
Pagi itu mendung ketika Laras baru saja akan memasuki areal kelas setelah lelah menunggu Eren yang tidak kunjung datang diparkiran sekolah. Hari kemarin benar-benar menjadi hari yang menyenangkan untuk Laras. Masih kurang rasanya Laras mengucap terima kasih pada Eren sehingga ia bertekad menunggu sosok pemuda itu datang dipagi ini. Perasaan berdebar ketika akan menghadapi Eren membuat Laras seakan kehilangan kesadarannya beberapa saat.
“ Jauhi Eren. ” ujar Aksara begitu Laras melewatinya dibangku ujung. Sosok itu adalah sosok tidak biasa Aksara. Sosok berpakaian serba hitam dengan kepakan sayap berupa tulang belulang yang samar-samar terlihat ingin merentangkan diri untuk menunjukan kuasanya pada Laras. Ini pertama kalinya sayap itu terlihat mengertak tidak biasa.
Laras bukan tidak mendengarkan, akan tetapi sosok Zara yang memperhatikannya saat akan menjawab Aksara membuat Laras enggan untuk menanggapi si pemuda dengan sosoknya yang tidak mungkin akan dilihat oleh Zara.
Berbeda dengan Aksara yang mengerti sikap yang ditunjukan Laras, Zara malah terang-terangan menunjukan diri dengan menepuk pundak Aksara begitu Laras akan menaruh tasnya diatas meja yang baru saja ditinggalkan temannya itu. Pandangan kedua perempuan itu bertemu lalu saling melempar senyum tanpa meninggalkan rasa canggung sedikitpun.
“ Apa kau mampu menjauh dariku? ”
“ Jawabannya tidak. ” jawab Laras santai dengan hembusan suara parau yang terngiang ditelinga kirinya.
“ Tidakkah kau takut? Aku bisa membawamu pada kematian yang abadi. ”
“ Kalau memang sudah waktunya, aku pasti akan ikut denganmu. ”
“ Waktuku tidak banyak…”
Hembusan angin semilir mengibas rambut Laras. Menandakan sosok sang penjaga telah menghilang dari sisinya.
__ADS_1
“ Waktuku juga tidak banyak…” gumam Laras mengeluarkan buku tua bersampul hitam miliknya. Menghela nafas setelah melihat halaman sampul depan buku itu, Laras mengingat mimpinya yang terasa begitu nyata setelah melewati hari yang begitu menyenangkan dengan sosok Eren. Sosok Eren yang benar-benar Eren dibalik pohon kenanga dihalaman belakang bukit sekolah. “ Mimpi itu bukan sekedar mimpi… ”
“ Mimpi yang bagaimana? ” senyum simpul Eren menyambut pandangan menerawang Laras dengan sapaan yang tiba-tiba diterimanya. Padahal sosok itu sudah menyita pikirannya sepanjang malam sampai pagi menjelang. Entah dalam dunia nyata ataupun dimimpinya yang benar-benar membuat Laras ingin bertemu dengan sosok itu hari ini. Hanya untuk memastikan apakah mimpi itu bukanlah sebuah mimpi. Tapi kenyataan yang benar-benar nyata ia alami semalam.
Hari sudah menjelang malam begitu Laras membuka pintu rumah setelah diantar pulang oleh Eren dihari kemarin. Sebelum benar-benar memasuki halaman rumahnya, Laras dengan berani memandang kepergian Eren dipertigaan jalan rumahnya. Dia menatap sosok pemuda yang berjalan santai menuju kearah kegelapan. Padahal lampu penerangan jalan itu menyala tetapi jalan yang Eren lewati tetap saja nampak begitu gelap. Sepeti malam yang sangat pekat. Sosok Eren semakin diperhatikan semakin terlihat tertelan oleh kegelapan. Bukannya terlihat menjauh dari tempatnya berdiri kini.
Segera berlari untuk memastikan kebenaran akan apa yang dilihatnya, Laras terus mengikuti langkah Eren dari jarak yang cukup jauh. Dia terus dan terus saja mengikuti Eren tanpa berpikir dia sudah berjalan sejauah dan kearah mana. Dia hanya melihat bagian punggung belakang Eren yang diikutinya. Tidak pernah terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Seperti sudah berjalan jauh tetapi juga tidak.
Sampai dipenghujung sebuah gerbang yang menjulang begitu tinggi. Laras tertegun dengan apa yang dilihatnya. Sebuah tempat yang begitu menyedihkan. Membuatnya meneteskan air mata tanpa ia sadari. Angin berhembus sepoi-sepoi begitu Eren memasuki tempat itu.
Tidak jelas dengan beberapa hal yang terjadi setelahnya, Laras hanya mengingat melihat sosok Eren yang berbeda setelah melepas tudung dari jubah merah maroon yang tiba-tiba saja dikenakannya begitu memasuki tempat suram itu.
“ Ya. Lalu gue kemana kalau nggak pulang. ” jawabnya santai. Kali ini sosok tua keriput berjubah maroon itu menunjukan dirinya dengan tetap terlihat membayang-bayangi sosok Eren yang duduk santai dihadapannya.
“ Pulang kerumah? ”
“ Menurut loe? ” sosok tua berjubah merah maroon itu berdiri membayangi Eren. Seperti mencari celah atau mencari sesuatu yang terasa berbeda dari Laras yang kini dengan berani menatap kearahnya bukan menatap Eren secara langsung.
Senyum simpul Eren memecah tatapan Laras yang terasa berbeda. Dia menjentikan jari dan membuat Laras kembali focus kearahnya.
__ADS_1
“ Ada yang mengganggu? ”
“ Hmm… ” Laras menggeleng. “ Pelajaran akan dimulai. Duduklah dengan benar.” Ujarnya setelah itu.
Laras memasukan buku tua bersampul hitamnya dan mengeluarkan beberapa buku pelajaran untuk ia letakkan diatas meja. Memperhatikan Eren yang hanya mengangkat bahu lalu membenarkan duduknya dengan menghadap kearah depannya.
Sepanjang jam pelajaran yang berlangsung, Laras terpaku pada sosok lain Eren yang kembali muncul lalu menghilang. Muncul lagi beberapa saat lalu menghilang. Sesekali sosok itu seperti mendengus bosan dan tidak bersemangat. Lalu menghilang dan datang dengan menggertak.
“ Apa benar semua hal kemarin bukanlah mimpi? ” gumam Laras.
“ Mimpi seperti apa? ”
Aksara yang sudah duduk dibangku sampingnya membuat Laras menutup buku yang dibukanya secara reflek. Laras menghela nafas lalu menatap yakin kearah Aksara juga Eren yang kini sudah berbalik badan untuk mendengar jawaban dari Laras.
“ Mimpi yang mengharuskan gue mengawasi kalian bertiga. ”
Eren mengacuhkan. Aksara meremehkan. Dan dibangku paling depan, Zara tersenyum penuh makna.
***
__ADS_1