Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Lara bukan Laras!


__ADS_3

"Jadi namamu Lara?" tanya Mari dengan senyum antusiasnya. Wajah itu sudah tidak lagi tertutupi poni panjangnya. Kini poni itu telah dipotong sepadan dengan alisnya sama seperti sosok gadis yang baru saja ia sapa.


"Hmm.." jawab gadis bernama Lara sembari mengangguk kecil. Tetangga baru yang pindah ke kamar disebelah Mari.


"Aku Mari. Pacar dari cowok yang menolong mu pagi ini." senyuman itu nampak sangat manis dan berbunga-bunga membayangkan betapa baiknya pemuda yang di akuinya pacar itu oleh Mari.


"Oh." tanggap Lara santai. Mari tidak menggubris lagi. Dia semakin mengembangkan senyumannya untuk sesaat lalu berwajah super kalem dengan melewati Lara begitu saja.


Gadis bernama Lara itu terdiam sejenak. Dia berpaling ke arah belakangnya. Bermaksud untuk membeli beberapa perlengkapan lainnya, tatapannya langsung bertemu dengan pemuda yang pagi ini membantunya membuka kamarnya.


Entah apa yang dilakukan Mary begitu melihat sosok pemuda itu, Lara hanya terus menatap sembari berjalan santai menuju anak tangga.


Melewati pemuda itu dan Mary, langkah Lara terhenti saat melihat sesosok berbaju serba hitam dengan aura kematian yang bercahaya sedang menaiki anak tangga.


"Hey! Lo bisa tunggu gue tidak!" teriaknya.


Aksara yang awalnya menunduk lalu mengangkat wajahnya dan langsung kaget begitu melihat sosok gadis yang pagi ini dia temui di apartemen sebelahnya. Bermaksud menyapa, Aksara tiba-tiba hanya fokus mengikuti arah pergerakan gadis bernama Lara itu.


"Gue ada urusan!"


Aksara bersuara lantang sembari melambai begitu Arashi menatapnya dengan tatapan curiga.


"Gue nyusul bentar lagi!" jawab Arashi.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Mary yang tidak melepaskan sedikitpun perhatiannya dari Arashi.


"Boleh!" jawab Arashi santai.


15 menit setelah perbincangan mereka di anak tangga, ke empatnya sudah duduk santai di kursi pengunjung yang tersedia di depan toserba tempat Lara membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkan.


"Jadi, lo baru pindah ke sini karena jarak kampus dan tempat kerja lo lebih dekat!" Aksara mencoba menyimpulkan percakapan yang dimulainya sejak dari kasiran toserba sampai diposisi mereka kini.


"Hmm..." jawab Lara lagi sembari mengangguk.


"Belanjaannya banyak sekali!" komentar Aksara lagi sembari memperhatikan.


"Untuk isi kulkas!" jawab Arashi sembari membuang pandangannya ke arah lain.


"Jadi kamu suka stok makanan yah?" ujar Mari antusias mendengar komentar yang diberikan Arashi tersebut.


"Hmm..."


Lagi.

__ADS_1


Lara hanya menjawab dengan anggukan kecil.


"Ngg... Kalian belum saling kenal bukan!" ujar Mari setelah adanya keheningan untuk beberapa waktu yang cukup membuat canggung dimata orang awam.


"Dia Lara." ujar Mary memperkenalkan Lara pada dua pemuda yang kini keduanya hanya berfokus menatap gadis dihadapannya.


"Lara, ini Eren. Lalu kamu?" Mary barulah menyadari dia sama sekali belum mengetahui nama dari pemuda yang duduk disampingnya.


"Aksara!" dia menyodorkan tangan tanda perkenalan pada Lara.


"Salam kenal!" jawab Lara.


Tanpa mengucapkan namanya, Arashi mengulurkan tangannya begitu saja.


Langsung membalas uluran tangan itu, Lara menjabat tangan Arashi tanpa berkata apapun.


Kembali ada jeda yang cukup lama dari jabat tangan yang terjadi. Hal itu kembali membuat Mary merasa tidak nyaman lalu menarik tangan Arashi untuk ia meminta bantuannya.


"Maaf!" ucap Mary menarik tangan itu. "Perutku sakit!" ujarnya kemudian sembari memegangi bagian perutnya.


Melihat wajah Mary, Arashi langsung menarik tangan itu. Masuk ke dalam toserba lalu datang membawa segelas air hangat untuk Mary minum.


"Minumlah dulu!"


"Sama-sama!" jawab Arashi yang sejak awal enggan melepaskan tatapannya dari sosok Lara. Sosok gadis yang kini menatap ke arah depannya dengan mata yang fokus. Sesekali Lara menyeruput minuman yang ia beli untuk sekedar duduk-duduk santai bersama tiga mahkluk tidak jelas yang sedang ia awasi.


"Kenapa?" tiba-tiba dengan berani menatap mata Arashi. Mata yang tertuju pada sosoknya.


"Tidak." jawab Arashi. Tapi keduanya masih saling menatap dalam waktu yang lama. Di antara jeda waktu yang ada, sesuatu mengalir diantara mereka berempat. Hanya setelah melihat kilas bayang yang melintas, sosok gadis bernama Lara itu tersenyum simpul lalu beranjak dari tempat itu sembari berpamitan.


"Tunggu!" Arashi langsung mencegah langkah Lara. Menatap gadis itu sejenak lalu memberikannya jalan begitu Lara menatapnya balik.


"Bukan dia?" tanya Aksara. "Padahal wajahnya mirip." tambah Aksara lagi.


"Dia..." jawab Arashi yang langsung menampakan sosok lain Eren sebagai sang hakim tertinggi lembah kematian.


Hal yang dilakukan Eren langsung membuat Aksara terperanjat kaget. Terlebih ketika senyum sosok Mari muncul tepat di belakang sosok Eren tersebut.


"Kalian sudah mau kembali?"


"Sepertinya ya!" jawab Aksara. Sedetik setelahnya ia menjawab "Tidak." begitu melihat Arashi melangkah ke arah yang sebaliknya dari arah jalan menuju gedung apartemen tempat mereka tinggal.


Memandang kepergian Arashi dan Aksara dengan tatapan tidak suka, Mari berdiam diri sejenak sebelum dia berbalik dan mengikuti langkah Lara untuk kembali ke gedung apartemennya.

__ADS_1


"Mereka mirip sekali!" ujar Aksara mengikuti langkah Arashi. Dalam hal mengikuti tanpa memperhatikan langkahnya, Arashi sudah kembali ke wujudnya sebagai Eren si penjaga lembah terkutuk. Sisi lain dari lembah yang dinamai lembah abu-abu.


"Aku harus memastikan siapa dia yang sebenarnya!" gumam Eren menghentikan langkahnya. Membuat Aksara secara reflek memindahkan tubuhnya ke depan Eren.


"Dasar bodoh!" ucap Eren sembari menatap Aksara dengan malas. Selesai kalimatnya itu keluar, Aksara langsung terjun jatuh begitu saja ke jurang di bawah kakinya.


"Sial!" umpat Aksara menyadari maksud dari kata-kata Eren. Hitungan sepersekian detik, Aksara membentangkan sayapnya lebar-lebar. Menghempaskan udara dengan begitu kuat lalu mendorong naik tubuhnya untuk kembali memberi pelajaran pada Eren.


Begitu kedua tatapan itu bertemu, Aksara secara langsung melayangkan serangannya. Menghempaskan bulu-bulu pada sayapnya yang menyerupai belati pisau. Sayatan yang diterima bisa langsung meremukkan seluruh tubuh jika sampai bulu-bulu itu mengenai sasaran dan menancap pada tubuh target.


Mengenali bagaimana serangan Aksara, Eren tidak serta merta menghindar. Dia membiarkan semua bulu-bulu hitam setajam belati pisau itu mendekat ke arahnya. Dengan jarak 1 cm didepan matanya, Eren langsung mengeluarkan perlindungan kilatan api birunya. Menghanguskan semua bulu-bulu yang ada sampai menjadi abu.


"Meningkat!" ujar Aksara sembari melayang beberapa meter di atas sosok Eren sebagai penjaga tertinggi.


Satu tatapan Eren arahkan pada Aksara. Membuat sebuah kilat tiba-tiba menyelimuti sekelilingnya. Serangan tak terduga itu mampu menahan langkah Aksara. Namun senyum itu menandakan Aksara tengah berada pada posisinya untuk membalas telak serangan tersebut.


"Aku bukan aku yang tidak belajar dari kesalahan yang dulu!" ujar Aksara membalik serangan Eren itu.


Eren balas tersenyum. Menerima serangan dari Aksara, Eren lagi-lagi mengeluarkan kilatan api biru yang sama.


"Mau main-main sampai kapan?" ujar Eren.


"Sampai kau bersedia menceritakan kesalahan yang kita buat berikutnya!!"


Eren kembali tersenyum. Senyum kelu. Mengingat bagaimana bodohnya dia pada titik itu. Mengulang lagi setiap detail kejadian tersebut.


"Sisa bagiannya, hanya dia yang mengetahuinya..." ujar Eren lalu membalas menyerang Aksara dengan kekuatan penuh. "Aku tidak akan mengalah sampai aku bisa mengetahui kebenaran itu darinya!!"


"Aku akan terus memaksa karena setengahnya juga bagian dari tanggung jawabku!"


Pertarungan itu tidak terelakan. Lembah kosong tempat mereka pernah menghabiskan waktu untuk berlatih ketika sama-sama menciptakan alam lembah, kali ini mereka jadikan area pertarungan untuk kembali melatih diri dan mengingat setiap detail ingatan mereka yang terhapus.


"Aku hampir melupakan semua ini!" ujar Aksara.


"Kau memang selalu melupakan hal-hal berharga!" balas Eren untuk serangan yang Aksara lancarkan.


Pertarungan yang cukup memakan waktu tapi terasa sebegitu melegakan untuk keduanya.


"Kau harus menceritakannya padaku!" Aksara tersenyum simpul sembari menahan serangan berupa belati hitam setajam pisau yang terarah tepat dibagian jantung Eren yang menandakan kemenangan baginya atas pertarungan yang terjadi.


"Haruskah?!" Eren menatap yakin.


...***...

__ADS_1


__ADS_2