
"Jadi?" sosok Eren memutar arah pandanganya pada Aksara setelah melihat keadaan Alam Larangan yang sedikit tidaknya ada 3 sampai 4 kali tempat ini telah dikunjungi oleh seseorang.
"Begitulah!" jawab Aksara tidak yakin.
"Siapa saja?"
"Ada aku dan juga dua orang perempuan lainnya... "
"Siapa mereka?"
"Zara dan..."
Aksara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha mengingat sesuatu yang membuatnya dan Zara tidak sadarkan diri saat itu. Tapi sekeras apapun Aksara mencoba membuka ingatannya, ingatan itu selalu seperti terhapus begitu saja.
Melihat Aksara terganggu akan ingatannya, sosok Eren langsung menghempaskan kutukan yang diterima oleh Aksara. Kutukan yang begitu kuat yang membuat seorang penjemput kematian harus berusaha keras dalam membuka ingatannya.
"Dikutuk dengan begitu buru-buru. Tapi bisa menciptakan efek selama ini!" ujar sosok Eren.
Seketika hal yang Eren lakukan membuat seluruh ruang ingatan Aksara terbuka. Mulai dari sejak awal kehidupannya sampai sosok itu menerima takdir semesta dan menjadi sang penjemput kematian di lembah tak bertuan lembah jalanan setapak batu bata merah. Aksara tersengal. Tubuhnya seperti terlepas dari kerangkeng yang membelenggu jiwanya selama jutaan tahun.
Melihat sosok Eren yang berdiri dihadapannya, Aksara lalu berdiri perlahan dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Mampu mengingatnya?"
"Rein! Dia Rein." jawab Aksara yang masih terengah-engah. Seakan dirinya selesai menanggung beban yang teramat berat.
Hanya dengan melirik Aksara untuk kedua kalinya, Aksara membuka lagi ingatannya akan kejadian hari itu.
"Setelah berhasil masuk ke dalam lembah danau pelangi, aku dan Zara tidak menemukan hal apapun kecuali keruh dan tandusnya lembah tersebut." jelas pertama Aksara. " Setelah melihat setiap sudut tempat dan perairan yang ada, kami akhirnya menemukan sosok tubuh manusia milik Rein."
Awalnya Aksara dan Zara bermaksud membawa Rein untuk menepi dari lembah danau pelangi, namun tiba-tiba lembah berguncang dengan sangat hebat!
Air lembah danau pelangi seperti luapan lahar gunung berapi yang melalap habis semua yang hal terkena luapan nya. Bahkan hanya percikannya saja sudah mampu menghanguskan dermaga kayu pada sisi danau tersebut. Setiap letupan bahkan mampu membakar jiwa-jiwa yang tenggelam didalamnya. Sungguh sesuatu yang mengerikan. Dimana ia melihat begitu banyak jiwa terhukum yang saat itu binasa dan lenyap menjadi abu.
Aksara dan Zara bergegas membopong sosok Rein yang harusnya bersosok manusia untuk segera pergi dari lembah itu. Terpental karena letupan dahsyat air danau, ketiganya terpental pada lembah yang saat ini Aksara kenali sebagai alam larangan.
Disana dalam keadaan tidak sadarkan diri, baik Aksara dan Zara tidak menyadari bahwa mereka telah dikutuk oleh Rein dengan menggunakan buku kutukan yang berada di alam larangan itu. Saat sadarkan diri, mereka hanya melihat satu sama lain untuk kemudian saling menyerang tanpa mengetahui sebabnya.
Untuk pertarungan sengit yang berjalan cukup lama, Aksara akhirnya terpental dari alam larangan itu dan terhindar dari pertarungan karena terpanggil akan tugasnya mengantar seorang jiwa menuju perjalanan terakhirnya. Dan semenjak saat itu, dirinya dan Zara tidak pernah bertemu lagi di dunia lembah manapun.
"Rein?!" tanya sosok Eren. Dia tertawa renyah yang membuatnya cukup terlihat jengkel tapi juga tertantang disaat yang bersamaan.
"Mahkluk itu masih saja bisa lolos!" ujar Eren lagu mengingat sesosok mahkluk kegelapan yang membuatnya melakukan kesalahan kecil dengan akibat yang cukup fatal pada perjalanan takdir dan berjalannya siklus alam semesta.
Aksara mengangguk. Dia menghela nafas dengan berat napi tidak bisa mengeluh pasrah. "Aku menyadari kesamaan Rein dengan sosok itu..."
__ADS_1
Eren terdiam. Dia melihat Aksara lalu memukul jidatnya sendiri. Kini tatapan Aksara sangat berbeda pada dirinya. Hanya dengan sekali menaikan tatapannya, Aksara langsung mengeluarkan serangan kepada Eren.
"Aku bisa menjelaskannya!" Ujar Eren menghindari serangan Aksara tersebut.
"Aku tak peduli!" Serangan demi serangan dilancarkan Aksara pada Eren tanpa henti. Membuat Eren berkali-kali harus menghindari semua serangan yang terjadi.
"Bisa-bisanya kau melempar ku ke lembah kehampaan karena kesalahanmu sendiri!!!" Aksara semakin brutal. Kali ini, kekuatannya naik berkali-kali lipat dari biasanya.
Eren yang tidak menyangka hasil dari tindakannya ketika membuka segel ingatan Aksara yang dikutuk oleh Rein, membuatnya harus menanggung kesalahannya yang dia lakukan karena terbawa emosi di kehidupannya yang lalu sebelum terjadinya pergolakan semesta. Yang mana pada pergolakan semesta itu, semua ingatannya terkurung dan terikat pada lembah kelam bernama lembah abu-abu. Atau yang merupakan lembah penghukuman bagi jiwa yang telah dikutuk oleh Ayu sang penjaga alam larangan.
"Aku bisa menjelaskannya!" Eren berusaha mengelak sebisa mungkin dan tidak membalas Aksara karena keterikatan hubungan keduanya pada kehidupan terdahulu.
"Menjelaskan!" geram Aksara. "Apa waktu itu kau bersedia mendengar penjelasan ku?!"
Satu serangan pamungkas beserta amarahnya, api keemasan yang menyebar bagaikan pusaran angin menghempas area penghukuman dengan semua isinya.
"Jangan gila!" sentak Eren menahan semua serangan itu. "Kalau tempat ini musnah, kita bisa berkuasa dimana lagi!!!" sentak Eren balik emosi.
Aksara langsung meredam amarahnya. Memandang Eren dengan jengkel lalu menendang sebuah batu yang tergeletak dibawah kakinya kearah Eren.
Tepat sasaran.
Batu itu mengenai kepala Eren. Seakan kehilangan wibawanya, Eren hanya mampu menghela nafas lalu membalas lemparan batu itu dengan pukulan pada pundak Aksara.
"Akan lebih baik kalau kau tidak mengingatnya sama sekali!" ujar Eren tersenyum kaku.
"Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini!!" keluh Aksara ketika semua ingatannya akan kejadian terdahulu menimpa pikirannya. Melirik Eren dengan penuh harap, Aksara melihat sesuatu yang lebih membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik.
"Apa yang terjadi setelahnya?!"
"Menurutmu?!"
Eren balas menatap. Tatapan keduanya terlihat penuh harap untuk satu sama lainnya. Eren berharap bisa mengulangi waktu pada kejadian itu dan Aksara berharap Eren tidak melakukan apa yang ada dipikirannya.
"Kamu melakukannya?!"
"Dengan penuh emosi!"
Keduanya menelan ludah secara bersamaan. Terduduk ditengah-tengah area pengadilan lembah, keduanya nampak pasrah dan berserah dengan semua ingatan yang mereka punya.
"Kenapa aku begitu konyol saat itu!" ujar Eren frustasi.
"Lembah abu-abu itu ulah mu?"
"Jangan bertanya!"
__ADS_1
"Lalu Laras?!" Aksara terperanjat.
"Menurutmu?!"
Keduanya menatap gamang. Mengingat kembali sosok Laras yang terlahir pada saat pergolakan semesta. Yang membuat sosok Laras menjadi sosok ambigu dunia manusia dan dunia lembah kematian. Mengingat itu, baik Aksara maupun Eren langsung merebahkan diri mereka didasar lantai. Berharap ada yang bisa membantu mereka menemukan solusi dari permasalahan yang mereka buat sendiri.
"Lalu kenapa dia kembali?"
"Rein?"
"Apakah kita namai saja dia begitu?!"
"Dia sedang mencoba mempermainkan ku lagi!"
"Siapa?"
"Menurutmu?!"
Eren memejamkan matanya. Menghembuskan nafasnya perlahan lalu mengingat lagi semuanya. Semua kesalahpahaman yang tercipta sebelum akhirnya dirinya dan Aksara berada lagi ditempat yang sama dengan semua ingatan yang utuh.
"Sejak kapan kau mengingatnya?!" Aksara lalu duduk dan membuang pandangannya ke sekelilingnya.
"Sejak terbangun di dasar lembah danau terkutuk!" jawab Eren. "Seribu tahun...."
"Kalau ingatanku tidak dikutuk oleh kegelapan itu, kau tidak akan pernah mengembalikan ingatanku bukan!"
"Bukankah itu lebih baik?!" Eren balik menatap Aksara.
"Lalu kau mau menanggung semua kesalahan itu sendirian?!"
"Menurutmu?!"
"Kau selalu mengembalikan semua pertanyaan yang tidak ingin kau jawab."
"Sudahlah!"
Eren bangkit dari posisi tidurnya. Duduk dengan bersila, Eren mengingat lagi bagaimana proses hukuman itu berlangsung. Hukuman terakhir yang ia lakukan terhadap seorang penjaga Alam Larangan. Hukuman yang dia lakukan terhadap sosok penjaga yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya?"
"Kau yakin itu dia?"
"Melihat kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya beberapa kali itu... menurutmu?!"
"Aku tidak yakin, tapi mungkin buku ini bisa membantu!"
__ADS_1
Aksara membuka tangan kanannya. Mengeluarkan sebuah buku tua bersampul hitam yang menjadi buku catatan kematian yang dulu dimiliki oleh Laras. Sosok ambigu dunia manusia dan dunia lembah kematian.
...***...