
Laras baru saja merebahkan tubuhnya pada kasur di kamarnya. Dia melempar tas yang barusan di bawanya lalu memeluk bantal guling itu sejenak.
Segera menyadari dirinya, gadis itu langsung membuang bantal itu lalu kembali masuk ke kamar sebelahnya. Dia menyalakan lampu kamar yang ada disebelah kasur bernuansa pink itu. Menatap seluruh isi kamar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sampingnya.
Dimana cermin itu tengah menunjukan bayang tubuhnya yang tertutup bayang hitam dari bagian pinggang sampai atas kepalanya. Dia mendekati bayangan dirinya pada cermin. Menampakan senyum manis yang sama dengan bayangan yang dipantulkan oleh sisi cermin.
"Apa kabarmu?!" gumam gadis itu.
Dia berbalik menatap ke arah belakangnya. Menampakan sesosok bayang hitam yang tiba-tiba mengepul membentuk bayangan seperti wujud manusia tanpa wajah dan wujud yang jelas apakah itu sosok perempuan ataupun laki-laki.
"Kenapa kau melakukan ini?!" tanya sosok bayang itu dengan tenangnya.
"Hukuman untukmu!" jawabnya tersenyum senang penuh kepuasan.
"Hukuman?" sosok itu nampak kebingungan. "Hukuman apa?! Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu?!"
"Siang itu....." gadis itu langsung menatap jengkel. "Kehadiranmu benar-benar menganggu ku!!!"
Tangan itu terhempas kasar. Melemparkan kepulan asap kehitaman yang menyerupai jarum, suara pecahan kaca jendela langsung menggema memenuhi ruangan itu.
Sosok bayang hitam yang kini berwujud menyerupai bentuk manusia itu tetap tidak bergeming dari tempatnya. Dia menatap lurus-lurus meski tidak memperlihatkan wujud mata pada sosok yang kini ditampilkannya.
"Lalu apa yang kau dapatkan dengan melakukan semua ini?!"
"Lihatlah, apa yang bisa aku lakukan mulai besok!"
Gadis itu menantang sosok dihadapannya. Tatapannya nampak tidak biasa terhadap sosok yang kini berusaha menyentuhnya.
"Hentikan apapun itu!!"
"Menghentikannya?" gadis didepan sosok bayang menyerupai wujud manusia itu menyeringai. "Kalau kau mampu melakukannya!"
Kembali dia menghempaskan tangannya. Mengeluarkan kilatan petir keunguan dan dihempaskan nya pada sosok dihadapannya itu. Petir itu menyambar-nyambar dan mengikat setiap jengkal sosok dihadapannya. Namun sosok itu tetap tidak bergeming.
Sedetik setelahnya, sosok bayangan seperti wujud manusia tanpa wajah dan tanpa wujud yang jelas itu, menghilang dari pandangan. Membuat bayangan gadis itu terduduk kesal dengan memukuli kasur yang didudukinya berkali-kali.
"Menyebalkan!" gertaknya.
Kali ini hal yang dilakukannya membuat lampu tamaran yang menyala dikamar itu menjadi berkedip-kedip kemudian padam. Menyisakan kegelapan yang paling gelap setelah kepulan asap hitam keluar dari gadis itu dan melayang memenuhi ruangan berukuran 3x4 m tersebut.
Perlahan kaki itu tertutup oleh asap hitam yang menelan seluruh isi ruangan. Membuatnya nampak mengapung pada dimensi yang ditunjukan oleh kepulan asap hitam yang keluar dari tubuh sang gadis.
//
__ADS_1
Sementara itu disebuah jalanan setapak batu bata merah, Aksara tengah menghela nafas untuk kesekian kalinya. Disamping Aksara berjalanlah sesosok jiwa muda yang menatapnya dengan heran.
"Apa anda mempunyai masalah?" tanya gadis itu.
"Entahlah!"
Aksara merespon setelah menutupi matanya yang silau karena terkena cahaya matahari yang menyela disela-sela dahan pepohonan yang ada disepanjang jalanan setapak batu bata merah itu.
"Kalau begitu, boleh aku bertanya sesuatu pada anda?" tanyanya kembali dengan kesopanan yang masih sama seperti ditunjukannya pertama kali.
"Tentu saja boleh," Aksara menjawab lagi. "Anda ingin bertanya apa?"
Pemuda itu memusatkan perhatiannya pada sosok gadis yang kini tersenyum dengan ramahnya.
"Apakah anda sudah mempunyai pacar?"
Pertanyaan itu membuat Aksara terdiam sejenak. Dia memperhatikan kembali gadis itu dengan seksama.
"Aku menyukai anda sejak pandangan pertama!" ujar gadis itu lagi dengan polosnya.
Semakin bingung dengan apa yang telah terjadi di hadapannya, Aksara sejenak menghentikan langkahnya. Menatap langit dan menunjukan wajah yang tanpa ekspresi.
"Apakah anda tidak percaya pada hal saya katakan?" gadis itu benar-benar terus terang. Membuat Aksara akhirnya tersenyum dengan leluasa.
"Anda ingin saya menjelaskannya?"
Gadis dihadapannya tersenyum dengan lebih cerah lagi.
"Apa anda tau bagaimana perasaan itu?"
Aksara menatap mata gadis itu dengan santai. Lagi pula, Aksara berpikir dirinya hanya akan bertemu satu kali dengan jiwa yang diantarkannya ini. Begitulah takdir jiwa yang melewati jalanan setapak batu bata merah itu. Satu kali kesempatan untuk melepaskan semua sisa beban kehidupan yang masih dipikul oleh setiap jiwa.
"Itu adalah perasaan yang menyenangkan!" kata sang gadis.
Dia menunduk lalu menendang-nendang udara dihadapannya.
"Dan perasaan itu hanya terjadi satu kali dalam hidupmu...."
"Satu kali?" Aksara menegaskan.
"Ya! Hanya satu kali." Gadis itu menatap dengan ceria. "Perasaan itu hanya muncul satu kali dalam setiap kehidupan manusia! Seperti perasaan yang sekarang saya rasakan pada anda!"
Aksara terdiam lagi. Kemudian menepuk lembut kepala gadis dihadapannya yang semakin membuat wajah gadis itu memerah.
__ADS_1
"Terima kasih!"
Gadis itu tersenyum dengan air mata menetes pada salah satu ujung matanya. Kebahagian meluap. Memberi suasana yang begitu hangat pada jalanan setapak batu bata merah.
Nyiur angin semilir menerbangkan beberapa helai dedaunan merah keemasan dan beberapa kelopak bunga lily lembah melayang-layang dihadapan Aksara bersamaan dengan menghilangnya sosok jiwa yang diantarnya pada jalanan ini.
Aksara kembali dibuat tersenyum. Perasaannya tiba-tiba ikut menghangat seperti tempat yang dipijaknya.
"Dramatis!"
Sosok Eren membuka tudung berwarna merah maroonnya dan menatapi sekeliling jalanan setapak batu bata merah yang sudah lama tidak menyajikan pemandangan sehangat itu.
"Setiap jiwa itu berharga!" jawab Aksara sekenannya.
Tapi itu adalah kenyataan. Setiap jiwa adalah sesuatu yang berharga untuk kehidupan. Setiap jiwa mempunyai takdirnya, pilihan hidupnya, dan setiap jiwa mempunyai kesempatan yang sama dalam memperbaiki kehidupannya.
"Bagaimana?"
Aksara merespon hal lain yang terpikirkan olehnya. Dia nampak biasa saja setelah dipergoki dengan keadaan yang bisa dibilang terlalu melow untuk sesosok laki-laki.
"Aku tidak dapat menemukan sosoknya dimana pun!"
"Kemana bayang hitam itu membawa Rein!"
"Bagaimana mungkin?!" gumam Eren.
Eren memutar kembali ingatannya. Mengingat sosok bayang hitam tanpa wujud yang mengusiknya lalu membuatnya harus kehilangan Rein tepat didepan matanya.
"Kenapa sejak saat itu sampai sekarang jiwa Rein tidak terlacak?!"
Eren dan Aksara saling menatap. Wajah keduanya langsung serius dan melemparkan serangan pada gumpalan awan gelap yang muncul secara tiba-tiba dibelakang kedua sosok pemuda itu. Dengan sambaran kilat berwarna keunguan yang berkutat disekitar gumpalan awan gelap itu, serangan Eren maupun Aksara langsung lenyap begitu saja.
Keduanya akhirnya menghadap ke arah gumpalan awan gelap itu. Bersiap melakukan pergerakan dan serangan lainnya kalau-kalau sosok gumpalan awan gelap itu menyerang secara tiba-tiba.
"Aku ingin membunuh kalian!" suara itu keluar dengan nada kemarahan. Sebuah suara yang terdengar seperti suara dari putaran suara kaset yang telah rusak, serak, bergema, dengan stereo yang membuat suara itu terdengar cukup menyeramkan.
Eren dan Aksara bersiap. Memasang tatapan yang siap menghalau apapun yang menyerangnya. Tetapi sebelum sempat melakukan serangan, gemerincing guguran bunga lily lembah mengusik pendengaran keduanya. Memecah kesunyian dan kehangatan yang sempat terjadi dalam lembah dan membawa hembusan dedaunan berwarna merah keemasan mengitari gumpalan awan gelap tersebut lalu lenyap dari pandangan kedua pemuda bersamaan dengan runtuhnya semua kegaduhan kecil yang sempat terjadi.
Sekali lagi, Eren dan Aksara bertukar pandang. Berusaha meraih kearah hilangnya gumpalan awan gelap itu, kedua pemuda tersedot dan terjatuh pada salah satu kamar dari rumah yang ditinggali Laras dan Rein.
"Kenapa harus disini?!" ujar keduanya bersamaan.
...***...
__ADS_1