
Harusnya tidak pernah ada perasaan semacam itu untuk sosok yang kini tengah ia perhatikan dari sudut perpustakaan itu. Dia hanya seorang biasa, yang bahkan sangat biasa. Kehidupannya mungkin tidak sebaik dirinya yang mempunyai semua fasilitas yang amat baik. Tapi tatapan sosok itu selalu bisa menyita pandangannya. Rambut yang terkibaskan angin. Tangan mungilnya yang nampak panjang dan lentik. Diamnya. Bahkan senyum kecutnya saat membaca sebuah bukupun terlihat begitu mengesankan untuknya.
“ Sungguh membuat frustasi. ” gumamnya dikejauhan.
Disudut lainnya, beberapa buku sudah ia baca untuk mencari tahu cerita tentang sebuah kematian yang pernah ia pinjam sebelumnya. Laras baru saja memalingkan pandangannya ketika ia melihat seorang siswa lain tengah berdiri disudut ruangan dengan membaca sebuah buku. Buku yang menurutnya sangat aneh. Dimana abjadnya terlihat terbalik. Atau mungkin memang buku itu yang sedang terbalik.
Fokus dengan yang dilihatnya, sosok itu mengintip Laras yang mendekatinya dari balik buku yang digunakannya untuk menutupi wajah itu. Ketika Laras hendak menegurnya karena buku yang dibacanya ternyata memang benar terbalik, bergegas sang pemuda menutup buku itu. Mengangkatnya tinggi-tinggi. Dan menatap sang gadis yang kini nampak sedikit kaget.
“ Mau apa lo?? ” sambutnya dengan terlihat sedikit angkuh.
Laras terdiam. Merasa kikuk dan kaku, Laras salah tingkah. Masih ingat dengan kejadian pagi kemarin dengan sosok pemuda dihadapannya kini, Laras berbalik dan bermaksud pergi dari tempat itu.
Kenapa harus dia?? Dan kenapa juga dia harus diperpus. Bhatin Laras dengan perasaan yang tak karuan.
Baru beberapa langkah saja, Laras berhenti. Mengingat buku yang dibawa si pemuda-lah yang tengah ia cari. Kedua tangannya mengepal disamping. Mencoba meyakinkan diri untuk berbalik dan mengambil buku itu, tapi dia sangat enggan kalau harus berurusan dengan pemuda yang tengah membawa buku tersebut.
Eren.
Dari belakang pundak sang gadis, Eren menurunkan buku yang tadi diangkatnya tinggi-tinggi. Sedikit ragu untuk menahan langkah gadis yang kini tengah berhenti beberapa langkah didepannya, Eren baru saja akan meletakan buku itu dibagian atas rak buku ketika Laras berpaling dan tiba-tiba menghampirinya dengan buru-buru.
Kembali salah tingkah.
Laras kini terdiam didepan pemuda yang tangannya masih memegang buku yang hendak ia taruh dibarisan rak buku paling atas itu. Tempat yang cukup tinggi untuk diraih oleh Laras yang tengah meyakinkan diri kalau dia memang benar-benar menginginkan buku yang dipegang oleh Eren itu.
“ Buku itu… ” ucap Laras dengan volume suara yang cukup kecil. “ Gue mau meminjamnya. ”
Eren mendekatkan telinganya pada wajah Laras. “ Loe bilang apa barusan? Nggak dengar. ”
__ADS_1
Semakin dibuat menunduk dan ada sedikit rasa canggung dan malu didirinya, Laras menghela nafas. “ Gue mau pinjam buku itu. ”
“ Ini???? ” Eren mengambil kembali buku yang hendak ditaruhnya dibarisan buku paling atas.
Mengangguk kecil. Laras tetap menunduk.
“ Ambil saja. ” dengan enteng tangan Eren menyodorkan buku itu pada sosok gadis yang kini tengah mengangkat tangannya perlahan untuk mengambil buku yang tengah ia sodorkan.
Buku sudah dipegang oleh Laras, tapi Eren tidak langsung melepaskan buku itu begitu saja. Membaca judul buku yang bertema kematian, Eren menarik lagi buku itu dari tangan Laras.
“ Lo nggak seharusnya membaca buku seperti ini. ” ujar Eren tidak suka. “ Semua yang ada dibuku ini hanyalah kebohongan dan khayalan belaka. ”
Laras menyimak. Dia akhirnya berani menatap lekat-lekat mata Eren yang berdiri dihadapannya dengan wajah yang terlihat tidak begitu senang. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini Eren terlihat sedikit murung.
Dan untuk Eren, ini pertama kalinya iamelihat Laras menatapnya tanpa rasa takut. Dia benar-benar mampu melihat bagaimana manisnya gadis yang saat ini tengah memfokuskan bulatan mata besar itu pada sosoknya. Dimana dimata itu ada bayang jati dirinya yang enggan untuk ia lihat.
Kembali melihat buku yang tetap dipegangnya tinggi-tinggi, Eren kali ini menghilangkan niatnya untuk menggoda Laras. Ia meletakkan buku itu diatas tangan sang gadis tanpa menyentuh tangannya sedikitpun dan pergi melewati Laras tanpa berkata apapun setelahnya, Eren keluar dari ruang perpustakaan dengan rasa yang sedikit aneh.
Pintu perpustakaan itu dibukanya lebar-lebar. Dan dari pandangan mata Laras, Eren seakan tengah membuka begitu banyak pintu lain yang seakan membawa sosoknya untuk masuk kedunia yang begitu gelap dan kelam.
“ Bayangan yang sama… apa mungkin dia juga sama seperti Aksara??? ” Bhatin Laras yang tertegun dengan apa yang dilihatnya pada sosok Eren.Diletakannya buku yang akhirnya Eren berikan padanya dibagian rak tengah. Entah kenapa niatnya untuk membaca buku itu hilang begitu saja melihat lagi-lagi salah satu temannya menunjukan jati diri yang berbeda.
***
“ Bukan hanya Aksara ya?? Mungkin Eren pun sama… ” gumam Laras dalam perjalanan pulangnya. Dipersimpangan jalan dimana harusnya dia biasa melihat sosok tua yang kalau setiap sore pasti tengah menyiram tanaman dihalaman depan rumahnya, Laras memutar balik sepedanya. Mengenyahkan berbagai kesedihan yang masih disimpannya, Laras mengayuh laju sepedanya menjauhi rumah itu.
Tiin. Tiiiin. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.
__ADS_1
Suara klakson panjang membuyarkan pikiran Laras dari sebuah rumah yang menyita hampir seluruh pikirannya. Itu adalah rumah Kakek Tito. Rumah yang kini nampak kosong setelah upacara pemakaman yang dilakukan kemarin sore. Laras focus kejalan didepannya dan mendapati sosok Eren yang baru saja mematikan mesin mobilnya karena sudah mendapat perhatian dari sang gadis.
Kini si pemuda menatap kesal. Bagi Eren, kecerobohan sang gadis selalu bisa membunuhnya kapan saja kalau itu dijadikan kebiasaan yang amat biasa. Melipat kedua tangannya didada, Eren berdiri santai disamping mobilnya. Tangannya memanggil, meminta sosok Laras untuk berhenti tepat didepannya.
Ckiiiiiiit.
Suara rem sepeda itu memberi tanda kalau Laras kini tengah menghentikan laju sepedanya. Cukup jauh. Berjarak beberapa meter didepan si pemuda, Laras mengangkat sedikit stang sepedanya bermaksud menjauhi sosok Eren yang dirasa tengah menatapnya dengan cukup aneh.Terlebih saat Laras harus teringat kejadian dipagi kemarin.
“ Tunggu!! ” Eren sedikit mempercepat langkah untuk menahan laju sepeda sang gadis yang terlihat mulai gusar.
“ Ada apa?? ”
“ Hanya ingin memastikan sesuatu. ” jawab Eren yang semakin memperpendek jarak antara keduanya. Bahkan terlaludekat.
Laras yang awalnya gusar menjadi semakin panik. Dia berusaha membuang pandangannya dari mata sang pemuda yang menatapnya dengan sangat berbeda.
“ Jadilah milikku! ” ucapnya kemudian. Tangan Eren memegang dan menahan satu tangan Laras yang masih berada pada stang sepedanya.
Jantung itu kembali perpacu dengan tidak menentu. Sangat cepat. Bahkan Laras dapat mendengar suara detak jantungnya dengan begitu jelas. Saking jelasnya ia mendengar suara detak jantungnya sendiri, Laras sampai tidak menyadari kalau kini tangan menyeramkan dibalik punggung Eren tengah berusaha meraih dirinya secara perlahan.
Tangan menyeramkan itu membelai lembut rambut panjangnya ketika Laras baru saja menatap sosok Eren. Jantungnya semakin berdetak cepat. Melihat lagi hal yang tidak biasa dari sosok pemuda yang sering menjahilinya itu. Dimana, bayang menyeramkan dibelakangnya kini seakan menjelma. Jubah merah itu melekat dan menutupi sebagian wajah si pemuda yang dibaliknya ia juga mengenakan topeng yang sangat mirip dengan tulang tengkorak manusia. Kepulan awan hitam berbentuk sayap dibalik punggungnya kini terlihat dengan jelas. Kegelapan itu terasa begitu pekat dan suram.
Membuka sisi jubah yang menutupi sebagian wajah itu, sang pemuda membuang tatapannya. Dia tertunduk dibalik topeng tengkoraknya. Matanya menunjukan kesedihan. Penyesalan. Kekecewaan. Dan ada begitu banyak kemarahan dan kebencian juga didalamnya. Tapi bibir itu masih tetap berusaha mengukir sebuah senyuman dibalik topengnya.
“ Si… Siapa lo sebenarnya??? ”
“ Aku selalu takut jika kau mengetahui ini. ” ujarnya. “ Kau mungkin akan membenci atau mungkin menjauhiku. ”
__ADS_1
***