Abu-Abu

Abu-Abu
Mereka Yang Bertentangan


__ADS_3

“Apa maksudnya dengan mengawasi kami bertiga? ” ujar Aksara. “ Bukankah harusnya dia yang harus waspada. ”


“ Anda menggumamkan sesuatu? ” gumam seorang tua yang berjalan bungkuk disampingnya. Seorang nenek yang nampak begitu kurus kering dengan rambut pendek beruban. Warna kulitnya nampak begitu gelap. Tapi senyum diwajah itu mengguratkan kebahagiaan. Gurat senyum itu terlihat tanpa beban dan bebas.


“ Bukan hal yang berarti. ” jawab Aksara sungkan.


Padahal sedang menjalankan tugasnya, Aksara tetap memikirkan kata-kata yang diucapkan Laras pagi ini saat jam pelajaran sekolah berlangsung.


“ Seorang wanita memang seperti itu…” ujar sang nenek. “ Mengetahui sesuatu atau tidak, perasaannya akan menunjukan terlebih dahulu. ” sang nenek menghentikan langkahnya dipenghujung jalan. Dia memandang sebuah gerbang yang begitu kelam. Padahal tempat itu begitu sunyi tanpa penghuni. Hanya ada kepulan kabut asap yang menutupi sepanjang tempat itu. Banyak terdengar suara jerit ketakutan dan tangisan dari balik gerbang. Ada pula panggilan-panggilan kecil yang menggema dengan pelan.


“ Kami menantikanmu…”


“ Datanglah segera…”


“ Berkumpulah bersama kami…”


Apa aku salah jalan?!  Bhatin Aksara memperhatikan sekelilingnya. Dia ingat betul tengah berjalan bersama sang nenek dijalanan yang sama dengan tempat ia biasa mengantarkan jiwa-jiwa keperjalan terakhirnya. “ Ini bukanlah tempat yang biasa…” gumamnya


“ Disinikah ujung perjalananku? ” sang nenek tetap menampakan senyum yang penuh dengan kebahagiaan dengan menanyakan hal itu kepada Aksara.


“ Disinilah awal perjalanan anda. ” jawab suara lain yang muncul dari balik gerbang. Berdiri tepat ditengah-tengah dengan membuka sisi tudung merah maroonya, sosok lain Eren menyambut sang nenek dengan senyuman yang hangat. “ Mereka sudah lama menantikan anda. ”


“ !! Apa yang kau ucapkan?! ” Aksara menahan langkah sang nenek. “ Ini bukan jalan yang seharusnya dilewati olehnya. ”


Tersenyum simpul, Eren mengabaikan semua kekhawatiran Aksara.


“ Silahkan.” Berkata sopan, Eren mempersilahkan sang nenek memasuki area tempat itu setelah ia melepaskan tangannya dari pegangan Aksara.

__ADS_1


“ Apa yang anda lakukan! Ini bukanlah akhir perjalanan anda nyonya. ” Aksara bersikeras menahan, namun tidak menyurutkan langkah sang nenek memasuki tempat itu.


“ Ini bagian dari hutang yang harus aku bayarkan. ” jawab sang nenek tersenyum. Matanya yang menyipit menunjukan betapa ikhlasnya ia memasuki tempat itu. Betapa sang nenek mengerti akan hal yang dipilihnya begitu memasuki tempat bernuansa abu-abu itu.


Dibimbing oleh Eren untuk menapaki tempat kelam dan suram itu, sang nenek berbincang pelan sembari menerima beberapa uluran tangan yang menjulur disampingnya.


“ Maaf baru menjemputmu begitu lama…” ujar sang nenek begitu dia menerima uluran tangan kecil yang begitu lentiknya. “ Apakah kamu sendirian disini? ”


Sosok bertangan mungil itu menjelma menjadi seorang gadis kecil yang sangat imut. Matanya bulat besar. Hidungnya mancung. Dengan rambut ikal dikuncir kebelakang, dia memberikan senyum kepada sang nenek. Dengan bergandengan tangan, sang nenek dan gadis kecil itu menghilang dibalik kabut yang semakin meninggi. Sementara Eren tetap berdiri ditempat terakhirnya untuk menyaksikan kepergian kedua jiwa itu.


“ Kemana mereka pergi? ”


“ Tidak kemana-kemana. ” jawab sosok lain Eren dengan suara paraunya.


“ Apa maksudmu dengan tidak kemana-kemana? ”


“ Siapa kau yang berhak menentukan jiwa seorang harus melakukan penebusan dimana? ”


“ Apa kuasamu untuk menentukan perjalanan akhir dari setiap jiwa yang kau antarkan?  Tugasmu hanya menjemput dan mengantarkan mereka… yang menentukan tempat mereka berakhir adalah mereka sendiri. Terlepas dari seberapa bersih atau kotor catatan yang kau punya dalam bukumu itu. ”  sosok lain ERen melewati Aksara yang terdiam mendengar pernyataan yang dilontarkannya. “ Kau hanya penjemput sekaligus pengantar… tugasmu tidak lebih dari itu…”


“ Sebagai pengantar, seberapa mulia tugasmu, sampai bisa menargetkan seorang untuk kau bawa ikut bersamamu? Untuk kau musnahkan?! ” Aksara bereaksi geram dengan sikap acuh yang ditunjukan sosok lain Eren padanya.


“ Sudah menjadi tugasku melenyapkan segala hal apapun yang berada diluar kendali dunia setelah kematian. ”


“ Dia belum mati. Dia bukan jiwa yang tersesat ataupun mahkluk lainnya. Dia hanya seorang manusia biasa… ”


“ Yang terus hidup tanpa buku takdir. Yang keberadaannya tidak masuk dalam dunia kematian tetapi keberadaannya pun tidak seharusnya ada didunia manusia. Keberadaannya menyalahi aturan semesta. ”

__ADS_1


Mendengar semua itu, Aksara semakin dibuat terdiam. Menyadari kenyataan kalau sosok yang mereka perdebatkan memang tidak mempunyai buku takdir. Setidaknya, diperpustakaan semesta, tidak ditemukan keberadaan buku takdir atas namanya sama sekali. Bahkan buku takdir untuk golongan siluman dan mahkluk gaib lainnya pun tidak ditemukan. Keberadaannya pun menjadi sangat ambigu bagi Aksara didunianya.


“ Keberadaanya didunia telah menyebabkan beberapa lembah kematian menjadi kacau. Menghancurkan kebebasan beberapa jiwa dan menumbuhkan begitu banyak kekacauan roda takdir. Sosoknya tidak seharusnya muncul. ”


“ Dia hidup didunia manusia, keberadaanya pasti mempunyai sebuah alasan. Keberadaanya pasti mempunyai tujuan. ”


“ Hanya sampai tugasnya selesai…” jawab sosok lain Eren. “ Tanpa disengaja hidupnya berarti karena semua jiwa-jiwa yang bersemayam ditubuhnya… Dia harus tenggelam dan menghilang. Sebelum sosoknya berubah menjadi abadi dan tidak tergantikan. ”


Aksara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada begitu banyak ketidakpastian tentang sosok yang mereka bicarakan dan Eren hanya mampu menutupi semua ekspresinya dibalik tudung jubah merah maroon yang sudah kembali menutupi seluruh bagian wajahnya.


“ Aku tidak mempunyai cara lainnya. ”  kalimat terakhir sosok lain Eren terdengar begitu pelik. Ada sebagian dari sosok itu yang berharap menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan keberadaan ambigu dari dia yang terlarang. “ Aku ingin dia tetap ada…” kalimat itu keluar dengan suara yang begitu kecil. Megiringi menghilangnya sosok lain Eren dari jalanan setapak batu bata merah yang selalu dikunjungi Aksara dan Laras dikala mengantarkan beberapa jiwa yang bersemayam ditubuh sang gadis untuk menuju ke perjalanan terakhirnya.


“ Apa memang tidak ada cara lainnya? ”


Aksara membalikan badannya dan seketika dia sudah berdiri tepat dihadapan Laras yang tengah terduduk didepan teras rumahnya tepat ditengah malam. Pandangan Laras dan Aksara bertemu tepat saat Laras membuka matanya usai mengucap syukur dengan semua perjalanan hidup yang sudah dilaluinya.


“ Apa yang loe lakukan disini?!! ” desis Laras kaget.


“ Kenapa aku berada disini??? ” lebih kaget lagi Aksara. Dia kebingungan. Untuk pertama kalinya dia kembali ketempat lain yang bukan menjadi tujuannya setelah dari jalan setapak batu bata merah tempatnya biasa mengantar para jiwa ke perjalanan terakhir mereka.


“ Loe tidak boleh membawa nenek ataupun kakekku!  ” Laras berdiri bengis didepan teras kamarnya. Dia bersikap seolah menentang kedatangan Aksara dihalaman rumah sederhana itu. “ Hanya mereka yang gue punya!! ” Merentangkan tangannya, Laras menghalangi sosok Aksara yang masih kebingungan dengan keberadaannya dihalaman rumah milik Laras.


“ Siapa yang mau menjemput keluargamu! ” ujarnya.


“ Lalu kenapa loe kesini tengah malam begini?? ”


“ Aku…  ” Aksara kembali membalik badannya dan mendapati dirinya berada tepat ditengah-tengah jalan setapak batu bata merah. “  ..tidak tahu. ”

__ADS_1


***


__ADS_2