
Langkahnya cukup berat memasuki lembah yang biasanya menjadi tempat ternyaman untuknya. Kini langkahnya sedikit terbebani begitu memasuki lembah itu. Tempat yang nampak begitu sendu. Tidak jelas keberadaan lembah itu. Disekelilingnya hanya ada kegelapan yang berselimutkan kabut yang sama pekatnya dengan gelap. Sebuah lembah yang tersembunyi dibalik gerbang dari pepohonan yang menjulang begitu tinggi sampai kelangitnya. Hawa didalam lembah begitu menusuk. Terasa sangat dingin dan sepi. Ditambah dengan pemandangan dari beberapa jiwa berwarna hitam, putih, dan abu-abu yang berputar mengitari beberapa batu nisan yang tertutupi oleh tebalnya kabut kegelapan.
“ Apa yang sedang mereka lakukan? ” gumam dia yang kini melangkahkan kakinya menapaki jalanan berbatu ubin yang membelah sisi lembah menjadi dua bagian. Dia menghentikan langkahnya tepat dipertengahan jalan setapak itu. Memperhatikan bagaimana setiap jiwa dengan warnanya masing-masing mengitari setiap batu nisan. Jiwa berwarna hitam mengitari batu nisan berlawanan dengan arah jarum jam. Berbanding terbalik dengan jiwa-jiwa yang berwarna putih yang mengitari batu nisan searah jarum jam. Sementara semua jiwa abu-abu mengitari batu nisan dengan tidak pasti. Kadang mengikuti arah jarum jam dan belum mencapai awal perputarannya, jiwa abu-abu merubah arah mengitari batu nisan berlawanan dengan dentang arah jarum jam. Abu-abu selalu seperti itu. tidak pernah benar-benar menyelesaikan arah perputarannya dalam mengitari batu nisan dibawahnya.
Tapi… Dia memutar badannya. Tidak seperti biasanya. Jiwa-jiwa itu muncul bersamaan dan mengitari batu-batu nisan yang ada diwaktu yang bersamaan.
Membuka tudung dari jubah merah maroon yang menutupi sebagian besar tubuh itu, sosoknya tiba-tiba tertegun saat pandangannya jatuh tepat dibagian ujung jalan setapak ini. Itu adalah poros pusat dari lembah tersebut, sebuah pohon tua dengan daun berwarna coklat keemasan. Benar-benar bukan hal yang biasa terjadi. Setiap kali selama ratusan tahun ia berkunjung, tidak pernah sekalipun pohon tua itu memiliki warna daun selain warna hitam, putih, ataupun abu-abu. Kali ini lembah itu menunjukan banyak hal tidak biasa.
Cahaya yang biasa menembus celah dedaunan atau dahan pohon yang menjadi pagar dari lembah itu kini seakan terbuka dan membiarkan cahayanya jatuh tepat diatas pohon tua berdaun emas kecoklatan. Dimana Pohon tua itu juga menjadi berkumpulnya hawa yang menenangkan bagi para penghuni lembah yang dinamai sebagai Lembah Abu-abu.
“ Apa yang sudah terjadi… ” ujarnya mendekati pohon tua dipenghujung jalan setapak itu. Tepat ditepian cahaya yang menyinari pohon tua tempat ia biasa meneduhkan diri, sosok berjubah itu menatap keatas bagian langitnya. Langit yang biasanya terlihat teduh namun tetap suram, kini begitu menyilaukan pengelihatan matanya. Dilindungi mata itu dengan satu tangannya. Matanya tetap berusaha menatap kearah cahaya dan mencari sumbernya.
“ Dia yang terlarang mulai merubah takdirnya…”
“ Bawa ia kembali…”
“ Bebaskan kami…”
“ Jangan biarkan dia terlepas dari takdirnya…”
“ Bawa dia yang terlarang kembali…”
Suara-suara parau tiba-tiba bergema memecah konsentrasi dia yang tengah mencoba menemukan arah cahaya. Dipenuhi dengan berbagai macam emosi kekelaman, semua jiwa-jiwa itu mulai melayang-layang tidak karuan. Ada jerit ketakutan, suara kegetiran, kata-kata penuh kerisauan, kemarahan, beberapa ucapan pengharapan, dan juga teriakan kemurkaan.
__ADS_1
“ Dia yang terlarang harus menjalani hukumannya…”
“ Dia tidak boleh lari lagi…”
“ Dia harus menggantikan kami!! ”
“ Dia harus mati!!!”
Lengkingan suara-suara parau itu seketika membuat cahaya yang berpusat dipohon tua meredup secara perlahan. Semakin besar kemurkaan yang keluar dari semua jiwa-jiwa dilembah itu, semakin kencang angin berkabut gelap menyergap seisi lembah, seperti menelan lembah itu kedalam kegelapan. Gemuruh disertai angin kencang beradu mengglegar diseisi lembah seiring menghilangnya seluruh cahaya yang sempat memperindah pusat dari lembah itu.
“ !!!! ”
Dia, sosok lain Eren yang berjubah merah maroon segera mengibaskan jubahnya. Seakan menghalau semua kegaduhan yang tiba-tiba terjadi, dia melepaskan jubah dan melemparkannya jauh keatas. Menyerap semua kabut, gemuruh, kilat, dan kegelapan yang menyergap, sosok lain Eren mengeluarkan sebuah buku tua bersampul coklat kayu yang berada dibalik jubahnya. Buku itu menyeruak dan membuka halamannya sendiri. Menampilkan satu halaman buku yang penuh dengan kepulan kabut berwarna hitam pekat. Gemuruh dan kilat-kilat kecil ikut serta meramaikan kepulan kabut dari buku tua bersampul coklat kayu tersebut.
Dia membiarkan buku itu melayang-layang dihadapannya. Memperhatikan setiap percikan cahaya yang muncul dari dalam halamannya. Perlahan-lahan membentuk sebuah lukisan yang menyerupai tempatnya berdiri kini. Bagaimana keadaan seisi lembah yang nampak tidak biasa terlukis dihalaman buku itu. Walau hanya berupa gambar hitam putih, lukisan itu benar-benar menunjukan bagaimana berbedanya lembah abu-abu beberapa saat sebelumnya.
“ Kembalikan dia yang terlarang ke asalnya…”
“ Biarkan dia menjalankan apa yang menjadi takdirnya…”
“ Dia tidak mempunyai pilihan lain…”
“ Dia hanya harus kembali…”
__ADS_1
Kegelapan menyergap jiwa-jiwa putih, menjadikan mereka kembali kebentuk asalnya dan tergantikan dengan sosok-sosok berjubah hitam yang penuh dengan kemurkaan.
“ Hentikan dia sebelum terlambat!!”
“ Bawa sosoknya kembali dan bebaskan kami dari tempat ini!!”
“ Dia harus menyatu dengan alam!”
“ Sosoknya hanyalah abu-abu… biarkan dia menjalani apa yang seharusnya dia jalani.”
“ Sosoknya hanya sebuah abu…”
Suara parau itu lambat laun terdengar menjauh bersamaan dengan lenyapnya semua sosok berjubah hitam itu dari pandangan. Membenamkan mereka kedalam kabut yang menutupi seluruh bagian Lembah Abu-abu. Seperti itulah permainan waktu ditempat yang kembali nampak sendu tersebut. Saat putih menjelma, mereka yang hitam akan selalu menjadi jiwa-jiwa yang melayang. Dan ketika kegelapan menyergap mereka yang berjiwa putih, cahaya langsung mengembalikan jiwa-jiwa putih dan menjadikan mereka bagian dari perputaran poros waktu tidak berarti dilembah itu bersama para abu-abu.
*“ Kalian terlalu berisik. ” *ujar sosok lain Eren dengan setelan taksido hitamnya. bagian tubuhnya yang selalu tersembunyi dibalik jubah itu nampak sangat berbeda dari sosok Eren sebagai seorang siswa disekolah tempatnya berbaur. Sebagian wajahnya yang tidak tertutupi oleh tengkorak manusia nampak begitu putih dan pucat. Bola matanya memancarkan warna merah pekat yang sangat menawan. Bibirnya bersemu kemerahan semerah warna darah. Matanya memicing tajam dan gurat alisnya mempertegas caranya memandang sekeliling. Bagian tangan yang sama pucatnya mulai memainkan jari-jarinya yang nampak begitu lentik. Dia menarik sisi jubah merah maroon itu hanya dengan memainkan jari jemarinya diudara. Seketika jubah itu sudah melekat pada tubuhnya dan kembali menutupi seluruh bagian dirinya yang tidak ingin terlihat oleh siapapun.
Dipandangnya kembali bulir-bulir cahaya yang mulai menembus celah dahan dan dedaunan dari pepohonan yang menjadi batas pelindung Lembah Abu-abu. Melangkahkan kakinya untuk meningglakan lembah, sosoknya tersenyum simpul melihat sosok lain berdiri dibalik gerbang pepohonan ujung jalan setapak tempat sosok lain Eren akan beranjak pergi.
“ Aku belum membawanya kesini hari ini. ” ujar sosok lain Eren sambil berjalan santai keluar dari sisi Lembah Abu-abu.
“ Dia bukan penghuni lembah ini! Jangan pernah coba menyentuhnya. ” sosok lain itu tidak serta merta membiarkan sosok lain Eren melewatinya begitu saja tanpa menyampaikan apa yang menjadi maksudnya mendatangi Lembah kelam yang dihindari hampir semua mahkluk sejenisnya. Sesiapa saja yang masuk kedalam dan bukan menjadi bagian dari penghuni lembah, maka jiwanya akan hancur dan menjadi puing-puing kelam dari sisi tergelap Lembah Abu-abu tersebut.
“ Lakukan tugasmu. Aku lakukan bagianku.” sosok lain Eren segera menghilang diantara kabut hitam yang mengitari sisi lembah. Mengabaikan dia yang terpaku dengan pemandangan yang tersaji didepannya. Begitu suram, kelam, dan sepi. Sekalipun banyak mahluk yang bergentayangan didalam lembah, tempat itu tetap tidak menunjukan tanda-tandanya adanya kehidupan yang layak bagi jiwa-jiwa yang tinggal didalamnya.
__ADS_1
“ Dia bukan bagian dari tempat ini. ” ucapnya tegas. Membalikan badan, sosoknya langsung menghilang dari sisi luar Lembah Abu-abu yang ia kunjungi untuk pertama kalinya.
***