Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Aturan dan Takdir


__ADS_3

1. Setiap jiwa yang harusnya kembali tetapi dipermainkan takdir, jiwa itu harus mengulangi siklus hidupnya sampai ia menemukan jalan untuk kembali.


2. Setiap jiwa menanggung sendiri hasil dari tindakannya. Terlepas dari ia telah merubah takdir hidup manusia lainnya.


3. Setiap manusia memiliki takdir yang berbeda, namun di satu waktu ketika terjadi pertentangan, semuanya adalah proses pertarungan antara hidup-mati, baik-buruk, suka-duka, hitam dan putih.


4. Takdir tidak bisa dipilih, tetapi dalam menjalaninya, manusia selalu diberikan pilihan untuk melalui setiap prosesnya.


5. Putih tidak selamanya berasal dari putih, hitam juga tidak selama karena hitam. Setiap hal dalam hidup memiliki pilihannya tersendiri dan pilihan itulah yang menentukan siapa dan bagaimana dirimu yang sebenarnya.


Arashi terdiam disamping ranjang rumah sakit, dimana Mari tengah tidak sadarkan diri. Tidak banyak hal yang ia pikirkan, kecuali bayangan gadis berambut pendek sebahu dengan dress hitam selututnya. Bagaimana cara gadis itu menatapnya benar-benar berbeda jauh dari gadis yang menatapnya dalam mimpi yang setahun belakangan menghantuinya.


Tatapan gadis didalam mimpinya di penuhi oleh kebencian. Nampak begitu bengis dan tidak berperasaan. Tetapi pagi ini, sebelum semua insiden kecil itu terjadi, dia bertemu sosok gadis dalam mimpinya. Sosok gadis yang membuat waktu disekitarnya terasa berhenti dalam hitungan detik. Sosok gadis yang membuatnya kehilangan pikirannya dalam satu waktu.


Seakan sudah berkali-kali bertemu dengan sosok yang sama, dengan tatapan matanya yang berbeda, Arashi langsung menyadari kalau keadaan yang sekarang ia akan lalui bukanlah keadaan yang mudah untuknya.


Arashi melihat ke arah sampingnya, dimana Mari belum sadarkan diri dengan satu tangan di gift karena tertindih oleh tubuhnya ketika gadis itu menolongnya. Atau lebih tepatnya, dengan sengaja menarik tubuhnya agar mencelakai sosoknya.


Ini bukan kali pertama Arashi menyadari tindakan Mari yang seperti sekarang. Tahun lalu juga hal yang sama terjadi. Tahun pertama kali Arashi bertemu dan mengenal Mari.


Pagi itu, Arashi baru saja keluar dari kamarnya. Setelah beberapa waktu, sosoknya merasa terus diawasi oleh sesuatu yang tidak jelas, Arashi akhirnya memberanikan diri untuk berkegiatan seperti sebelumnya.


Hari itu, awalnya dia melihat Mari nampak hanya berjalan biasa-biasa saja menuju anak tangga, tapi Mari terlihat aneh ketika memperlambat langkahnya, lalu berhenti untuk membiarkan Arashi turun tangga terlebih dahulu.


Disitulah pertama kalinya Arashi melihat tindakan Mari yang dengan sengaja membahayakan dirinya. Dengan menjatuhkan diri dari atas anak tangga, Mari lalu mendorong tubuh Arashi dan menukar posisi jatuhnya, sehingga terlihat Arashi lah yang ditolong oleh Mari.


Bukan tanpa kecurigaan yang tidak mendasar juga Arashi memiliki pemikiran demikian, kejadian jatuhnya Mari dan dirinya dari anak tangga itu juga tidak sengaja terekam oleh ponsel Arashi yang bermaksud membuat vidio di hari pertama bekerja setelah pindah rumah.


Sejak saat itu, Mari lalu selalu melakukan sesuatu yang menekan perasaan titik bersalah pada Arashi. Membuat Arashi merasa terus-terusan dibohongi hanya demi kepuasan Mari dalam melakukan hal-hal yang menurut Arashi tidak begitu lazim untuk dilakukan.


Mulai dari mengantarkan sarapan setiap pagi. Menjaga didepan pintu ketika Arashi sering bermimpi buruk, dan lebih tidak mengenakannya lagi, Tiga bulan lalu Mari juga melakukan hal yang sama seperti hari ini, dengan sengaja mencari bahaya.


Dengan meminta bantuan memindahkan almari di rumahnya, Mari lalu menarik bagian depan almari itu untuk membuat seolah-olah almari itu akan jatuh menimpanya. Begitu Arashi bermaksud menolongnya, lagi-lagi hal yang sama terjadi. Entah secara kebetulan atau tidak, Marilah yang terlihat menolong dirinya, bukan sebaliknya. Dan kejadian itu kembali dimanfaatkan dengan baik oleh Mari dalam menekan perasaan Arashi tentang balas budi karena menyelamatkan nyawanya.


"Merasa bersalah?" tanya Aksara yang sudah berdiri disamping ranjang rawat Mari.


Arashi melirik kearah luar ruangan lalu berpaling lagi kepada Aksara.


"Lo benar-benar kaya setan yah!" tegur Arashi. "Selalu muncul tiba-tiba!"


"Level gue jauh lebih tinggi dari nama yang lo sebut barusan!" jawab Aksara cuek.


"Lo beneran setan?" tanya Arashi lagi.

__ADS_1


Aksara mendengus kesal. Dia melirik Arashi dengan tajam, tapi cara Arashi diam dengan pikirannya yang menerawang membuat Aksara menyadari sosok Eren memang dirinya.


"Perlu gue buktikan?"


"Kalau iya, buat dia ngelupain kejadian tadi!" jawab Arashi sembarangan menuding kearah Mari yang nampak sedang tertidur.


"Gampang!" jawab Aksara lagi.


"Gampang apanya?" suara berbisik itu menyapa tidak suka.


Mari langsung melirik kepada Aksara. Lalu berpaling pada Arashi sembari memasang wajah memelasnya.


"Aku menolongmu lagi..." ucap Mari pada Arashi. Ekspresi pemuda itu langsung seperti hilang empati dengan gadis dihadapannya. Alih-alih merasa bersalah dan merasa berhutang budi, Arashi nampak begitu kecewa dengan keadaan yang terjadi.


"Gue mengerti sekarang!" ucap Aksara lalu menjentikkan jarinya jemarinya. Dia menghapus ingatan Mari yang telah menolong Arashi dari mobil yang hampir menabraknya. Hal tersebut langsung membuat kekuatan Aksara tersegel. Dia termenung beberapa saat setelah menyadari hal yang akan dihadapinya ketika sosok penjaga kehilangan kekuatannya untuk sementara waktu.


Aturan nomer 6 :


Tidak semua urusan manusia bisa dicampuri. Ada kalanya sesuatu yang telah berubah alur, akan menerima takdir dengan waktu yang berulang-ulang.


Aturan nomer 7 :


Siapapun kamu, kamu hanya bisa mencampuri urusan manusia yang berhubungan dengan tugas dan takdirmu, diluar daripada itu, mencampuri urusan manusia akan menyegel kekuatan yang kamu punya untuk sementara waktu.


Setiap jiwa terhubung satu sama lainnya. Mereka menjalani ujian kehidupan adalah untuk memurnikan kembali apa yang telah rusak dimakan waktu.


"Sial!" cetus Aksara menyadari segel yang menyerang seluruh tubuhnya. "Apa mereka pengecualian saat ini?"


"Ada apa?" Arashi mendekati Aksara dengan tatapan tidak senang. "Apa lo cuma bisa omong besar!?"


Aksara hanya mengangkat kedua bahunya dengan enteng. Enggan memberikan jawaban, Aksara lalu memalingkan pandangannya pada Mari.


"Kapan lo nolongin dia?" tanya Aksara pada Mari.


"Eh!! Hmm... Bukannya aku dirumah sakit sekarang dan dengan keadaan begini karena aku menolongnya dari kecelakaan yang hampir dia alami?!" jelas Mari puas.


Mari dengan yakin memberikan tantangan pada Aksara untuk membuktikan kalau dirinya benar. Dia lalu berusaha meraih tangan Arashi sekali lagi. Meraihnya untuk mengatakan hal yang sama.


"Bukan dia yang lo tolongin barusan!" kata Aksara pada Mari. "Tapi...!"


"Sudahlah Mari!" sela Arashi. "Istirahatlah. Itu akan lebih baik untuk keadaan lo yang sekarang."


Mari mengangguk senang. Dia langsung menarik selimut ranjang rumah sakit itu, dan merebahkan dirinya dengan santai.

__ADS_1


"Kamu akan merawat ku yang tidak berdaya ini bukan?"


"Gue beli makanan dulu yah!" Arashi melirik tanpa ekspresi yang berarti. Tanpa banyak bicara lagi, dia mendorong Aksara untuk keluar bersama dengannya.


"Kenapa lo cegah gue?!"


"Lo nggak kenal dia!"


"Lo kenal?"


"Setidaknya gue tahu dan mengerti cara dia mempermainkan!"


"Baik bener sih lo!" jawab Aksara. "Padahal baru juga kemarin kenal gue!"


"Bermasalah dengan gue yang udah tahu orangnya, jauh lebih baik daripada menambah permasalahan baru!"


"Yang gue omongin, putusin, dan jalankan, semua kan tanggung jawab gue!" balas Aksara.


"Nanti lo akan mengerti kalau sudah waktunya!" ucap Arashi.


Arashi menatap Aksara dengan cara yang biasa Eren lakukan dulu pada sosoknya. Hal itu langsung mengingatkan Aksara dengan maksud dan tujuannya datang ke rumah sakit ini mencari sosoknya.


"Baiklah!" jawab Aksara kemudian.


Tidak membuang-buang waktu, Aksara langsung menanyakan tentang hal yang dilihat Arashi sampai-sampai ia menyeberang jalan tanpa melihat kondisi jalan yang ia lewati.


"Gue melihatnya!" jawab Arashi. "Gadis dalam mimpi gue setahun terakhir!"


"Apa dia gadis berambut pendek sebahu yang menggunakan dress hitam selututnya?" tanya Aksara meyakinkan jawaban yang diberikan Arashi padanya.


"Menurut lo ada orang lain lagi diseberang sana selain gadis itu?"


"Banyak!" jawab Aksara. "Gue kan liatnya dari lantai 2!"


Arashi lalu menatap aneh pada Aksara. Arashi meyakini dia hanya melihat sosok gadis berambut pendek sebahu itu diujung jalan. Memang banyak yang lalu lalang, tapi matanya hanya terfokus pada gadis diseberang jalan itu. Sampai dirinya tidak menyadari kalau dia sudah melangkah ke tengah-tengah jalan tanpa melihat kondisi disekitarnya.


"Apa lo mengenalnya?"


"Entahlah!" jawab Aksara. "Yang bisa gue kasi tahu ke elo, kalau emang dia gadis dalam mimpi lo, dia pasti akan datang lagi untuk kebetulan bertemu lo di satu waktu!"


"Begitukah?"


"Ya! Takdir jiwa dari manusia memang seperti itu. Yang harusnya bertemu pasti bertemu. Yang tidak ditakdirkan dalam hidup manusia, akan berlalu dengan caranya sendiri."

__ADS_1


...***...


__ADS_2