
Hujan deras kembali mengguyur jalanan yang dilewati Laras. Rasanya seperti drama dalam film-film saja saat kesedihan menumpuk, hujan mengguyur sang pemeran utama dalam perjalanan pulangnya. Setiap tetes hujan yang jatuh dan membasahi rambutnya membuat Laras merasakan tenang yang tidak bisa digantikan oleh hal apapun.
"Apa yang harus aku lakukan?!"
Laras menghentikan langkahnya pada ujung jalan tanjakan menuju kerumahnya. Bayangan demi bayangan terasa semakin kabur untuknya. Satu tetes air hujan jatuh di pelupuk matanya. Membuat mata itu berkedip sekali lagi.
Begitu pandangan Laras kembali terbuka untuk kedua kalinya, Laras mendapati sebuah payung berwarna pink memayungi dirinya.
"Kenapa kau hujan-hujanan begini nak!" senyum kakek yang merupakan tetangga barunya membuat Laras tertegun. "Apa kau lupa membawa payung mu hari ini?!"
"Kakek!" ujar Laras membalas senyuman itu.
"Ayo pulang! Nenek sudah menunggu dirumah. Dan kakek tidak mau nenek menunggu lama." ajak sang kakek sembari menyerahkan payung itu pada Laras. Sementara beliau berlari perlahan sambil menyeret sedikit kakinya.
Memegang payung yang dijejalkan sang kakek padanya, Laras memulai langkahnya untuk mengejar sang kakek untuk berbagi payung itu dengan beliau.
"Kakek tunggu!!" Laras mempercepat langkahnya pada tanjakan yang paling ujung. "Payung ini buat kakek saja! Saya sudah terlanjut basah kuyup karena kehujanan!!"
Sang kakek melambaikan tangannya. Sepertinya tidak mendengar jelas apa yang diucapkan Laras. Sang kakek terus melanjutkan langkah cepatnya untuk pulang. Begitu Laras berpaling sejenak ke arah warung makan di sudut jalan itu, Laras termenung mendapati sang kakek sudah menghilang dari jalanan dihadapannya.
"Laras!!" sapa pemilik rumah makan itu. "Ayo mampir! Ada makanan ekstra dari pesanan yang dibatalkan pelanggan. Bantu aku menghabiskannya."
"Ya?" Laras kebingungan. Lalu perutnya langsung berbunyi menandakan kalau dirinya memang sedang kelaparan. Laras memegangi perut dengan satu tangannya. Tangan lain masih memangku payung itu di posisinya.
"Bawa pulang dan makanlah dirumah. Aku akan menyusul setelah selesai menutup toko yah!"
Gadis pemilik rumah makan sederhana itu mendorong tubuh Laras yang basah kuyup untuk pulang. Laras menoleh bagian dirinya sambil menenteng 2 bungkus kotak nasi dari pesanan yang dikatakan pemilik toko itu.
"Terima kasih."
//
Di depan teras kamarnya, Laras terduduk memandangi malam dengan gerimis hujan yang terus turun membasahi bagian tanah di halamannya. Dia dan gadis pemilik rumah makan sederhana itu terdiam dengan suasana malam yang ada.
"Hujannya awet yah!" gumamnya.
Laras mengangguk. Rambutnya masih setengah kering. Dan dari poni yang menutupi bagian alisnya, menetes air yang masih belum bisa dia keringkan.
Haattciih!
Laras terantuk ke hadapannya. Dia memegangi bagian hidungnya yang mulai bersin dan memerah.
__ADS_1
"Rasanya aku akan flu!" dan sekali lagi Laras bersin. Bersin yang berkali-kali. Yang membuat Laras harus ditertawakan oleh temannya itu.
"Siapa suruh kau bisa sampai basah kuyup seperti tadi!" tawa temannya itu pecah. Tapi tangan gadis itu mengambilkan ia sebungkus tissue yang memang ia bawa dalam tasnya.
"Pakailah ini. Aku sudah tau kau pasti akan terkena flu!" tawanya menyembur lagi mendapati Laras menatapnya dengan hidung memerah. Matanya yang sayu dan terlihat sangat mengantuk. "Sebaiknya sebelum tidur, kita keringkan dulu rambutmu yah!" gadis itu mengeluarkan hairdryer miliknya dari dalam tas. Mencolokkannya pada bagian *** dekat pintu kamar Laras lalu mengaplikasikan alat itu pada rambut Laras.
"Apa kau ini doraemon!" ujar Laras. "Sepertinya semua benda yang aku butuhkan, ada didalam tas mu itu!"
"Yaaah! Begitulah." jawabnya tertawa riang.
"Rasanya menyenangkan ada yang membatu ku seperti ini.." wajah Laras tersenyum sambil terpejam menikmati cara temannya itu mengeringkan rambutnya.
Gadis itu diam sejenak. Laju angin hairdryer nya sampai dia arahkan ke arah lainnya.
"Ada apa?!" tanya Laras membuka matanya. Mendapati temannya itu tersadar dari lamunannya.
"Aku benar-benar baru mengenal dirimu." jawab gadis itu sambil tertawa kecil. Dalam suasana malam yang diterangi lampu berwarna kekuningan, gadis itu mematikan hairdryer nya setelah memastikan rambut temannya itu kering.
"Mengenalku? Aku yang seperti apa?!"
"Kau tahu Laras, dulu kau ditakuti teman-teman karena mereka mengira kau bisa melihat hantu dan sejenisnya." jawabnya riang. "Aku juga pernah melihatmu menghilang dalam kegelapan demi mengejar seorang laki-laki." gadis itu bergidik seketika.
"Aku mengejar laki-laki?" Laras tersentak menunjuk dirinya sendiri.
"Karena itulah." jawabnya kemudian. "Laki-laki yang kau kejar berwajah menyeramkan!" sambungnya. "Wajahnya seperti menggunakan topeng!"
"Topeng?!"
"Iya! Topeng tengkorak." jawabnya.
"Topeng tengkorak?" lagi-lagi Laras merasa seperti orang bodoh. Semua hal yang diceritakan temannya itu terasa sungguh tidak nyata dalam hidupnya. Laras merasa hidupnya selama ini benar-benar berjalan seperti remaja pada usianya. Hanya saja, dalam masa SMA nya, Laras belum pernah yang namanya merasakan jatuh cinta kepada lawan jenisnya.
"Aku merasa itu hanya mimpi." gadis itu menerawang. "Tapi diwaktu yang bersamaan dengan laki-laki bertopeng tengkorak itu, bayangan hitam di belakangmu itu selalu muncul. Bayanganmu itu sangat menyeramkan. Karena itu aku selalu takut mendekati mu."
"Laki-laki bertopeng tengkorak?! Bayangan hitam?!" Laras menepuk jidatnya. "Kenapa kamu bisa memiliki khayalan menyeramkan seperti itu!!"
"Karena bukan hanya aku yang melihat itu!! Teman-teman lainnya dan warga sekita perumahan ini pun beberapa kali pernah melihatnya."
Laras tertegun sejenak.
"Lalu sekarang kenapa kau tidak takut lagi padaku?!"
__ADS_1
"Itu..." jawabnya ragu. "Semenjak kepulangan mu di hari hujan kemarin, aku atau siapapun dilingkungan ini sudah tidak melihat sosok bayangan hitam itu lagi menempel dibelakang mu. Maaf, tapi sewaktu hari hujan itu, kami bergiliran memperhatikanmu dari kejauhan. Lalu meminta tetangga sebelah rumahmu untuk meyakinkan kalau itu memang dirimu."
Lampu tiba-tiba padam. Kegelapan langsung memenuhi sisi teras tersebut.
Gadis itu menutup mulutnya. Dia menunduk, ketakutan menjalar ketika lampu di teras itu tiba-tiba padam.
"Apa yang terjadi." gadis itu mencengkram tangan Laras. Hawa ketakutan terasa sangat kentara dari gadis itu.
Laras pun tertawa sembari menyalakan lagi saklar lampu yang sedari tadi ditutupi oleh tangannya.
"Apa bayangan itu masih ada?!"
"Laras!!!" keluh gadis itu yang masih menyimpan sedikit rasa takut pada dirinya. "Setelah ini, kau harus mengantarkan aku pulang yah!!"
"Pulang sendiri saja!" jawab Laras.
"Aku takut gelap!"
"Menginap saja di sini?!" jawab Laras lagi. "Aku juga takut pada gelap."
"Laras!" rengek nya. "Aku benar-benar takut karena menceritakan semuanya!!"
"Siapa suruh kau menceritakan hal-hal menyeramkan begitu!" ledek Laras.
"Kau ini!" temannya menjejali semua bawaannya ke dalam tas. "Antar aku pulang sekarang!" sergah temannya dengan sedikit kepanikan.
"Iya! Iya!" jawab Laras sembari mengenakan jaket pemberian kakek tetangganya itu.
"Sepertinya kau suka sekali pada mantel itu!"
"Yaah! Ini menghangatkan." jawab Laras. "Kenapa aku harus mengantarmu, padahal rumahmu hanya berjarak 5 menit dari rumahku."
"Siapa suruh, semua hal dalam dirimu sebelumnya begitu menakutkan!" temannya itu melambai pada Laras sebelum menutup pintu pagar rumahnya.
"Sampai ketemu besok!" Laras balas melambai.
Dia membalik badannya dan terdiam begitu mendapati sesosok pria dengan pakaian serba hitam dan rambutnya yang sedikit cepak berdiri menghalangi pandangannya terhadap jalan dihadapannya.
Harusnya jalanan dibelakang pria itu penuh dengan cahaya lampu jalanan. Tetapi begitu pria itu berdiri pada sisi jalanan tersebut, seluruh cahaya sepertinya tertutupi oleh tubuhnya. Atau seperti semua cahaya itu tenggelam dibalik punggung si pria.
"Apa itu benar dirimu?!" ujar pria itu terhadap sosok Laras yang menatap kearahnya dengan penuh menyelidik.
__ADS_1
...***...