Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Bagian Alam Larangan


__ADS_3

Sepanjang menyusuri alam Larangan, Eren berjalan sembari menjaga jarak langkahnya dari Laras. Membiarkan gadis itu memperkuat segel dari setiap benda, buku, dan beberapa mantra-mantra larangan yang menjadi koleksi tempat itu.


"Koleksi yang unik." komentar Eren.


Begitu melihat banyaknya benda-benda larangan yang bahkan tidak bisa ia percayai keberadaannya di alam semesta, Eren merasa semua benda-benda itu hanyalah benda biasa. Benda yang tidak memiliki nilai dan tidak berarti sama sekali. Benda-benda kecil yang bahkan tidak terlalu berguna sekalipun bisa menjadi bagian dari alam Larangan.


Beberapa benda alam Larangan ada yang berupa batu kristal dengan bentuk dan warna yang bisa dibilang lebih baik digunakan sebagai batu perhiasan daripada dikatakan sebagai benda-benda terkutuk, buku-buku tua yang terus memperbaharui dirinya, lilitan akar dari tanaman laut berwarna hitam legam, teratai merah, beberapa lampu unik dengan bentuk dan corak yang berbeda, tanaman berwarna hitam legam dengan beberapa buah berwarna merah, kuning, hijau, kelopak bunga amarylis merah, gulungan-gulungan yang terikat dengan sabuk goni, tali merah, hitam, perak, emas, beberapa botol berwarna-warni yang lebih mirip vas, bulu-bulu dengan berbagai motif dan corak, dan bahkan banyak bebatuan yang menurut Eren hanyalah sekedar benda-benda tidak berarti.


"Batu seperti inipun masuk alam Larangan." cemooh Eren.


Belum sempat mencegah tindakan pemuda itu, batu dihadapan tangan Eren langsung jatuh dan pecah. Batu yang hanya berwarna hitam legam dan terlihat seperti batu yang lebih cocok digunakan untuk melempar kepala seseorang yang mengesalkan. Batu itu telah menyerap jutaan rasa sakit dari seluruh pertikaian alam. Membuatnya mempunyai kekuatan alami yang mampu memutar balikan waktu di satu titik dan mengubah perjalanan takdir alam semesta.


"Bisakah kau urusi saja urusanmu!" sentak Laras jengkel.


Segera Laras mengeluarkan kekuatannya untuk menyegel batu itu. Namun karena mendapat kekuatan dari sentuhan sosok Eren, batu itupun mengeluarkan cahaya keunguan yang pekat dan menyebarkan banyak asap dan mengaburkan pandangan keduanya.


"Apa-apaan ini!" hardik Eren dengan pandangannya yang terus dibatasi oleh tebalnya asap keunguan yang timbul dan menyebar di seluruh bagian alam larangan.


"Ulahmu!" ujar Laras yang sudah membuka sebuah kendi berbentuk buah labu dari atas kepala Eren. Sosok Eren mendongak tidak percaya.


"Sejak kapan?"


"Sebaiknya, jangan menyentuh benda apapun yang ada di alam Larangan ini!" tegas Laras.


Setiap benda terkutuk yang ada di alam Larangan ini hampir memiliki daya penyerap energi. Terutama daya penyerap energi dari sang Penghukuman alias Sang Hakim Tertinggi Lembah hukuman yang dalam wujudnya kini sebagai sosok Eren sang penjaga Lembah tertinggi dunia lembah kematian.


Setiap benda di alam Larangan memiliki keterikatan kuat dengan sosok Eren baik sebagai sang pencipta alam lembah kematian ataupun sebagai sang penjaga tertinggi lembah kematian. Karenanya setiap benda yang tersentuh oleh tangan pemuda itu akan memiliki reaksi yang sangat kuat dan berefek besar pada kekacauan yang mungkin diciptakan.


Sebagai penjaga Alam Larangan, Laras mengetahui keterkaitan tersebut, namun enggan mengatakannya pada Eren karena tidak ingin sosok itu menjadi seenaknya, buta akan kekuasaan serta memiliki keinginan yang tidak mampu dihentikan alam lain manapun.

__ADS_1


"Benda-benda tidak penting seperti ini!" ujar Eren kemudian."Aku tidak tertarik sama sekali."


"Lalu, apa yang kau mau dengan memasuki alam Larangan ini?!"


"Tidak ada!" jawab Eren. "Aku hanya ingin melihatmu."


"Sudah melihat, bukan! Pergilah!"


Segera Laras akan menghempaskan mantra untuk mengeluarkan sosok Eren dari alam Larangan, tapi Eren keburu menepis dan menyerap mantra itu untuk kemudian dia lenyapkan ke udara.


"Maaf. Tidak bermaksud!" ucap Eren atas tindakannya.


"Hal lain apa?" Laras menatap dalam diam.


"Aku jadi semakin mengagumi mu!"


"..."


Mantra itu lepas begitu saja. Menghempas tubuh Eren dan hanya dalam satu kedipan mata, sosoknya sudah berdiri lagi disamping pohon tua yang menjadi tonggak penyangga Alam Larangan.


"Aku benar-benar merindukanmu!" gumamnya dengan tetap menatap kearah depannya. Ke arah yang dimana hanya terdapat sebuah lembah rumput hijau yang tanpa ujung.


Dibalik gamang perisai air yang ada dihadapannya, Laras melihat sosok Eren dan langsung merasakan sakit yang tidak tertahankan. Tubuhnya berkali-kali seperti tersambar petir. Beberapa kali Laras harus memekik kesakitan dengan apa yang ia rasakan. Rasa Sakit yang ia dapatkan ketika pertama kali mengemban tugas sebagai Penjaga Alam Larangan. Bahwa siapapun yang menerima titah sebagai penjaga alam Larangan tidak boleh memiliki perasaan apapun terhadap siapapun yang memiliki ikatan dengan semua benda-benda di alam Larangan.


Semakin sang penjaga memiliki perasaan terhadap dia yang memiliki keterikatan dengan benda-benda di alam Larangan, tubuh dan jiwanya akan terus digerogoti oleh rasa sakit seperti tersambar petir yang menjalar di seluruh nadi tubuhnya.


Untuk kali terakhir Laras memekik dan merintih kesakitan. Pandangannya mulai kabur, saat dia melihat sosok serba hitam itu berjalan mendekat ke arahnya. Suara langkah itu membuat Laras ingin tetap terjaga, namun rasa sakit yang ia terima membuat kesadarannya semakin menghilang dan tergantikan oleh kegelapan.


Sepanjang hari itu, Laras tidak sadarkan diri. Dia masih dalam posisinya yang dipangku kepalanya dan ditidurkan diatas kaki Eren. Pemuda itu kini bersandar pada sebuah batu tua yang entah kenapa sejak awal melihatnya, Eren merasa begitu tenang dan damai.

__ADS_1


"Wajahmu yang seperti ini memang manis!" gumam Eren membelai wajah gadis itu. "Aku heran, kenapa kamu yang seperti ini malah memilih untuk menjaga alam Larangan... Apa bagusnya alam ini!"


Eren memutar pandangannya ke sekeliling dan menyadari jika penjaga Alam Larangan tidak sadarkan diri, tempat ini malah terlihat hanya seperti ruangan kosong yang gelap gulita. Tidak ada kehidupan apapun didalamnya ataupun setitik cahaya yang masuk. Tidak tahu sudah berapa lama waktu berjalan, alam larangan kini lebih nampak seperti penjara terisolir yang bahkan tidak memiliki ventilasi udara sedikitpun.


"Walaupun keadaannya begini, aku menikmatinya. Aku bahkan senang karena kamu tidak menghindar ataupun mencoba pergi lagi dari ku!" gumam Eren lagi sembari menatap kembali ke arah langit yang menampakan cahaya jingga keunguan.


Menyadari sesuatu yang lain, sosok Eren langsung mengaburkan dirinya. Membuat sosoknya menjadi tak kasat mata di samping Laras yang akhirnya perlahan membuka matanya.


"Kau tidak pernah berada ditempat segelap tadi rupanya.." senyum Eren menyebar dikedua bagian pipinya. Pandangannya tidak ia lepaskan dari sosok Laras. Bahkan saat gadis itu bangun lalu melewati tubuhnya begitu saja. Eren memegangi bagian dadanya yang bersentuhan dengan sosok Laras yang menembus dirinya.


"Aku merasa senang telah melakukan kesalahanku yan dulu padamu ..." ujarnya lagi dalam tubuh tak kasat matanya. Dia berbalik melihat kemana arah perginya Laras menyaksikan gadis itu terdiam pada sebuah lembaran buku berwarna biru gelap yang terbuka ditengah-tengah area alam Larangan. Padahal sebelumnya Eren tidak melihat buku dan area itu ada di alam Larangan.


"Alam yang unik!" ujarnya berjalan perlahan mendekati sosok Laras. Berdiri di sebelah gadis itu, Eren mengintip isi buku biru tua tersebut. Isi buku yang membuat Laras termenung cukup lama pada halaman buku itu.


...Halaman awal...


'Larangan bagi setiap penerima titah untuk tidak jatuh pada sosok yang terikat pada isi alam Larangan'


...Halaman berikutnya...


'Alam Larangan tercipta dari banyaknya kebencian dan kemurkaan dari setiap benda terkutuk yang beredar disekitarnya'


...Halaman terakhir yang terbuka...


'Alam Larangan telah terkutuk menerima titah untuk mengabaikan seluruh alam dan isinya'


Laras menghela nafas perlahan. Menatap dengan mata kosong. Kemudian mengembalikan buku itu ke sebuah tempat yang entah dimana. Karena begitu buku itu terangkat ke udara, buku tua itu lenyap tanpa ada pertanda apapun.


"Masih ada 6 benda terkutuk lainnya!" ucap Laras membalik badannya.

__ADS_1


Telunjuk itu ia acungkan untuk membuka sebuah ruang dimensi lainnya. Ruang dimensi yang didominasi oleh warna kuning emas dan abu-abu menuju kehitaman. Dari luar, dalam ruang dimensi itu hanya terlihat 6 bilah tempat penyimpanan yang menampakan sebuah bayangan kepulan asap yang nampak biasa. Namun mengingat benda-benda di alam Larangan bukan benda-benda biasa-seperti kata sang penjaga-, Eren memutuskan untuk tidak meremehkan hal yang ia lihat juga merupakan bagian dari hal yang Laras khawatirkan.


...***...


__ADS_2