Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah:Dua wajah yang sama


__ADS_3

Kini matanya menatap tajam dan menelisik pada sosok bergaun pink yang menatapnya dengan tatapan kebencian. Dia mengacungkan sebilah pisau pada gadis yang kini berdiri dihadapannya. Tindakannya begitu yakin dan berani. Begitupun caranya membalas tatapan gadis dihadapannya. Seolah dirinya telah menang dengan mengacungkan pisau itu pada sosok yang ditatapnya dengan penuh kebencian.


Lalu dengan menyilangkan kedua tangannya kebagian belakang, gadis dari sisi satunya tersenyum dengan manisnya. Melihat bagaimana sosok dihadapannya menunjukan wajah aslinya yang selama ini selalu memperhatikannya dari kejauhan.


"Kenapa ketakutan seperti itu?!" sosok yang bergaun hitam mencondongkan sedikit tubuhnya kehadapan gadis bergaun pink dihadapannya.


Sosok dengan bergaun pink itu menarik dirinya. Menatap dengan sama meremehkannya seperti yang ditunjukan oleh sosok bergaun hitam selutut.


"Aku tidak pernah takut pada apapun!"


Dia yang bergaun pink tersenyum dengan sinisnya. Lalu memainkan ujung pisaunya. Melihat bagian tertajam pisau itu dengan tatapan yang penuh arti. Menimbang dan menilai saat akan melakukan sesuatu yang akan memberinya sebuah rasa puas.


"Pisau seperti ini tidak akan mampu melukai sosok mu."


"Aku kira kau susah melupakannya saking lamanya!"


"Mana mungkin aku melupakannya! Kita ini sama. Dan kita ini satu!"


Tatapan matanya menjadi penuh kebencian kembali. Seolah dunia telah berbuat tidak adil pada hidupnya.


"Pisau ini mungkin tidak akan melukaimu, tapi,"


Mata itu memicing dengan tatapan yang sangat tajam. Menunjukan satu gerakan yang perlahan menyayat pada pergelangan tangannya sendiri.


"Kalau melukai pemilik tubuh ini, pasti bisa!" dia lalu tertawa dengan puas hati sambil membiarkan luka sayatan itu mengucurkan banyak darah yang mengalir.


Sementara sosok gadis dihadapannya kini menatap khawatir dengan menyembunyikannya dibalik wajahnya yang mengeras. Ketidakberdayaan membuat dia harus kembali memperhatikan setiap keputusan yang harus diambilnya dalam bertindak.


"Aku tidak menyangka kau bisa keluar dengan cara seperti ini!" Sosok bergaun hitam selutut berusaha mencari celah untuk dapat menjauhkan pisau itu dari tangan gadis bergaun pink dihadapannya.


"Kau tau apa yang paling aku inginkan selama ini!! Tapi kau dan segala tindakanmu selalu berhasil merebut semuanya dariku!!"

__ADS_1


Wajah itu menggelap. Menyisakan tatapan mata yang menusuk bagi yang tidak mengenali sosoknya kini.


"Tubuh itu harusnya menjadi milikku!? Wujudmu harusnya menjadi wujudku!!" teriaknya dengan penuh emosi. "Kau sudah merebut wujud itu dari ku!!!"


Sosok itu tiba-tiba kalap lalu mengacungkan menyerang menggunakan pisaunya dengan membabi buta. Menggores dan menghancurkan beberapa hiasan pada kamar bernuansa pink tersebut.


Dengan gesit, sosok gadis bergaun hitam selutut itu menghindar dan menangkis beberapa serangan yang dilakukan gadis bergaun pink tersebut. Sesekali dia berusaha menahan gerakan sosok bergaun pink agar tidak kembali melukai dirinya. Walaupun bukan tubuhnya, tapi sosok itu mempunyai tubuh dari jiwa lain yang sedang dikuasainya. Dan sosok bergaun hitam tidak bisa mengambil resiko dengan membahayakan nyawa seorang yang tidak berkaitan dengan masalahnya.


Pada serangan ke sekian, pisau itu sudah berpindah tangan dengan cara yang tidak biasa. Dia yang bergaun hitam selutut lalu menjauhi gadis bergaun pink dengan tatapan tidak mengerti dengan tindakan yang dilakukan sosok dihadapannya itu.


Satu tangan lain menampik pisau dari tangannya. Membuat pisau itu terlempar kebawah ranjang, dan pemilik tangan itu langsung mengarahkan serangannya pada sosok bergaun hitam tanpa aba-aba. Mengunci dan menyudutkan tubuh itu pada sisi tembok dihadapannya. Ikatan kepulan asap hitam pekat dengan kilatan api kebiruan mencekik bagian leher gadis bergaun hitam selutut dengan mata biru keemasan.


"Eren!" gadis bergaun pink itu langsung mendekati tubuh pemuda yang menampik pisau pada tangan sosok gadis bergaun hitam selutut itu.


Wajah kedua gadis itu sama persis bak pinang di belah dua. Sosok Laras dengan dua tampilan yang berbeda. Sosok yang satu mengenakan gaun hitam selutut dengan rambut panjang berponi yang menutupi keningnya. Dan sosok satunya dengan bergaun pink berambut pendek sebahu yang tersibak tepat pada belahan rambutnya.


Dengan sikap penuh perlindungan, Eren langsung membawa sosok Laras bergaun pink itu kedalam dekapannya. Menatapnya penuh rasa khawatir dan dalam kecemasan yang tidak pada tempatnya.


Melihat apa yang dilakukan Eren itu, membuat sosok Laras bergaun hitam selutut bermata biru keemasan, menatap penuh dengan kekesalan.


Semakin melawan, tubuh Laras bergaun hitam selutut tertekan dengan begitu kuatnya pada dinding dibelakangnya.


Sementara Eren menunjukan rasa khawatirnya yang pada Laras yang bergaun pink, Aksara nampak kebingungan dengan dua sosok yang bisa terlihat begitu miripnya. Yang membedakan hanya model rambut dan warna pakaian keduanya saja.


"Apa-apaan semua ini!?" Aksara menutup bagian sayapnya. Menjadikannya tidak terlihat lalu melihat pada keadaan yang cukup membingungkan didepan matanya.


Ada dua orang dengan wajah sama persis. Kedua wajah itu adalah wajah Laras. Gadis yang baru saja dia pikirkan keberadaannya.


Tidak beberapa lama dalam kebingungannya, Eren bangkit dari posisinya setelah menyerahkan tubuh Laras bergaun pink pada Aksara.


Sosok itu menatap tajam kedalam mata biru keemasan milik Laras bergaun hitam selutut. Bukannya tatapan ketakutan yang didapatkan Eren, melainkan sebuah kekesalan pada tindakan yang dilakukannya pemuda itu pada sosoknya.

__ADS_1


"Kalau saja kau bukan perempuan, aku sudah akan memusnahkan mu!"


Eren melepas kasar ikatannya yang berupa kepulan asap hitam pekat. Melemparkan tubuh Laras bergaun hitam selutut dengan kasar sehingga membentur bagian pintu kamar tersebut.


Tapi hal itu tidak menyurutkan sosok itu untuk tetap menatap penuh dengan kekesalan pada dirinya.


"Dengan mengambil wujudnya, jangan pernah berpikir kalau aku akan percaya padamu!" ucapan Eren yang begitu dingin membuat sosok Laras bergaun hitam selutut dengan matanya yang berwarna biru keemasan, akhirnya memilih diam ketika dirinya ingin menjelaskan sesuatu.


"Lalu kau mau percaya padanya?!"


Dia yang kini berdiri dengan dipapah Aksara, menunjukan wajah penuh kesakitan. Tatapan matanya sayu lalu mendekati Eren dengan langkah terhuyun. Dan dari sudut itu, Aksara hanya mampu terpaku dengan dua sosok Laras yang dilihatnya. Keduanya menampakan hawa yang sama. Hawa kegelapan.


"Bukan salahnya!" ucap Laras bergaun pink dihadapan Eren dan kebingungan Aksara. "Salahku yang membiarkan dia merebut wajah dan wujud ku!"


Eren membantu Laras bergaun pink itu berdiri disebelahnya. Membantu sosok Laras bergaun pink itu untuk mendekati sosok Laras bergaun hitam selutut dihadapannya tanpa rasa takut akan diserang kembali.


"Tolong jangan percaya pada kegelapan yang menghasut mu! Dia hanya memanfaatkan dirimu!"


"Benarkah aku dimanfaatkan?!"


Mendengar itu, Aksara menatap sosok Laras bergaun hitam selutut itu dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


Laras tidak mungkin seberani itu!! Batinnya.


Sosok Laras bergaun hitam selutut itu menatap santai sosok dihadapannya. Lalu melirik pada Eren yang kini mengambil posisi untuk melindungi sosok Laras bergaun pink itu.


"Entah apa yang telah terjadi, tapi aku mulai tidak menyukai ini!"


"Aku tahu kau membenci apa yang terjadi, tapi aku..."


Sosok Laras bergaun pink itu mengcengkram lengan Eren. Tubuhnya terhuyun dan sosok Laras bergaun hitam baru menyadari kalau dia yang didepannya sempat menyayat pergelangan tangan itu dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Tangannya!" sosok Laras bergaun hitam menyambit tangan yang dimaksudnya itu. Tapi kembali Eren menampik tangannya dan melepaskan serangan yang memaksa sosok Laras bergaun hitam selutut itu mau tidak mau harus pergi dari tempatnya dengan rasa terpaksa.


...***...


__ADS_2