Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Permainan dan Takdir


__ADS_3

Perginya Laras dari dalam kelas dengan melewati sosok bayang hitam bermata kelam begitu saja, membuat dua bayangan lain bangkit dengan sendirinya. Eren dan Aksara yang tengah berusaha menahan dua sosok lain yang bangkit itu, saling bertukar pandang untuk bergerak cepat menangkap sosok itu untuk mencari keberadaan Rein yang masih menjadi misteri bagi mereka sampai saat ini.


Mereka yang kini bangkit adalah sosok tidak biasa Aksara dengan sayap berbulu emas mengenakan setelan serba hitam yang elegan. Satunya lagi yang merupakan sosok lain Eren sebagai sosok penjaga tertinggi berjubah hitam compang-camping dengan lingkaran 7 bola api kebiruan pada bagian belakang atas kepalanya. Wajah Eren sendiri kini hanya berwujud tengkorak manusia yang hanya terbungkus kulit berwarna putih pucat.


Kedua sosok itu menyeruak bersamaan. Menyisakan sisa kepulan asap seperti asap rokok yang melayang ke udara. Keduanya langsung menghilang dari sisi Laras berambut pendek. Membuat gadis itu kebingungan dengan dibarengi rasa jengkel karena merasa telah dipermainkan dan diabaikan.


Sosok Laras berambut pendek menatap kesal. Mengenali Laras yang sesungguhnya yang sedari tadi diperhatikan oleh Eren dan Aksara, dia lalu menyusul langkah Laras keluar gedung kampus menuju halaman belakang.


"Berhenti!" hardik suara Laras berambut pendek atau yang dalam pandangan Laras, sosok itu adalah Rein, sahabatnya selama dua tahun terakhir. "Berhenti sampai disana!"


Laras sejenak berhenti, namun tidak membalik badannya sama sekali. Melainkan melanjutkan kembali langkahnya dengan mengabaikan suara teriakan itu.


"Kenapa kau harus muncul dengan wajahmu itu?!" teriaknya lagi. "Seharusnya kau sudah mati!! Kenapa kau kembali!"


Laras berhenti lalu berbalik dan menatap gadis dihadapannya dengan tatapan datar. Sebagian wajah itu masih tertutupi oleh kerah jaket yang tinggi dan poninya yang menutupi kening, membuat bagian wajah yang jelas terlihat dari Laras hanya bagian matanya saja.


"Seharusnya kau sudah tidak bisa kembali ke dunia ini!!" bentaknya tidak terima melihat sikap yang Laras tunjukan. Terlebih, saat Laras masih menutup rapat-rapat wajah itu dari pandangannya.


"Rein...." ucap pertama Laras. "Memangnya kenapa dengan wajahku?!" tatap Laras dengan pancaran mata biru keemasan.


Darah langsung berdesir ke bagian atas kepala Rein ketika menatap langsung mata Laras yang berwarna biru keemasan itu. Membuat gadis itu merasakan satu detak jantung hebat yang membuat dirinya merasakan rasa iri yang begitu besar. Kemarahan langsung memenuhi ruang hatinya. Dirinya merasa begitu tersaingi oleh apa yang ada pada diri Laras saat ini.

__ADS_1


"Kenapa?!" teriaknya penuh emosi. "Kenapa kau kembali yang harus mendapatkannya!!"


Suara itu terdengar menggema. Seperti gema suara dalam ruangan kosong. Memantulkan bunyi yang sama pada bagian akhir kalimatnya.


Laras yang tidak menyadari ada perubahan pada tubuh Rein yang mengeluarkan hawa gelap, masih tetap berdiam menatap gadis yang nampak marah itu. Bahkan ketika sosok bayangan gelap bermata kelam itu menerjang dan menyerang kearahnya, Laras masih tidak bergeming dari posisinya.


"Apa maksud omongan mu?!" tanya Laras masih dengan nada suara yang datar.


Sementara Rein berdiri dengan perasaan iri yang tumpah ruah, sosok bayangan gelap bermata kelam itu mengeluarkan banyak kilatan petir yang siap menghancurkan sasaran dihadapannya. Namun begitu sosok itu telah sampai pada sasarannya yaitu Laras, dia melewati sasarannya begitu saja.


Tubuh Laras ditembus begitu saja dan Laras sama sekali tidak terpengaruh sedikitpun pada apa yang dilakukan sosok bayang gelap bermata kelam itu.


"Apa yang aku dapatkan?! Dan apa yang kau inginkan, semua tergantung dari apa yang kau lakukan?!"


"Bukankah selama ini kamu selalu mendapatkan semua yang kamu inginkan?!"


Sekali lagi, sosok bayangan gelap bermata kelam itu menyerang Laras dengan mencekik bagian lehernya. Namun sekali lagi, Laras tidak terpengaruh dengan hal itu. Terlebih saat Laras maju dan melewati sosok bayangan gelap bermata kelam itu untuk mendekati Rein yang masih merasa berkecamuk dengan emosinya.


Satu langkah telah Laras lewati dari sisi sosok bayangan gelap bermata kelam, sosok itu berbalik namun yang dia dapati adalah dua sosok lain yang langsung menyeret dan membawanya ke sisi lembah jalanan setapak batu bata merah.


Sosok lain Aksara dan sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi mendorong dan dan menahan sosok bayang hitam bermata kelam itu pada sisi lembah. Menatap sosok itu dengan tatapan mata yang begitu tajam.

__ADS_1


"Kali ini, kau tidak akan lolos!"


Sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi langsung menyerah kegelapan yang menyelimuti sosok bayang gelap bermata kelam itu. Mentransfer semua ingatan sosok itu terhadap tindakan yang dilakukannya pada Laras di malam Rein menghilang dari rumahnya.


Semakin Eren menyerap ingatan itu, semakin gelap dan sepi ingatan sosok di hadapannya. Daripada mendapatkan sesuatu dari apa yang dilakukannya, sosok Lain Eren sebagai sosok penjaga tertinggi perlahan tersedot pada kekelaman yang ada. Membawa sosok lain Eren sebagai sosok penjaga berjubah merah maroon melayang diatas sebuah lembah yang begitu kelam dengan gumpalan jiwa-jiwa bermata kelam yang menggeliat pada dataran berlendir dibawahnya.


Setiap jiwa yang di lihat oleh Eren perlahan tertelan oleh lendir berwarna hitam kehijauan. Menyisakan sisa asap gelap yang melayang ke udara lalu menghilang dari sisi lembah berlangit gelap itu. Setiap jeritan dan teriakan yang didengarnya membuat Eren memalingkan pandangannya ke semua penjuru lembah. Semua bagian kelam yang dilihat oleh Eren perlahan membentuk gumpalan asap hitam yang menempel satu demi satu pada tubuhnya.


Sementara itu, Aksara yang tidak tahu apa yang di alami sosok lain Eren, kini hanya bisa terus menyerap asap hitam yang terus keluar dari seluruh bagian tubuh sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi. Sosok Eren itu kini melayang dan terbungkus oleh kabut asap hitam.


Setelah sempat melihat Eren mencengkeram sendiri target mereka, sosok bayang hitam bermata kelam itu menghilang begitu saja dari sisi lembah jalanan setapak batu bata merah. Tidak lama setelahnya Eren tersedot ke dalam kepulan asap hitam berupa bulatan yang hanya muncul sedikit lalu membuatnya tidak sadarkan diri dan melayang seperti saat ini.


Perlahan kepulan hawa kegelapan yang menguap membuat Aksara semakin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghentikan menyebarnya hawa gelap yang keluar dari tubuh Eren itu pada sisi lembah. Hawa gelap itu langsung mematikan apa saja yang dilewatinya dan sudah membuat sebagian pohon kesayangannya layu dan menyisakan dahan dan ranting-ranting kering. Sementara sebagiannya lagi masih tumbuh dengan baik dan dengan daun hijau yang menutupi seluruh bagian itu.


"Hei! Apa yang sedang kau lakukan Eren!!" geram Aksara yang merasa semakin kewalahan dengan hal yang kini terjadi. Hawa itu menyeruak dengan semakin tidak terkendali dari jangkauannya. Membuatnya kecolongan dengan lebih banyak lagi.


Terlebih begitu sosok tubuh Eren sebagai sosok penjaga tertinggi mengeluarkan hawa berwarna hitam kehijauan sama seperti hawa pada lembah buangan yang sempat ia datangi beberapa waktu yang lalu.


"Apa-apaan lagi ini semua?"


Aksara terdiam saat sosok Eren bangkit dengan jiwanya bermata kelam.

__ADS_1


"Sial!!!"


...***...


__ADS_2