
Mengenali sosok Rui yang ternyata adalah bayangan dirinya sendiri di masa lalu, Laras tanpa sengaja mengingat kembali kutukan bubuk sari bunga Larangan yang mengenainya. Kutukan sosok dirinya yang sebagai Rui yang diterima sosok sejatinya kala itu adalah kutukan penghapusan dari bunga Larangan. Tapi begitu Laras menyerap kembali sosok bayangan dari wujudnya sebagai Rui tersebut, Laras malah membuka celah kutukan bunga Larangan tanpa ia sadari. Kutukan yang terus mengombang-ambingkan perasaan yang dia miliki dengan keyakinan yang ia punya sebagai sosok seorang penjaga lembah. Memaksa Laras mengambil pilihan tersulit dalam perjalanan takdir di hidupnya.
Perjalanan yang terasa begitu berat dirasakan Laras pagi ini ketika Aksara, Arashi, dan juga Mari ikut berjalan bersama dengannya menuju kampusnya. Meski bukan dari jurusan yang sama, tetapi mereka berempat ternyata tergabung dalam kampus yang sama.
"Hari yang melelahkan." keluh Laras.
"Mau gue gendong?!" tawar Aksara bercanda. Dan candaannya itu langsung mendapat lirikan tajam dari Arashi/ sosok Eren sebagai sosok sang hakim tertinggi.
"Aku mau dong di gendong..." balas Mari mencandai Aksara, tetapi tatapan gadis itu hanya terpaku pada sosok Arashi.
Sepanjang perjalanan dimana Laras berada satu langkah lebih dulu dari ketiganya, Laras menghela nafas begitu menyadari kembali bayangan dari tiga sosok di belakangnya sangat menjelaskan sosok mereka yang sebenarnya.
Aksara sosok bersayap yang mengingatkan Laras akan sayap dari sang hakim tertinggi ketika menolongnya di kehidupan pertamanya. Sosok Mari yang lebih menyerupai kepulan asap berwujud manusia yang semakin lama semakin menyusut. Terakhir, ada sosok Arashi yang tidak bisa dia tebak dengan pasti. Bayangan berupa kepulan asap membentuk sayap di bagian samping bahunya. Menandakan sosoknya memiliki jabatan tertinggi dalam dunia lembah kematian.
Akhirnya, pada langkahnya yang kesekian, Laras menghentikan langkahnya dan melihat ketiga sosok itu tengah saling melerai antara Aksara dan Mari. Di tengah-tengah keduanya, ada Arashi yang menjadi korban jambak rambut dan pukulan pada lambung sebelah kirinya.
Laras mengernyitkan dahi. Dia menatap satu demi satu pasang mata di hadapannya. Berharap mereka melakukan sesuatu yang bisa membuatnya mengenyahkan banyak pikiran tidak jelasnya terhadap mereka bertiga.
"Kenapa?" tanya Arashi menyela Mari dan Aksara. "Apa ada yang menganggu lo?"
"Kalian!" jawab Laras seperti biasa.
"Kenapa?" Aksara menyeruak di antara Arashi dan gadis itu.
"Bayangan kalian menganggu."
"Termasuk aku?" Mari menelengkan kepalanya menatap Laras dengan senyum yang hampir tidak mencapai garis matanya.
"Ya." jawab Laras.
"Gue nggak peduli." ujar Arashi yang dengan entengnya merangkul bahu Laras dengan senyum sumringahnya. "Karena mulai hari ini, lo akan jadi bagian dari hidup gue."
"Terus terang sekali." celoteh Aksara.
"Terlalu mengada-ada." jawab Laras yang langsung menepis tangan pemuda itu dari bahunya.
Berlalu dengan mengabaikan sosok ketiganya, Laras langsung tercekat saat sosok sang penjaga tertinggi lembah kematian melayang-layang dihadapannya.
__ADS_1
"Kekanak-kanakan!" gerutu Laras seakan sudah sangat akrab dengan sosok dihadapannya itu.
"Karena kamu berada di depanku."
"Bisakah lebih tragis lagi?"
Sosok sang penjaga tertinggi lembah kematian berpendar di udara dan tergantikan dengan sosok Arashi yang berbeda dari sosok yang baru saja ia tinggalkan di belakangnya.
"Ku pastikan kau akan mengingat semuanya." ucap sosok itu kemudian menghilang.
Laras terdiam sesaat, sampai sosok Arashi kembali melewati bersama Aksara. Arashi menepuk-nepuk kepala Laras dengan pelan dan lembut. Membuat gadis itu merasa mengingat sesuatu yang manis tapi juga di penuhi oleh kebencian yang sangat.
"Siapa kamu?"
Laras hanya menerima lambaian tangan dari sosok pemuda itu. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Laras dalam keheningan yang cukup lama di depan air mancur halaman utama kampusnya.
//
Jam makan siang sudah berlalu cukup lama untuk Laras, tapi ia enggan beranjak dari tempatnya kini berada. Merasakan sesosok bayangan hitam mengintainya dari kejauhan, gadis itu hanya terus berusaha mengaduk-aduk secangkir kopi yang ia pesan di cafetaria. Mengaduk dengan pelan dan teratur. Membuat waktu disekitar melambat seiring lambatnya putaran sendok dalam cangkir itu. Sendok terangkat dan memercikkan satu tetes kopi ke dalam cangkir.
Ting.
Penuh emosi, Laras memukulkan sendoknya pada sisi cangkir. Membuat suara yang sama dari suara "ting" yang ia dengan beberapa saat sebelumnya. Tatap matanya yang selalu turun akhirnya naik dengan perlahan, menatap dengan tegas, dan penuh dengan emosi.
"Sudah mengenali siapa gue?" sapa Arashi setelah melihat tatapan mata itu.
"Untuk apa aku mengenalmu?"
"Untuk kembali merasakan apa itu jatuh cinta."
"Begitukah?" tanya Laras dengan wajah datar.
"Nantangin gue?" Arashi mencondongkan tubuhnya sembari menatap mata Laras lekat-lekat. Mata yang penuh dengan kebencian tetapi juga mata yang menyembunyikan banyak hal untuk dia cari tahu makna di balik tatapan Laras tersebut.
Keduanya fokus saling menatap. Arashi menatap dengan penuh rasa ingin tahu-yang tidak akan pernah Laras ketahui. Sedangkan gadis itu menatap datar seolah apa yang dilakukan Arashi berikutnya bukanlah hal yang perlu ia khawatirkan.
Satu kecupan di kening membawa beberapa bayangan seperti putaran kaset yang dipercepat melintas dalam benak Laras. Menara mercusuar, tebing curam, suasana remang, dan sebuah lentera hitam dengan api merah kehitaman yang menyambar-nyambar dalam kerasnya deburan ombang yang memecahkan karang pada tebing curam.
__ADS_1
Dengan ingatan sepintas yang langsung menguras hampir seluruh tenaganya, Laras menahan dirinya untuk tidak terjatuh tak sadarkan diri. Dimana disaat yang bersamaan, tubuh Laras langsung diseret ke dalam dunia paralel abu-abu oleh sosok bayang penjaga tertinggi lembah kematian.
"Ambilah ingatanmu yang lain!"
Tidak mampu melihat dengan jelas siapa sosok di hadapannya namun bisa mengenali suara itu, Laras lalu mengambil sebuah percikan cahaya yang berubah menjadi sebuah buku tua bersampul hitam seperti yang biasa dia lihat di gunakan oleh para malaikat kematian.
"Aku sudah menggunakan semua kesempatanku untuk mengantarmu." ujar suara itu. "Untuk yang berikutnya, semua tergantung takdir yang kau pilih dalam hidupmu."
Tubuh Laras terpental begitu saja. Mendapati dirinya masih berada di tempat dan waktu yang sama sebelum dirinya tertarik ke dunia paralel abu-abu, Laras mendapati sosok Arashi terdiam dengan tatapan tidak percaya di hadapannya.
"Ada apa?"
"Akan gue perbaiki semuanya." ujar Arashi yang membalik badannya begitu saja lalu menarik Aksara untuk ikut bersamanya. Mengabaikan Mari, kedua pemuda itu berjalan menuju gedung belakang. Meninggalkan keberadaan Mari yang berbalik dan menatap Laras dengan tatapan tidak suka.
"Kali inipun, dia tetap milik gue!" ujarnya ketus melewati Laras yang tidak mau ambil pusing dengan tingkah mahkluk bayangan satu itu.
Semua kisah dimulai dari air mancur yang sama. Air mancur di halaman kampus yang berubah warna menjadi warna pelangi setiap malamnya di malam bulan purnama.
Hari dimana suasana berubah menjadi gelap dan hanya tersisa Laras yang masih terdiam dengan santai di depan air mancur tersebut.
"Aku ingin mengenal siapa aku sebenarnya!"
Bayangan hitam di hadapan Laras menggeliat ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa?"
"Amarilys adalah nama pemberian warga desa. Rui adalah nama buatanku sendiri, dan Laras..."
"Pemilik kutukan bubuk sari bunga larangan." jawab bayangan itu.
"Bukan." jawab Laras. "Harusnya kamu lebih tahu."
Rui berputar-putar di udara. Menggeliat kemudian terdiam membentuk bentuk bohlam dengan mengeluarkan cahaya kekuningan.
"Kalau kutukan takdir ku di mulai oleh bubuk sari bunga Larangan..." Laras melihat ke sekeliling. "Itu artinya apapun yang berhubungan dengan sosok itu, menjadi bagian dari kutukanku pada diriku sendiri."
"Siapa?"
__ADS_1
"Siapa lagi..." Laras tengadah ke langit. Melihat cahaya bulan purnama yang mulai bersinar terang dan membias pada sisi air kolam mancur dihadapannya.
...***...