Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Menjadi Lembah Terlarang


__ADS_3

Sosok hitam bermata biru muncul dengan terpecah-pecah. Wujudnya yang sudah tercerai berai tetap berusaha mengumpulkan sisa bayangannya diantara Aksara dan gumpalan jiwa bermata kelam dibawahnya.


Tanpa disadari oleh bayang hitam bermata biru itu dan juga sosok Eren sebagai penjaga tertinggi, Aksara menerjang gumpalan jiwa bermata kelam dibawahnya dengan mengepakkan sayap berbulu emasnya.


Pandangan mata dari gumpalan jiwa bermata kelam yang ada dibawah sosok bayang hitam bermata biru itu langsung terkunci kembali ke arah sayap berbulu emas milik Aksara.


Sosok hitam bermata biru itu mulai merasa kehabisan waktu untuk bisa menghentikan aksi sosok bersayap yang menerjang turun tanpa mengetahui kalau aksinya dapat sangat membahayakan sosoknya.


"Bodoh! Hentikan aksimu itu!"


Sosok bayang hitam itu terus melemparkan pandangannya kepada Aksara dan wujudnya yang terus terpecah-pecah.


Sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi yang samar-samar mendengar kata-kata yang terlontar langsung berfokus pada bayang hitam bermata biru.


"Hentikan!! Mereka menginginkan sayapmu itu!!"


Teriakan itu berasal dari sosok bayang hitam bermata biru. Walau samar-samar, suara seperti suara kaset rusak itu membuat sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi memahami maksud bayang hitam bermata biru kali ini.


Daripada menghentikan Aksara dengan menyerangnya secara tiba-tiba yang dapat melukainya, sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi langsung melemparkan kembali salah satu bola api kebiruan itu ke arah sosok bayang hitam bermata biru yang berkali-kali berusaha menyatukan dirinya.


Aksara yang tidak mengerti arti serangan itu, memilih mengalihkan aksinya. Dia langsung menghalau serangan bola api kebiruan itu.


Sementara sosok bayang hitam bermata biru yang tidak menyadari hal itu, tetap berusaha mengumpulkan bagian bayang dirinya untuk menghentikan aksi Aksara yang sudah merentangkan sayap berbulu emasnya untuk menerima lemparan bola api kebiruan milik sosok Lain Eren sebagai penjaga tertinggi.


Bola api itu terpercik namun tidak melukai Aksara sedikitpun. Tetapi langsung merubah sayap berbulu emas milik Aksara menjadi sayap berupa kepulan asap hitam pekat.


"Apa yang terjadi!!"


Aksara bereaksi tidak percaya. Dia berusaha mengepak-ngepakan sayapnya yang baru namun memandang penuh tanda tanya kepada sosok Lain Eren sebagai penjaga tertinggi. Sosok itu kini menguap, menampilkan sosok sejati Eren dengan sayap berupa kepulan asap hitam sama seperti sayap baru Aksara.


Dan sosok bayang hitam bermata biru dibelakang sayap Aksara perlahan mendapat hawa hitam dari sayap baru milik Aksara itu. Membuatnya kembali ke sosok bayang hitam bermata biru dengan sempurna.

__ADS_1


Selain kembali utuh, hawa yang keluar dari kedua pasang sayap yang kini mengelilinginya perlahan membuat sosok bayang hitam bermata biru itu memiliki wujud seperti manusia namun tetap berupa bayangan hitam di sekujur bentuk tubuhnya.


"Sorry!" sosok Eren langsung menghampiri Aksara.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Untuk sementara." jawab Eren. "Hal ini hanya akan berlangsung sementara. Sebelum itu,"


Sosok Eren melirik wujud bayang hitam bermata biru dibelakangnya.


"..jangan pernah perlihatkan sayap berbulu emasnya disini."


Wujud bayang hitam bermata biru mengangguk pasti. Hal itu juga menjadi perhatian Eren. Dan Aksara sendiri setelah menelusuri pemikiran dengan semua arah serangan yang tertuju pada dirinya langsung paham akan maksud sosok Eren yang berdiri disampingnya.


Kedua sosok itu kini melindungi wujud bayang hitam bermata biru yang telah menyelamatkan Aksara beberapa kali dalam satu kali pertemuan.


"Ngomong-ngomong, " Aksara melirik kearah belakangnya. "Terima kasih.."


Kembali wujud bayang hitam bermata biru itu mengangguk tegas.


Tangannya menunjuk ke arah batuan kristal yang berada jauh dibawah mereka. Bahkan lebih jauh lagi karena berada mereka berada diseberang batuan kristal itu.


"Apakah hanya itu?"


Aksara meyakinkan dan mendapat jawaban berupa anggukan tegas sekali lagi.


Eren dan Aksara saling melirik. Mereka memikirkan cara yang sama untuk bisa melewati lautan manusia berjiwa kelam yang kini semakin menunjukan kemarahannya dibalik punggung sang pemimpin.


"Apakah akan aman jika langsung menerobos lautan jiwa itu?!"


Kini wujud bayang hitam bermata biru itu menunjuk ke atas langitnya yang tanpa ujung.

__ADS_1


"Ada apa disana?"


Wujud bayang hitam bermata biru itu menunjukan cara untuk melewati lautan dibawah mereka. Menunjukan mereka untuk terbang sampai ke ujung dan menukik cepat ke arah batuan kristal itu.


"Itu jauh lebih baik bukan? Daripada harus melanjutkan pertarungan yang tidak akan ada habisnya!"


Kembali wujud bayang hitam bermata biru itu mengangguk tegas.


"Apa kau tidak bisa bicara?" tanya Eren untuk meyakinkan kalau suara yang sempat didengarnya memang milik sosok bayang hitam bermata biru yang tadi sempat tercerai berai.


Sosok itu terdiam. Menyadari sosoknya hanya bisa mengeluarkan kata-katanya pada saat terdesak saja. Karena dalam keadaan biasa, semua itu akan sangat menghabiskan energinya.


"Ikut keluar?"


Sosok bayang hitam bermata biru itu menggeleng kecil. Ada sesuatu yang sedang dilakukannya dilembah ini. Lebih tepatnya mencari sesuatu tersembunyi yang ada disalah satu bagian lembah ini.


Wujud bayang hitam bermata biru itu mempersilahkan kedua pemuda untuk melakukan aksinya untuk keluar dari sisi lembah itu.


Aksara bersiap, dia menunjuk naik ke atasnya dan disusul Eren dengan sedikit ragu. Pandangannya terarah penuh pada wujud sosok bayang hitam bermata biru yang kini membunyikan suara lonceng kecil untuk mengalihkan perhatian jiwa-jiwa bermata kelam itu.


Suara yang semakin terdengar menjauh itu membuat Eren berusaha mencari arah suaranya. Suara itu sempat menghilang, namun begitu menukik turun menuju arah batuan kristal yang menjadi jalan keluar satu-satunya lembah itu, suara itu terdengar jelas dan berpusat pada gumpalan jiwa-jiwa bermata kelam yang telah dialihkan oleh wujud bayang hitam bermata biru.


Wujud bayang bermata biru itu terpaku pada apa yang dilakukannya. Dia langsung menukik naik menebarkan hawa yang kegelapan yang dikenali oleh Eren.


Aksinya sempat terhenti, namun tangan Aksara menarik tubuh Eren masuk ke dalam batuan kristal. Membawa mereka pada sisi lembah lainnya. Sisi lembah yang sunyi, sepi, dan tanpa penghuni. Lembah yang bagian sisinya terhubung dengan jalanan setapak yang terapung dan melayang kebagian pintu utama lembah.


Aksara tertegun dengan pemandangan yang ada. Sangat jauh berbeda dari sisi lembah yang satunya. Lembah yang begitu kumuh, bau, dan dengan penghuni bermata kelam yang tidak ramah sama sekali.


"Lembah apa ini?!" Aksara mengelilingi sekitaran lembah. Mengepakkan pelan sayapnya yang kembali ke sayap berbulu emas.


Eren sendiri masih tertegun dari tempatnya berdiri. Dia mengingat kembali suara gemerincing yang didengarnya juga mengingat hawa kegelapan yang tercipta dari suara gemerincing itu.

__ADS_1


"Kenapa aku mengenalinya..." Eren bergumam.


...***...


__ADS_2