Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Penjaga Bermata seribu


__ADS_3

"Aku tidak tahu."


Seiring dengan jawaban yang dikeluarkan Aksara, pemuda itu berdiri dan menatap sejenak kaki Laras yang dikatakan terkilir itu kemudian menghilang dari pandangan Laras dengan menyisakan rasa bingung pada gadis yang kini kembali meletakkan hpnya di atas meja.


Gadis itu mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arah dapur, namun tidak menemukan sosok pemuda yang dia pikir menghilang dari hadapannya untuk pergi ke dapur untuk mengambilkannya air minum.


"Tidak bertanggung jawab sama sekali." Keluh Laras kemudian bangkit dari duduknya.


Bermaksud ingin berjalan sambil tertatih, rasa merasa terheran-heran melihat pergelangan kakinya yang tadinya ada bekas biru memar besar, kini bekas itu sudah menghilang. Ditambah sedikit rasa sakit yang ia buat-buat untuk memanfaatkan Aksara agar mau melayaninya- juga sudah tidak ia rasakan lagi.


"Sepertinya dia sudah menyadarinya!" gumam sosok Laras dengan kepulan asap berwarna pekat memenuhi sekujur tubuhnya. Matanya bersinar kemerahan dan penuh dengan kemarahan.


//


Aksara berpikir untuk mencari tempat yang tenang dan damai untuk mengulang lagi semua ingatannya tentang Laras dan keterikatan yang terjadi saat Eren kehilangan Rein didalam rumah itu setelah mendengar suara teriakan dan bayang hitam tanpa wujud yang menghilang beberapa detik setelahnya.


Pikirannya terpaku pada sisi lembah di ujung jalanan setapak batu bata merah. Dataran lembah yang sebagian berisi hamparan bunga lily lembah. Lalu satu buah pohon perindang yang berada dekat sisi curam lembah adalah tempat terbaik bagi Aksara untuk memikirkan semua hal itu.


Namun, dirinya menyadari telah berada pada sisi lembah yang tidak dikenalnya. Dirinya baru saja jatuh dibawah pohon tua berbunga pink pada bagian tengah dataran lembah yang sebagian besar dari lembah itu dikelilingi oleh genangan air membentuk danau.


Satu hembusan angin yang kuat mengantarkan tubuh Eren untuk mendarat darurat pada sisi pohon disebelahnya. Aksara mengerutkan kedua alisnya.


"Maaf menarik mu ke sini?!"


Eren tersenyum dengan kikuk.


"Kacau sekali?!" respon Aksara yang membuang pandangannya ke arah depannya. Arah dimana Eren baru saja terlempar dari sisi tersebut.


"Jangan bertanya!"

__ADS_1


Eren mengusap bibirnya yang terasa perih setelah berkali-kali mendapatkan serangan dari mahkluk penjaga yang berdiri dengan kemurkaan didepan dua pintu batu pada lembah tersebut.


Besar tubuh penjaga itu melebihi batas normal besar sosok penjaga tertinggi pada lembah manapun. Dan mahkluk penjaga itu mempunyai banyak mata, banyak tangan dan dua kaki jenjang yang seluruh tubuhnya berwarna hitam pekat kecuali bagian mata yang seperti mata kucing pada siang hari. Setiap tangan memiliki lebih dari ribuan mata dan gerakan setiap mata baik pada sisi kepala dan sisi tangannya melakukan pergerakan yang berbeda-beda.


Empat mata besar pada bagian kepala mahkluk besar itu, mengarah pada 4 penjuru mata angin. Dan kali ini keempat mata itu bergerak berirama sesuai dengan suara gemerincing yang didengar oleh kedua pemuda.


Eren yang tahu asal muasal suara gemerincing itu kemudian bersiap kembali untuk melakukan perlindungan dan hal apapun yang ia bisa untuk mengembalikan mahkluk itu ke dalam salah satu pintu batu.


Sementara Aksara, matanya langsung tertuju pada kilatan petir ungu yang menjalar-jalar pada sosok hitam yang terlihat jauh lebih kecil dari mahkluk dihadapannya itu. Dia yang tidak dapat melihat dengan jelas, akan mengira kilatan petir ungu itu adalah bagian dari mahkluk tersebut.


Sosok dengan kilatan petir ungu itulah yang mengeluarkan suara gemerincing dari pergelangan tangannya yang hanya berupa kepulan bayang hitam saja. Aksara memperhatikan dengan baik suara gemerincing tersebut.


"Bantu kami!"


"Tentu!"


Eren melesat ke depan dengan sayap berupa kepulan asap hitam. Meliuk-liuk untuk menghindari serangan ribuan jarum berwarna hitam pekat dan menghancurkan beberapa jarum yang menghalangi arah laju terbangnya. Sesekali Eren menukik turun, ketika sekali lagi serangan dilancarkan oleh ribuan mata pada bagian tangan mahkluk yang menjaga dua bagian pintu batu dihadapannya.


Sementara sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya masih terus berusaha membunyikan suara gemerincing dari atas kepala mahkluk tersebut. Mengitari ke empat mata dan terbang ke bagian mata paling belakang dengan perlahan. Namun pergerakannya mendapat respon tidak baik dari beberapa mata kelam pada sisi lain tangan mahkluk tersebut. Serangan dilancarkan kearahnya tanpa ia sadari.


Berbeda dengan Eren dan sosok bayang hitam dengan petir ungu dihadapannya, Aksara mengepakkan sayapnya yang berupa tulang belulang untuk melesat dan memecahkan ratusan jarum setiap kali melakukan pergerakan. Kini dia terpental kembali ke dataran setelah gumpalan asap hitam pekat yang berukuran begitu besar mengenai bagian tubuhnya. Beberapa jarum berwarna hitam pekat mengikuti arah dirinya dan tertancap lebih banyak lagi pada sisi dataran lembah tersebut.


Melihat sayapnya yang sudah mengeluarkan kepulan asap kehitaman, Aksara segera merubah sayap itu menjadi sayap berbulu emas. Sayap indah itu seketika menyita perhatian empat mata utama dan ribuan mata kecil pada setiap sisi tangan mahkluk tersebut.


Mahkluk itu bergerak cepat ketika Aksara baru saja mengibaskan bagian ujung sayapnya yang basah. Perhatiannya sedang tertuju pada ujung sayap berbulu emas miliknya.


Disisi lain, sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya dan Eren langsung melesat cepat supaya bisa melewati bagian tubuh mahkluk itu untuk memperingatkan Aksara tentang sayapnya itu.


Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu jauh lebih cepat karena memecah dirinya menjadi beberapa bagian. Satu bagian dari bayangannya sudah berada dekat dengan Aksara.

__ADS_1


Sosok itu mengeluarkan suara gemerincing seiring dengan wujudnya kembali utuh. Suara gemerincing yang langsung mengarahkan tatapan mata Aksara pada sosok mahkluk yang kini berlari kearahnya seperti seekor anjing mengejar mangsanya.


Aksara sejenak menatap kaget. Menarik wujud sosok hitam yang ternyata bermata biru dihadapannya, Aksara meloncat menghindari sergapan mahkluk yang mereka bertiga juluki sebagai penjaga mata seribu.


Belum mengambil posisi dengan baik setelah meloncat menghindar, penjaga bermata seribu itu sudah memanjangkan tangannya untuk menangkap Aksara dan bermaksud membenamkan tubuh itu pada wujudnya saat ini.


"Nyaris saja!"


Eren sudah menyemburkan bola api birunya pada mahkluk itu. Menimbulkan cahaya yang menyilaukan semua bagian mata pada mahkluk itu. Begitu semua matanya tertutup, Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu- langsung mengarahkan semua kilatan petir pada tubuhnya untuk mendorong mahluk penjaga mata seribu itu kembali ke dalam salah satu lembah dibalik pintu batu dibelakangnya.


Dibantu oleh Eran dan Aksara yang sama- sama berubah ke sosok tertinggi mereka, mahkluk itu akhirnya tercebur kedalam air.


Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu- langsung melesat ke salah satu pintu batu. Membuka lebar telapak tangannya dan kembali mengarahkan kilatan petir ungu itu untuk membuka sebuah portal. Portal yang akhirnya menyedot mahkluk penjaga mata seribu itu kedalam salah satu pintu batu yang dibuka oleh bayang hitam bermata biru tersebut.


Mahkluk penjaga bermata seribu itu tersedot perlahan. Di bagian akhir hanya menyisakan sisi kepala dan satu tangan yang berusaha merangkak keluar. Melihat itu, Eren dan Aksara menggabungkan kekuatan keduanya yang saling mendukung.


Lemparan bola api kebiruan dengan kilatan cahaya mengarah pada portal tersebut. Namun Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu- langsung berdiri dihadapan mahkluk itu dan menerima serangan kedua pemuda yang seharusnya tertuju pada mahkluk dibelakang bayang hitam bermata biru itu.


"Apa yang dilakukannya!!!"


Eren berusaha meraih. Begitupun Aksara. Tangan keduanya terjulur ke hadapannya. Salah satu dari kedua tangan sempat hampir diraih olehnya yang sempat terpental ke bagian belakang, namun tangan mahkluk penjaga bermata seribu itu sudah menangkapnya terlebih dahulu.


Menarik tubuh dari Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu- ke dalam portal. Portal yang akhirnya menghilang bersamaan dengan tertelannya mahkluk penjaga bermata seribu.


Eren dan Aksara terhempas oleh angin yang kuat. Jatuh mendarat dibagian dataran lembah, mereka melihat ke arah pintu batu yang langsung tertutup rapat begitu mahkluk penjaga dan portal yang dibuat bayang hitam bermata biru itu menghilang dari pandangan.


!!!!


...***...

__ADS_1


__ADS_2