Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Keterikatan


__ADS_3

Eren menepuk pundak Laras dan gadis itu langsung menarik uluran tangan itu dari hadapannya. Dimana Rein yang dikendalikan sosok bayang hitam tanpa wujud melangkah perlahan meninggalkan mereka tanpa mengatakan hal apapun setelah berhasil memindahkan ketiga sosok dihadapannya ke sebuah pintu lembah tidak berpenghuni.


Laras memegangi tangannya. Menahan rasa panas yang sedari tadi menjalar pada telapak tangan itu. Segurat cahaya merah keemasan bersinar pada telapak tangan itu tanpa disadari oleh kedua pemuda yang kini saling melempar pandangan pada dimensi yang tercipta.


"Tempat apa ini?!" Eren dan Aksara memandang dengan heran. Dan Laras hanya bisa terdiam dengan pemandangan yang tersaji dihadapannya.


Hanya dalam beberapa detik, Laras kembali merasa terusik. Dia melihat ke arah Eren. Sebuah bayang ingatan dimana di waktu yang bersamaan pada dimensi yang berbeda, dua sosok mahkluk telah kehilangan sayap berbulu emasnya dengan cara tercabik-cabik.


Sosok yang satunya dicabik-cabik oleh jiwa-jiwa bermata kelam dan satu sosok lainnya tercabik-cabik pada lembah curam di ujung lembah kesengsaraan oleh kegelapan yang sama.


Laras melangkahkan kakinya perlahan. Kembali mengulurkan tangan ke arah depannya setelah beberapa langkah, gadis itu menyentuh pelindung yang mengakibatkan terdengar suara riak air jatuh di sekeliling mereka.


Laras, Eren maupun Aksara memperhatikan ke sekeliling masing-masing mendapati dimensi kembali berputar, membuat ketiganya kembali ke dunia awal mereka.


Laras, Eren maupun Aksara hanya terdiam sekembalinya mereka dari lembah asing itu. Ketiganya sempat bertukar pandang. Menyadari waktu berlalu begitu cepat. Padahal mereka hanya menghilang beberapa menit, tapi sekembalinya mereka dari lembah asing itu, hari sudah menjelang petang.


Tempat mereka berdiri baru saja diterangi lampu taman yang langsung menyorot kebagian bawahnya.


Laras memandangi bayangan yang muncul dibawah kakinya. Aksara menoleh ke atas, tepat ke arah cahaya lampu yang bersinar. Eren berdiam diri merasakan terpaan angin yang membelai lembut wajahnya di sore menjelang petang itu.


"Ceritakan nanti kalau kau siap!"


Eren menepuk kepala Laras lalu tersenyum dengan begitu meneduhkan untuk pandangan Laras. Jantungnya berdetak kencang, merasakan sesuatu yang begitu menggembirakan namun disaat bersamaan juga rasa sakit menyerang bagian hati Laras.


"Ya!" jawab Laras tersenyum.


Aksara dan Eren memperhatikan senyum itu dengan baik.


"Aku duluan. Ada jiwa yang harus aku jemput."


Aksara menepuk pundak Laras lalu melempar senyum simpulnya pada Eren. Seiring matahari yang menghilang di ujung barat, sosok Aksara pun menghilang didalam kegelapan didepan Eren dan Laras yang masih berdiam diri.


"Aku antar pulang?"


Eren memulai percakapan atas kediaman gadis dihadapannya itu. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mendapatkan sedikit perhatian pandangan mata dari Laras.


"Itu tawaran atau paksaan?"


Laras langsung menatap mata itu dengan tatapan mata yang bening namun masih terlihat kalau gadis itu tengah menyembunyikan banyak hal dari dirinya.


Eren menarik diri dari tatapan gadis itu. Memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya. Berjalan mendahului beberapa langkah dari gadis itu, Eren akhirnya berhenti disisi tergelap cahaya lampu penerangan jalan itu.

__ADS_1


Cahaya lampu itu seperti hanya menyorot pada sekeliling Laras. Sementara sisi tergelap, dimiliki oleh Eren yang tangannya kini terulur ke hadapan Laras.


"Menurut mu?"


"Entahlah!"


Laras menyambut uluran tangan itu. Baru melangkah selangkah menerima uluran tangan itu, namun Eren segera menarik tangannya dan membawa tubuh Laras ke sisi paling gelap dari jalanan yang mereka lewati kini.


"Apa kau takut?" tanya Eren memperlihatkan pekatnya jalanan yang tiba-tiba mereka masuki.


"Bukan!" jawab Laras. Dia melihat sekeliling guna membiasakan pandangannya. "Aku seperti kehilangan satu hal penting untuk diingat!"


"Jangan terlalu memaksakan diri..." jawab Eren.


Sosok lain Eren yang tertinggi langsung menunjukan dirinya. Merenungkan semua hal yang dia ketahui tentang sosok jiwa terlarang. Jiwa yang terbangun dari hancurnya jiwa sang penjaga lembah kehidupan.


"Jiwa terlarang tetaplah jelmaan jiwa... keberadaannya bisa terhapus kapan saja dan dimana saja. Begitu pun dengan ingatannya dan ingatan orang lain terhadap dirinya."


Eren menghentikan langkahnya.


"Jiwa dari dia yang terlarang, tidak pernah hidup tetapi juga tidak pernah mengalami kematian... Jiwanya yang ada sekarang bisa jadi adalah sebuah anugerah atau sebuah hukuman untuknya...."


"Kau akan pulang kemana?"


"Rumah Rein!" jawab Laras dengan santainya.


Nadanya datar. Menunjukan kalau hal yang beberapa menit lalu terjadi bukanlah apa-apa. Hanya sebuah kejadian yang sudah berlalu begitu saja.


"Kau yakin?"


"Iya!" jawab Laras yang kali ini matanya menerawang.


Benang berwarna hitam pekat berasap keabuan itu kembali muncul dari pergelangan tangan kanan Laras. Membuat Eren harus berpura-pura tidak melihatnya untuk dapat membantu Laras menyelesaikan takdirnya. Yang entah itu sebuah anugerah atau hukuman untuk gadis itu.


"Apakah aku boleh ikut campur?" gumam pemuda itu sembari menggenggam erat tangan Laras yang berjalan perlahan dibelakangnya.


Menatap punggung Eren dengan seksama, Laras membiarkan pemuda itu berjalan beberapa langkah lagi. Padahal keduanya sedang berpegangan tangan, tapi Laras tetap memberikan jarak setelah mengingat sedikit keterikatan antara dirinya dan Eren.


Terlebih begitu mengingat tingkah Rein. Yang walaupun tengah dikendalikan, tapi Rein yang menyapa Eren di awal adalah Rein yang dikenal Laras selama dua tahun terakhir. Itu bukanlah karena sosok bayang hitam tanpa wujud tersebut.


"Kau yakin ingin pulang ke rumah Rein?"

__ADS_1


"Ya! Semua keperluan ku ada disana?!"


"Yaaah! Padahal aku ingin membawa mu ke rumah sekali lagi."


Eren menghentikan langkahnya. Berbalik dan menatap Laras dengan yakin sekali lagi.


"Kau yakin?!"


Laras tersenyum, kemudian menepuk kedua pipi Eren dengan tangannya.


"Aku yakin!" jawabnya. "Dan dapat aku pastikan kalau aku akan baik-baik saja!"


Eren tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya terus menggenggam tangan Laras dan mengajak gadis itu berjalan untuk beberapa waktu yang terbilang cukup lama.


"Mau mengajak ku berputar-putar berapa lama?!"


"Selama mungkin!" jawab Eren yang kembali menarik tubuh Laras agar semakin dekat padanya. " Aku tidak mau menyia-nyiakan dua tahun ku yang tidak jelas!"


"Maaf!" Laras tersenyum kecil. Dimata gadis itu masih tersimpan banyak rahasia kecil.


"Aku tidak akan memaafkan mu!"


Tiba-tiba Eren sudah mengunci gerakan Laras dan menyandarkan gadis itu pada tembok dibelakangnya. Wajah itu semakin dia dekatkan, membuat detak jantung Laras berdetak tidak karuan.


"Aku hanya ingin melepaskan semua hal yang sudah aku tahan seharian ini!"


Eren mendekatkan bibirnya dan menempelkan bibir itu dengan lembut pada bibir gadis yang masih tidak dapat mengatur detak jantungnya. Begitu Eren akan kembali mencium bibir Laras, sebuah lampu sorot dari mobil mengusik tindakannya bersamaan dengan klakson mobil yang sengaja dibunyikan si pengemudi untuk menghentikan aksi dua pemuda yang sedang jatuh cinta satu sama lain itu.


Laras menunduk malu. Memilih untuk langsung masuk kedalam rumah yang dia tinggali selama satu tahun terakhir bersama Rein ,sahabatnya.


Eren berbalik jengkel. Dia dapat merasakan siapa sosok di balik pengemudi mobil yang sedang mengacaukan momennya itu. Dia berjalan mendekati mobil itu dan mengetuk jendela si pengemudi.


"Keluar!"


Aksara menurunkan kaca mobilnya lalu menaikan kacamata tipis yang di pakainya.


"Ada apa?"


Ke duanya saling bertukar pandang dan menciptakan kilatan petir kecil di antara pandangan itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2