
Sosok gadis bergaun hitam selutut dengan rambut panjang dan poni yang menutupi bagian keningnya. Bola matanya berwarna biru keemasan. Dari tangannya memancar kilatan petir ungu yang terus saja menyambar dengan keteraturan sesuai suasana hatinya.
Sesekali matanya menatap dengan tatapan penuh arti. Menyelidik setiap jiwa bermata kelam yang kini hanya bisa menunduk dan menjauhi bertemu tatap dengan sosok matanya.
"Kenapa tidak berani menatapku?"
Suara nyaring seperti hantu perempuan yang jauh namun tenang, membuat semua jiwa bermata kelam itu semakin menunduk.
"Bukankah ini yang kalian inginkan?!"
Suara itu masih terdengar datar. Tapi kilatan petir ungu pada tangannya tidak bisa menyembunyikan segala bentuk emosi yang berkecamuk setelah semua yang telah terjadi.
Tatapan mata yang tidak biasa dengan perhatian dan senyum yang tidak bisa diprediksi, sosok bergaun hitam selutut itu mendarat diatas batu kristal dibawah kakinya. Menutup batu kristal itu dan mengurung semua jiwa bermata kelam dibalik batu kristal tersebut. Jiwa-jiwa bermata kelam itu tidak melawan, mereka pasrah dengan tindakan sosok bermata biru keemasan itu.
"Giliran kalian!"
Dia menatap kebawah kakinya seolah apa yang berada dibawah kakinya adalah sesuatu yang memang harus dia tinggalkan tanpa rasa belas kasihan.
Kini kilatan mata berwarna biru keemasan itu menatap ke sekelilingnya. Melihat hanya hamparan tanah tandus yang kering dan langit berwarna yang sama kelamnya dengan kegelapan yang dikurungnya dalam batu kristal dibawah kakinya.
"Bagaimana ini!!" gumam sosok itu.
Dia berpijak pada bagian tanah tandus dibawahnya. Satu langkahnya terasa begitu berat dengan keadaan didalam bagian pintu batu tersebut. Dia berbalik mencari celah dan mencari letak pintu batu pada dataran tandus yang tanpa ujung.
"Darimana aku harus mulai mencarinya..."
pandangan mata itu berputar dengan kekesalan dan kejengkelan yang tidak mengesankan. Pikirannya berputar. Langkahnya dipercepat dengan kebingungan. Lalu kembali ke titik awal dimana ia memulai langkah pertamanya. Dia menatap jengkel peti batu kristal dihadapannya.
"Semua ini salah kalian!" bentaknya menunjuk sisi batu kristal itu. Dia memukul dengan gemas peti batu kristal lalu mendudukinya.
"Kenapa aku bisa melupakan dimana jalan keluarnya?!"
Sosok itu kebingungan. Dia berteriak dengan pasrah menghadap ke langit kelam diatas kepalanya. Memandang gumpalan hitam layaknya awan gelap yang membawa nuansa kelam pada bagian dibawahnya.
"Aku membenci mu!"
Sosok itu menunjuk ke arah gumpalan awan gelap yang langsung terpecah dan menguap menyatu dengan aurora berwarna hitam kehijauan yang menghiasi langitnya.
Lama tertegun, sosok itu merebahkan tubuhnya pada bagian atas peti batu kristal. Dia menaikan satu tangannya. Membuka telapak tangan itu, jari jemarinya yang lentik bermain di udara.
__ADS_1
"Satu. Dua. Tiga!"
Mulai dari jari telunjuknya lalu jari tengah dan terakhir jari manisnya. Dia menghentikan tatapannya pada jari manis itu.
Lalu mengingat bayangan sekilas tentang mimpi seorang yang dikenalnya. Senyum cerah dengan wajah yang selalu ceria.
"Jari manis ini akan dihiasi cincin oleh orang yang aku cintai..." ujarnya riang dengan senyum yang begitu sumbringah.
"Orang yang dicintai?!" sosoknya dengan berambut pendek menatap bingung.
"Iya! Apa lo pernah jatuh cinta?!" ledeknya sembari mencolek pipi itu." Aku ingin jatuh cinta pada pria terbaik yang aku temui dihidupku. Orang yang paling aku inginkan ada di hidupku selamanya. Dialah yang akan memberikan cincin pada jari manis ku ini!"
"Jari manis ya?!" sosok itu mengingat. Mengingat senyum manis yang berubah drastis entah karena alasan apa.
Dia menghela nafasnya. Memainkan lagi jari manisnya di udara. Mengingat bayangan dari orang yang selama ini mengisi waktunya. Dia menyadari siapa sosok itu. Sosok yang selalu membuatnya berdebar dan ingin menghabiskan waktunya dengan sosok itu selamanya.
"Aku ingin menemuinya."
Sosok itu seketika teringat hal yang penting. Itu adalah hal yang seharusnya sudah bisa ia lakukan sejak awal namun ia melupakan semuanya semenjak terkurung dalam wujud kepulan asap hitam tanpa wujud. Dia menyentil keningnya dengan geram.
"Sejak kapan aku menjadi begini bodoh!"
Kini yang tersisa didalam lembah itu hanyalah lembah tandus dengan langit kelam dan satu peti batu kristal yang tertutup dengan rapat.
Dari langitnya yang luas tanpa ujung, nampak bayang pintu batu yang samar-samar tersembunyi di balik gelapnya aurora berwarna kehijauan.
//
Aksara mendarat tepat disamping sosok lain Eren yang sebagai penjaga tertinggi. Memandang ke sekeliling bagian lembah dengan perasaan yang tidak menentu. Lembah itu hanya menunjukan tiga warna. Hitam, putih, dan abu-abu.
"Lembah manakah lagi ini???"
"Lembah abu-abu..." jawab Eren dengan suara yang sedikit ragu-ragu.
Eren yang membuang pandangannya ke seluruh bagian lembah, mendapat tatapan yang tidak biasa dari Aksara. Lalu tanpa disadari, Eren kembali ke sosok lainnya sebagai penjaga lembah berjubah merah maroon.
"Lembah ini nampak berbeda!"
"Itu karena kau tidak pernah masuk ke dalam sini sebelumnya!"
__ADS_1
"Aku pernah melihatnya dari luar lembah cukup lama."
"Itu bagian luar dari lembah! Tidak pernah ada yang bisa melihat keseluruhan bagian lembah abu-abu sebelumnya."
Eren menatap genangan air yang perlahan menyusut dibawah kakinya. Melihat bayangan dirinya sendiri dalam genangan air dibawahnya, Eren membuka tudung jubah yang menutupi wajahnya. Wajah yang berhiaskan topeng tengkorak dibagian sisi kanan wajahnya. Kini topeng tengkorak itu bermula dari kening lalu bagian sisi kanan wajahnya kemudian bagian lehernya. Eren mengangkat bagian tangannya. Mendapati tangan itu kembali berwujud tengkorak yang hanya terbungkus oleh kulit berwarna putih pucat.
" Dan sisi ini hanya muncul jika terjadi sesuatu terhadap penjaganya."
Aksara menatap aneh. Tatapannya lebih terlihat menyelidik dengan rasa tidak percaya akan jawaban yang diterimanya dari sosok disebelahnya.
"Bagaimana Laras selama ini?!"
Aksara mengingat bayangan terakhirnya tentang Laras yang ia tinggalkan begitu saja.
"Harusnya baik-baik saja!" jawabnya. "Kenapa bertanya?!"
"Karena dia penjaga lembah abu-abu ini!"
Aksara termenung sejenak. Apakah harus memberitahukan keanehan yang Laras tunjukan selama beberapa hari terakhir ataukah membiarkan Eren mengetahuinya sendiri.
"Entahlah! Bukankah sebaiknya kau melihatnya sendiri."
Giliran Eren yang termenung. Kini pikirannya antara keadaan bayang hitam bermata biru itu dan keadaan sosok penjaga lain dari lembah abu-abu yang tidak lain adalah Laras.
Kalau keadaan lembah ini kembali, lalu bagaimana keadaan penjaga lembah ini saat ini? Apa yang terjadi pada penjaga lembah ini sebenarnya?!
Keadaan lembah kembali menjadi lembah abu-abu yang pernah dijaga Eren dan kembali menjadi sisi lembah yang pernah dikenali Aksara dari sisi dalam lembah.
Eren dan Aksara berbalik. Mendapati satu-satunya pohon yang berdiri kokoh pada dataran lembah menunjukan kembali warna kelamnya. Berhiaskan dauh berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Air yang menyusut dibawah kaki keduanya menunjukan satu demi satu bagian dari batu nisan yang dulu menghiasai bagian terluar lembah.
Sementara pagar yang dulu menjulang tinggi sampai ke langitnya kini tertutupi dengan banyaknya semak belukar berduri dengan pucuk kecil bunga berwarna merah yang menyala berkelap-kelip seperti kelap-kelip pada kunang-kunang.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?!"
pertanyaan itu keluar dari Aksara ketika menyadari keadaan lembah yang dilihatnya menjadi semakin berkabut. Dibalik lebatnya hutan di bagian luar sisi lembah itu, ada hawa dingin yang berhembus. Asap gelap menguap dan menebarkan hawa kegelapan disekitaran kaki kedua sosok lain pada lembah abu-abu itu.
"Mencari Laras."
...***...
__ADS_1