Abu-Abu

Abu-Abu
Sikap aneh Laras


__ADS_3

Begitu pintu kamar berhasil ia tutup tanpa melakukan hal yang konyol dihadapan kegelisahan sang gadis, Eren tersenyum tenang.


Dia berjalan menuruni tanggal yang cukup lebar ditengah-tengah rumah yang juga nampak begitu megah. Tangga itu tidak berputar seperti tangga-tangga pada rumah bergaya bak istana pada jamannya. Rumah itu hanya bagian kamarnya saja yang masih bergaya kamar kuno setua rumah yang dihuninya. Rumah tua bergaya belanda yang memang menjadi rumah tua peninggalan penjajahan pada masa itu.


Begitu menuruni tangga yang cukup lebar itu, Laras disambut oleh sebuah lukisan yang merupakan bagian dari ingatan Laras. Itu adalah sebuah tempat yang terkurung didalam pagar pohon yang menjulang tinggi sampai ke langitnya. Di setiap sisi pagar terdapat semak berduri dengan kuncup bunga yang berwarna merah cerah. Jauh didalam sangkar lukisan itu, terdapat gambar beberapa jiwa-jiwa yang seperti melayang berwarna hitam, putih, dan abu-abu.


Fokus dengan lukisan yang ada, Laras mulai terbayang-bayang dengan ingatannya yang menghilang dan terhapus di lembah kesengsaraan. Tidak ada yang menyadari akan perubahan sikap Laras hari itu. Termasuk Eren yang menganggap kebisuan Laras tentang lukisan yang dilihatnya hanyalah karena Laras sudah menyadari tempat itu dalam benaknya.


"Aku sudah mengambil seragam milikmu, setelah sarapan gantilah pakaianmu itu." Eren menyambut Laras yang masih terpaku di ujung tangga. Mata itu saling menatap. Eren tidak menaruh curiga apapun pada pagi itu. Dia hanya terfokus untuk menyajikan makanan yang baru selesai dimasaknya lalu mempersilahkan Laras untuk duduk disalah satu kursi dimeja makan itu.


Acara sarapan itu berlangsung sepi dengan kebisuan Laras sepanjang waktu. Setelah makan, Eren meminta Laras mengganti pakaiannya dan meminta Laras turun kembali dan langsung menemuinya di dalam mobil garasi rumah besar itu.


"Apa kau benar-benar hidup seorang diri dirumah tua itu?" tanya Laras yang menghindari diri dari kebekuan suasana yang ada. Walaupun didalam pikirannya masih ingin mempertanyakan hal apa yang telah dilakukan Laras malam kemarin sehingga mereka bisa tertidur dalam satu ranjang. Juga pun kenapa Laras malah berakhir dirumah pemuda itu.


Dengan kediaman si pemuda, Laras kembali berlarut-larut dalam pikirannya tentang hari kemarin yang terlupakan. Laras berusaha mengingat hal apa yang dialaminya tapi yang ada hanya kekosongan. Ingatan terakhir Laras adalah saat dirinya menangis ditengah malam satu tahun silam. Tangisan yang membawanya pada kesedihan yang teramat dalam. Tetapi dia tidak tahu kesedihan macam apa yang menyelimutinya.


Sepanjang perjalanan itu, Eren menampakan sosok lain dirinya pada bayangan kaca mobil. Tak ubahnya sosok Eren yang memperhatikan dengan baik bagaimana kondisi Laras, sosok lain Eren pun melakukan hal yang sama. Setiap pergerakan sang gadis menjadi hal unik tersendiri bagi sosoknya.


"Hal apa yang tengah menganggu pikiranmu?" gumam sosok lain Eren dari balik bayangan kaca mobil itu.


Laras seketika menoleh. Didalam bola matanya, dia terkejut melihat bayangan sosok lain pemuda pada kaca mobil itu. Laras menunduk, memegang erat sabuk pengamannya lalu mengatur nafasnya dengan baik. Laras yang merasa sudah terbiasa melihat sosok seperti itu hanya tidak menyangka bahwa pemuda disampingnya akan segera menemui celaka atau bahkan yang terburuk adalah mengalami kematian.

__ADS_1


"Berhenti!!" pekik Laras begitu melihat sosok tangan tua yang keriput menjalar keluar dari kaca jendela mobil itu.


Sontak pekikan Laras membuat Eren menghentikan laju mobilnya di jalur utama jalanan perumahan itu. Eren menatap Laras yang meratap takut sesuatu dihadapannya. Pandangan gadis itu nampak tidak fokus tetapi dia berusaha mengatur nafasnya dengan baik.


"Ada apa?" Eren bertanya lembut.


Suara Eren mengingatkan Laras akan satu ingatan yang dialaminya di hari kemarin. Hanya sebatas bayangan sepintas samar-samar sesosok pemuda dengan suara yang sama.


*Mungkinkah aku telah melakukan hal yang salah?!* batin Laras. Dia meyakinkan diri untuk sekali lagi menengok ke arah sampingnya. Dimana sosok Eren menatapnya dengan heran.


"Apa yang kau pikirkan?" Eren nampak dibuat penasaran dengan ekspresi yang ditunjukan Laras kini. Semenjak turun dari kamarnya, Laras menunjukan begitu banyak kebingungan. Kadang ekspresinya serius, kadang tenang, kadang ketakutan, kadang tegang, kadang nampak begitu frustasi. Seperti jawaban yang didapatkannya kini dari Laras, gadis itu hanya menggeleng pelan lalu kembali menunduk.


"Tidak terjadi apapun kemarin malam... Apa itu yang menyita pikiran mu semenjak tadi?" Eren tersenyum senang mengingat ekspresi polos yang Laras tunjukan beberapa jam yang lalu dihadapannya.


"Ya..." jawab Laras pelan.


Dan bayang lain sosok Eren menyembur lagi dibagian kaca mobil tepat saat Laras memalingkan pandangannya kearah si pemuda.


"Aku ragu dengan jawabanmu..." Eren menggigit bagian bawah bibirnya, melirik Laras kemudian memikirkan kembali dengan kejadian saat Laras terjatuh pada lembah kesengsaraan. "Apa kau baik-baik saja?" Eren menatap gadis yang kini berpandangan kosong seakan pikirannya sedang tidak berada pada tubuhnya.


*Apa yang telah terjadi padamu saat itu. Kau seperti tidak mengalami hal apapun sama sekali...* batin Eren lalu mempercepat laju mobilnya begitu melihat gerbang sekolah sudah berada dekat dari jangkauan mobilnya.

__ADS_1


Begitu mobil itu terparkir, Laras langsung turun dari mobil itu dan hendak meninggalkan sosok si pemuda yang sudah berbaik hati menolong dan mengantarkannya kesekolah.


"Laras, tunggu!" Eren bergegas keluar dari mobil begitu menyadari tindakan yang diambil Laras begitu mobil itu terparkir rapi dihalaman parkir sekolah.


Tidak mendapat respon apapun, Eren yang bermaksud mengejar Laras, akhirnya menghentikan langkahnya begitu Laras dihadang oleh Aksara dan Zara yang menatap bengis pada dirinya.


Eren berjalan santai mendekati sang gadis yang terhuyun ke belakangnya karena kaget dengan kemunculan mendadak dari dua sosok mahkluk bersayap yang tidak mampu dikenalinya dengan baik.


*Apa aku masuk sekolah yang salah?!* batin Laras begitu menyadari banyaknya mahkluk-mahkluk aneh yang berada dilingkungan sekolah. Dua mahkluk dihadapan si pemuda contohnya.


Kini Eren berdiri disamping Laras dan menatap Aksara dan Zara dengan penuh pertentangan. Seperti dua kubu yang sedang bertikai, ketiganya saling bertukar pandang dan saling melirik memperhatikan sedikit saja pergerakan.


Bel masuk berbunyi. Laras mengencangkan tali tasnya lalu melewati Aksara dan Laras begitu saja tanpa menyapa ataupun balas menatap kedua mahkluk itu.


Eren menatap aneh. Dia memperhatikan betul cara Laras melewati Aksara dan Zara, seolah Laras berpura-pura tidak melihat keduanya.


Disisi lain, Aksara dan Zara merasakan hal yang sama terhadap tindakan Laras tersebut. Mereka bertukar pandang dan mempertanyakan hal yang sama pada sosok Eren yang masih terpaku pada kepergian Laras dihadapan mereka bertiga.


"Apa yang sudah terjadi padanya?" Aksara dan Zara bertanya pada Eren secara bersamaan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2