Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Area Penghukuman.


__ADS_3

Tatapan itu bertemu untuk pertama kalinya. Begitu sebuah tangan menyentuh pipi itu, tangan Eren memegang kuat dan tersadar dengan mata penuh ketegangan menghadapi sosok dihadapannya.


Dalam ingatannya yang perlahan tidak sadarkan diri sebelumnya, sosok gadis yang kini menatapnya dengan heran itulah yang telah menyerangnya menggunakan mantra terlarang dan juga telah menyegel dan membinasakan jiwa Aksara sehingga menyatu bersama alam. Gadis itu juga yang telah merusak tatanan jiwa pada setiap penghuni lembah yang diciptakannya bersama Aksara.


Sosok gadis menggunakan dress merah hati dengan kulit secerah dan seputih pualam. Mata bulat besar, bulu mata yang kelewat lentik, semua pipi berwarna merah merona, dan bibir semerah buah ceri serta rambut hitam panjang yang menjuntai dengan begitu berkilau.


Sosok yang diyakini sempat menyembunyikan identitasnya dengan menutupi wajah tanpa dosa itu, menggunakan mantra kutukan kepulan asap kegelapan dengan mata berwarna kehijauan. Sosok yang beberapa saat lalu menatapnya dengan penuh kebanggaan dan penuh kepuasaan saat menyadari kalau dirinya yang ia hadapi telah berhasil ia kalahkan dengan begitu piciknya.


Sosok gadis itu adalah sosok penjaga Alam Larangan yang sedang berjongkok dihadapan Eren untuk memastikan kesadaran dari sosok dihadapannya. Eren menatap dengan penuh kemarahan, tanpa memikirkan hal-hal yang ia lewatkan saat tidak sadarkan diri, Eren langsung menghujam sosok sang penjaga dengan rantai hukuman.


Tangan sang penjaga Alam Larangan itu langsung terkunci oleh rantai keemasan alam kematian. Rantai bagi para pendosa alam yang menyerap dan mengunci semua kemampuan dari orang yang dirantai olehnya.


"Kau! Harus membayar semua hasil dari tindakanmu!" tegas Eren penuh kemarahan.


Sosok penjaga itu terdiam dengan ketegasan dari sosok Eren pada saat itu. Sosok yang berjalan dan mengikuti semua protokol hukuman sampai sosoknya berada di area penghukuman.


Tanpa menjelaskan apa permasalahannya dan dimana letak kesalahannya, Sang penjaga Alam Larangan di hukum dengan banyak hujatan dan kata-kata penuh kebencian. Caci maki ia terima diarea penghukuman tanpa ada satupun dari seluruh jiwa di area penghukuman itu yang bisa menjelaskan apa kesalahan yang telah ia perbuat.


"Kalian terlalu berani!" erang sang penjaga Alam Terlarang dalam kemarahannya.


Sekali lagi sosok itu berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Namun luka sayatan yang ditimbulkan oleh setiap jarum bayangan yang menyerangnya dan juga sengatan petir keemasan itu langsung menghujam tubuhnya, membuat sosok itu terkulai lemas dihadapan Eren.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki sang Penjaga Alam Larangan, sosok itu masih mampu menatap bengis kehadapan Eren. Bahkan tatapannya terasa begitu menusuk. Namun sosok Eren yang kala itu di penuhi amarah dan melupakan kebenaran yang ada, sosoknya malah semakin merasa berang akan sikap sang Penjaga.


"Kau masih berani menatap dengan mata itu!" suara parau itu keluar dengan begitu berang. "Sadarilah kesalahan yang telah kau lakukan!!"


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!" ucap sang Penjaga geram. "Sekalipun aku melanggar peraturan, aku melakukan semua sesuai dengan tugas yang harus ku lakukan!"


"Kau masih berani bicara!" suara itu menggema keras.

__ADS_1


Sebuah perintah diturunkan. Sang Penjaga Alam Larangan dengan sayap abu-abunya tengah ditahan dan dipaksa untuk berlutut oleh dua algojo yang menekan bagian bahunya. Sosok penjaga itu terkesan membangkang dengan perlakuan yang didapatkannya. Memberontak dengan membentangkan sayap keabu-abuan untuk menyerang kedua algojo yang menahannya. Namun kekuatan rantai yang membelenggu kedua tangannya langsung bereaksi. Melemahkan dengan menyedot setiap tenaga yang dimiliki oleh sang Penjaga.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!" desisnya dalam kondisi yang benar-benar lemah. Sekalipun kehilangan seluruh tenaganya, Sang Penjaga masih mampu mendongakkan kepalanya dengan menantang.


"Kau yang memulai pertikaian ini, dan kau masih berani membela diri!"


Eren terhenyak mengingat semua kejadian itu. Kilatan cahaya dari tangan Eren melesat ke arah belakang sang penjaga. Membuat Sosok itu mengerang kesakitan ketika kedua sayap berwarna putih keabu-abuan itu terpotong dibagian punggungnya. Mengingat bagaimana akhirnya tubuh sang penjaga itu tertunduk dengan semua rasa sakit yang diterimanya.


"Kau langsung melakukan ini tanpa menjelaskan sedikitpun dimana kesalahanku!" ujarnya. "Tanpa mencari tahu kebenaran dari permasalah yang sebenarnya telah terjadi... Kau terlalu seenaknya dalam menjatuhkan hukuman mu!"


Seketika bola mata itu bercahaya kemerahan. Menguapkan banyak kegelapan bersamaan dengan warna kemerahan yang menyelimuti semua bagian area peradilan itu. Menghujamkan ribuan jarum pencabut jiwa pada setiap mahkluk yang menyaksikan penghukuman tersebut.


"Kalian!" teriak sosok itu bersuara lantang dan menggelegar. "Jiwa-jiwa yang termakan oleh ketamakan! Jiwa-jiwa yang termakan oleh keegoisan! Dan jiwa-jiwa yang termakan oleh kelicikan! Jalani lah hukum semesta bersama dengan kesadaran yang kalian miliki!!"


"Harusnya aku mencari tahu kebenarannya dulu!" keluh Eren sembari menghela nafas. "Aku terlalu terbawa emosi ketika membuka mata dan melihat wajah itu menatap dengan raut wajah polos!"


"Separah itukah hal yang telah terjadi padamu?" Aksara mencoba mencari celah untuk Eren mengungkapkan semua yang dia alami setelah Aksara terlempar ke lembah kehampaan.


"Aku kehilangan ingatan itu begitu tersadar. Dan aku hanya mendapati sosoknya disana." jawabnya. " Lalu, bagaimana denganmu? Bukankah lembah itu cukup menyiksa?" Eren balik bertanya.


Aksara mengangkat bahu. Enggan menjelaskan keingintahuan Eren itu, Aksara hanya memberikan senyum simpulnya.


"Kita menanggung apa yang menjadi hasil dari pemikiran, kata-kata, dan tindakan kita!" jawab Aksara.


Cerita Aksara pada lembah kehampaan juga bukanlah hal yang bisa dikenang dengan baik oleh dirinya sendiri. Semua kejadian di dalam lembah itu benar-benar menyakitkan untuk dirinya. Jangankan untuk mengenangnya, mengingatnya saja sudah membuat Aksara merasa ingin muntah.


Lembah kehampaan membuat Aksara merasa semakin buruk dari waktu ke waktu. Belum lagi serangan yang harus dihadapi Aksara baik itu dari area lembah itu sendiri juga dari sosok bayangan gelap yang berusaha menyerap setiap kekuatan yang ia miliki. Mengacaukan setiap ingatan yang ia punya, Aksara berjalan terluntang-lantung pada sisi lembah kehampaan yang di akhir perjalanannya hanya dipenuhi oleh kesunyian dan rasa mencekam pada setiap langkahnya.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Aksara hanya terus berjalan tanpa henti dan tanpa menemukan akhir dari lembah tersebut. Sampai sebuah uluran tangan itu datang dan mendorong tubuh Aksara pada celah cahaya yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Menempatkan Aksara pada sebuah dataran lembah dengan jutaan bunga lily lembah disepanjang mata memandang.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya diinginkan oleh sosok kecil itu!" geram Aksara mengingat dia mendapat begitu banyak luka karena diserang secara sembunyi-sembunyi dan diserang ketika berada dititik terlemahnya.


"Bagaimana kalau kita cari tahu?!"


Aksara menatap curiga.


"Sudah ku bilang, sosok itu kini masih dengan berani mengusikku!" jelas Eren akan tatapan yang ia dapatkan.


Aksara tersenyum mendengar jawaban itu. Dengan bersemangat, Aksara menepuk pundak Eren.


"Dimana?"


"Pulang dulu!"


"Kemana?"


"Menjalankan takdirku untuk dijemput olehnya!"


Tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Aksara mencegah langkah Eren.


"Maksudmu dia?"


"Menurutmu?!"


"Mana mungkin itu dia?!"


"Kalau mau tahu, ikuti saja permainan yang telah di jalankan semesta!"


Tersenyum cerah, Eren kembali ke dunia manusia. Menikmati hari sebagai seorang pemuda yang bernama Arashi dan semua kehidupannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2