
Laras tersengal dengan ingatan yang dilihatnya. Air matanya tiba-tiba berlinang. Dan menyisakan sedih yang tak tertahankan. Laras segera mengusap air matanya.
"Benarkah semua hal yang aku lihat?"
Laras tertegun. Dia menatap sosok sang penjaga. Ada kesedihan yang Laras rasakan. Lebih lagi ke sebuah rasa bersalah. Dia seakan telah mengambil satu kesempatan lain dari sosok lain Eren didalam ingatannya itu.
Sosok lain Eren kini menghembuskan nafasnya yang berat. Dalam kebisuan yang biasa dilirik oleh Laras pada sosok lain Eren, membuat Laras merasakan nyeri yang hebat pada hulu hati dan perutnya. Seperti ditonjok oleh tinju yang kuat berkali-kali.
"Apa yang dilakukan kedua penjaga itu padamu? Kenapa wajahmu terlihat begitu buruk?" sosok lain Eren menatap lekat perempuan dihadapannya itu.
Laras memegangi bagian dada kirinya. Menahan sesuatu yang dirasa amat susah untuk dijelaskan. Terasa amat nyeri ketika kembali Laras mendengar suara parau dari sosok lain Eren itu. Teriak kesakitan sosok Lain Eren dalam bayang ingatan Laras, memberi rasa sakit yang tak tertahankan lagi bagi Laras.
"Tidak ada!" Jawab Laras dengan nafas yang berat. "Tidak ada yang dilakukan oleh kedua mahkluk itu." tambahnya lagi.
Laras segera menjauh dari tempat itu terutama dari sosok lain Eren. Dia terburu-buru berjalan menuruni bukit tanpa memikirkan hal lain yang pada akhirnya ia sesali.
"Apakah kau sudah mengetahuinya?" sosok lain Eren hanya bisa menatap kepergian Laras dalam diam. Dalam benaknya, ia menyadari perubahan sikap Laras yang langsung menjauhinya. "Mungkin begini lebih baik. Kau akan lebih bisa menerima kenyataan seperti apa sosok ku yang sebenarnya?"
Eren kembali pada sosok dirinya. Dari atas puncak bukit itu, dia membalikan badannya dan menghilang dari puncak bukit yang sepi itu.
...
Didalam kamarnya yang sunyi, Laras terus menerus menahan rasa sakit pada ulu hatinya. Itu bukan penyakit pada umumnya. Lebih ke sebuah rasa sesak yang teramat dan tidak bisa ia jelaskan ras sakitnya. Nafasnya pada kerongkongan terasa tercekat. Oksigen pun tidak masuk dengan baik kedalam paru-parunya. Rasa sesak semakin terasa dalam sesaat setelah gemericik air hujan jatuh membasahi permukaan bumi.
__ADS_1
Dia meringkuk dalam kamarnya yang sepi. Rasa enggan membuat Laras tidak bisa membuat tubuhnya bergerak hanya untuk sekedar memastikan bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik.
"Sakiiit!" rintihan Laras. Air mata berlinang di pipinya. Begitu lah Laras cukup lama. Ia meringkuk dalam kesedihan yang tak mampu ia jelaskan berjam-jam lamanya sampai ia tidak menyadari bahwa dirinya tengah tertidur dan terbangun di waktu hari menjelang malam.
Rintik hujan sudah tidak terdengar. Tapi semilir angin yang menusuk mengusik Laras untuk segera bangun dari rasa sedih yang menghantuinya. Tetes demi tetesan sisa air hujan yang jatuh pada penampungan air dibalik jendela kamar Laras membuatnya menyadari kalau tak satupun lampu menyala di bagian rumah itu. Tidak ada satupun tanda kehidupan yang mampu ia rasakan setelah siang yang panjang itu.
Laras terperanjat. Dalam kesakitan yang tak tertahankan, Laras berlari keluar halaman rumah menuju kamar kakek dan neneknya. Suasana begitu sunyi dan tenang namun cukup mencekam dibenak Laras. Kesedihan dan ketakutan lain menghampiri Laras dalam benaknya.
Dia ingat telah meninggalkan puncak bukit itu tanpa melihat kakek dan neneknya yang berteduh dibawah pohon perindang disekitar bukit belakang sekolah. Dia mengingat bagaimana dia meninggalkan tempat itu dengan maksud menghindari sosok Eren dengan semua kesakitan yang di alaminya.
Didepan pintu kamar kakek dan neneknya, Laras termenung. Kakinya seketika lemas dan ia terperosok dari berdirinya ia dalam keheningan. Pakaiannya kini basah penuh dengan cipratan lumpur dibawah kakinya.
"Apa yang sudah terjadi!!! Apa yang sudah aku lakukan!!"
Yang ada dipikiran Laras hanyalah dirinya telah meninggalkan kedua sosok kakek dan neneknya di bukit belakang sekolah. Dengan kesalnya Laras memikirkan betapa bodoh dan teledor nya ia terhadap sosok orang tua yang merawatnya semenjak dia kecil.
"Laras! Apa yang sudah kamu lakukan!" pekik Laras dalam perjalanannya menuju puncak bukit belakang sekolah ditengah hari yang sudah mulai malam tersebut.
Lari dengan bertelanjang kaki di hari yang sudah mulai gelap, membuat perhatian Eren tertuju pada dirinya. Di persimpangan jalan itu, Eren yang bermaksud pergi dari sisi Laras setelah mengira Laras menjauhinya siang tadi karena harus menerima kakek dan nenek Laras masuk ke lembah abu-abu, membuat Eren hanya memperhatikan sosok Laras dari kejauhan. Dia mematikan mesin mobilnya. Menjadikan jalanan itu kembali kegelepannya yang nyata.
Memperhatikan setiap langkah Laras dan mengikutinya dengan menjadi bayang sosok penjaga, Eren mengatur sedikit cahaya agar pandangan Laras tidak terlalu gelap.
"Apa yang kau cari malam-malam ketempat sunyi ini?" gumam sosok lain Eren dalam kegelapan.
__ADS_1
Sosok Laras berhenti tidak jauh dari pohon perindang tempat kakek dan neneknya beristirahat siang tadi. Dan kedua sosok yang dicarinya itu juga sudah tidak berada disana.
"Dimana mereka?!" gumam Laras sedikit linglung. "Apakah ada tempat yang aku lewatkan?!"
Dia mengistirahatkan dirinya dalam kebingungan yang dialaminya. Dia yakin betul telah melihat kedalam kamar kakek neneknya dan tidak ada siapapun disana. Dia juga ingat dia telah memeriksa dapur, ruang tamu, teras belakang, dan semua sudut rumah sebelum akhirnya mengingat tempat yang ia pijak kini untuk menemukan sosok kakek dan neneknya yang tidak ia jumpai dirumah dihari yang sudah petang ini. "Mereka pergi kemana?"
Hujan kembali mengguyur. Laras yang sudah terlalu lemas untuk berjalan hanya bisa berdiam diri dari duduknya ia dalam keheningan. Rintikan hujan yang semakin deras tidak serta merta membuatnya untuk bangkit dari posisinya yang sudah kehilangan sebagian besar tenaganya.
"Apa yang kau lakukan?" suara parau sosok lain Eren mengejutkan Laras dalam rintikan suara hujan malam itu.
Laras mendongak. Kembali bertemu tatap dengan sosok lain Eren membuat Laras mengingat lagi bayangan jatuhnya sosok lain dalam jurang kesengsaraan. Dimana helai demi helai bulu dari sayapnya tercabut dan tergantikan dengan kepulan sayap gelap yang kini menghiasi punggungnya yang nampak begitu canggung.
Sosok lain Eren mengubah dirinya menjadi Eren dengan semua kegelapan yang dimilikinya. Ini pertama kalinya bagi Laras melihat bagaimana sosok sang penjaga menampilkan dirinya sebagai Eren. Sosok yang muncul dari kegelapan dibalik kepulan asap hitam pekat yang berbentuk sayap.
Banyak rasa bercampur menjadi satu dibenak Laras. Ada begitu banyak kesakitan yang dirasakan Laras kini. Semua kemungkinan dan kenyataan seolah-olah menjadi ambigu dalam pikiran Laras.
Entah apa yang dirasakannya kini. Entah apa yang menjadi prioritasnya kini. Dia hanya merasa tidak jelas. Semua kenyataan tersamarkan. Sementara semua kemungkinan seakan menunjukan bagaimana dirinya menjadi nyata.
Sebuah kilat menyambar jauh dibelakang Eren. Menampilkan dengan jelas bagaimana sosok Eren kini tengah berdiri dengan tatapan mata yang menyiratkan banyak hal. Disaat itulah Laras tersadar dengan apa yang paling dia inginkan untuk diketahui. Daripada terbelenggu dalam rasa bersalah yang belum diketahui pasti kejelasannya, Laras lebih memilih hal yang kini ingin diketahuinya.
"Dimana kakek dan nenekku?"
...
__ADS_1