Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Satu sosok dua dimensi


__ADS_3

Eren masih tertegun akan ingatannya. Dia kembali mengingat suara gemerincing yang didengarnya dan juga mengingat hawa kegelapan yang tercipta dari suara gemerincing itu. Ingatan yang tertuju pada satu sosok. Yakni wujud bayang gelap bermata biru yang menolong mereka beberapa kali disisi lembah kumuh yang mereka tandai sebagai lembah terlarang.


Eren terlentang diatas tempat tidurnya. Dari semua hal yang terpikir olehnya, pemuda itu tiba-tiba mengingat sosok yang berhubungan dengan suara gemerincing dan hawa kegelapan yang sama. Dia adalah gadis satu-satunya yang pernah terbaring ditempat tidur yang sama dengan dirinya.


Sepanjang malam sekembalinya Eren dan Laras dari lembah kelam bernama lembah abu-abu, Eren membawa gadis itu ke rumahnya. Membaringkan sosok gadis itu diatas tempat tidurnya. Membiarkan sosok itu tetap terlelap dalam tidurnya. Tidak ada niatan Eren mengusik atau mengganggu ketenangan yang ditunjukan Laras dalam tidurnya kala itu.


Dia yang sama sekali tidak beranjak dari sisi Laras dan menemani malam gadis itu dengan berjaga dan tidak membiarkan sedikitpun suara mengganggunya meski sang gadis tengah tertidur dengan begitu lelapnya. Pikirannya benar-benar tidak teralihkan dari sosok Laras yang akhirnya mulai mengigau dan mengucurkan banyak keringat pada dahinya malam itu.


"Panas...." rintih Laras. "Seluruh tubuhku sakiiiit..." suara Laras terdengar lirih. Tubuh itu mengkerut lalu menggigil kedinginan.


Laras yang masih mengigau tidak jelas, berhasil meraih tangan Eren dan menggenggamnya erat. Menarik dan membawa tubuh itu mau tidak mau harus mendekatkan dirinya pada sosok gadis yang terlihat mulai sedikit tenang. Tangan gadis itu menggenggam erat dan enggan melepaskannya, membuat Eren mau tidak mau juga harus membaringkan badannya disamping Laras.


Menghadap tubuh sang gadis, Eren kala itu memperhatikan baik-baik setiap lekuk wajah Laras. Mulai dari dahinya yang berkeringat, bentuk alisnya yang beradu ditengah dan memanjang, bulu matanya yang sedikit lentik, lekuk hidung yang tidak terlalu tegas tapi cukup membuat sosok Eren tersenyum kecil, dan bagian bibir kecil merah merekah yang membuat Eren sekali lagi ingin mencuri ciuman seperti saat pertama kalinya ia menyadari mempunyai perasaan yang berbeda pada sosok yang seharusnya dia hukum untuk menggantikan tugasnya menjaga lembah abu-abu.


Entah hal apa yang ada dipikirannya kala itu, sebelum akhirnya ia juga memejamkan matanya disamping Laras.


Eren menyadari kalau dirinya tertidur dengan Laras yang tetap menggenggam erat tangannya dalam pelukan sang gadis. Berbalut dress hitam selutut dengan sisi jubah merah maroon disisinya dan ditemani sosok dirinya dengan setelan baju kaos dan training putihnya, membuat Eren mengenang perasaan itu dengan perasaan penuh emosi.


Terlebih saat mengingat Laras yang membuka matanya secara perlahan lalu bermaksud membelai pipi Eren didepan matanya dengan melonggarkan pegangan tangannya malah tangan Eren yang balik menggenggam erat tangan Laras yang mungil itu.


Tubuhnya hampir terjatuh kelantai dibawahnya. Jatuh yang tidak menyadari dengan posisinya saat itu. Tetapi tangannya menahan tubuh Laras dengan cepat dan reflek .

__ADS_1


Bayangan itu masih terasa sangat nyata sampai saat ini. Dimana wajah kaget Laras ketika menyadari dirinya hampir terjatuh dan berada di ranjang yang sama, membuat Eren tiba-tiba tersenyum kecil mengingat semuanya.


"Aku merindukanmu..."


Eren menutup wajah itu dengan satu tangannya. Menyisakan tatapan dengan wajah yang sedikit memerah. Rasanya sesuatu bergejolak dalam dirinya untuk segera menghampiri Laras di kediamannya. Eren terperanjat. Dia bangkit dari posisi tidurnya lalu memikirkan bagaimana Laras kini.


//


Di kediaman Rein. Rumah itu nampak begitu sunyi dan sepi. Lampu dihalaman depan menyala dengan tamaram dan lampu-lampu didalam ruangan tidak ada menyala satu pun. Namun dari luar jendela rumah itu, bisa terlihat sesosok cahaya yang berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Lalu menaiki tangga.


Cahaya itu didominasi oleh warna biru. Berkedip-kedip tidak menentu ketika beranjak dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Menyisakan letupan-letupan kecil yang membuat suasana didalam rumah itu menjadi tidak biasa.


Langkah bayang bercahaya kebiruan itu telah sampai pada ujung tangga atas. Berkedip-kedip lemah lalu lenyap ketika mendengar suara lesatan angin yang tidak biasa dari arah jendela salah satu kamar dirumah tersebut.


Sosok itu membuang pandangan disekelilingnya. Mencari dia yang harusnya berada dikamar tersebut. Sampai sebuah suara terdengar dari kamar sebelahnya. Kamar yang seharusnya sepi karena pemiliknya telah menghilang terbawa oleh bayang hitam tanpa wujud beberapa hari yang lalu.


Sosok itu memindahkan dirinya ke ruangan disebelahnya dan mendapati sosok yang ia cari tengah tertidur dengan lelapnya pada kamar itu. Berselimut bulu berwarna pink, sosok itu menyita penuh perhatian sosok yang memasuki rumah itu tanpa ijin.


Cahaya lampu yang tamaram membuat bayang gadis itu nampak tidak biasa. Namun rasa rindu yang dimiliki oleh sosok itu bahkan tidak menyadari hal aneh yang terjadi. Dimana bayang berkedip-kedip cahaya kebiruan itu tengah melihat dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.


Saat sosok yang melesat itu berjongkok dan memperhatikan wajah sang gadis yang tertidur dihadapannya, bayang cahaya kebiruan itu terdiam tanpa melakukan gerakan apapun. Terlebih ketika sosok itu begitu mendekatkan wajahnya pada gadis dihadapannya, bayang cahaya kebiruan itu tenggelam dalam kegelapan yang tertelan oleh bayang hitam dengan kilatan petir keunguan.

__ADS_1


Sementara wajah sosok penyelinap yang sudah begitu dekat dengan sang gadis langsung menghentikan aksinya.


"Bodoh!!" gumamnya.


Menyadari betapa dirinya tidak mampu menahan rasa rindunya pada gadis dihadapannya yang tidak lain adalah Laras, sosok penyelinap itu akhirnya hanya mampu memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.


Lama tertegun, sosok itu berdiri lalu memandang lagi gadis yang masih tertidur dengan lelapnya. Dirinya menyadari perasaannya terhadap gadis dihadapannya itu tidak seperti biasanya. Bahkan tiba-tiba merasakan asing yang tidak biasa. Seakan-akan gadis yang kini ditatapnya bukanlah gadis yang rindukan.


"Siapa kau sebenarnya?!"


Sosok itu langsung berbalik dan melesat secepat kilat dan mengunci sosok bayang hitam bermata biru yang penuh dengan kilat petir keunguan pada sekujur tubuhnya- itu pada tembok diseberang pintu.


Tatapan sosok itu benar-benar berubah dari tatapan yang ia tunjukan pada gadis yang berada didalam kamar tersebut. Membuat sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu di sekujur tubuhnya itu memberontak dan mengeluarkan emosi yang tidak mampu dimengerti baik oleh sosok bayang hitam itu sendiri ataupun sosok penyelinap yang menganggap semua itu adalah sebuah serangan baginya.


Sosok penyelinap itu mencekik bagian bayang hitam kebiruan yang ada dihadapannya. Melemparkan bayangan itu kebagian bawah tangga lalu melesat cepat untuk menahan bayang hitam itu melakukan serangan balik.


Tatapan keduanya bertemu. Namun kemarahan yang dirasakan sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu di sekujur tubuhnya itu langsung memecah dirinya dan melesat cepat untuk menyudutkan sosok penyelinap itu.


Sosok penyelinap langsung mengelak. Melemparkan serangan dengan ragu-ragu setelah merasakan kalau dirinya mengenali bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu dihadapannya adalah bayangan hitam bermata biru yang sama yang menolongnya pada lembah kumuh yang dia namai lembah terlarang.


Mata itu terbelalak ketika titik serangannya mengenai bagian lengan yang langsung membunyikan suara gemerincing yang sama dari suara gemerincing yang dia dengarkan pada lembah terlarang ketika bayang hitam bermata kebiruan menolongnya dan Aksara. Juga suara gemerincing yang membuatnya mengingat dan merasakan rindu teramat sangat pada gadis yang kini terlelap didalam kamar yang dia akui sebagai kamar sahabatnya. Dan sosok gadis itu adalah Laras.

__ADS_1


...***...


__ADS_2