Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah : Paralel Dunia kematian


__ADS_3

Laras tengah mengusap matanya. Sudah berkali-kali Laras berusaha memejamkan matanya, namun dia selalu harus kembali membuka matanya dan menatap sekitarnya dengan rasa jengkel.


"Apa mungkin kejadian itu adalah dua hal yang nyata?"


Laras mengacak-acak rambutnya. Dia membuang pandangannya ke seluruh sudut kamarnya. Memperhatikan setiap detail kamarnya yang tidak berubah sama sekali sejak terakhir kali ia mengingat bagaimana tatanan kamar yang diberikan kakeknya pada Laras di usia 7 tahun.


"Bukankah harusnya kamar ini tidak angker?!" gumamnya.


Laras berjalan menuju meja belajarnya. Memainkan telunjuknya pada setiap barisan buku yang berdiri sejajar dihadapannya. Buku-buku pembelajaran dan beberapa buku bacaan lain yang dihadiahkan kakek dan neneknya saat mereka masih hidup. Kembali album yang sempat di buka oleh Laras beberapa hari yang lalu menghentikan lajur jari telunjuknya. Menarik album itu dan membukanya kembali. Membuka halaman foto dengan pemuda bertopi yang ikut nimbrung dengan foto keluarga Laras.


"Siapa?" gumam Laras.


Laras memutar balik badannya dan mendapati tiga mahkluk bersayap berdiri menatapnya. Yang paling didepan adalah Zara. Mengenakan dress rajutan berwarna merah maroon berkerah tinggi sampai ke leher, Zara menatap penuh dengan kendali. Matanya berbinar-binar cerah dengan bola mata berwarna merah keemasan. Sayap berbulu hitam siap mengepak dan mendepak apapun yang menghalangi kepakan sayapnya.


Di belakang Zara, ada Aksara dengan wajahnya yang sedikit malas. Seperti tidak kuasa menahan tingkah teman didepannya. Mengenakan pakaian serba hitam dengan sayap kelelawar hitam, matanya menyiratkan kilat warna kemerahan yang sama. Namun berbeda dengan Eren, dia berdiri dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Matanya ingin menatap Laras, namun enggan karena pikirannya yang sedang meragu dengan tindakannya.


Eren berdiri dengan mengenakan jubah berwarna abu-abu yang gelap. Tudung jubahnya terbuka dan menunjukan wajahnya yang sudah terbalut oleh tengkorak dengan hanya terbungkus kulit putih pucat yang membuatnya nampak menyeramkan. Ditambah kilat matanya yang berwarna hitam keemasan, sosok Eren nampak lebih menyeramkan ketika sayap berupa kepulan asap hitam pekat itu melayang-layang dibelakang punggungnya.


"Adakah yang mau menjelaskan sesuatu padaku?"


"Hey kau!" ucap pertama Zara.


Melihat Laras tidak terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya, Zara meyakini kalau Laras tidak kehilangan ingatannya sama sekali. Hanya mungkin perlu dipulihkan kembali.


"Ini!" Zara mengacungkan sebuah buku tua bersampul hitam dengan gambar sayap berwarna emas pada bagian depan sampulnya. "Didalamnya ada sesuatu yang perlu kau tau?"


"Apa?"

__ADS_1


"Semua hal yang aku tanyakan padamu?" Zara menegaskan saat Laras hanya menatapnya dengan tatapan penuh yang tanpa makna. Keduanya saling bertukar pandang dengan tidak jelas apa maksudnya.


Membuat Eren tiba-tiba maju dan menghentikan Laras untuk mengambil buku yang terjulur kearahnya.


"Kau menginginkan ini?!" mata Eren berkilat sekali. "Tunjukan siapa dirimu?!"


"Untuk apa aku menunjukan diriku?" jawab sosok Laras bermata biru keemasan. "Aku membutuhkan buku itu!"


Giliran sosok Laras yang mengacungkan tangannya untuk meminta Eren menyerahkan buku tua bersampul hitam dengan gambar sayap berbulu emas pada sampul depannya.


"Untuk apa?" Aksara maju mengimbangi berdirinya Zara. Posisi kini berubah, Eren berada paling depan tepat dihadapan sosok Laras.


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan apapun! Kesadaran ku akan diambil kembali!"


"Oleh siapa?" satu tangan Eren langsung mencengkram tangan sosok Laras dihadapannya.


Sosok itu menyadari, tidak mungkin ia bisa dipercaya begitu saja, namun lebih baik menyampaikan apa yang sangat ia butuhkan disaat dia bisa mengambil kesadarannya daripada tidak menyampaikan hal apapun sama sekali.


"Kenapa kami harus melakukannya?!"


Zara menatap tidak suka. Berbeda dengan Aksara dan Eren yang merasa permintaan itu tidaklah sulit untuk mereka lakukan. Tapi mereka memang memerlukan alasan yang bagus untuk melakukannya. Kalau hanya sekedar mengikuti permintaan mahkluk yang tidak jelas asal usulnya, mereka tidak akan mau melakukan apapun.


"Demi pemilik tubuh ini!"


Sosok itu menatap lekat. Memastikan kalau jawaban yang ia berikan akan memberikan respon yang ia harapkan bagi mereka bertiga untuk mau melakukan apa yang menjadi permintaannya. Permintaan yang hanya bisa dilakukan oleh salah satu dari mereka bertiga. Mata biru keemasan itu berkilat sejenak. Menampakan bayangan gelap yang menyapu pandangannya. Membuatnya menyadari, keberadaannya akan kembali terbenam pada kesadaran terburuknya.


Eren memegang tangan Laras dengan kuat, membuat gadis itu merasakan sebuah kemarahan pada sosoknya.

__ADS_1


"Dimana Laras?!" cengkraman tangan itu semakin kuat dan menyakiti. Mata biru keemasan itu berkilat sekali lagi. Kilatan yang menghitamkan kembali bola mata itu. Menenggelamkan mata biru keemasan dalam dunia dimensi kegelapan.


Laras terpaku dengan menatap satu persatu dari mahkluk dihadapannya. Namun hanya beberapa saat, ketiga mahkluk itu menjadi tidak terlihat oleh Laras. Matanya berkedip sekali dan bola matanya berubah menghitam.


Zara dan Aksara langsung bertukar pandang dengan perubahan Laras. Berbeda dengan Eren, dia terpaku dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangan mungil gadis dihadapannya. Tangan yang mulai tidak tersentuh oleh tangannya. Dan tangan yang mulai tidak merasakan lagi akan kehadiran dirinya pada ruangan tersebut.


Laras yang tiba-tiba tidak merasakan apapun, lalu berbalik pada tempat tidurnya dan merebahkan dirinya. Matanya terkadang berkilat kehitaman dan tersirat warna biru keemasan didalamnya.


Apa yang mau aku sampaikan sudah lebih dari cukup!


Sosok lain bermata biru keemasan pada mata Laras memejamkan matanya bersamaan dengan Laras yang membiarkan dirinya tertidur setelah apa yang menganggu pikirannya.


Matanya terlelap. Namun dalam gelap dari matanya yang terlelap, seberkas cahaya muncul dan menyita pandangan Laras. Membuat gadis itu berjalan pada sebuah jembatan kayu yang tanpa ujung. Jembatan itu hanya menggantung pada pegangan tali di bagian kanan dan kirinya. Kabut menutupi sepanjang jarak pandangnya. Dan yang terlihat dimata Laras kini, hanya satu demi satu bagian jembatan yang menjadi penopang kakinya untuk terus melangkah maju.


Cuaca dingin berhembus. Membuat tubuh itu bergidik karena hembusan angin yang menyisir sampai kebagian selip rambut belakang telinganya. Laras menggosokkan kedua tangannya, melepaskan tangan itu dari pegangan disamping kanannya. Jembatan bergoyang hebat. Membuat Laras kembali berpegangan untuk bertahan dari guncangan jembatan yang dilaluinya.


Tangan itu terus memegang kuat, meski setiap bagian yang menopang jembatan telah jatuh satu persatu ke bagian bawah. Melihat bagaimana curamnya jurang dibawah kakinya, rasa takut menyerang Laras. Membuat gadis itu gemetar sesaat, sampai giliran papan kayu yang menopang dibawah kakinya yang terjatuh yang membuatnya tergantung dengan berpegangan erat pada tali yang menjadi pegangan jembatan yang sudah rapuh itu.


Laras berteriak lirih meminta pertolongan entah pada siapa. Namun suara tidak bisa keluar dengan baik. Ada sesuatu yang mencekat dalam tenggorokannya. Sedari awal menyadari dirinya berada di jembatan itu, Laras hanya seorang diri. Dan kegelapan yang menyapu dibelakang punggungnya, membuat Laras terpaksa berjalan menyeberangi jembatan. Jembatan yang pada akhirnya membuat Laras harus bergelantungan pada seutas tali tambang yang mulai rengat. Satu persatu pemintalan pada tali tambang itu terputus. Menyisakan serabut yang semakin banyak dan membuat tali tambang itu menjadi semakin tidak kuat menopang berat tubuh Laras.


Pada detik-detik terakhirnya sebelum terjatuh ke jurang dibagian bawahnya, Laras menyadari sesuatu yang ia lupakan. Sebuah jalan berupa jembatan kayu yang menghantamkan tubuhnya kebagian bawah dan dilindungi oleh sosok berjubah dengan wajah yang setengahnya terlihat seperti topeng tengkorak. Kupu-kupu hitam yang sama muncul dan siap menyerang kearah pegangan tangan Laras yang mulai tidak lagi berharap pada seutas tali tambang yang sudah rengat itu.


Laras melepaskan pegangan tangannya. Membiarkan tubuh itu tertelan oleh kegelapan dibawahnya dan terjatuh kedalam jurang curam yang sepertinya tanpa dasar itu.


Tubuh Laras melayang jatuh dengan kecepatan yang tinggi. Memikirkan kematian menghampiri, jiwa Laras bermata biru keemasan bangkit. Menerima dan membiarkan tubuh itu terhempas jatuh ke bawahnya. Menikmati kegelapan dan kupu-kupu hitam menerjang kearahnya dengan begitu ganas.


Kedua tangan itu mengulur. Menyambut kegelapan dan kupu-kupu yang menerjang kearahnya dan membiarkan pemilik tubuh itu diselimuti kegelapan dari kupu-kupu hitam yang menggerogoti semua bagian tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2