Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Hukuman sang Penjaga


__ADS_3

Tubuh itu terhuyun lemah ditengah guyuran hujan yang begitu deras. Cuaca malam itu begitu dingin dan menyiksa bagi yang melewati malam di bawah guyuran air hujan yang sama dinginnya dengan cuaca yang sedang berhembus. Dia baru saja berjongkok dan berteduh pada emperan toko yang dilewatinya.


"Kenapa tiba-tiba bisa turun hujan di cuaca sedingin ini!!" keluhnya sembari menggigil.


Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dibawah emperan toko yang tidak terlalu luas. Sesekali dia melihat ke sekitarnya. Berharap ada yang melewati tempat itu untuknya bisa meminta bantuan.


"Kenakan ini, nak!" suara parau dan satu tangan tua keriput memberikannya sebuah jaket tebal berwarna hitam pekat. Sekilas bayangan terbesit pada ingatan gadis itu. Tangan tua keriput dan pemiliknya yang membuat hatinya bergetar dengan hebat.


"Ambilah nak!" suara parau lainnya yang lebih lembut ikut menyuarakan keinginannya. Itu menandakan yang satunya adalah sesosok perempuan.


Dia mendongak melihat pemilik dua suara parau yang di dengarnya itu. Sepasang orang tua, kakek dan nenek yang semua rambutnya susah memutih. Berdiri dibawah payung biru yang nampak begitu luas untuk keduanya, mereka sudah memakai jaket tebal berwarna hijau army yang pekat. Bahkan ditengah remang-remang hari yang sudah mulai malam, warna itu masih terlihat mengkilat di pandangannya.


"Gunakan ini nak! Kami membawa lebih untuk berjaga." ucap sang kakek.


Setelah memperhatikan kedua orang tua itu, gadis itu tanpa berpikir panjang lagi langsung menerima jaket yang diberikan kepadanya.


"Akh! Baik. Terima kasih."


Dia memakainya buru-buru dan mengangkat bagian kerah jaket yang baru dipakainya tinggi-tinggi untuk menutupi bagian wajahnya dari guyuran hujan dan cuaca dingin yang terus berhembus.


"Mau pulang ke rumah, nak?!" tanya sang nenek. Gadis itu segera mengangguk. Angin berhembus kencang, sang nenek membungkuk ke belakang sang kakek yang masih berdiri dengan baik ditengah cuaca ekstrem yang tiba-tiba terjadi.


"Terima kasih untuk jaketnya. Hari sudah mulai gelap, anda berdua segeralah pulang! Cuaca juga sedang tidak baik." ucapnya sopan. Dia menyadari ini salah satu bentuk pertolongan baginya.

__ADS_1


Bukan maksudnya untuk meminta segera kedua kakek nenek itu untuk pergi setelah pertolongan yang mereka berikan, namun cuaca memang sedang tidak bersahabat. Hujan yang begitu deras ditambah angin kencang dan cuaca yang dingin. Tidak baik bagi siapapun untuk berlama-lama diluar rumah dalam cuaca seekstrem malam ini.


"Kamu juga segeralah pulang. Jangan terlalu lama berdiam diri disini. Nanti keburu malam dan sedikit kendaraan yang bisa kamu temui."


Dia mengangguk pelan. Lalu membungkuk sejenak ketika kedua orang tua itu beranjak pergi dari tempatnya berdiri


"Kenapa harus seperti ini lagi sih!" gumamnya. "Sudah dua kali aku dijatuhkan dalam keadaan hujan deras dan badai seperti ini!"


Dia menarik masuk ingusnya yang terasa akan keluar ditengah cuaca dingin dan hujan deras yang terus mengguyur daerah itu. Wajahnya nampak pucat. Bibirnya mulai membiru karena kedinginan. Tangannya mulai mengembang dan rambut panjang berponi dibawah alis itu sudah basah kuyup.


"Hukuman apa ini?!" keluhnya.


Dia tengadah ke bagian tepi emperan toko yang meneteskan air hujan dari bagian atapnya yang sedikit. Menatap setiap butiran air hujan yang jatuh dan membasahi wajahnya. Lagi-lagi tubuhnya merasakan kedinginan. Dia mengatur nafasnya perlahan. Mencoba merasakan aliran kekuatan dalam dirinya, dia berbalik dengan tujuan ingin menghilang. Lalu menyadari bahwa seluruh kemampuan yang ia punya sudah tidak ada satupun.


Dia memandangi kedua tangannya. Merasakan dingin dan tangannya juga nampak pucat karena kedinginan. Dia menyadari sepenuhnya. Hukumannya sebagai penjaga bukanlah terlahir kembali ke dunia sebagai manusia. Tetapi menjalani kehidupannya sebagai manusia.


Dia memasukan telapak tangannya pada saku jaket dan mendapati beberapa lembar uang didalamnya. Dia berbalik lagi untuk melihat kakek dan nenek yang tadi masih berjalan menggunakan payungnya menuju jalanan turunan itu.


Dia bermaksud menyusul kakek dan nenek itu untuk mengembalikan uang yang berada pada saku jaket yang diberikan padanya. Namun begitu berbalik, mereka susah tidak ada dijalanan turunan yang cukup terjal itu. Dia benar-benar melihat seluruh bagian jalanan. Namun tidak ada rumah atau tempat tinggal disekitaran jalanan itu kecuali satu emperan toko yang dia gunakan untuk berteduh saat ini.


"Kemana menghilangnya mereka?!"


Gadis itu tertegun ketika tiba-tiba sebuah dua cahaya lampu menyorot dari bawah jalanan turunan itu. Sebuah mobil putih melewati tempat itu menuju ujung tanjakan. Mobil yang sangat ia kenali siapa pemiliknya. Karena dulu beberapa kali, dia pernah berada didalam mobil itu bersama pengendaranya.

__ADS_1


Mobil itu melewatinya. Bayang sosok pengemudi itu menyita perhatian sang gadis yang kini semakin menurunkan wajahnya pada kerah leher jaket yang digunakannya tinggi-tinggi. Pemuda dibalik kemudi itu masih orang yang sama. Dengan senyum dan tawa yang sama.


Namun dia yang duduk disebelah si pengemudi membuat gadis itu menatap dengan seksama. Gadis dengan senyum manja yang berhasil membuat si pengemudi jatuh hati padanya.


"Memang apa yang sudah terjadi tidak ada artinya..." ucapnya menggigil kedinginan.


Mobil itu berlalu diujung tanjakan. Berbelok menuju jalanan yang dia kenali sebagai jalan tanjakan tempat tinggalnya dulu bersama kakek dan nenek yang merawatnya ketika dia terjebak dalam ingatan gadis 2 tahun sampai sosoknya beranjak remaja. Dia termenung dengan cahaya lampu pada rumah diujung tanjakan yang tiba-tiba berkedip-kedip seperti akan mati.


"Apakah ini merupakan satu kebaikan dari Mu!"


Gadis itu tersenyum. Dia melangkah ditengah hujan yang perlahan mulai gerimis tidak sederas ketika ia mendapat pertolongan pertama dari dua orang tua yang memberikannya sebuah jaket yang kini ia kenakan.


"Terima kasih!" dia tengadah ke langit sejenak. Lalu memaksakan langkahnya pada cuaca dingin ditengah hujan gerimis itu.


Dia melangkah pelan. Melihat lagi mobil yang berhenti diujung sebuah toko yang dulunya tempat itu adalah sebuah post koran dan penjual susu yang menjadi tempatnya bekerja mencari uang. Kembali dia menghentikan langkahnya saat melihat si pengemudi mobil membukakan pintu mobil pada gadis disebelah kemudinya. Memayungi wanita itu, kemudian masuk ke dalam toko yang telah berubah menjadi sebuah tempat makan kecil pada komplek perumahan itu.


Sejenak sebelum si pengemudi menutup payungnya dan bersiap masuk ke dalam, dia melihat langkah sang gadis yang tertahan ketika mengetahui pengemudi mobil itu menoleh kearahnya. Si pengemudi bermaksud memberikan payung itu pada sang gadis. Namun gadis itu segera berlari melintasi tempat itu pada sisi lain mobil itu.


Pandangan si pengemudi tidak lepas dari gadis yang sebagian wajahnya tertutup oleh kerah jaketnya itu. Ada getaran yang membuatnya merasa mengenali sosok gadis yang berlari itu dengan baik. Rambut basah yang terkibaskan ketika ia berlari, membuat si pengemudi menatap dan membandingkan gadis yang sedari tadi bersamanya.


"Eren! Ayo duduk!" ajak gadis dalam rumah makan itu.


"Ya!" jawab si pemuda. "Tunggu sebentar." jawabnya menutup payung berwarna biru itu.

__ADS_1


Menggantungkannya pada gantungan di pintu luar rumah makan itu, lalu masuk kedalam untuk duduk dan menikmati makanan yang disajikan tempat makan itu.


...***...


__ADS_2