Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Cincin Batu Senja


__ADS_3

Sebuah ruang dimensi kembali terbuka saat Laras merubah arah pandangannya sembari menunjuk dengan sembarang. Ruang dimensi yang didominasi oleh warna kuning emas dan abu-abu menuju kehitaman. Dari pengelihatan Eren, dibagian dalam ruang dimensi itu hanya terlihat 6 bilah tempat penyimpanan yang menampakan sebuah bayangan kepulan asap yang nampak biasa saja.


Setiap kepulan asap lama kelamaan menunjukan bentuknya sendiri. Ada yang berupa kalung dengan batu permata yang bersinar, ada berupa kendi yang menyerupai botol arak China biasa, yang lain nampak belum begitu jelas karena Laras sudah menutup kembali ruang dimensi tersebut lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lainnya.


Dia lalu seperti mengusap sesuatu dihadapannya, lalu sebuah lampu yang lebih mirip pelita malam muncul dan menggantikan suasana di alam Larangan menjadi


malam penuh bintang. Langitnya nampak begitu indah dengan ribuan bahkan jutaan bintang yang menghiasi. Ditambah beberapa kali hujan meteor yang melintas, ruang dimensi di alam Larangan kini nampak sama menyejukkan seperti suasana pagi, siang, ataupun sorenya.


Merasa terhipnotis sementara dengan pemandangan yang dilihatnya, sosok Eren barulah menyadari ketiadaan Laras pada dimensi itu. Dia melihat ke sekeliling untuk menemukannya, namun keberadaan Laras entah menghilang entah kemana.


Sementara sosok yang dicari tengah masuk ke dalam dimensi mimpi. Membiarkan tubuhnya melayang di udara sembari ia beristirahat. Dalam bayangan ketika ia memejamkan mata, bayangan kehidupan itu lagi-lagi mengusik Laras. Bayangan yang membuat Laras mengambil keputusan untuk melupakan sosok sang penjaga tertinggi.


"Apa yang sudah aku lupakan sebenarnya... dan kenapa aku masih harus menanggung semua rasa sakit itu!" gumam Laras ketika matanya kembali terbuka.


Rasa sakit dari penerima titah Alam Larangan. Sejak awal menerima titah sebagai penjaga Alam Larangan, Laras menjalankan tugasnya dengan senang hati. Menikmati setiap kali ada benda-benda yang muncul di beberapa bagian alam Larangan. Beberapa lainnya, Laras sendirilah yang mencarinya karena baik itu benda atau berupa mantra dan lainnya, sebelum dimasukan ke alam Larangan sudah harus disegel sebelumnya.


Tidak jarang beberapa benda bahkan memberi kutukan tersendiri pada siapapun yang berusaha mengambilnya. Entah sudah berapa ribu kutukan yang Laras terima karena tugasnya tersebut. Namun satu-satunya hal yang membuat Laras masih menjalani hukuman dari penerima titah adalah hukuman cinta.


Hukuman yang Laras dapatkan karena begitu menyukai 9 benda Larangan yang tercipta dari perasaan seseorang terhadap sosok sang Hakim tertinggi Lembah kematian. 6 dari 9 benda yang kini tidak jelas keberadaanya.



Lonceng perak


Ribuan benang Merah


3 buku kehidupan (Buku tua bersampul hitam kemerahan, buku tua bersampul gambar bulu keemasan, dan satu buku yang tidak pernah ditemukan.)


Gelang kayu giok hitam legam

__ADS_1


Kalung kutukan matahari


Kendi pengunci jiwa


Batu Bulan


Kristal ingatan


Tanaman bunga yang bentuknya lebih menyerupai tanaman bunga matahari.



Laras menengadah ke langit. Melihat satu demi satu meteor yang melintas diatas kepalanya.


"Kenapa dia begitu banyak menciptakan benda-benda terkutuk itu... dan kenapa setiap benda itu muncul, aku selalu tertarik untuk menyimpannya."


Biasanya pada satu kehidupan dengan satu hubungan cinta, alam hanya akan menerima satu benda, mantra, atau satu buku terkutuk atas nama keterikatan cinta dan takdir alam. Namun untuk sosok Hakim tertinggi, bahkan memiliki 9 benda kutukan atas keterikatannya dengan cinta dan takdir. Dari semua hal yang dimiliki oleh sang Hakim Tertinggi, Laras malah harus mengalami kutukan dari benda-benda itu hanya karena semua benda itu selalu berakhir ditangannya.


Seperti lonceng perak, 2 buku kehidupan, dan gelang giok hitam legam. Semuanya selalu berakhir dalam genggamannya. Dan setiap benda yang ada di genggamannya, Laras selalu menerima satu kutukan. Kutukan untuk menerima semua perasaan yang tertuang di dalam setiap benda-benda kutukan cinta dan takdir alam dari Sang Hakim tertinggi itu.


"Kenapa aku harus memikirkannya!" ujar Laras menarik lagi sebuah benda yang sudah jatuh ditangannya.


Laras memperhatikan benda itu baik-baik. Melihat setiap detail ukiran pada benda yang kini tepat berada di telapak tangannya.


"Satu kutukan lagi?" Laras terdiam menyadari kalau benda itu memiliki kesamaan dengan 9 benda kutukan lainnya milik Sang Hakim tertinggi. Sebuah benda yang membentuk sebuah cincin batu berwarna hitam keemasan yang didominasi nuansa jingga keunguan yang ditampilkan pada setiap sisi cincin itu.


"Padahal dia belum pergi lebih dari sehari dari tempat ini. Dia malah sudah berhasil membuat benda kutukan takdir dan cinta yang semurni ini lagi?!" geram Laras. Bagian penggal sayapnya yang telah hilang menggelitik kecil. Memunculkan satu bulu-bulu halus yang tidak Laras sadari.


Merasakan sesuatu menggelitik, Laras tidak menyadari kalau cincin itu mengeluarkan kilatan cahaya yang langsung menyilaukan matanya. Membuat Laras reflek memejamkan mata sembari menerima kutukan dari benda itu.

__ADS_1


"Kali ini apa lagi?!"


Untuk sesaat, tubuh itu seakan terbawa oleh arus yang begitu deras. Tubuhnya seperti terombang-ambing dalam kegelapan. Sebuah benda seperti tengah ia tabrak, dan lalu semuanya benar-benar gelap dan sunyi.


Begitu membuka matanya, Laras sudah kembali berada di dalam kamar apartemennya yang ia sewa sebagai sosok manusia bernama Lara. Tubuh itu masih tetap diatas tempat tidur. Pandanganya menerawang melihat kearah langit-langit kamarnya. Hanya terdapat warna putih yang menghiasi langit-langit kamar itu.


"Aku harus menyelesaikan tugasku!" ujarnya.


Lara lalu bangkit dari tempat tidurnya. Menuju kamar mandi lalu memandangi dirinya di dalam cermin wastafel. Dia mencuci wajahnya lalu terkesiap melihat cincin kutukan sang Hakim tertinggi Lembah kematian melingkar manis pada jari manisnya.


"Kenapa?!" ujar Lara panik.


Benda terkutuk alam Larangan seharusnya tidak boleh berada di dunia manusia. Karena kutukan didalam benda larangan akan merubah banyak perjalanan takdir manusia jika si pemakai memiliki keterikatan yang kuat dengan beberapa manusia di sekitarnya. Memandangi cincin itu melingkar pada jari manisnya, Lara berusaha untuk melepaskannya. Namun tidak membuahkan hasil. Malah cincin itu semakin melekat pada jarinya.


"Tidak mungkin!" geram Lara lagi untuk yang ke sekian kalinya karena tidak berhasil melepaskan cincin itu kembali. "Apa-apaan lagi ini!"


Lara membalik badannya bermaksud kembali ke Alam Larangan, tubuh itu malah tetap berada didalam kamar tersebut. Terkunci oleh kutukan cincin itu, Lara akhirnya menyadari, dia harus menjalani kehidupan sampai kutukan itu berjalan pada dirinya di kehidupan manusianya sebagai Lara.


"Harus berapa lama aku terjebak di dunia ini!" ujar Lara menyerah dengan keadaan dan kenyataan yang harus ia terima.


Lara menaikan tangan kanannya yang berisi cincin kutukan itu. Melayangkan tangan itu ke udara sembari menutupi cahaya lampu di dalam kamarnya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu! Sekalipun kamu memaksa untuk pergi, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap tinggal! .... Sekalipun aku harus menghancurkan dunia ini!"


Lara membuka matanya.


"Suara parau itu??!" Lara berpaling memandang ke arah pintu kamarnya. Menatap pintu yang tertutup sembari merasakan sesosok lain menatapnya dari balik pintu tersebut.


...***...

__ADS_1


__ADS_2