
Hujan gerimis memulai pagi yang terasa semakin dingin. Sudah tiga hari lamanya Laras tidak masuk sekolah karena sakitnya. Selama tiga hari itu, sang nenek merawat Laras dengan sangat telaten seperti biasanya. Sang kakek selalu melihat keadaan Laras setiap beberapa jam sekali. Senyum dan tawa kedua orang tua itu membuat Laras merasa nyaman juga terluka. Dibenaknya teringat jelas bagaimana ekspresi dari Aksara dan Zara terhadap permintaannya. Sementara sosok sang penjaga nampak enggan menunjukan ekspresinya disudut itu. Dia hanya tetap pada kediaman dan keheningannya yang entah disadari oleh dua mahkluk lainnya itu atau tidak.
"Aku sudah lebih baik kek," jawab Laras begitu sang kakek mendekatinya dengan membawa dua kantong kresek yang penuh terisi banyak bungkusan.
"Kakek letakkan disini." ucap sang kakek kemudian berbalik dan bersiap melangkah keluar dari kamar itu.
"Ini dari siapa kek?"
Laras tertegun. Dia menatap sosok lain yang menyusul dibelakang sang kakek.
"Dia teman sekelas mu." jawab sang kakek. " Kakek akan ke dapur melihat apa yang nenekmu buat untuk sarapan. Kamu, silahkan temani Laras."
"Terima kasih." jawaban itu keluar dengan nada yang sangat sopan. Berbeda dari sosok dirinya yang biasanya. Yang selalu berusaha mengganggu Laras di setiap waktu yang ia miliki. Atau lebih tepatnya sosok sang penjaga yang kali ini sama sekali tidak menampakan dirinya.
Dia Eren. Mengenakan seragam sekolah, Eren seharusnya sudah disekolah pada jam ini.
"Kamu bolos?" tanya Laras pertama.
"Sekolah atau tidak, memang berpengaruh?"
Laras mengerutkan alisnya. Sejenak melupakan bagaimana sosok diri Eren yang sebenarnya.
"Mungkin karena sakit, aku jadi linglung." Laras bergumam lalu mempersilahkan Eren duduk di kursi belajarnya. "Maaf, sedikit berantakan."
"Sepertinya sudah lebih baik." kata Eren setelah coba mengukur suhu tubuh Laras.
"Hmm" Laras mengangguk kecil lalu membenarkan duduknya karena singkuh dengan tindakan Eren barusan.
Ada sejenak keheningan di ruangan itu. Laras tidak tahu apa yang harus ia katakan pada sosok pemuda didepannya ini. Dia melirik bawaan yang tadi diletakkan kakeknya.
"Terima kasih untuk bawaannya." ucap Laras kaku.
Tidak banyak bicara, Eren tiba-tiba mengusap-usap kepala Laras.
__ADS_1
"Lain kali, mau jalan-jalan?" tawarnya.
Laras semakin tertegun dengan ajakan Eren itu. Hanya dengan satu tindakan dan kalimat itu, sudah membuat Laras bersemu merah. Sakitnya langsung sirna dan badannya terasa panas karena bersemangat.
"Bukannya kamu harus sekolah?" sang kakek menegur sopan. Menyuguhkan teh pada Eren dan menatap Eren dengan cara yang aneh. "Oh, tidak." ucap sang kakek lagi. "Kalian berteman?"
Pertanyaan itu ia ajukan pada Laras. Menjawab dengan menganggukkan kepala, Laras mengiyakan pertanyaan sang kakek.
"Syukurlah." ujar sang kakek tenang.
"Silahkan anda menikmati waktu dengan cucu anda." ujar Eren sopan. "Saya undur diri untuk kesekolah."
Kakeknya Laras hanya mengangguk kecil. Membiarkan Eren keluar dari kamar itu dan meninggalkan rumah mereka dalam damai. Sepeninggal Eren dari rumah tua itu, sang kakek duduk dengan santai disamping Laras. Menyambut kakeknya dengan senang hati, Laras seketika memeluk sang kakek.
"Bagaimana kalau kita piknik di bukit belakang sekolah?" Laras menyiratkan mata yang berbinar-binar. Seolah dirinya seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu yang hebat dalam hidupnya.
"Benar. Sudah lama kita tidak melewati waktu untuk bersama." sang nenek tertawa kecil memasuki ruangan itu dengan sukacita.
"Aku akan menyiapkan semuanya hari ini..." Laras bangun dari duduknya. Ketika akan beranjak mengambil jaket untuk dirinya, Laras melirik tas bawaan Eren kepada dirinya.
"Semuanya sudah siap?" tanya sang kakek setelah melihat isian dari tas yang dibawa oleh Eren untuk cucunya. "Ayo kita menyiapkan diri." Sang kakek menggandeng nenek dengan bergembira. Sepanjang jalan menuju kamarnya, mereka nampak membicarakan hal yang menyenangkan untuk keduanya.
Laras tersenyum pilu. Dia melirik kembali kedalam tas bawaan Eren itu. Melihat semua isiannya lagi. Dan mengingat semuanya dengan suka cita.
"Aku pasti membenci hari ini di esok hari!" gumam Laras lirih. Dia mengusap sedikit air matanya yang keluar diujung matanya.
Sepanjang perjalanan ke bukit belakang sekolah, Laras berjalan sambil menenteng 2 tas bawaan Eren ditambah satu tas ransel berisi kompor listrik dan alat panggangan. Sementara sang kakek dan nenek berbincang santai didepan Laras dengan bergandengan tangan.
"Haaah...." Keluh Laras kesekian kalinya. Padahal baru sepuluh menit perjalanan. Rasanya semua bawaan itu cukup berat dipundaknya. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya merasa sangat sehat setelah kedatangan Eren tadi dan dengan semangatnya mengajak kakek dan neneknya untuk berpiknik di bukit belakang halaman sekolah.
"Aku bantu membawa ini!" Eren sudah menarik dua tas bawaannya dari tangan Laras. Dia tersenyum santai lalu berjalan santai didepan Laras.
"Saya boleh ikut dalam rencana kalian hari ini?! Sekolah pulang lebih awal ternyata." ujar Eren ditujukan pada pasangan lansia dihadapannya. Kakek dan nenek Laras hanya menjawab dengan anggukan kecil kemudian tersenyum menyambut bergabungnya Eren dalam rencana piknik keluarga itu.
__ADS_1
"Anggap saja ini semua kencan." Eren memainkan matanya pada Laras yang nampak seperti orang bodoh dalam perjalanannya.
"Siapa yang mau kencan denganmu!"
"Aku membayar banyak untuk hari ini." kata Eren mengangkat du kantong plastik bawaannya untuk Laras. "Jadi mau tidak mau dan suka tidak suka, hari ini jadi kencan pertama kita."
Laras tersipu malu dengan tingkah Eren kali ini. Benar-benar bukan Eren yang biasanya. Laras bahkan dibuat lebih malu lagi ketika tidak segan-segan Eren merangkul kan tangannya pada bahu Laras.
Bisakah ini dianggap sebagai kencan? Atau lebih tepatnya piknik keluarga. Memikirkan itu Laras merasa semakin bersemu merah. Jantungnya berdebar kencang dan melupakan hampir semua kesedihan dan kegundahan hatinya tentang kakek dan neneknya.
Di hamparan padang rumput luas diatas bukit, Eren tertawa lepas mengingat Laras lupa membawa tikar untuk alas mereka duduk. Dirinya sampai harus kembali turun kesekolah untuk mengambil tikar dan langsung membawa naik mobilnya keatas bukit sekolah.
"Aku benar-benar lupa akan ini..." Laras segera menggelar tikar itu. Menyiapkan kompor dan panggangan untuk memasak daging iris yang disiapkan Eren untuk acara piknik kali ini.
"Lupakan! Kita harus cepat membuat makanan! Aku sudah lapar." Eren kembali dengan santai menepuk-nepuk kepala Laras. Membuat jantung Laras semakin merasa berdebar tidak karuan. _Rasanya wajahku panas_ batin Laras. Dia menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan diri. Untuk kembali mengatur ritme jantungnya yang dirasa tengah keluar dari jalurnya.
"Hari ini, biarkan kami yang melakukan semuanya untuk anda."
"Baiklah." sang kakek tersenyum. "Panggil saya kakek juga tidak apa, nak." tambah sang kakek lagi. Eren tersenyum simpul. Lalu dirinya dan Laras sibuk dalam memanggang beberapa daging iris, brokoli, tusukan daging ayam dan beberapa sayap ayam. Setelah menikmati beberapa panggangan yang menurut mereka sedikit keasinan, kakek dan nenek memilih untuk mengistirahatkan diri mereka dibawah pohon perindang yang dekat dengan tempat mereka piknik.
"Mau berjalan-jalan sebentar?" tawar Eren melihat Laras yang menatap sendu ke arah kakek dan neneknya.
Laras mengangguk kecil. Dia bangkit dari duduknya dan membiarkan semua peralatan masak itu berantakan diatas tikar yang digelarnya. Tanpa mengatakan hal apapun, Eren menyuguhkan satu tusuk sayap ayam bakar pada Laras ditengah perjalanan mereka menuju pucak bukit paling tinggi.
"Makanlah. Sepertinya kamu sangat menyukainya." Eren mengusap-usap bagian lehernya. Sikapnya sedikit salah tingkah. Begitu juga dengan sosok lain Eren yang tiba-tiba muncul dan bersemu merah. Laras melirik kemudian menunduk pelan.
"Terima kasih untuk semuanya hari ini..." ujar Laras mendahului langkah Eren setelah berhasil menghabiskan sayap ayam bakar yang diberikan padanya.
"Jangan sembarangan melangkah!" Eren menghentikan langkah Laras dengan menarik tangannya. Menggenggamnya dan membiarkan dirinya membimbing langkah Laras untuk berikutnya. Beberapa langkah menuju puncak bukit, Eren menghentikan langkahnya. Laras yang tidak menyadari itu langsung menabrak punggung Eren dengan cukup keras.
"Ouch!" desis Laras. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Laras mendongak menatap ke hadapannya. Nampak hal tidak biasa didepan mereka. Bukan lagi puncak bukit yang menyajikan keindahan alam sekitarnya, melainkan sebuah pintu gua kelam yang dikenal Eren sebagai satu-satunya jalan menuju lembah abu-abu.
"Kenapa muncul disini?" Laras bermaksud menyeimbangkan posisinya dengan Eren tetapi dihalangi oleh sosok lain pemuda itu. Sang penjaga kini berdiri didepan Laras. Seakan menjadi tempat Laras untuk menyembunyikan dirinya dari hal yang mendesis dihadapan mereka.
__ADS_1
......***......