Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Sosok Rein


__ADS_3

"Aku akan melakukan hal apapun untuk mendapatkannya! Dia hanya boleh menjadi milikku! Bukan milikmu!!" Teriak Rein dengan suara lantang.


Keegoisan menumpuk di hati Rein. Membayangkan bagaimana setiap hal yang Rein inginkan dan semua perhatian orang-orang yang Rein sukai, beralih kepada Laras. Dan terakhir melintas dalam benak Rein adalah adalah bagaimana semua perhatian yang di dapatkan Laras dari Eren. Pemuda yang langsung ia sukai ketika pertemuan pertama mereka. Laki-laki yang membuatnya begitu ingin memilikinya saat tahu lagi-lagi seseorang yang ia sukai lebih memperhatikan Laras ketimbang dirinya sendiri.


"Bukankah selama ini kamu selalu mendapatkan semua yang kamu inginkan?!"


Tubuh Laras tidak bergeming, ketika sekali lagi sosok bayangan gelap bermata kelam coba menyerang Laras dengan mencekik bagian lehernya. Terlebih saat Laras maju dan melewati sosok bayangan gelap bermata kelam itu untuk mendekati Rein yang masih merasa berkecamuk dengan emosinya. Sosok bayang gelap bermata gelap itu tercengang dan menghilang beberapa saat setelahnya.


Laras menghentikan langkahnya tepat satu langkah dihadapan Rein. Gadis itu kini nampak berbeda dari gadis yang dikenal Laras selama dua tahun terakhir. Kini gadis dihadapannya di penuhi emosi dan perasaan berkecamuk lain yang susah untuk dimengerti oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.


"Kau pikir, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan?!" geram sosok Rein. Matanya membelalak marah.


"Kalau bukan seperti itu, Lalu apa?"


"Kau selalu merebut semua itu dariku!!!" teriaknya dengan nada kemarahan yang tinggi. "Semua hal yang seharusnya aku yang mendapatkannya!!"


"Kau selalu mendapatkan apa yang benar-benar aku inginkan dalam hidup!! Perhatian orang tuaku, padahal kau bukan anak kandung mereka! Perhatian lingkungan sekitar yang selalu melihat kau bersikap manis dan sopan! Padahal aku hanya menunjukan siapa diriku yang apa adanya! Tapi tetap hanya kamu yang menjadi pusat perhatian! Aku kira hanya cukup sampai disitu, dilingkungan kampus pun kau tiba-tiba menyita perhatian setengah penghuni kampus yang harusnya semua itu hanya menjadi milikku."


"Sudah?"


Laras menelengkan kepalanya dan bertanya dengan tidak berperasaan. Lalu kembali Laras hanya menatap gadis didepannya dengan datar. Tatapan yang seakan tidak terpengaruh oleh apa yang sahabatnya itu sampaikan padanya. Dia hanya menatap lurus-lurus. Mengangguk mengerti, kemudian berbalik pergi meninggalkan Rein dengan semua kediamannya.


Sepanjang perjalanannya, Laras terus tertegun. Sesekali dia merasa mengenali emosi yang diluapkan Rein padanya, tetapi lebih banyak yang tidak ia pahami.


Dia dan Rein dua tahun tinggal bersama. Mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tua Rein. Walau pun terkadang, Laras yang tidak terlalu mengingat dua tahunnya itu secara detail, namun ia mempunyai bayangan jelas ketika dia bersama Rein.


Langkah demi langkah yang dilewatinya, Laras merasakan ada banyak hal yang perlahan mulai menghilang dalam hati dan juga ingatannya. Satu persatu rasa mulai tidak ia rasakan lagi. Satu per satu bayangan ingatan wajah yang ia kenal mulai nampak tidak jelas. Termasuk bayang ingatan Laras sewaktu bersama Zara, Aksara, terlebih-lebih Eren. Semua bayang itu memudar dari ingatan Laras.

__ADS_1


Pada langkah ke sekian, Laras terdiam dengan tatapan yang sangat datar. Sama datarnya seperti saat dia melihat sosok Aksara yang terjatuh dihadapannya dengan penuh luka. Sejenak melihat ke bawah kakinya, Aksara segera bangkit dan menghilang begitu saja dari hadapannya lagi.


Laras tidak aneh dengan hal yang dialaminya itu, hanya saja dia tidak merasakan apapun terhadap semua hal yang telah berjalan. Jiwanya mulai dipenuhi kekosongan dan kehampaan yang sama sekali tidak disadari oleh dirinya sendiri.


Langkah itu kembali ia lanjutkan, sementara tangan Rein sudah meraih dan membalik kasar badan itu.


"Urusan kita belum selesai?!"


Rein kembali berang dengan tidak mendapatkan hal apapun dari cara Laras menunjukan ekspresinya.


"Aku akan merebutnya dari mu!" tegas Rein. "Aku akan merebut Eren dari sisimu dan membawanya bersamaku dalam kegelapan!" suara itu memiliki gema dengan suara yang lain. Suara yang seperti suara seorang penyihir tua. Begitu melengking, berat dan parau.


Suara yang melengking itu membuat Laras seketika merasa diserang sesuatu yang membuatnya kehilangan pandangannya pada tempatnya berdiri kini. Beberapa langkah mundur, Laras terkesiap mendapati dirinya berada ditempat yang tidak bisa ia kenali lagi.


Dan sosok lain dibalik punggungnya yang tanpa sadar telah Laras tabrak, membuat sosok itu sejenak bersiaga sebelum akhirnya melihat siapa yang menabrak punggung belakangnya itu.


Aksara segera membawa Laras terbang untuk menghindar dari serangan kegelapan yang dikeluarkan oleh sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan berjiwa kelam. Sosok yang sama seperti bayang hitam yang terakhir kali Lass hadapi pada lembah tanpa nama. Sosok penjaga yang termakan oleh kegelapan.


Melihat sosok Eren dari kejauhan, Laras meminta Aksara untuk menurunkan dirinya.


"Sejak kapan?" tanya Laras tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari sosok kelam Eren dihadapannya. "Sejak kapan kalian masuk ke lembah ini!"


"Sudah berlangsung beberapa jam!" jawabnya. "Ada apa?"


Laras hanya terdiam setelahnya. Tatapannya dibuang ke sekeliling. Menyadari dirinya yang kehilangan semua kemampuannya, Laras hanya mampu memandangi sosok itu dan meminta Aksara untuk menghilangkan sayap emasnya.


"Alihkan perhatiannya untuk sementara!" jawab Laras kemudian. "Kita tidak mempunyai banyak waktu!"

__ADS_1


Setelah jawaban itu keluar, Laras segera berlari ke tengah-tengah lembah dengan sisa ingatan yang ia punya. Meski tidak mengingat dengan baik kedua sosok dihadapannya, Laras tetap merasa ada hal yang bisa ia lakukan untuk menghentikan sosok berjiwa kelam yang kini telah dihadapi oleh Aksara itu.


Langkah Laras terhenti pada sebuah tulisan batu di samping pohon tua yang telah gugur dan hanya menyisakan batang kayu dan rantingnya saja. Sebelum mengusap tulisan pada batu disebelahnya, Laras sudah kehilangan semua ingatannya. Langkahnya terhenti didepan tulisan batu itu. Batu dengan tulisan kuno yang tidak dimengerti oleh siapapun.


Sementara Laras berlari, Aksara sudah mengalihkan setiap serangan yang mengarah pada gadis yang dimatanya, kini gadis itu termenung. Termenung dalam diam dan berusaha meyakinkan sesuatu.


"Laras!!" teriak Aksara saat sebuah serangan melesat langsung didepan matanya. Tubuh Aksara terlempar karena tidak menyadari satu serangan lain yang mengarah pada dirinya.


Serangan yang tertuju pada Laras meleset. Menyadarkan Laras dari tindakan apa yang harus dilakukannya. Laras mengusap tulisan pada batu itu. Mengambil serpihan batu lain yang bisa diraihnya, lalu menggores tulisan pada batu dihadapannya. Tulisan itu berupa nama, nama dari sang penjaga yang tertelan kegelapan. Nama yang tertulis pada batu itu menguap lalu menghilang bersamaan dengan semua kegelapan yang keluar dari tubuh sosok Lain Eren sebagai sang penjaga.


Aksara bangkit dan langsung mendekat ke arah Laras yang kembali termenung dengan apa yang dia lakukan. Luka di seluruh bagian tubuhnya menunjukkan besarnya serangan yang didapatkannya.


"Bagaimana kau mengetahui cara menghentikannya!" tanya Aksara tertatih dengan memegangi satu lengannya yang robek parah. Luka itu hampir membuat tangannya terpotong menjadi dua bagian.


"Bagaimana dia bisa mendapatkannya!" gumam Laras. "Kenapa bisa jatuh ke tangannya!!" Laras menekan tulisan batu dihadapannya. Dia mengabaikan segala pertanyaan yang diajukan Aksara. Membuka sebuah portal kosong dengan cahaya warna perak bertaburan emas yang redup pada detik berikutnya.


Tubuh Laras terperosok jatuh. Sebuah nyeri menyerang ulu hatinya. Dia menoleh ke sekeliling dan mendapati Aksara tengah berjongkok dihadapannya dengan tubuh penuh luka. Laras menatap pemuda itu dengan menahan rasa nyeri, membuat Laras mencengkeram lengan pemuda itu.


Di kejauhan dari sisi lembah lainnya, Eren yang terbaring setelah semua kegelapan lenyap dari sosoknya, baru saja membuka kedua matanya disisi lembah yang berseberangan dengan posisi Aksara dan Laras.


Kedua matanya menangkap posisi Aksara dan Laras yang terlihat begitu dekat. Terlihat berbeda dari apa yang dirinya pikirkan selama ini. Mata itu berkedip dalam posisinya yang masih merasakan sakit pada sekujur badan. Sebelum matanya terpejam kembali, Eren memastikan kembali bagaimana posisi Aksara dan Laras saat ini.


Laras yang memegang erat lengan Aksara dan Aksara yang menatap Laras dengan cara yang berbeda.


Pemandangan itu membuat Eren enggan untuk menutup matanya. Namun dirinya terlalu kelelahan dan tenaga tengah terkuras habis. Membuat Eren mau tidak mau mulai kehilangan kesadarannya, bersamaan dengan menghilangnya Laras dari hadapan Aksara yang kini dibuat semakin bingung dengan keadaan yang tersaji disekitarnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2