
Freya membuka pintu rumahnya tanpa beban di tubuhnya, ia terus melangkahkan kakinya menuju tangga tanpa menghiraukan tatapan tajam seorang pria paruh baya yang mengarah kepadanya.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"
"Bukan urusan anda"
"Jelas itu urusan papa Fey"
"Jangan panggil saya Fey !!! Karna anda tak pantas memanggil nama saya!!!"
"Papi minta maaf karna tadi--"
"Tidak usah di permasalahkan"
Setelah itu gadis itu langsung menaiki ke anak tangga menuju ke kamarnya tanpa mempedulikan tatapan bersalah dari pria paruh baya itu.
"Maaf Fey...... semua memang salah papi"
_Freyesta_
Tok..Tok..Tok...
Suara ketukan pintu begitu jelas di telinga seorang lelaki tampan yang sedang berbaring di sebuah ranjang kamar bernuansa putih.
"Masuk" Pinta sang lelaki itu pada sang pengetuk pintu yang berada di luar.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dan menampilkan seorang gadis dengan rambut di gerai serta sweater dan celana jens pendek yang melekat pada tubuhnya masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu dengan wajah datar seperti biasanya.
"Gue pikir lo gak bakal datang"
"Tenang aja, gue orangnya tanggung jawab kok"
"Jadi lo gak usah khawatir"lanjutnya
"Oke"
_Freyesta_
Sudah 2 jam lamanya Freya bersama Faresta di ruang rawat inapnya. Namun ke duanya masih tetap membisu, tak ada yang memulai membuka percakapan di antara mereka.
"Lo udah makan?" Tanya Faresta membuka percakapan karna jenuh sejak tadi hanya berdiam diri.
"Udah"
"Udah mandi?"
"Udah"
"Udah tidur?"
"Udah"
Freya menghembuskan nafasnya kasar karna kesal dengan jawaban yang di lontarkan oleh Freya selalu sama.
Tiba tiba otaknya menangkap ide yang cukup konyol membuat bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
"Lo udah mau jadi pacar gue?"
"Gak akan"
"Gak asik lo"
"Biarin"
__ADS_1
Faresta pun kehabisan akal untuk mengajak gadis es itu bicara, otaknya terus berputar putar mencari akal namun hasilnya tetap sama.
"Fey"
"Hm"
"Tolongin gue"
"Apaan?"
"Tolong ambilin gitar gue yang di sebalah lo" Pintanya.
Freya pun meraih sebuah gitar coklat yang berada tepat di sebalahnya itu lalu memberikannya kepada Faresta.
"Nih"
Gitar tersebut pun langsung di terima dengan senang hati oleh sang empunya gitar yang memintanya itu.
Setelah itu Freya pun kembali duduk ke posisi awalnya, Faresta yang melihat itu pun menyunggingkan senyum samarnya dan memainkan gitarnya sembari menatap ke arah Freya.
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Freya pun menampilkan raut wajah yang terkeju t sembari menatap Faresta terkejut, mungkin karna suaranya Faresta yang bisa di bilang sangat merdu atau hal lainnya.
Pandangan mereka berdua pun beradu dan tanpa menunggu lama Faresta kembali melanjutkan lagunya.
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Ku harus milikimu
Mereka masih saling bertatapan tanpa ada niatan untuk mengalihkan, Faresta menyunggingkan senyumnya dan melanjutkan lagunya.
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Freya terus memerhatikan dan mendengarkan Faresta menyanyikan lagunya dengan penuh penghayatan di setiap liriknya.
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk
Kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
Tanpa di sadari mata Freya mulai berkaca kaca entah apa penyebabnya dan Faresta terus menyanyikan lagunya.
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Biar cinta datang karena telah terbiasa
__ADS_1
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta, kau tak cinta
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Faresta pun mengakhiri lagunya dan Freya segera mengalihkan tatapannya dari Faresta.
"Ternyata es batu bisa nangis juga, terharu ya sama suara emas gue?" Ejek Faresta sembari tersenyum puas.
"Gue ke Toilet dulu" Pamit Freya langsung meninggalkan Faresta seorang diri dengan rau wajah bingung.
_Faresta_
Freya POV
Aku menghembuskan nafasku kasar setibaku di dalam toilet, semua memori mengenai lagu itu terus melintas di benakku tanpa henti begitu cepat bagai cahaya yang terus memaksa menusuk mata, seolah meminta diriku terus mengingat setiap menit dan detik kejadian itu dan itu adalah suatu hal yang ku benci karena begitu menyakitkan jika terus ku ingat.
"Kenapa dari sekian banyak lagu yang ada, harus lagu itu yang makhluk astral itu nyanyikan" Pikirnya.
Tok...Tok....
"Fey lo kenapa?"
"Lo gak pa pa kan di dalam?"
Freya tak mempedulikan setiap ketukan yang di lakukan lelaki itu di luar sana, ia malah membasuh wajahnya dengan santai atau measa terganggu sama sekali seolah itu hanyalah angin lalu saja.
Tok....tok...
suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar sana, Freya mematikan keran air westafel tersebut lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali.
Tok...tok...
"Fey lo gak ping--
Ceklek
pintu terbuka Freya keluar tanpa menampilkan ekspresi apapun, seolah barusan tidak terjai apa apa.
"Sepertinya lo udah sehat, berarti gue balik"
To be continued
__ADS_1