
Sepanjang malam sekembalinya mereka dari lembah kelam bernama lembah abu-abu, Eren membawa Laras ke rumahnya. Membaringkan sosok gadis itu diatas tempat tidurnya. Membiarkan sosok itu tetap dalam lelap tidurnya tanpa ada niatan mengusik atau mengganggu ketenangan yang ditunjukan Laras dalam tidurnya.
Sosok pemuda itu sama sekali tidak beranjak dari sisi Laras. Dia menemani malam Laras dengan berjaga dan tidak membiarkan sedikitpun suara mengganggu sang gadis meski sang gadis tengah tertidur dengan begitu lelapnya. Seolah hilangnya Laras kedalam lembah kesengsaraan bukanlah hal yang menakutkan atau hal yang mengerikan untuk sosok seperti dirinya. Bahkan sosok Eren sendiri yang pernah jatuh kedalamnya, masih menyisakan sakit yang membuatnya harus berkali-kali menahan luka sayatan dan membentuk goresan luka seperti kertas yang terbakar pada beberapa bagian tubuhnya.
Eren memperhatikan luka yang kembali muncul satu demi satu pada lengan kanannya, dada bagian kanan, perut bagian kiri, paha dan betis kanannya juga. Semua luka itu memberi perih yang tidak tertahankan bagi beberapa mahkluk sepertinya, namun Eren sama sekali tidak bisa merasakannya lagi saat ini. Pikirannya benar-benar tidak teralihkan dari sosok Laras yang akhirnya mulai mengigau dan mengucurkan banyak keringat pada dahinya.
"Panas...." rintih Laras. "Seluruh tubuhku sakiiiit..." suara Laras terdengar lirih. Tubuh itu mengkerut dan menggigil kedinginan.
Dalam kondisi tidak sadarkan diri itu, Laras merasakan pikirannya kosong, lalu dipenuhi beban berat. Hatinya yang tadinya tenang tiba-tiba terusik dan membuat Laras menjadi begitu gelisah dalam tidurnya.
"Tidak!! Aku tidak bisa..." air mata menetes dari ujung matanya. Kesedihan mendera Laras seketika. Dia merasakan kesakitan yang tidak bisa ia jelaskan dari mana datangnya. Tangannya meremas dan mengepal kuat. Tangannya yang lain masih seperti tengah berusaha menggapai sesuatu didekatnya.
Itu adalah tangan Eren. Laras yang masih mengigau tidak jelas, berhasil meraih tangan Eren dan menggenggamnya erat. Menarik dan membawa tubuh si pemilik tangan itu mau tidak mau harus mendekatkan tubuhnya pada sosok gadis yang kini terlihat mulai sedikit tenang. Tangan gadis itu menggenggam erat dan enggan melepaskannya, membuat Eren mau tidak mau juga harus membaringkan badannya disamping Laras.
Menghadap tubuh sang gadis, sosok Eren memperhatikan baik-baik setiap lekuk wajah Laras. Mulai dari dahinya yang berkeringat, bentuk alisnya yang beradu ditengah dan memanjang, bulu matanya yang sedikit lentik (masih kalah dari lentiknya bulu mata Eren), lekuk hidung yang tidak terlalu tegas tapi cukup membuat sosok Eren tersenyum kecil, dan bagian bibir kecil merah merekah yang membuat Eren sekali lagi ingin mencuri ciuman seperti saat pertama kalinya ia menyadari mempunyai perasaan yang berbeda pada sosok yang seharusnya dia hukum untuk menggantikan tugasnya menjaga lembah abu-abu.
"Wajahmu terlihat sangat pucat.." gumam Eren sebelum akhirnya ia juga memejamkan mata dalam ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan selama ia menjadi sosok sang penjaga.
Keduanya tertidur dengan Laras menggenggam erat tangan Aksara dalam pelukannya. Berbalut dress hitam selutut dengan sisi jubah merah maroon disisinya dan ditemani sosok Eren dengan setelan baju kaos dan training putihnya, keduanya menampakkan diri bak lukisan romeo dan juliet dalam versi yang lain.
Dimana posisi mereka sedang berada diatas ranjang yang sama. Ranjang tidur ala kerajaan disney yang berlapiskan kelambu berwarna putih dengan didominasi warna hitam ke abu-abu an. Seprai berwarna putih dengan selimut abu-abu monyet. Tepi ranjang itu berwarna coklat kopi dan terdapat dua meja lampu disamping kanan dan kiri ranjang itu. Bagian hulu ranjang itu berhiaskan ukiran kayu jati dengan warna senada dengan tepian ranjang. Dan dari semua pemandangan yang ada, sosok keduanya yang tertidur dengan tenang dan lelap lebih menyita dan membuat iri seisi ruangan. Pemandangan yang begitu indahnya saat dimana untaian benang merah dari jubah milik sosok sang penjaga di lembah kesengsaraan terhubung jatuh dan melayang di atas keduanya. Benang-benang merah yang menjuntai dan mengikat takdir keduanya pada perjalanan seribu kehidupan lainnya.
Bayangan demi bayangan kehidupan meletup-letup dari setiap untaian benang merah yang jatuh diatas keduanya.
__ADS_1
Setiap helai benang merah itu memperlihatkan sesuatu yang nampak begitu membahagiakan dengan tempat-tempatnya yang indah. Beberapa lainnya ada memperlihatkan kesedihan yang tiada henti. Yang lain menyisakan kekosongan dan yang jatuh diatas genggaman tangan keduanya menunjukan perjalanan panjang penuh dengan keajaiban.
Suara tetesan air terdengar pelan ditelinga Laras ketika bayangan terakhir dari benang merah itu meletup diatas keduanya.
Laras membuka matanya secara perlahan, mendapati pemandangan samar-samar pemuda yang tertidur lelap didepannya. Memperhatikan sosok pemuda di hadapannya, Laras tidak menyadari bahwa tangannya telah menggenggam tangan sang pemuda dengan erat.
Bermaksud membelai pipi pemuda dihadapannya, Laras melonggarkan pegangan tangannya. Bermaksud melepaskan tangan itu karena merasa terlalu canggung, kini malah tangan si pemuda yang balik menggenggam erat tangan Laras yang mungil itu.
Hal itu membuat Laras reflek, dia berusaha menjauhkan tangannya tapi genggaman tangan Eren yang begitu lembut berhasil membuat perhatian Laras terkunci pada sosoknya. Terlebih ketika pemuda itu semakin mendekatkan tubuh dan wajah itu didalam tidur lelapnya.
Jantung Laras berdegup kencang. Jarak wajah keduanya benar-benar sangat dekat. Laras bahkan bisa mendengar suara nafas berat si pemuda yang tepat berada satu ranjang dengan dirinya.
Secara perlahan Laras menarik dirinya dari dekat si pemuda, dia bergerak pelan kearah belakangnya dan begitu berada diujung tepian ranjang besar itu, Laras memekik kaget.
"Apa yang kau lakukan?!" gumam Eren yang masih dalam posisi terbaring dan menatap hangat gadis dihadapannya itu. Satu tangan lain sang pemuda mengusap wajah bangun tidurnya dan tangan lain yang digunakannya untuk menahan tubuh Laras, menarik dan mendekatkan kembali tubuh sang gadis pada sosoknya.
"Beristirahatlah sebentar lagi.." ucap Eren pelan. Pemuda itu kembali memejamkan matanya namun tidak sekalipun melepaskan pelukan tangannya pada tubuh gadis yang kini diam membeku disampingnya.
"Ini, salah.." gumam Laras yang kembali bergerak pelan untuk menjauhkan diri dari sosok Eren.
"Aku kelelahan dan tidak punya tenaga untuk melakukan hal apapun yang ada di pikiranmu saat ini!"
Laras terdiam mendengar jawaban yang dikeluarkan Eren. Padahal dirinya hanya berpikir hal yang terjadi tidaklah benar, dan tidak memikirkan hal apapun yang dimaksudkan oleh sosok si pemuda.
__ADS_1
Eren menarik tangan dari tubuh Laras dan memindahkan tangan itu untuk kembali menggenggam tangan Laras. Kini giliran Eren melakukan hal yang Laras lakukan sebelum mereka berdua tertidur di ranjang yang sama. Eren menggenggam tangan Laras dan menarik tangan itu membawanya jauh lebih dekat dari seharusnya.
"A...apa yang kau.. laku...kan?!" Laras memberontak pelan berharap sosok si pemuda menghentikan tindakannya.
"Persis seperti yang kau lakukan semalam!" mata itu terbuka dan menatap sosok dihadapannya dengan begitu pasti.
Mendapat respon mata yang di kedipkan berkali-kali, sosok Eren menghela nafas lalu duduk dengan cepat diatas ranjang itu. Dia mengacak-acak rambutnya lalu melirik Laras yang masih terbaring dengan frustasi.
Laras akhirnya bangun dan ikut duduk menghadap sisi samping si pemuda. Jantungnya masih berdegup dengan kencang. Dia menunduk dengan posisinya kini.
"Apa yang aku lakukan semalam?" tanya gadis itu dengan polosnya. Matanya menyiratkan rasa khawatir dan semua rasa buruk yang memalukan untuk dipikirkan gadis itu terhadap tindakan yang tidak dia sadari telah dilakukannya.
Eren tidak langsung menjawab. Dia mempertimbangkan banyak hal, terlebih setelah melirik ekspresi yang ditunjukan Laras begitu membuatnya ingin mempermainkan ingatan gadis itu.
"Hmmm...." si pemuda terlihat tengah menimang-nimbang sesuatu untuk dia keluarkan. Mereka saling melirik. Laras kalah karena langsung menunduk dan terlarut dalam pemikirannya.
"Aku hanya ingat kalau aku tengah terjatuh..." bisik Laras pada dirinya sendiri.
Eren memperhatikan. Dia memainkan telapak kakinya dan memegangnya kuat-kuat. Eren sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa gemasnya dengan sikap yang Laras tunjukan.
"Tidak terjadi apa-apa!" jawab Eren yang memilih turun dari ranjang besar itu. "Bersihkan dirimu!! Kita sarapan dibawah."
Sebelum menutup pintunya, Eren kembali coba meyakinkan isi pikiran Laras yang mengerutkan keningnya begitu mereka kembali saling menatap.
__ADS_1
...***...