menanyakan keadaan Arashi.
"Se, sejak kapan kamu disana?" tanya Aksara dalam kekagetannya.
"Baru saja!" jawab Mari. "Oh, ya! Aku sudah mengetuk pintu sebelumnya!" Kali ini nadanya terdengar sedikit bersemangat.
"Begitukah?" tanya Arashi dingin.
Mari mengangguk kecil. "Mungkin karena tadi kamu tidak sadarkan diri..." jawab Mari kemudian.
"Maksud lo?" Aksara meyakinkan.
"Ada apa?!" Kali ini Arashi sudah berdiri disebelah Aksara. Memperhatikan Mari dengan seksama.
"Aku... menolong mu lagi!" jawab Mari dengan malu-malu.
"Menolong?"
Lagi-lagi Aksara bertanya untuk meyakinkan maksud omongan Mari. Dia dengan penuh tanya menoleh pada Arashi, namun ia mendapatkan pemandangan yang membuatnya enggan mempertanyakan maksud perkataan Mari terhadap sosok Arashi.
"Seram juga!" desis Aksara membuang pandangannya. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Mari. Mari yang semakin berbinar-binar menatap sosok Arashi.
"Iya... Tadi saat di jalan pulang, aku melihatmu pingsan di taman!" jelas Mari menunduk malu-malu. "Aku lalu memapah mu kembali kesini."
"Tubuh lo?" Aksara melihat Arashi dengan penuh keanehan.
__ADS_1
"Baiklah!" jawab Arashi kemudian. "Sekarang pergilah! Aku sudah lebih baik."
"Tapi...." belum sempat melanjutkan bantahannya, Mari sudah mendapatkan tatapan mata sedingin es kutub utara dari Arashi. Membuat gadis itu sejenak panik dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Dia berbohong!" ujar Aksara.
"Ya!" jawab Arashi. Tubuh itu kembali mengambil wujud sang penjaga tertinggi lembah kematian. "Ada hal penting yang harus kita urus saat ini!"
"Mau pergi lagi?!" keluh Aksara. Belum bangkit dari duduknya, Aksara sudah mendapati dirinya sendirian dikamar itu. Sosok Eren sebagai sang penjaga tertinggi lembah kematian telah menghilang dengan mengibaskan jubahnya. Menyisakan kepulan asap hitam yang menguap ke udara.
"Hal penting apa?!" sentak Aksara begitu dapat menyusul sosok Eren sebagai sang penjaga tertinggi lembah kematian.
Tanpa disadari Aksara tengah berdiri di tengah-tengah area penghukuman lembah kematian. Tempat yang nampak begitu tidak menyenangkan. Hawa-hawa tidak mengenakan terpancar dari tempat yang kini ia pijaki. Aksara langsung terdiam mendapati sosok Eren menduduki salah satu tempat yang paling utama pada ruangan tersebut.
"Kau langsung melakukan ini tanpa menjelaskan dimana kesalahanku!"
"Tanpa mencari tahu kebenaran dari permasalah yang sebenarnya telah terjadi... Kau terlalu seenaknya dalam menjatuhkan hukuman mu!"
Seketika bola mata itu bercahaya kemerahan. Menguapkan banyak kegelapan bersamaan dengan warna kemerahan yang menyelimuti semua bagian area peradilan itu. Menghujamkan ribuan jarum pencabut jiwa pada setiap mahkluk yang menyaksikan penghukuman tersebut.
"Kalian!" teriaknya lantang dan menggelegar. "Jiwa-jiwa yang termakan oleh ketamakan! Jiwa-jiwa yang termakan oleh keegoisan! Dan jiwa-jiwa yang termakan oleh kelicikan! Jalanilah hukum semesta bersama dengan kesadaran yang kalian miliki!!"
"Apa dia sudah mengingat kejadian itu?" gumam Eren sebagai sang penjaga tertinggi lembah kematian.
Dia bangkit dari tempatnya sembari mengibaskan sisi jubahnya. Membangkitkan jiwa-jiwa hitam, putih, dan abu-abu yang tersegel dalam lembah hukuman, lembah kelam bernama lembah abu-abu. Lembah yang lebih menyerupai sangkar raksasa yang dikelilingi oleh hutan belantara. Baik sisi hutan ataupun sisi gerbang lembah tersebut, semuanya menjulang tinggi sampai ke langitnya.
"Kau mengkhianati kami!"
"Kau telah memilih kebenarannya!"
"Kau lebih mempercayai dia!"
Suara-suara berdesis itu memenuhi ruang penghukuman. Namun sosok Eren sebagai sang penjaga tertinggi lembah kematian hanya terdiam mendengarkan itu tanpa memberikan jawaban apapun. Tatapannya masih sama dinginnya seperti sejak awal datang ke area penghukuman ini.
"Bebaskan kami!"
"Biarkan kami membalaskan dendam kami ini!"
"Kami menginginkan keadilan!"
"Itulah kenapa kalian masih berada disana!" ujar Eren kembali ke sosoknya sebagai penjaga lembah.
Dengan hanya mengenakan setelan berwarna serba hitam dan sayap berupa kepulan asap hitam dibelakang punggungnya, sosok Eren menghempaskan jiwa-jiwa hitam, putih, dan abu-abu itu begitu saja.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aksara menyambut sosok Eren yang menghampirinya. Tatapan Aksara nampak begitu tidak suka saat ini.
"Akan ku ceritakan nanti!" jawab sosok Eren. "Saat ini, aku masih harus memastikan sesuatu!"
"Siapa sosok mu yang sebenarnya!?" Aksara menahan langkah sosok Eren dengan tatapan tidak terima.
"Masihkah aku harus menjelaskannya?" balas sosok Eren tidak kalah bengis menatap Aksara. "Apa kau ingin berakhir ditempat ini karena berlaku kurang ajar terhadapku?"
Diancam seperti itu langsung membuat Aksara mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Namun sikap itu terlihat sama santainya seperti saat Aksara menghadapi Eren sebagai sosok manusia bernama Arashi.
"Jiwa siapa yang harus kamu pastikan saat ini?!" Aksara bertanya datar.
"Ayu!" jawab sosok Eren.
"Ayu?" Aksara bertanya lagi. "Maksudmu sosok penghianat legenda yang entah karena apa berhasil memberikan kutukan diarea penghukuman ini?!" tambahnya antusias.
Sosok Eren langsung menatap tajam. Seakan siap menghanguskan Aksara menjadi abu saat itu juga.
"Seperti itu yang tertulis pada catatan semesta." kilah Aksara membela diri. "Masalahmu dengan perempuan banyak juga yah!" Belum selesai urusanmu dengan Laras! Sekarang sudah harus bertambah satu perempuan lagi."
"Dimana buku catatan itu?!"
"Catatan apa?"
"Buku yang kau bicarakan." jawab sosok Eren. "Buku itu harusnya berada pada alam larangan."
Aksara terdiam beku. Dia mengingat sebuah kisah yang tidak bisa dijelaskan sedikitpun. Dimana saat itu, dirinya dan Zara tanpa disadari telah membuka segel kunci alam larangan setelah bermaksud menyelamatkan Rein dari kutukan lembah danau pelangi.
"Masih disana..." jawab Aksara sangsi.
"Bagaimana?" tegas sosok Eren.
Aksara tidak bisa berkelit. Tahu-tahu saja sosok Eren sudah memindahkan tubuh mereka ke alam larangan.
"Alam ini tidak tersegel?!" seru sosok Eren. Hal itu mengundang kepanikan Aksara akan hal yang mungkin harus ia berikan penjelasannya.
"Sepertinya ini akibat keteledoran ku." jawab Aksara hati-hati setelah pertimbangan yang cukup lama.
Mengingat kalau sosok Eren kemungkinan merupakan sang hakim tertinggi lembah kematian, yang menghukum siapapun yang melanggar aturan penjaga lembah. Dan membuka segel alam larangan termasuk ke dalam dosa besar dengan penghukuman yang cukup berat. Karena segel yang dirusak adalah segel untuk alam yang bukan sekedar alam biasa.
Alam larangan adalah satu-satunya alam di semesta ini yang memiliki banyak catatan buruk. Didalamnya terdapat berbagai catatan hitam yang mampu memutar balikkan dunia, berbagai jenis catatan sihir hitam yang tidak ditemukan cara mematahkannya, catatan kelam sejarah yang berakhir dengan kehancuran dan musnahnya beberapa alam, lembah, dan dunia-dunia lain di alam semesta. Selain itu, didalamnya juga terdapat banyak benda-benda larangan, seperti mata kegelapan, rantai pemusnah jiwa, beberapa buku larangan dan buku kutukan yang keberadaanya sangat dirahasiakan.
"Jadi?" sosok Eren memutar arah pandanganya pada Aksara.
__ADS_1
"Begitulah!" jawab Aksara tidak yakin.
...***...