
Matahari yang bersinar, menyilaukan pengelihatan Laras diatas tempat tidurnya. Kibasan angin pada gorden disamping tempat tidurnya menambah rasa malas untuk segera bangun dari tempat tidurnya. Namun suara dengungan mesin pemotong rumput disekitaran halaman rumah itu, membuat Laras mau tak mau bangun terperanjat.
Dia mengusap kasar wajahnya dan menyibak rambut itu kebelakang dengan kasar. Dia bangkit dan berlari mendongak ke depan teras kamarnya. Mendapati beberapa penghuni komplek yang ia kenali tengah membersihkan halaman rumahnya, Laras tersenyum kaku dan salah tingkah.
"Kerja!" sebuah sapu lidi jatuh tepat dibawah kakinya. "Jangan cuma bengong melihat kami bersih-bersih! Ayo ikut bantu! Ini kan rumahmu!" gadis pemilik rumah makan dipojok komplek yang semalam mengobrol dengannya berkacak pinggang didepan teras halaman rumah itu.
Menggunakan topi putih yang panjang bagian samping kanan-kiri dan belakangnya, sosok itu lalu mengulurkan tangannya pada Laras.
"Kerja!" ucapnya lagi dengan suara yang cukup keras, namun tidak bermaksud membentak.
Laras yang malu-malu langsung mengambil sapu lidi dibawah kakinya. Beranjak keluar dari kamarnya lalu mengikuti kegiatan bersih-bersih yang dilakukan oleh beberapa tetangganya dulu.
"Terima kasih!" Ucap Laras kepada setiap tetangga yang membantunya.
Ada yang kebagian memotong rumput. Membersihkan tembok dan atap rumah. Ada yang membenarkan keran air, listrik, dan perapian dibagian dapur yang sudah bersih dari semak belukar. Lalu Laras dan gadis pemilik rumah makan bernama, Yuma kebagian menarik dan membersihkan beberapa bagian semak belukar yang sudah mengakar pada talang air.
Keduanya tertawa ketika sama-sama jatuh dengan posisi terduduk setelah kalah oleh kuatnya akar dari semak belukar yang hendak mereka cabut. Kedua gadis itu kembali menatap semak belukar itu. Bekerja sama lagi lalu menarik semak belukar itu dalam hitungan ketiga secara bersama-sama.
Kegiatan bersih-bersih rumah Laras berlangsung selama setengah hari. Begitu menjelang pukul 12 siang, tetangga yang paling dekat dengan rumah Laras itu membawa beberapa minuman dan kudapan sebagai menemani waktu mereka beristirahat setelah lelah dengan kegiatan bersih-bersih yang mereka lakukan.
Dihadapan semua tetangganya itu, Laras berinisiatif untuk mengucapkan terima kasih dengan cara yang benar. Walau tidak bisa memberikan apa-apa, tapi Laras berharap suatu saat dia akan mampu membalas kebaikan mereka untuk kegiatan bersih-bersih yang mereka lakukan hari ini.
"Tidak usah sungkan nak!" ucap seorang bapak tua berperut buncit dengan sarung dibagian bawahnya. Tubuhnya agak gemuk dan mengingatkan kita pada uncle mutu di serial tontonan anak berjudul upin dan ipin. Hanya bedanya, rambut bapak yang ini gondrong dan keriting. "Kami melakukan ini karena memang sudah seharusnya kami lakukan."
"Iya nak!" seorang perempuan tua berambut putih menggenakan baju kaos putih dengan celana training abu-abunya menyambung omongan paman tadi. "Kami senang melakukan kegiatan ini! Dulu kakek dan nenek kalian sering mengajak kami berkumpul untuk sekedar membersihkan lingkungan ini, dan kami jadi terbiasa dengan hal itu."
"Sebulan sekali kami akan membersihkan seluruh bagian komplek! Tapi rumah ini, semakin dibersihkan semakin lebat tanaman merambatnya diesok hari. Kami sempat menghentikan diri kami untuk membersihkan rumah ini tiga tahun terakhir." Yuma bercerita.
"Lalu enam bulan lalu, Yuma melihat ular besar disini. Meminta bantuan kepada penghuni komplek untuk menangkapnya lalu menyerahkannya ke penangkaran." Kali ini seorang bapak-bapak dengan kumisnya lebat dan rambut sedikit habis dibagian atas kepalanya, menceritakan bagaimana besarnya ular yang ditangkapnya kala itu.
__ADS_1
"Lalu kami bersama tim penangkaran, membersihkan beberapa bagian saja untuk mengecek sarang ular lainnya."
"Pada saat itulah kami sadar, kalau bagian tanaman merambat yang kami bersihkan keesokan harinya tidak tumbuh lagi." giliran sepasang kakek dan nenek yang tidak dikenali Laras yang menyambung cerita itu.
"Dan sejak hari itu kami memutuskan untuk membersihkan pelan-pelan bagian rumah ini, sampai tadi pagi Yuma mengatakan kalau kamu sudah pulang!"
"Anda berdua?!" Laras menuding kaget.
"Kami tetangga baru sebelah rumahmu!" ucap sang nenek tertawa lucu melihat ekspresi Laras. Terkejut dan salah tingkah. Entah bagaimana cara Laras untuk mengembalikan uang itu saat ini.
"Kami pindah kesini 2 tahun lalu bersama anak kami. Tapi mereka sudah pindah keluar negeri sekarang."
Laras mengangguk mengerti.
"Hmm..Begini..."
"Untuk jaket dan isinya, sudah dipergunakan dengan baik?" tanya sang kakek dengan wajah yang sama ramahnya seperti hari kemarin.
"Kami melihatmu ketika akan pergi untuk mengirimkan sesuatu pada anak kami yang tinggal diluar negeri." jawab sang kakek. "Kami tidak tahu apa saja yang mungkin kau butuhkan, jadi kami memberimu jaket itu saja."
"Sekali lagi terima kasih atas kebaikan kalian!" Laras membungkuk pada semua tetangganya dimasa dulu. Dan kepada kakek dan nenek yang menjadi tetangga baru baginya.
"Baiklah! Sudahi ceritanya," paman yang menjadi pemilik usaha post koran dan susu tempatnya bekerja dulu, datang dengan menenteng satu kantong berisi makanan dari rumah makan yang dirintisnya bersama Yuma, sang anak. "Mari kita makan bersama-sama sebelum pulang untuk beristirahat.!"
"Mari! Mari kita makan!!" semua yang melakukan kegiatan bersih-bersih menyambut acara makan siang itu dengan suka-cita. Ada ramah tamah, cerita, dan canda tawa menghiasi hari itu.
Laras merasa begitu menyenangkannya pagi sampai siang itu. Baik setelah semuanya kembali ke rumahnya masing-masing, Laras masih bisa merasakan kehangatan yang dia dapatkan dalam waktu yang terasa singkat itu.
Kini Laras duduk pada teras rumahnya. Menatap setiap bagian rumahnya. Lalu memakan cemilan yang ia dapatkan dari para tetangga sebagai sambutan mereka atas kepulangan Laras ke komplek itu.
__ADS_1
"Senang rasanya bisa kembali ke sini..."Dia merentangkan kedua tangan dan kakinya. Menarik kuat kedua bagian lalu merebahkan dirinya ke bagian belakangnya.
Sejenak Laras memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya lalu membiarkan tubuh itu perlahan kehilangan kesadarannya.
"Laras!" Suara parau itu mengusik pendengaran
Laras yang tiba-tiba tersadar telah berada pada ruang ilusi dengan kepulan kabut asap memenuhi ruang dimensi itu. Suara itu entah mengalun dari arah mana, namun Laras mampu mengenali suara parau tersebut. Suara dari sosok lain Eren yang kini tengah berdiam diri menghadap gerbang lembah abu-abu yang tersegel oleh dirinya.
"Aku tidak mengenali sosok mu yang sekarang!" gumamnya. "Aku rasa, dia bukanlah dirimu! Sekalipun kau menjelma menjadi manusia, apakah mungkin sikapmu akan berbeda jauh seperti itu?!"
Laras didalam dimensi itu terus mencari arah suara yang menggema disekitarnya. Suara dari sosok lain Eren yang terdengar menggema berkali-kali dengan kalimat yang sama.
"Benarkah itu dirimu?"
"Kenapa aku merasa asing?!"
"Aku merindukan sosok mu yang dulu, Laras."
Laras terhenyak mendengar suara parau itu menyebut namanya. Mengaitkan namanya dengan kalimat 'aku merindukan sosok mu'. Laras melihat ke sekelilingnya. Lalu mendapati bayangan hitam berjiwa kelam yang langsung menyerang dan mencekik lehernya.
Laras terperanjat terbangun dari tidurnya. Dia mengusap bagian wajahnya lalu menghela nafas panjang.
"Bagaimana aku harus membuatnya tau bahwa tindakannya itulah yang telah merugikan jiwanya itu." Laras mengacak rambutnya. Kemudian menyisirnya rapi kembali menggunakan jari jemarinya.
Laras tertegun. Tatapannya kosong. Sama kosongnya seperti sosok lain Eren dibalik jubah merah maroonnya. Dia membuka tudung yang menutupi bagian kepalanya lalu meraba kembali seluruh bagian wajahnya yang audah berubah menjadi susunan tengkorak manusia.
"Seperti apa takdir yang harus ku jalani sekarang ini?"
Baik Laras dan sosok Lain Eren sama-sama mempertanyakan hal yang pada bagian kosong dihadapannya. Pandangan keduanya pun masih tetap sama kosongnya dengan misteri yang lagi-lagi menghalangi keduanya untuk bisa menjalani takdir yang membahagiakan bagi satu sama lainnya.
__ADS_1
...***...