Abu-Abu

Abu-Abu
Setelah Kemarin


__ADS_3

Dijalanan yang sama dengan kayuhan sepedanya, Laras menikmati pagi dengan perasaan yang lebih baik dari pada bangun tidurnya. Pagi hari dia dibangunkan sang kakek. Dan tidak melihat bayang kematian mengitarinya. Itu sudah membuatnya cukup lega. Cukup membuatnya untuk bersemangat menjalani pagi yang begitu cerah.


Sebelum memasuki jalanan turunan diujung jalan, Laras menghentikan laju sepedanya dan melihat lagi kerumah kakek Tito, pelanggan Koran setianya dipagi hari. Dibalik pagar bercat biru langit itu biasanya kakek Tito menunggunya membawakan Koran. Dan itu sudah terjadisatu jam yang lalu.


Karena anaknya akan pulang, mungkin kakek Tito tengah mempersiapkan sesuatu didalam rumahnya. Semacam kejutan kecil yang biasa dilakukan kakek yang berusia 70 tahunan itu dihari-hari spesialnya.


Tapi pemandangan yang berbeda sempatmenyita perhatian Laras. Dimana ia melihat Aksara berjalan santai dihalaman rumah sang kakek. Bahkan ia telah masuk kedalam rumah minimalis itu.


“ Apa yang dilakukannya disana? ” Laras bergumam heran.


Tidak ingin mencampuri urusan pemuda yang membuatnya melupakan setengah kejadian dihari kemarin, Laras kembali mengayuh sepedanya menuju jalan turunan untuk sampai kejalan utama menuju sekolahnya.


Mengayuh sepedanya dengan santai, Laras bersenandung ria. Menyanyikan lagu anak-anak yang berjudul pemandangan cipt. Alm. Bapak At. Mahmud, Laras teringat bayangan sebuah kejadian dimana banyak anak-anak tengah menyanyikan lagu yang sama seperti lagu yang ia nyanyikan. Melihat bayangan sosok dua orang tua yang menatapnya dengan penuh kasih sayang. Semuanya nampak begitu gembira.Bersama kayuhan sepedanya yang perlahan melaju semakin cepat, Laras kembali melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaannya. Melepas pegangan tangan dari stang sepeda dan membiarkan angin segar perbukitan menerpa wajahnya.


“ Kebiasaan yang buruk! ” gumam sosok pemuda yang sedang berdiri disamping mobilnya. Sosok pemuda yang memang menunggu Laras yang menurutnya pasti akan melakukan kegialaan yang sama seperti pertemuan pertama mereka. Memasang headphone ditelinganya, dia menikmati music yang mengalun dan membuatnya cukup menikmati waktu untuk menunggu sosok yang kinitengah datang sambil mengayuh sepedanya dengan lamunan.


“ Panjang umur! ” si pemuda bergumam memperhatikan Laras yang datang dari kejauhan. Dengan senyum simpul khasnya dan alis yang sedikit dikerutkan, si pemuda melihat ada hal yang berbeda dengan Laras kali ini.


Mata gadis itu cukup terlihat menerawang. Seakan pikirannya tidak lagi bersama tubuhnya dengan laju sepeda yang cukup kencang dijalan turunan itu. Melewati bagian depan mobil si pemuda begitu saja, laju sepeda Laras masuk kejalan utama tanpa berbelok. Laju sepeda Laras kini menuju kearah tembok pembatas jalan yang tingginya kurang lebih satu meter diperbatasan jurang. Dan kalau si pemuda itu tidak cepat menarik Larasdari sepedanya, mungkin sang gadis kini sudah terpental jauh ketengah jurang dibalik tembok pembatas jalan tersebut.


Sepeda itu ringsek membentur tembok pembatas jalan yang terbuat dari beton. Bel sepeda itu mengglinding ketengah jalan dengan suara nyaringnya yang perlahan mengecil dan tergeletak ditrotoar seberang tempat sepeda


itu ringsek. Lagi. Tubuh Laras, menindih tubuh si pemuda. Dia, Eren. Pemuda yang tidak mungkin membiarkan tubuh Laras terjatuh tergores aspal jalanan.


“ Hei!!! Apa kau benar- benar mau mati!! ” bentak si pemuda saat mereka terjatuh kearah tengah jalan raya yang kebetulan selalu sepi dijam tersebut.


Gamang. Antara kaget dengan dirinya yang tiba-tiba terjatuh, Laras melihat baik-baik pemuda yang ada dihadapannya.


Saling menatap. Disana lagi-lagi hal yang sama dilihat Laras dengan jelas. Bayangansosok pencabut nyawa yang menempel ditubuh Eren dan seakan bersiap kembali menarik jiwa Eren saat itu juga. Sosok gelap yang perlahan memancarkan kelamnya tempat yang mungkin akan Eren lalui setelah kematiannya. Sosok menyeramkan  yang sebagian besar wajahnya tertutup oleh topeng dari tengkorak manusia.


Kesedihan yang amat dalam langsung dirasakan Laras. Tubuh itu langsung gemetar tidak karuan. Suara yang hendak dikeluarkannya terasa begitu kaku dan kelu. Ketakutannya berubah lagi menjadi ketidakberdayaan baginya.


Apakah Eren orangnya???Apa Eren yang akan dijemput oleh kematian kali ini???


“ Apa yang bisa gue lakukan??? ” ujar Laras berlinang air mata. Tubuhnya masih gemetar dengan sangat hebat. Walau berusaha menahan rasa gemetarannya itu, tetap saja semuahal  yang dilihat dan dialaminya bukanlah hal yang mampu untuk ia lawan.

__ADS_1


Terkejut dengan respon yang ditunjukan Laras, Eren membantu Laras untuk duduk dan mengendorkan dekapannya pada gadis yang kini tengah menangis dihadapannya. Berpikir mungkin Laras shock karena teriakan yang didapatkannya, ditambah juga dengan trauma yang terjadi atas insiden yang menimpanya saat ini tanpa terduga, membuat Eren membiarkan Laras larut dalam tangisannya.


“ Menangislah sepuas-puasnya. ” ucap Eren mengelus lembut kepala Laras.


Laras semakin menunduk dan terus menitihkan air mata. Tidak bisa menjelaskan hal apa yang dirasakannya dengan tubuh lemas yang masih gemetaran, Laras perlahan berusaha menjauhi sosok pemuda didepannya itu.


“ Hei!! ” begitu tangan si pemuda membelai lembut pipinya, Laras langsung menatap sosok Eren. Pemuda didepannya kini tengah menatapnya dengan sangat lembut. Hawa kegelapan yang menyelimuti dibelakang si pemuda sirna seketika. Bayang pencabut nyawa itupun tidak terlihat lagi dibelakangnya. “ Gue nggak sengaja bentak lo tadi? Maaf untuk itu. ” tambahnya kemudian.


Merasa lega dengan hilangnya bayang menakutkan dibelakang Eren, Laras mengatur nafasnya secara perlahan lalu mengangguk cepat. Sembarang ia mengusap air matanya. Tapi tangan Eren menghentikan itu. Memegang erat tangan Laras, satu tangan lainnya mengusap air mata yang menetes dipipi sang gadis.


“ Jangan pernah menangis didepan orang lain selain didepan gue. ” tatapnya yakin. “Gue nggak mau orang lain yang melakukan ini! ”  Eren perlahan menyeka air mata Laras yang sesenggukan. Dan perlahan, bayang kegelapan itu kembali menunjukan matanya yang bersinar merah pekat.


Laras yang kaget kembali berusaha menjauhkan dirinya dari sosok Eren yang menurutnya sudah terlalu dekat dengan dirinya. Jantungnya berpacu cepat. Ada ketakutan dimata Laras, kalau-kalau tangan tua keriput itu akan kembali mencoba mengambil jiwa Eren atau bahkan mengambil jiwanya sendiri.


“ Apa gue salah omong? ” Merasa kalau Laras lagi-lagi menghindar dari tatapannya dan berusaha menjauh dari sisinya, Eren semakin menggenggam erat tangan itu. Dia menahan tubuh Laras sehingga langsung terdiam kaku.


“ Menjauh dari gue! ” Laras mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ketakutan terlihat jelas dimata Laras. Tangannya mengepal dan berusaha menahan diri untuk tidak lagi menepis sosok menyeramkan yang menempel dibelakang Eren. Memejamkan matanya rapat-rapat, Laras mencoba lagi untuk menghindar bertatapan mata dengan sosok Eren.


“ Hei... Gue, Eren. ” Eren menaikan dagu Laras dan melihat baik-baik ekspresi dari sang gadis. “ Lihat gue baik-baik. ”


Menggeleng pelan. Laras masih kekeh dengan pendiriannya. Dia tetap berusaha menghindari bertatapan mata langsung dengan posisinya yang sedekat itu dengan Eren.


“ Kalau begini, gue nggak akan bisa menenangkannya. ” gumam si pemuda.


Eren mendekatkan wajah itu. Menatap lekat-lekat sang gadis yang tetap tidak ingin melihatnya dan membuat sang gadis termenung dengan hal yang dilakukannya setelah itu.


....


Bukan hanya beberapa luka lecet yang diterimanya dari kejadian pagi ini. Lebih dari yang bisa ia bayangkan. Betapa terkejutnya Laras dengan apa yang dilakukan Eren padanya.


“ Manis... ”  Dan Eren pun menyunggingkan senyum manis pada dirinya yang masih harus memutar kepala dengan hal apa yang dilakukan Eren terhadap dirinya.


Selama jam pelajaran sekolah, Laras sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karenanya. Dan ia terus terbayang dengan hal yang terjadi antara dirinya dengan pemuda yang kini tengah duduk dibangku sebelahnya itu. Eren terlihat sangat santai. Bahkan terlalu santai setelah apa yang dilakukannya dipersimpangan jalan yang cukup sepi tadi itu.


“ Laras?? ” panggil Pak Agung. Guru pengajar pelajaran Sastra Indonesia untuk kelas XI.

__ADS_1


“ Akh. Iya pak? ”


“ Berhenti melamun dipelajaran bapak! Kalau kamu sedang jatuh cinta, lebih baik katakan langsung sama orangnya. ” ujar Pak Agung sembari melempar candaan disela-sela kebosanan kelas ditengah pelajaran yang berjalan.


Sontak celotehan pak Agung itu membuat tawa seisi kelas pecah. Termasuk pak Agung sendiri yang menikmati tawa kelas itu. Laras pun hanya bisa melempar senyum kaku dan sedikit rasa malu karena mejadi perhatian seisi kelas karenanya.


“ Maaf, pak! ” ucap Laras sopan. Senyum itupun masih sangat kaku. Terlebih ketika Eren tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Ada secercah cahaya yang berbeda dari tatapan Eren terhadap dirinya seharian dihari itu.


Laras menelan ludah ketika tatapan Eren sama sekali tidak lepas darinya. Pulpen yang harusnya digunakan Eren untuk menulis, dia mainkan pada jari-jarinya. Dan Laras pun enggan untuk melewatkan hal itu.


“ Kenapa gue jadi seaneh ini?! ” gumamnya yang segera membuang jauh pandangannya dari sosok Eren. “ Konsentrasi Laras!! Konsentrasi! ” ditepuknya kedua pipi itu dengan kedua tangannya. Dan Laras kembali termenung dalam pandangannya.


Hitungan ketiga dalam hati, Laras melirik ke Eren dan disambut dengan senyum penuh makna dari Eren. Bersamaan dengan itu, satu lipatan kertas kecil terjatuh tepat diatas buku pelajaran Laras. Kertas itu dari arah depannya. Dari bangku yang sebelumnya kosong. Dan kini ditempati oleh sosok Aksara. Teman sekelas yang menurutnya cukup misterius.


Laras mengambil kertas itu, membuka dan membaca isinya. Laras terdiam.


Bisa kita bicara dijam istirahat?


Kertas kedua kembali jatuh diatas mejanya. Lagi-lagi dari Aksara.


Aku butuh jawaban.


Laras mencolek punggung Aksara dengan jari telunjuknya. Lalu menuliskan kata “Ya!” dipunggungnya sembari mengangguk pelan.


Kembali sebuah kertas jatuhdari arah depannya.


Diatap gedung ini.


Menanggapi hal itu, Laras mengangguk yakin.


“ Nak Laraaas??? ” Pak Agung kembali memperhatikan sosok Laras yang manggut-manggut kecil dibangkunya. “ Apa sudah bersiap untuk menyatakan cintanya??? ” pak Agung lagi-lagi melanjutkan candaannya. Seisi kelas kembali dibuat tertawa dan bersorak sorai karena itu.


Laras mmenggeleng kecil. Diangkatnya buku Sastra Indonesia yang dibawanya untuk menutupi wajahnya yang mungkin sudah memerah karena terus menjadi perhatian dari pak Agung dengan candaannya.


“ Gue benci! ” geram Eren tiba-tiba.

__ADS_1


Tatapan matannya menatap tajam kearah depannya. Walau begitu, sepasang mata sisi lain dari dirinya menatap kearah yang berbeda. Kearah sampingnya, dimana Laras tengah berusaha membenamkan wajah itu dibalik bukunya. Sosok mahluk berjubah merah yang menutupi sebagian wajahnya dengan topeng dari tengkorak manusia. Sosok dengan tangan tua pucat yang keriput dengan kuku panjangnya. Tidak ketinggalan kepulan asap hitam pekat yang membentuk sebuah sayap, melekat dipunggung sosok berjubah itu. Mata itu bersinar terang. Dan senyum itu nampak sangat menyeramkan.


***


__ADS_2