
Laras baru akan melemparkan sandal yang dipakainya kepada Aksara saat dirinya menyadari tengah berada ditempat yang berbeda. Bukan teras rumahnya ataupun jalanan setapak batu bata merah tempatnya pergi mengantar jiwa-jiwa ke perjalanan terakhirnya bersama Aksara.
“ Ini dimana?? ” gumam Laras. Dan suara itu menggema dengan cukup menyeramkan dari tempatnya berdiri. “ Aksara… loe dimana??? ” Laras berusaha mencari celah untuk mencari sosok yang beberapa menit lalu mengagetkannya diteras depan rumahnya.
Tempatnya berdiri kini merupakan tempat yang benar-benar tidak terbayangkan olehnya. Sebuah tempat yang begitu suram, gelap, dan sepi. Disekelilingnya tidak terlihat apapun selain kabut yang menyesap dan menghalangi jarak pandangnya ditempat itu. Sesekali melangkah untuk mencari jalan keluar dari tempat suram itu, kakinya menyandung sesuatu seperti batu bata yang ujungnya sedikit meruncing.
“ Sepertinya bukan batu biasa… ” gumam Laras mencoba meraba disekitar tempat ia tersandung.
Tangannya terus meraba dan terus mencari tahu sesuatu yang membuat kakinya tersandung. Hawa dingin semakin terasa menusuk begitu tangan Laras mendekati sesuatu yang membuatnya tersandung. Begitu tangan itu mampu meraba apa yang tengah dicarinya, keringat dingin langsung mengucur dari dahi Laras. Nafasnya tersengal. Pandangannya langsung menerawang tidak berani melihat dan memastikan benda apa yang tengah dipegangnya kini.
“ Si, si, siapapun… to….long… ” gumam Laras ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar. Dia mencoba mencari sesuatu atau apapun ditengah tebalnya kabut. Begitu ingin menjauhkan tangannya dari benda yang berhasil ia pegang, bagian lain dari benda itu langsung memegang tangannya. Menahannya dengan sangat kuat. Lalu bangkit perlahan dan menampakan wujudnya yang hanya berupa tulang tengkorak manusia. Mata dari tengkorak itu memancarkan warna kemerahan yang begitu pekat. Membuat Laras benar-benar ketakutan dan shock dengan apa yang menahan tangannya.
“ KYAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!! ”
Laras terjatuh dari tempat tidurnya. Nafasnya memburu dan tersengal. Tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Keringat dingin mengucur diseluruh wajahnya dan tubuhnya gemetar ketakutan.
“Apa-apaan itu tadi… ” gumamnya dengan suara yang juga bergetar. “ Apakah itu Cuma mimpi?? ” Laras menepuk-nepuk kedua pipinya. " Tempat yang menyeramkan…” gumamnya. Tubuhnya kembali bergidik ngeri mengingat tempat yang baru saja ia mimpikan.
“Mimpi… semua itu Cuma mimpi. ” Membenamkan wajah antara dada dan lututnya, Laras meyakinkan diri yang baru saja dialaminya hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk yang tidak berarti sama sekali.
Ingatannya kembali pada kejadian sebelum ia mengalami mimpi buruk itu. Aksara mendatanginya dan hal itu membuat Laras lebih panik lagi. Bergegas ia bangun dari duduknya. Pikirannya benar-benar kacau mengingat lagi kedatangan Aksara ditengah malam kemarin. Langkahnya pasti. Dengan ketakutan yang semakin bertambah, dia beberapa kali terhuyun dan terjatuh tepat didepan pintu kamar sang nenek yang sudah terbuka lebar. Tempat tidur itu sudah rapi. Gorden disamping tempat tidurpun sudah terbuka setengah dan suara almari tua yang ditutup sang nenek membuat Laras akhirnya mampu menenangkan semua rasa takut dan panik yang menyerangnya.
__ADS_1
“ Kamu tidak siap-siap kesekolah Laras? ” tanya sang nenek mendapati cucunya terduduk lemas didepan pintunya. Sang nenek tersenyum lalu mengusap lembut rambut Laras. “ Ayo mandi dan siap-siap kesekolah. Nenek akan menyiapkan sarapan untukmu. ”
Tidak mampu berkata apa-apa, Laras langsung menangis dan memeluk hangat sang nenek. Tidak mampu ia menahan semua ketakutannya karena kedatangan Aksara malam kemarin. Ditambah dengan ia bermimpi buruk yang membawanya pada banyak perasaan yang tidak karuan. Ketakutan, perasaan sepi, kesendirian, dan rasa suram yang membuatnya enggan untuk datang kesekolah hari ini. Rasanya hanya ingin istirahat dirumah untuk mengembalikan semua keyakinannya bahwa hari ini semua hal akan berjalan dengan baik sepanjang hari.
Kayuhan sepedanya begitu lesu. Pandangannya matanya jauh. Pikirannya masih sedikit kacau dengan banyaknya rasa ketakutan yang ia punya pagi ini. Tidak terlihat bersemangat, Laras melewatkan beberapa hal tanpa ia sadari. Itu adalah langkah dari seorang yang sempat mengacaukan tengah malamnya dan membuatnya ketakutan dengan keadaan sang nenek dan kakeknya pagi ini.
Dikayuhan sepeda kesekian, Laras tanpa sadar meneteskan air matanya. Rasa sedih menghujam seluruh ingatannya. Rasanya benar-benar berat untuk meninggalkan rumahnya. Dia tidak ingin berangkat ke sekolah. Dia ingin berada dirumah. Ingin bersama dengan sang nenek yang beberapa saat lalu menyiapkan nasi goreng kesukaannya. Yang pagi ini tersenyum dengan begitu cerahnya pada sang suami dan cucu satu-satunya.
“ Hiduplah dengan baik. Jangan sampai kamu lupa makan, nak. ” ujar sang nenek dimeja makan setelah menyugukan sepiring nasi goring padanya dan pada sang suami. “ Nenek tidak bisa sering-sering memasak untuk kalian. Jadi makanlah yang banyak. ” senyum itu merekah begitu sang kakek menunjukan senyumnya sebagai tanda ucapan terima kasih pada sang nenek.
Sekilas bayangan yang ia lewati pagi ini setelah bermimpi begitu seramnya, membuat Laras semakin merasa akan terjadinya sesuatu yang buruk. Perasaannya kembali terusik dan kehilangan ketenangannya begitu memasuki pertigaan jalan utama menuju kesekolahnya. Beberapa kali ia berusaha mengusir semua pikiran buruk itu dari pikirannya. Bahkan ia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbicara kepada dirinya sendiri bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi hari ini.
Hanya sesaat hati dan pikiran itu dikuasai oleh ketenangan, Laras kini langsung pasrah dengan hal yang akan terjadi tanpa terduga didepan matanya. Rem sepedanya blong dan sebuah mobil tengah berhenti mendadak didepannya. Kecelakaan tidak bisa dihindari. Sepeda Laras menabrak bagian belakang bemper mobil, membuatnya jatuh terguling dan tidak sadarkan diri.
Laras baru saja membuka kedua matanya begitu mendapati sosok lain Aksara duduk disamping ranjang tempatnya terbaring. Aksara tengah memainkan sebuah bola Kristal yang dibagian dalamnya berisi begian bunga dandelion. Kristal itu berkilau dan menampakan warna pelangi disetiap kali Aksara memutarnya. Tatapan Laras terus tertuju pada bola Kristal itu. Dia tidak menyapa ataupun coba berbicara pada Aksara karena melihat Zara memperhatikan dirinya dari arah pintu ruang UKS yang bernuansa hijau turkis itu.
“ Sudah sadar? ” sapa Zara mendekati Laras ke ranjang ruang UKS itu. sampai disamping ranjang, Zara dengan santai menampik sosok Aksara yang langsung menyingkir dari tempatnya semula. “ Bagaimana keadaanmu? ”
“ Apa yang sudah terjadi? ” Laras memegangi bagian keningnya yang tengah ditempel dengan plaster luka. Juga memperhatikan beberapa tangannya yang lecet dibagian siku dan lengan.
“ Malaikat maut menjemputmu. ” jawab Zara sekenannya. Dia mencoba mengukur denyut nadi Laras yang masih terlihat begitu pucat.
__ADS_1
“ Benarkah? ” tanya Laras melirik kearah Aksara yang langsung menatapnya dengan santai. Dia mengangkat sedikit bahunya lalu kembali focus pada Kristal yang dibawanya. Tatapan mata Aksara pada Kristal yang dibawanya sangatlah berbeda dari cara dia menatap biasanya. Ada sesuatu yang sedang dia perhitungkan.
“ Sepertinya keadaanmu sedikit kacau. ” kata Zara membenarkan posisi duduknya. Kali ini dia benar-benar menatap dalam kearah mata Laras. “ Apakah kau siap dengan banyaknya kejutan hari ini? ” tanya penuh makna.
“ Maksudmu??? ”
Focus pada tatapan mata Zara, Laras melihat hal yang tak terduga terpancar dari dalam mata temannya itu. Hal yang membuatnya menyadari kalau Zara bukanlah seorang manusia.
Dia dan Aksara sama. Bhatin Laras. Laras melihat ke Aksara lalu kembali focus pada Zara yang menatapnya dengan santai.
“ Loe tidak menyadarinya sama sekali padahal sudah melihatnya beberapa kali. ”
“ Gue hanya kurang yakin. ” jawab Laras yang kembali melirik Aksara.
Aksara tidak berkomentar sama sekali. Dia tetap focus pada kristalnya dan seperti tengah sengaja mengacuhkan Laras yang menatapnya penuh makna.
“ Jadi… apakah aku sudah mati? ”
“ Apa kau benar menginginkan kematian? ” suara parau itu mengalihkan tatapan Zara dan Aksara ke jendala disamping kanan Laras. Dia sosok tua berjubah merah maroon dengan kepulan sayap berupa kabut dibelakang punggungnya.
“ Sang penjaga?!! ” Aksara dan Zara langsung bersiaga.
__ADS_1
***