
Disudut teras kamarnya, Laras menyenderkan kepalanya yang terasa sangat kosong. Tatapan itu sama kosongnya dengan pikiran Laras saat ini. Dengan semua hal yang ia alami, Laras hampir sudah tidak bisa mengeluarkan air matanya sama sekali.
Bayangan bagaimana ia melewati hari-hari dengan kakek dan neneknya menghantui ingatan Laras. Setiap kali satu bayangan ia ingat, Laras menghembuskan nafas dengan sangat berat. Dia tidak pernah berpikir bahwa kakek dan neneknya akan pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan pada dirinya. Bahkan untuk memberi kesempatan berbicara pun Laras tidak mendapatkan hal itu baik dari Eren maupun Aksara.
Hari berganti pagi. Pagi berganti siang, dan siang menjadi malam. Laras masih berduka di dalam rumahnya. Mengurung diri dan tidak mau menemui siapapun dalam tiga hari terakhir.
Didalam kamarnya, Laras hanya meringkuk terbaring tanpa makan dan tanpa minum. Sesekali ia melakukan pergerakan, dan itu hanya digunakannya untuk membenamkan wajahnya dalam tumpukan bantal dan meluapkan kesedihannya dengan air mata. Teriakannya tercekat tanpa suaranya. Rasa sakit terus menerus mendera batin Laras dalam kedukaannya.
Satu persatu dia mengingat orang-orang yang di sayangi pergi meninggalkan dirinya. Mulai dari orang tuanya yang meninggal dalam insiden kecelakaan. Kakek Tito yang memberinya segelas susu dihari menjelang kematiannya. Pak Dirto guru yang selalu membuat jam pelajarannya menjadi lebih hidup. Dan kini Laras harus kehilangan sosok Kakek dan neneknya yang merupakan orang tua keduanya setelah kematian orang tuanya dalam kecelakaan 15 tahun silam.
"Apa lagi yang aku punya dalam hidup?" Laras terlentang menghadap ke langit-langit kamarnya. Dia kembali teringat bayangan lain bagaimana sosok lain Eren jatuh kedalam lembah kesengsaraan karena sosok kecil dirinya dalam kecelakaan maut 15 tahun yang lalu. "Aku membenci takdirku yang seperti ini!" kembali Laras mengusap kasar air matanya. Matanya sudah benar-benar bengkak saat ini. Bahkan dia sudah sesenggukan dan tidak mampu lagi menahan suara tangisannya yang pecah ditengah malam.
"Takdir memang tidak pernah memihak pelakunya." bayang sosok lain Eren muncul dari sudut yang paling gelap dikamar itu. Entah sudah berapa lama ia memperhatikan Laras dari sudut itu. Sesekali hembusan angin menyingkap sosoknya yang terkibaskan gorden di ruangan itu. Membuatnya mampu melihat setiap detail tindak tanduk Laras dalam kesedihannya.
Laras langsung terbangun dari posisinya yang terlentang. Dia menatap bengis sekaligus kecewa dengan pilihan hidup yang ia punya terhadap sosok Eren di hidupnya.
"Kau hanya punya dua pilihan, melanjutkan kebodohanmu ini atau melanjutkan apa yang harusnya kau jalani."
Laras terdiam. Dia mengusap lagi air mata dan ingusnya yang sempat mengucur. Dia tidak benar-benar yakin akan pilihan yang ingin dibuatnya saat ini. Dia seperti telah kehilangan segala hal dalam hidupnya. Semangatnya untuk tetap bisa melanjutkan apa yang akan menjadi pilihan hidupnya.
"Aku sudah tidak punya siapapun..." isak Laras kemudian. Dia tidak pernah merasakan kesepian yang mendalam seperti saat ini. Laras kembali menitihkan air matanya. Mengingat kalau dirinya mulai dari kemarin harus berjalan sendirian untuk hidupnya. Tidak ada lagi kakek ataupun nenek yang jadi penyemangat atau tempatnya berbagi. "Kenapa hidupku sangat menyedihkan!"
Sejadi-jadinya Laras menangis malam itu. Ditemani sosok lain Eren yang hanya termenung disamping tempat tidurnya, Laras meluapkan semua kekesalan dan kebenciannya pada kenyataan yang harus dialami Laras kali ini.
__ADS_1
Tidak banyak yang dilakukan sosok lain Eren malam itu. Menjelang pagi, sosok itu menampilkan lagi sosok Eren yang sebagai manusia. Duduk ditepi tempat tidur Laras, Eren menepuk-nepuk kepala gadis yang kini terbaring dengan nyenyaknya setelah tangisan panjang dimalam kemarin.
"Tidak ada yang mampu merasakan kesedihanmu selain dirimu sendiri. Begitu pun tidak ada yang mampu membuatmu bangkit dari semua ini selain dirimu sendiri..." ujar Eren sebelum menghilang dari sisi kamar kecil itu.
Laras diam. Dia membuka matanya secara perlahan setelah membiarkan Eren dan sosok lain Eren pergi dari kamarnya.
"Aku sedang tidak menemukan alasan apapun untuk bangkit." jawab Laras kemudian. Dia masih terbaring dengan posisi yang sama. Mengingat lagi dua hari terakhir, sosok lain Eren juga melakukan hal yang sama. Mengawasi dan menjaga ketika Laras tengah mulai tertidur setelah tangisannya.
Laras meratapi tempat dimana sosok Eren ataupun sosok lain Eren mengawasinya dalam diam. Memperhatikan dan mengingat setiap detail dari kedua sosok milik Eren tersebut. Rasa sakit kembali mendera dirinya dalam keheningan. Sakit dikala mengingat sosok lain Eren yang terjatuh ke lembah kesengsaraan. Dimana satu per satu helai sayapnya tercabut dan terbakar menjadi abu keemasan yang menghilang tertelan kegelapan. Di tambah bayangan lain yang muncul. Itu adalah insiden kecelakaan yang melibatkan banyak jiwa orang tua dan anak-anak yang kini bersemayam dalam dirinya. Bagaimana tawa riang dalam kecelakaan itu berubah menjadi luka yang mendalam bagi banyaknya keluarga korban jiwa dari kecelakaan itu.
Pandangannya berputar. Tubuhnya terasa lemas. Sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan, Laras bermaksud pergi ke dapur untuk sekedar makan sedikit makanan yang masih tersisa dari semua kejadian tidak terduga yang di alaminya.
Langka pertama, Laras sudah terhuyun dan membuat sosok lain Eren harus menahan sosoknya agar tetap mampu untuk berdiri.
"Terima kasih.." ujar Laras mencoba duduk kembali di ranjangnya. "Aku hanya ingin mengambil beberapa makanan di kulkas."
"Aku akan menyelesaikan apa yang menjadi alasanku tetap hidup sampai sekarang!" Dia menatap mata sosok lain Eren. "Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini..."
"Itu pilihanmu dan menjadi tanggung jawab mu dikemudian hari."
"Ya!" Laras tersenyum memaksa.
Tenaganya terkuras habis dengan semua kesedihan yang ia rasakan semenjak kematian kakek dan neneknya dengan cara yang tidak dia sangka. Kini kakek dan neneknya telah dikuburkan dan Laras hanya bisa mengunjungi mereka di makamnya.
__ADS_1
Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Laras sudah bersekolah seperti biasa. Mengantar susu dan koran seperti biasa dan menjalani hari-harinya yang jauh berbeda dari hidupnya yang dulu.
Semenjak pagi itu, sosok Eren tidak pernah muncul lagi. Seakan kehadirannya memang tidak pernah ada semenjak awal, sosok Eren menjadi ambigu dalam ingatan beberapa orang yang pernah mengenalnya.
"Sudah berapa jiwa yang keluar dalam sebulan ini?" Zara memulai pembicaraan mereka tanpa memandang adanya orang lain disekitar mereka.
"Tiga jiwa perempuan muda." jawab Laras. Dia membuka buku tua bersampul hitam miliknya. Melihat tiga halaman dibuku itu yang kini sudah terisi dengan data dari jiwa yang telah berhasil dia dan Aksara hantarkan dalam perjalanan terakhirnya.
"Apa kau sudah memikirkan semuanya?" Zara meyakinkan. Melihat bagaimana Laras memaksakan dirinya beberapa hari terkahir, membuatnya dan Aksara tidak punya pilihan lain.
"Tentang apa?"
"Perasaanmu yang sebenarnya?"
Laras termenung. Setelah kepergian kakek dan neneknya, dia merasa kalau dirinya hanya tinggal seorang diri di dunia ini. Tidak ada yang mampu mengerti akan sedihnya. Akan dukanya. Dia merasa dunianya sudah tidak memiliki harapan apapun sampai keputusannya untuk menyelesaikan tugasnya dan menghilangnya sosok Eren dalam kehidupannya.
"Perasaanku yang bagaimana?"
"Tentang sang penjaga?"
Laras tersenyum lirih. Ada dua hal yang membuatnya bimbang akan perasaan yang dimilikinya terhadap sosok lain Eren, sang penjaga atau pun sosoknya sebagai Eren. Itu adalah rasa bersalah yang dimiliki ingatannya sebagai bayi perempuan dengan bandana pink-nya dan satu rasa yang tumbuh entah karena kesedihannya dikala itu atau itu memang rasa yang ia punya terhadap sosok Eren bagaimanapun itu.
"Aku tidak berani memastikannya." Laras menatap keluar jendela ruang kelasnya. Membiarkan angin semilir yang masuk menerpa wajahnya. Menikmati cahaya mentari yang sedang bersinar dengan teriknya. "Entah kemana dia pergi saat ini?"
__ADS_1
Mendengar ucapan seperti itu keluar dari Laras, sosok lain yang memperhatikan dari sudut ruangan hanya bisa tersenyum dengan sayap tulang belulang yang menempel dibalik punggungnya. Dia mengepakkan sayap tulang belulangnya lalu melesat secepat kilat dan menghilang dari pandangan mereka yang berkemampuan melihat sosok sejatinya.
...***...