
"Kenapa muncul disini?" Laras terdiam dengan munculnya sebuah pintu lembah dihadapannya. Pintu yang ia ingat sebagai jalan kelam yang ia lewati bersama sosok sang penjaga menuju lembah abu-abu yang sama suramnya dengan pintu gue yang tersaji kini dihadapannya. Ketika akan maju untuk memastikan pintu batu itu, Eren menghalangi Laras dan menyembunyikannya dibalik punggungnya. Setelah beberapa saat, Laras baru menyadari bahwa sosok penjaga lah yang kini tengah melindunginya. Laras merenung kembali.
"Dia kah jiwa yang terlarang itu?"
"Menarik?!"
Dua sosok mahkluk yang sama menyeramkan nya seperti sosok sang penjaga Eren berdiri dihadapan mereka. Bedanya, jubah kedua mahkluk dihadapan mereka terlihat compang camping bagian bawahnya. Mengeluarkan asap hitam kehijauan, kedua sosok mahkluk itu nampak begitu tidak bersahabat. Mereka seakan siap menghancurkan apapun dan kapan saja. Ditambah kilau mata mereka yang memancarkan warna hijau emerald.
Laras menunduk ketika tanpa sengaja matanya bertatapan langsung dengan salah satu dari kedua mahkluk dihadapannya itu.
"Kamu cukup tahu bagaimana cara mengabaikan kami." salah satu dari mereka melebarkan kibasan jubahnya. Merubah sekitar menjadi lembab dan berkabut. Kabut yang cukup tebal sehingga membatasi pandangan Laras pada awalnya.
"Jangan bergerak sembarangan!" suara parau sang penjaga menghentikan langkah Laras yang sempat terhuyun. "Semua ini mungkin ilusi tapi sama mematikannya dengan kenyataan." tambahnya lagi begitu melihat bayang hitam dengan kilatan hijau melayang-layang mengitari hampir seluruh tempat itu.
"Kami penjaga pintu reinkarnasi, kami tidak akan menyakiti siapapun." bayang hitam itu berputar waspada mengelilingi Laras dan sosok sang penjaga yang bersiaga karena tidak akan pernah mempercayai kata-kata apapun yang keluar dari kedua mahkluk yang sedang berwaspada disekitarnya.
"Apa aku harus percaya dengan omong kosong itu?" sang penjaga mengibaskan jubah merah maroon nya. Membawa Laras dalam perlindungan dibalik jubah itu, sang penjaga melepaskan kilatan angin dan menjatuhkan beberapa batu runcing yang ternyata sedang diarahkan kepada sosoknya dan Laras.
"Kau memang selalu berada di pihaknya... Hahahahaha!" tawa itu menggelegar. Mengundang gumpalan awan hitam dengan sambaran kilat dan mengurung tempat berkabut itu.
"Kami datang untuk menjemput mereka yang tak berwujud!" suara parau itu terdengar seperti suara radio yang hampir rusak. Bergema dengan sangat menyeramkan. "Membawanya pada kegelapan yang memang menjadi miliknya!"
"Tidak ada tempat bagi mahkluk itu di dunia ini!"
"Mereka akan menjadi penghuni abadi kegelapan!"
Salah satu dari dua mahkluk itu melesat cepat menyerang ke arah sang penjaga yang memberi Laras perlindungan di balik jubahnya. Kesulitan untuk bergerak leluasa karena keberadaan Laras dibalik jubahnya, sang penjaga memilih menghindar sejauh yg dia bisa. Laras terguncang, tanpa pikir panjang dia keluar dari balik jubah sang penjaga. Membuat sosok sang penjaga sedikit kehilangan kewaspadaan nya.
"Kau memang bodoh!" gerutu sang penjaga begitu berhasil menghindar dari serangan kilat berwarna hijau diarahkan pada mereka. Dia sudah memboyong Laras ikut menghindari serangan itu bersama dirinya.
"Lebih mudah seperti ini bukan!" ujar Laras. "Aku benci kalau harus menjadi beban yang menyusahkan!"
__ADS_1
Sang penjaga menyunggingkan senyum dan terlihat puas dengan jawaban yang diberikan Laras.
"Seberapa cepat kamu bisa menghindari mereka?"
"Aku tidak bisa menghindar, tapi serangan mereka tidak berpengaruh padaku." Laras lalu memperlihatkan tangannya yang sempat tersambar petir hijau itu. Terlihat api kuning kehijauan masih menyala kecil pada lengan Laras, tetapi Laras tidak merasakan apapun sama sekali. Bahkan mematikannya dengan hanya meniupnya. Begitu kembali fokus pada dua mahkluk dihadapannya, sang penjaga terkesiap karena Laras diserang langsung oleh kedua sosok penjaga dengan senjata mereka. Serangan itu tepat sasaran. Mengenai tubuh Laras dan menarik keluar dua roh yang begitu menyeramkan. Kedua roh itu memberontak namun dapat dilumpuhkan oleh kedua sosok penjaga tadi. Sementara tubuh Laras terguncang dengan hal yamg dialaminya, sekilas bayang ingatan merasuki tubuh Laras yang tidak menampakan luka apapun dari tebasan senjata yang menyerangnya.
"Terima kasih untuk kerjasamanya." kedua mahkluk itu langsung menyegel kedua roh itu dalam jam pasir yang mereka munculkan pada telapak tangan masing-masing. Kedua roh itu nampak meronta-ronta dalam jam pasir itu. Roh yang satu bahkan mulai tertimbun pasir yang mengalir ke bagian bawah tempatnya tersegel.
"Tugas kami usai." ujar salah satu penjaga yang berbalik badan untuk kembali ke dalam lembah.
"Bagaimana mungkin?!" sang penjaga yang bersama Laras cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Dia tidak mampu menangkap bahkan sekecil bayang dari dua roh yang telah disegel oleh kedua penjaga dihadapannya. Dia memperhatikan Laras sejenak sebelum menyadari, tatapan mata berubah menjadi kosong.
Kesunyian terjadi. Angin semilir menghembus dan begitu kesadaran Laras kembali, dia melihat baik-baik sosok kedua penjaga dihadapannya.
"Terima kasih." ucap pertama Laras. Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan dan merasa lebih baik dari beberapa hari sebelumnya.
"Mereka menempel pada jiwamu. Dan cukup sulit menjemput mereka tanpa kamu sendiri menyadari apa saja yang bersemayam dalam tubuhmu."
Laras mencoba menjelaskan. Bagaimana dia merasakan ada dua bayang lain yang ikut berpindah saat sang penjaga menghindari serangan dua sosok penjaga dihadapannya. Dan melihat jelas sepasang mata penuh kebencian dibelakangnya. Dari hal sekilas itulah Laras menyadari bahwa bukan dirinya yang diincar dua sosok penjaga dari lembah kelam itu.
"Kenapa aku?" Laras bertanya. Dia yang sudah terbiasa melihat sosok menyeramkan sang penjaga, akhirnya memberanikan diri menatap dan kembali berbicara pada dua mahkluk dihadapannya itu. Kedua mahkluk itu berdiam diri sejenak. Terasa enggan menjawab tapi juga tidak ingin mengabaikan apa yang menjadi pertanyaan dari sosok terlarang dihadapan mereka. Suasana menjadi sunyi. Dan yang tersisa di alam itu hanyalah Laras dan sosok dua penjaga yang muncul dari pintu lembah.
"Kau sendiri yang harus mencari jawabannya."
Laras diam. Menunggu ada jawaban lain yang bisa ia terima dari dua mahkluk dihadapannya. Padahal dirinya kini hanya bertiga tanpa sosok lain Eren bersamanya, tapi keberanian Laras mempertanyakan hidupnya membuat kedua mahkluk dihadapannya semakin tidak bisa mengabaikan pertanyaannya.
"Semakin lama kau menyelesaikan hidupmu, semakin banyak jiwa-jiwa seperti ini yang akan menempel dan hidup bersamamu."
"Itukah kenapa aku merasa tubuhku cukup berat beberapa hari terakhir?"
"Mereka melarikan diri dari lembah abu-abu tepat saat sosok mu membuat kekacauan di depan pintu Batu. Saat itulah mereka menempel bersamamu. "
__ADS_1
"Hmm.."
"Kau yang terlarang!" suara salah satu penjaga itu menggema dan cukup terdengar mengancam.
"Pilihanmu dalam menjalani apa yang terbaik, menentukan takdir hidupmu sebagai salah satu dari ciptaan Nya!"
"Berjalanlah bersama waktu dan temukan jawaban untuk dirimu sendiri."
"Bolehkah aku tau, hal terbaik apa yang bisa aku pilih?" Laras bertanya dengan cukup yakin bahwa ia harus mendapat jawaban saat itu juga.
"Waktu kami terbatas. Dan sudah waktunya kami menutup portal ini." Kedua mahkluk itu langsung lenyap bersama semua hawa kegelapan yang muncul bersama mereka.
Laras tertegun karena seketika tempat itu kembali seperti semula. Dimana ujung dari bukit itu terdapat satu pohon tua yang yang menjadi puncak tertinggi bukit belakang sekolah.
"Siapa kau sebenarnya?"
Sosok lain Eren menyambut kesunyian Laras begitu kembali ke dunianya. Sosok sang penjaga berjubah merah maroon menampakan hawa yang berbeda yang keluar dari tubuhnya. Cahaya kemerahan ditutupi kepulan sayap hitam pekat menyebar di seluruh tubuhnya. Hawa itu cukup menyesakkan dan menyeramkan untuk terus diperlihatkan oleh sosok sang penjaga kepada Laras. Namun Laras tidak bergeming sedikitpun.
Bukannya memberi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan sosok sang penjaga, Laras malah dengan berani menatap mata sang penjaga.
"Aku terbiasa melihat sosok mu yang seperti sekarang." ujar Laras. "Siapapun kau saat ini, di mataku kau tetaplah Eren."
Laras meratap cukup lama dengan kediaman sosok lain Eren. Sosok itu bukan tidak mengerti apa maksud omongan Laras. Hanya saja, keberaniannya Laras menyampaikan hal itu tidak pernah didengar nya dari banyaknya sosok manusia yang pernah ia temui. Mereka yang dulu bisa melihat sosok lain dirinya pasti hanya akan ketakutan dan menjauhi sosoknya kemudian.
"Apakah aku bisa memilih sendiri jalan hidupku?"
Sekilas bayangan datang dan menghantui ingatan Laras saat itu. Dia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali bahwa hal seperti itu pernah terjadi di hidupnya. Dia memastikan bayangan yang ia lihat dengan sosok yang kini tetap dengan kediamannya namun tidak melepaskan sedikitpun bagaiman sosok Laras bereaksi.
"Benarkah semua hal yang aku lihat?" Laras kembali tertegun. Dia menatap sosok sang penjaga. Ada kesedihan yang Laras rasakan. Lebih lagi ke sebuah rasa bersalah. Dia mengambil satu kesempatan lain dari sosok sang penjaga didalam ingatannya itu. Seorang bayi kecil yang tertawa riang didalam sebuah kedukaan yang besar.
...***...
__ADS_1