
"Sudah seribu tahun sejak hari itu..." gumam sosok lain yang baru beberapa saat lalu mendarat disebelah si pemuda dan sang gadis. Sosok pemuda itu menutup kepak sayapnya ketika menyadari tindakannya membuat air danau terombang-ambing tidak tenang.
"Ya!" jawab si pemuda menerawang. "Entah kali ini pertemuan kami yang ke berapa! Kami selalu mengakhirinya dengan kematian ku sebagai sosok manusia!"
Si pemuda mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.
"Bagaimana mungkin ada kejadian seperti itu?! Aku hanya tidak menyangka, sampai saat ini kalian telah keluar masuk dunia lembah berkali-kali!"
Menunjuk sebuah buku tua bersampul hitam kemerahan yang tergeletak disamping tangan kanan sang gadis, si pemuda menjawab kesal.
"Setiap kali buku sialan itu terbuka, aku akan terlahir kembali menjadi manusia yang entah disudut bumi yang mana! Lalu begitu aku bisa menemukannya, kematian selalu datang menjemputku." jawabnya kesal. "Aku seperti terkendali oleh buku sialan itu!"
"Sejak kapan ada buku takdir seperti itu dan sejak kapan semuanya menjadi seperti ini?!" sosok lain itu memperhatikan lagi kedua sosok dihadapannya.
"Aku tidak menyadarinya!" jawab si pemuda. "Saat tersadar dari dasar danau, dia sudah tidak ada. Dan begitu menyadari semuanya, aku harus mati berkali-kali setiap kali aku yang sebagai manusia berhasil melihat dan menemukan sosoknya ditengah-tengah lautan manusia." jawab si pemuda yang masih tetap merangkul sang gadis.
"Selama seribu tahun terakhir, aku sama sekali tidak menyadari keberadaan kalian. Baru kali ini aku melihat pergolakan disini, dan baru ingin memeriksanya."
Dengan setelan jas serba hitam dengan dasi merahnya, sosok lain itu berjongkok dihadapan keduanya. Menyentuh kening sang gadis dengan jari telunjuknya. Belum sampai benar-benar menyentuh bagian kulitnya, tangan itu terpental karena tersengat oleh kilatan petir merah kehitaman yang keluar dari dahi gadis itu.
"Kutukan lembah?" seru sosok lain itu. Dia menatap si pemuda dengan penuh tanya.
Si pemuda menghela nafas sembari mengangguk pelan.
"Bagaimana mungkin?"
"Aku tidak tahu apa yang dia lakukan sampai harus menerima kutukan itu."
__ADS_1
Nampak sedikit kesal namun juga sedang menerka semua kemungkinan dari pecahan ingatannya akan kejadian didasar danau tempatnya tersadar kemudian menghilang dan terlahir sebagai manusia, si pemuda berusaha mengeluarkan kekuatannya yang dia sadari sudah tersegel entah sejak kapan dan entah karena hal apa.
"Apa mungkin karena buku ini?!"
Sosok lain itu lalu terpaku pada buku disamping kanan sang gadis. Mengambilnya dengan enteng, dia melupakan kekesalan dan kalimat si pemuda akan buku tua bersampul hitam kemerahan itu. Membuka halaman buku tua bersampul hitam kemerahan itu, sosok lain itu langsung terdiam kaku menyadari kesalahan yang telah ia perbuat tanpa ia sadari.
Si pemuda yang belum sempat mencegah tindakan sosok lain itu langsung menghilang begitu saja dari hadapannya. Meninggalkan tubuh sang gadis tergeletak di tepi dermaga bersama sosok lain yang langsung menepuk jidatnya sendiri setelah menyadari apa yang dia lakukan.
"Padahal baru saja dia katakan! Kenapa aku begitu ceroboh!"
Awalnya sosok lain itu bermaksud menutup buku tua bersampul merah kehitaman itu, namun akhirnya membiarkan buku itu tetap terbuka begitu menyadari adanya tulisan takdir pada halaman buku itu.
"Ini!!!" serunya.
Belum selesai membaca tulisan takdir pada halaman buku yang terbuka, buku tua beserta sang gadis juga menghilang dari pandangannya. Membuat sosok lain itu kebingungan dengan hal yang dialaminya.
"Kenapa harus mereka berdua???" gerutunya. "Kalau sudah mereka, hal apapun yang terjadi sepertinya tidak pernah berjalan sesuai aturannya!"
Sosok lain itu menatap ke arah langit diseberang danau. Tengadah sebentar untuk menikmati terpaan angin dan sinar mentari yang menembus langit lembah itu, sosok lain itu mengingat beberapa baris tulisan takdir yang ada diantara dua sosok yang baru saja menghilang akibat kesalahannya sendiri.
"Aku akan memikul beban tambahan lagi kalau berurusan dengan permasalahan mereka..."
Sosok lain itu lalu menghilang ditengah-tengah dermaga bersamaan dengan munculnya sosok lain yang menatap kepergian sosok bersayap itu dengan senyuman penuh makna.
"Kali ini, aku tidak akan melepaskannya!" ujarnya dengan sorot matanya yang tajam. Sosok itu berupa kepulan asap yang melayang-layang namun memiliki wujud yang samar-samar terlihat dibalik senyum dan tatapan tajam itu.
Sosok berupa kepulan asap itu kemudian menyusur arah menghilangnya sosok lain bersayap itu dan terbang bersamaan dengan kepulan awan mendung yang melintasi diatas danau. Sosok itu membaur bersama sekumpulan awal yang membentang diatas langit danau tersebut.
__ADS_1
Diiringi suara burung yang berkicau resah, hawa gelap langsung mematikan beberapa tanaman yang tumbuh disekitaran dermaga tersebut.
//
Sementara itu, disebuah dasar lembah terapung yang hanya ada satu rumah dengan pohon sebagai pondasinya, sang gadis tergeletak seakan tidak sadarkan diri dengan buku tua bersampul hitam kemerahan menindih sebagian wajahnya.
Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan menerpa kulit wajahnya yang tidak tertutupi bagian buku dan membawa kesadaran gadis itu kembali perlahan.
Pada pandangan awalnya, dia merasakan sesuatu yang menyilaukan mata dan disaat yang bersamaan, dia merasa sangat melelahkan. Tenaganya seperti terkuras habis oleh hal yang tidak ia ketahui.
"Buku ini terbuka lagi...." desah sang gadis.
Mencoba memindahkan buku tua bersampul merah kehitaman itu dari wajahnya. Dia lalu terduduk dengan susah payah. Memulihkan tenaganya yang menghilang padahal ia baru saja tersadar. Dengan berpangku pada satu tangannya, dia membaca tulisan pada buku tua bersampul hitam kemerahan itu meskipun tulisan itu masih terlihat samar-samar olehnya.
*Bunga matahari disudut jalan itu menunjukan keindahannya saat aku kembali bertemu dengan sosoknya. Sosok yang sudah lama membuang ku tetapi disaat yang bersamaan juga merangkul ku ke dalam pelukannya*
*Disaat yang bersamaan pula, angin mulai mengusik ketenangan pepohonan berdaun merah keemasan. Semua dedaunan itu berguguran dengan menyisakan ranting pohon yang tetap kokoh ditempatnya. Suara gemerincing memenuhi ruang lembah dengan sedih.*
*Pertemuan akan terulang kembali. Kematian akan datang berkali-kali. Semuanya merupakan tulisan. Semuanya merupakan takdir. Semuanya adalah pilihan*.*
Sang gadis mendesah sembari menghela nafas. Dia melihat lagi ke sekelilingnya. Melihat semua sudut tempat yang ia tinggali beberapa ratus tahun terakhir.
"Kali ini, kapan dan dimana aku harus menjemput jiwa dari pemilik buku ini??" ujar sang gadis melepas jubah merah maroon yang dikenakannya.
Meninggalkan jubah itu begitu saja disamping buku tua bersampul hitam kemerahan yang sudah tertutup rapat. Satu benang merah tersulam pada pinggiran jubah itu dengan membentuk simpul ikatan dengan lambang omega. Ini sudah barisan ke 100, tetapi sang gadis tidak menyadari hal itu sama sekali.
...***...
__ADS_1