
Perlahan memperlihatkan wajah yang sempat tertutup oleh kilatan cahaya petir ungu, sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi berusaha meraih tangan berupa kilatan cahaya biru dengan petir ungu yang mengitari sepanjang lengan itu.
"Bagaimana mungkin?!" ujarnya begitu sedikit lagi jari jemari itu bersentuhan satu sama lainnya.
Tangan itu diraihnya. Menggenggam erat jari jemari sosok tangan dari cahaya kebiruan dengan kilatan petir ungu yang meraih kearahnya, membuat sosok lain Eren mau tidak mau harus merubah wujud itu ke wujud sejatinya sebagai sosok Eren bersayap kepulan asap hitam berwarna pekat.
Sosok tangan dari cahaya kebiruan dengan kilatan petir ungu pada sepanjang lengannya itu juga kembali ke wujudnya yang menyerupai manusia. Mempunyai tangan dan kaki yang utuh. Namun wujud itu masih berupa bayangan hitam yang hanya menampilkan bagian mata saja pada wajahnya.
Keduanya saling bertukar pandang. Yang satu memandang dengan menelisik kembali sosok yang kini masuk kedalam pelukannya. Dan mata kebiruan itu menatap dengan cara biasa. Tatapan itu hanya berlangsung sekejap. Karena begitu Eren meyakinkan diri dengan pandangannya, sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu, sudah menguap dan lenyap dari dekapannya.
Kembali tubuh pemuda itu tersedot ke ilusi lembah lainnya. Dia mendapati dirinya melayang-layang pada sebuah sisi lembah dengan pemandangan yang indah.
Hamparan padang rumput yang berbagi dengan tumbuh mekarnya bunga lili lembah mendominasi datarannya. Hutan dibalik dataran lembah dengan pepohonan menjulang tinggi menjadi daya pikat tersendiri yang mengitari sisi lembah. Hawa sejuk dan kabut berwarna putih memenuhi bagian dalam hutan dibalik dataran yang ada.
Eren menapak pada dataran dibawahnya. Namun tubuhnya melayang kembali kebagian atasnya seolah dirinya bukan bagian dari sisi lembah yang menyedot sosoknya untuk masuk kedalam.
Disudut hamparan lembah itu terlihat sebuah gasebo bernuansa putih yang bagian atasnya membentuk sebuah tudung berupa setengah lingkaran yang menjadi atapnya. Disamping terdapat sebuah pohon dengan dedaunan berwarna pink. Berbuah merah Cherry dan pada kelopak bunga terdapat sedikit lembaran daun berwarna hijau yang membuat pepohonan itu menjadi satu-satunya pohon terindah disisi lembah tersebut.
Eren terdiam begitu matanya menangkap sebuah sosok yang berbeda tengah duduk didepan teras gasebo yang ada dilembah itu. Sosok itu mengenakan dress hitam dengan sayap yang mulai tumbuh berbulu keemasan. Sosok itu hanya berkeliling diseputaran tempat itu. Sesekali dia melihat kearah yang berseberangan dan itu tepat kearah Eren terpaku.
Tatapan itu sejenak bertemu. Namun sosok itu tidak serta merta menatap sosoknya melainkan menatap kedatangan banyak jiwa yang tengah kebingungan telah memasuki sisi lembah. Ada banyak jiwa dengan berbagai usia memasuki lembah tanpa permisi. Hal itu tidak pernah menjadi masalah untuk dia yang diyakini Eren sebagai penjaga lembah.
Penjaga lembah itu menyambut semua jiwa yang datang. Mempersilahkan mereka untuk mengikuti jalanan yang mengarah ke bagian belakang dataran lembah. Lalu menyibak bagian kabut dan memperlihatkan bagian-bagian jalanan terapung yang menunjukan sebuah pintu batu yang menjulang begitu tinggi.
Hawa yang keluar dari pintu batu itu berbeda satu sama lainnya. Yang satu tertutupi kabut berwarna putih ke keabu-abuan. Dan pintu batu yang satunya tertutupi kabut berwarna hitam keabu-abuan. Sungguh dua hal yang bertolak belakang namun tersamarkan oleh warna abu-abu yang diciptakan oleh kedua pintu batu itu.
__ADS_1
Eren tetap memperhatikan sekumpulan jiwa yang berjalan perlahan menuju masing-masing pintu batu. Seperti sudah di tuntun dari setelah pintu batu itu terlihat, sekumpulan jiwa itu langsung membagi langkah mereka dan memasuki pintu batu yang telah dilihat masing-masing oleh jiwa-jiwa itu.
Dia yang merupakan penjaga lembah itu hanya memilih melihat dari kejauhan. Menyilangkan tangannya kearah belakang, sosok itu lalu memperhatikan keganjilan lain yang datang secara bergerombol. Kebanyakan jiwa-jiwa itu terlihat tua dan anak-anak yang terlantar. Dengan baju kumuh yang dikenakannya, mereka melihat sekeliling lembah dengan takjub.
Sosok penjaga lembah itu mengepakkan sayapnya. Bulu-bulu emas yang perlahan tumbuh sehelai demi sehelai membuat sosoknya nampak berkilauan diantara semua jiwa yang datang.
Dia tersenyum dan membalas ramah tatapan beberapa dari segerombolan jiwa itu yang terarah kepadanya. Dan satu anak kecil dengan seorang ibu tua tersenyum dan mematung mengagumi kilauan sayap berbulu emasnya.
Sang penjaga yang melihat itu langsung mengepakkan kecil sayap dibelakang punggungnya. Tersenyum lalu membungkuk untuk menyapa anak itu dengan mengatakan 'hai' dan
"Kamu menyukai sayap ini?"
Anak lelaki itu mengangguk yakin. Matanya masih berbinar-binar melihat sayap itu dari dekatnya. Lalu sang perempuan tua yang tadinya menggandeng tangan anak kecil itu berbalik dan menanyai sosok penjaga itu.
Dia yang tadinya menunduk, langsung berdiri tegak. Memperhatikan kejanggalan lainnya dari pintu batu yang muncul.
"Aneh!" dia menatap wanita tua disampingnya. "Kenapa dua pintu terbuka disaat yang bersamaan?!"
Pandangan sosok penjaga itu terpaku pada pintu batu jauh dihadapannya. Dimana pintu batu itu menampakan bayang kelam yang menyambut sebagian besar jiwa yang sedang melangkah dan kebingungan dengan jalan yang harus dipilihnya.
Sosok sang penjaga terbang perlahan dan mendarat pelan dibagian paling belakang antrian jiwa-jiwa itu. Sayap itu mengepak kecil dan menimbulkan suara gemerincing. Mengalihkan semua jiwa didepannya untuk melihat kearahnya dengan tatapan tidak biasa.
Tatapan mata jiwa-jiwa itu kosong dan hampa. Menyisakan hanya sebuah fokus yang tertuju pada sayap berbulu emas dibelakang punggung pemuda itu.
Sosok penjaga itu menatap secara biasa. Masih terfokus pada bayangan yang muncul dari balik pintu batu dibelakangnya dan mengabaikan sosok jiwa-jiwa bermata kelam dihadapannya.
__ADS_1
Namun begitu hendak terbang ke depan pintu batu itu, satu tarikan kuat pada bulu emas sayapnya, membuat sosok penjaga itu terjatuh dan tersungkur diantara kumpulan jiwa-jiwa bermata kelam itu.
Satu tarikan lagi dirasakan sang penjaga. Dia memekik kesakitan. Dan barulah menyadari betapa aneh gelagat jiwa-jiwa yang berada disekelilingnya. Mata-mata yang berwarna kelam itu berubah ganas dan beringas. Begitupun cabikan yang mereka lakukan pada sisi saya berbulu emas itu.
Entah sudah berapa bulu emas yang tercabut dari sisi sayapnya. Menyisakan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh dan menghancurkan ketenangan jiwanya. Sosok penjaga itu bangkit dan berdiri dengan keadaan yang tidak menentu.
Tubuhnya masih tidak seimbang, beberapa jiwa masih terus menarik bagian sayapnya hanya untuk bisa mencabut bulu emas pada sisi sayap sang penjaga. Bahkan ketika dia sudah sanggup tidak lagi menapakkan kakinya pada dataran dibawahnya, jiwa-jiwa bermata kelam itu masih menarik paksa bagian sayapnya.
Dengan sedikit kekuatan dan kesadaran yang masih tersisa padanya, sosok penjaga itu memaksa untuk mengepakkan sayapnya. Membuat percikan darah berwarna merah keemasan bertebaran dimana-mana. Memercik dan jatuh pada setiap sisi lembah.
"Kalian yang termakan oleh kegelapan! Terkuncilah kalian pada lembah ini!!" kata-kata itu terlontar dari sosok sang penjaga yang menahan kesakitan dari tindakan jiwa-jiwa bermata kelam itu.
Sementara sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu Tertahan di posisinya. Namun tatapan mata biru itu mengisyaratkan suatu luka yang mendalam. Sosok itu sempat ingin meraih sama seperti tindakan Eren saat ini. Namun mereka terhalangi oleh batas ilusi yang membuang mereka kembali ke tempatnya semula.
Kedua sosok yang bukan menjadi bagian dari tragedi di lembah itu saling bertukar pandang dari sudut yang berbeda. Mereka saling menatap. Dan tatapan itu memunculkan bayangan dimana waktu kejadian kedua ilusi yang mereka lihat terjadi disaat yang bersamaan.
Pada detik terakhir pandangan keduanya, memperlihatkan bagaimana sosok jiwa terlarang terlahir ke dunia. Yang dimana jiwa sang penjaga lembah yang kini lembah itu berwarna abu-abu, menjadi kunci perubahan takdir puluhan jiwa yang terguncang karena jiwa-jiwa bermata kelam yang mencabut bulu emas pada sisi sayap penjaga lembah.
Hal itu pula yang menjadi alasan terjadinya kecelakaan besar yang dimana sosok Eren sebagai sang penjemput yang terkena imbasnya.
Sosok Eren diseberang tersungkur melihat semua kejadian yang saling berkaitan itu. Sementara sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya hanya meratapi sosoknya dengan tatapan tidak menentu.
"Maaf!"
...***...
__ADS_1