Abu-Abu

Abu-Abu
Munculnya sosok lain Laras!!


__ADS_3

Serangan itu melesat dan berhasil ditangkis dengan perisai angin oleh Aksara. Dia juga masih sempat menggeser Zara ke bagian belakang punggungnya untuk melindungi Zara dari efek serangan yang mendadak itu.


"Sebegitu ingin kah kau pada buku ini?!" Aksara kembali berdiri dengan baik. Dia menatap Eren dengan rasa tidak percaya. Begitu juga Laras. Dia bahkan tidak menyangka kalau Eren akan sampai menyerang Aksara dan Zara hanya demi buku tua bersampul coklat itu.


"Apa pentingnya buku itu sampai kau harus menyerang teman-temanmu?!" Laras membalik kasar tubuh Eren. Tatapan tidak percaya didapatkan Eren dari mata nanar Laras yang terbelalak dihadapannya.


Masih segar dalam ingatan Laras bagaimana Eren dan Aksara saling membantu saat terkahir kali mereka bersama di jalanan setapak batu bata merah ini beberapa bulan yang lalu. Dan serangan tidak terduga Eren pada hari ini membuat Laras tidak bisa menghentikan dirinya untuk meminta penjelasannya.


"Kau tidak akan mengerti ini dengan mudah!"


Tanpa menoleh ke arah sampingnya, Eren kembali melancarkan serangannya berkali-kali kepada Aksara dan Zara. Tatapan itu tidak ia lepaskan sama sekali dari sosik Laras yang semakin menatapnya dengan rasa tidak percaya dan kekecewaan.


Laras terus menatap dan melangkah kesamping Eren. Mengikuti arah tangan Eren melancarkan serangannya berupa semburan asap gelap yang meruncing dan serangan itu kembali bisa di halau oleh perisai dari Aksara dan dibantu oleh Zara.


Setiap pergeseran langkah yang dilakukan oleh Laras, Eren mengikutinya dan menyesuaikan arah serangan yang ia keluarkan dari tangannya. Sampai di langkah Laras terakhir, dia berdiri membelakangi Aksara dan Zara yang terus menghalau serangan Eren itu.


Berdiri dihadapan Laras, sosok lain Eren kembali mengambil alih sosoknya. Mata itu bersinar merah pekat. Menunjukan kekelaman tapi juga sesuatu yang tertahan. Di balik mata itu ada sesuatu yang Laras berusaha ingin mengetahuinya.


"Hentikan!" pinta Laras. Dan suara itu sampai pada sosok dibalik mata bersinar merah pekat itu. Laras membalikan badannya menghadap Aksara dan Zara yang mulai kewalahan dengan serangan tanpa henti dari Eren. Serangan itu perlahan-lahan melemah dan terhenti begitu Laras mengulurkan tangannya untuk meminta bayangan buku tua bersampul coklat itu dari sosok Aksara.


"Berikan bayang buku itu padaku!"

__ADS_1


Aksara dan Zara terkejut dengan keberanian yang Laras tunjukan. Tanpa mengetahui kenapa Eren begitu menginginkan yang hanya sebuah bayang buku tua bersampul coklat itu, Laras melangkahkan kaki nya mendekati Aksara.


"Berikan buku padaku..." Laras menatap dengan cara yang tidak biasa. Tatapannya begitu serius dan tidak bisa di mengerti oleh Aksara maupun. Zara.


"Tidak bisa!" Zara menepis tangan Laras dihadapan Aksara. "Jangan karena diri mu merupakan sosok ambigu, dengan seenaknya kamu menginginkan buku ini untuk hidupmu!"


"Aku memang tidak tahu ada apa di dalam buku itu, tapi buku itu bisa mengembalikan Eren menjadi dirinya yang sejati!" tegas Laras.


Aksara menatap meyakinkan diri atas omongan Laras.


"Apa yang sudah kau lihat?"


Tanya Aksara dengan hal yang di ucapkan Laras. Dia mengeluarkan bayang buku tua bersampul coklat itu dari tangannya, memperlihatkan bayang buku tua bersampul coklat itu dihadapan Laras.


"Berikan buku itu padanya." suara parau itu bergema disamping Laras yang kehilangan konsentrasinya. Teriakan yang mengalun ditelinga Laras benar-benar terdengar pilu dan begitu menyakitkan untuk dirinya dan juga sosok lain Eren yang dimana pada beberapa bagian tubuhnya muncul beberapa luka sayatan yang membakar bagian jubah dan lukanya itu.


Di balik punggung Laras, sosok lain Eren menahan semua kesakitan yang sama dengan yang Laras rasakan. Entah itu kebisingan suara teriakan dari dalam buku tua bersampul coklat itu dan juga sakit akibat luka sayatan yang muncul satu demi satu pada beberapa bagian tubuhnya.


"Apa yang sudah terjadi?" Zara memperhatikan keterikatan dari bayang buku tua bersampul coklat itu dengan keadaan sosok penjaga dan juga sosok Laras.


"Berikan saja buku itu padanya." suara parau itu keluar dengan tertahan. Terlihat bagaimana sosok lain Eren itu menahan rasa sakit pada setiap luka baru yang terus saja bertumbuh dan membakar setiap sisi jubahnya.

__ADS_1


"Terlalu bising!" Laras menutup kedua telinganya. "Sangat berisik!" Gadis itu perlahan menitihkan air matanya. Dadanya tercekat dan bayangan lain muncul dari sosok Laras. Itu adalah sosok mahkluk berjubah dengan membawa Laras dibalik jubahnya.


Sosok lain Eren langsung menghempaskan bayang buku tua bersampul coklat yang dikeluarkan Aksara dari tangannya. Dia langsung menahan tubuh Laras yang terhuyun dengan sisi jubah yang menutupi sebagian tubuhnya.


Aksara terbelalak melihat perubahan Laras. Dia bermaksud mendekati Laras, namun sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping langsung membawa Laras menghilang dari tempat itu.


"Apa yang barusan terjadi?" Aksara menoleh pada Zara yang terdiam dengan kemunculan sosok Laras yang lain.


"Siapa sebenarnya dia itu?" gumam Zara membalikan badannya menghadap satu-satunya pintu gerbang berdaun emas yang muncul dengan menjulang tinggi sampai ke langitnya.


Di balik gerbang itu terdapat tempat yang nampak begitu sendu. Tidak jelas keberadaan lembah itu. Disekelilingnya hanya ada kegelapan yang berselimutkan kabut yang sama pekatnya dengan suasana kelam disekelilingnya. Tidak ada warna apapun di dalam tempat itu kecuali warna hitam, putih dan abu-abu. Hawa didalam lembah begitu menusuk bagi siapapun yang melihatnya. Terasa sangat dingin dan sepi. Ditambah dengan pemandangan dari beberapa jiwa berwarna hitam, putih, dan abu-abu yang berputar mengitari beberapa batu nisan yang tertutupi oleh tebalnya kabut kegelapan dari kejauhan.


"Tempat apa itu?!" Zara tercengang.


"Lembah kelam, lembah abu-abu..." jawab Aksara yang serasa tidak percaya bahwa jalanan setapak batu bata merah ini juga bisa terhubung dengan lembah kelam yang bernama lembah abu-abu itu.


Jalanan setapak selalu mengantarkan setiap jiwa ke perjalanan terakhirnya. Batin Aksara.


Dia menyilang kan kedua tangannya di dada dan menghadapi pemandangan yang dimana setiap jiwa hitam, putih dan abu-abu dari dalam lembah itu menggeliat dan menjelma menjadi sosok jiwa tanpa wajah, hanya membentuk sebuah jiwa yang tertutup jubah berwarna senada dengan warna jiwa itu sebelumnya.


Dari kejauhan itu pula, Aksara dan Zara tidak bisa mempercayai pandangannya ketika melihat sosok lain Eren bersama Laras telah berada didalam lembah itu. Disambut dengan kabut asap tebal yang perlahan menutupi pandangan kedua mahkluk disisi luar lembah.

__ADS_1


Begitu Aksara akan meraih masuk kedalam lembah, gerbang itu tertutup rapat lalu menjauh dari jangkauan mereka dan menghilang di balik kabut yang menyusut bersamaan dengan menghilangnya lembah abu-abu dari pandangan mereka.


...***...


__ADS_2