Abu-Abu

Abu-Abu
Mimpi dan Kenyataan yang sama


__ADS_3

Mata itu memancarkan kemarahan dan kepedihan yang begitu dalam. Disaat yang bersamaan hawa seram langsung menyeruak dan menyergap Laras dalam kegelapan. Seperti terjatuh kedalam lubang yang sangat amat dalam berkali-kali. Laras merasakan tubuhnya terguncang hebat begitu membuka matanya. Dalam heningnya suasana yang menyambut pengelihatan matanya, Laras terdiam dalam keheningan. Hari begitu larut malam itu, tapi mimpinya bertemu dengan sosok Eren yang berbeda membuat Laras terjaga sampai pagi dihari itu.


Sosok Eren yang berbeda dalam mimpinya menyita seluruh pikiran Laras dijam pelajaran sekolahnya. Ditambah dengan ketidak hadirannya hari ini. Hal itu membuat Laras benar-benar merasa bahwa mimpinya semalam adalah hal nyata yang dialaminya.


Tapi kenapa sosoknya nampak begitu menyakitkan??  Bhatin Laras memperhatikan satu meja kosong didepannya. Tatapannya menerawang. Seakan ada hal lagi-lagi ia lupakan tentang hari kemarin. Hari setelah ia berbelok dipersimpangan jalan yang berjarak beberapa meter dari rumah Alm. Kakek Tito.


“ Tugasku adalah membawamu pada kematian… ”  gumam sosok berjubahmerah maroon dimeja samping Laras. Sosok itu terus saja memperhatikan setiap gelagat sang gadis. “ Bagaimana aku harus melakukannya? ”  sosok berjubah itu menghembuskan nafasnya perlahan sebelum sosok itu lenyap dari sisi Laras.


Hal itu membuat Laras langsung merasa merinding. Sejenak melirik kearah sampingnya dengan ngeri, Laras melihat jelas sesosok bayang bertopeng tengkorak manusia disebelahnya. Walau hanya sekilas, Laras mampu merasakan kesedihan yang sama seperti kesedihan yang dilihat dan dirasakannya dalam ingatan mimpinya semalam.


“ Eren… ” gumam Laras seketika. Kepedihan mendera Laras seketika. Ada hal tak biasa yang tidak bisa ia mengerti datangnya. Dadanya mendadak merasakan sakit dan sedikit sesak sepanjang hari itu.


Bahkan diperjalanan pulangnya, Laras kembali berusaha melakukan hal terakhir yang diingatnya dihari kemarin. Dimana ia memutar ulang kejadian saat ia memutar balik arah laju sepedanya. Dengan sedikit rasa gamang ia mengingat apa yang dipikirkannya sepanjang perjalanan. Apa yang ia lewatkan disore kemarin setelah beranjak menjauhi rumah Alm. kakek Tito.


Hal itu Laras lakukan berulang-ulang. Setiap harinya sepulang sekolah. Ada hal yang benar-benar harus ia ingat tentang sore itu. Tentang sorenya yang berubah menjadi mimpi. Mimpi yang menunjukan sosok Eren yang berbeda. Sosok Eren yang sudah seminggu ini tidak masuk sekolah sejak Laras memimpikannya hari itu.


Ckiiiiiiiiiit!!!


Suara rem itu membuat Laras tiba-tiba terbayang sosok Eren yang sepertidimimpinya. Ada hal yang seakan terhapus dibenak Laras tentang sore yang cukup panjang dihari itu. Mimpikah semua itu? Atau memang dirinya hanya melakukan hal-hal biasa sehingga dengan mudah ia melupakannya.

__ADS_1


“ Aku selalu takut jika kau mengetahui ini. ” ujarnya. “ Kau mungkin akan membenci atau mungkin menjauhiku. ”  Seakan terbawa hembusan angin, suara itu bergema nyaring ditelinga Laras.


Hembusan angin semilir mengitari Laras yang terdiam dipersimpangan jalan. Tempat dimana mimpinya yang terasa nyata itu terjadi. Bulu kuduknya merinding perlahan namun ia mengabaikannya. Laras kembali berusaha mengingat hal sekecil apapun yang mungkin terlewatkan olehnya disore hari kematian kakek Tito.


“ Apa kau mencariku? ” sebuah suara menyambut Laras diarah sampingnya. “ Apa kau berusaha keras mengingat hari itu? Lupakanlah! Aku tak ingin kau mengingatnya. ”


Membuka sisi jubah yang menutupi sebagian wajah itu, sang pemuda tidak lagi menatap kearah Laras yang tertegun dengan pandangannya. Dia tertunduk dibalik topeng tengkoraknya. Matanya menunjukan kesedihan. Penyesalan. Kekecewaan. Dan ada begitu banyak kemarahan dan kebencian juga didalamnya.


“ Eren??? Apa itu kau?? ” berbicara dengan dirinya sendiri, Laras meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya dibangku sekolah siang ini.


“ Apa kau membenci diriku yang seperti ini? ” tanya sosok lain Eren yang masih terdiam disamping pandangan menerawang sang gadis kearah depannya.


Hembusan angin terasa menusuk kedalam kulit. Dan mendung tiba-tiba membawa suasana menjadi semakin randu bagi Laras dan sosok lain Eren yang sedikit demi sedikit mulai menampakan dirinya dengan cukup jelas didepan mata Laras.


Laras kaget akan pandangannya yang tiba-tiba melihat sosok yang begitu menyeramkan kini berdiri dihadapannya. Berusaha menenangkan diri dengan berpura-pura tidak melihat sosok yang kini menatapnya dengan penuh kekosongan, Laras mencoba mencari jalan untuk bisa menjauh dari sosok yang sedari tadi enggan melepaskan tatapan mata itu dari sosoknya.


“ Mampukah kau mengenaliku saat ini…??? ”  suara itu bergema pelan dan terdengar sangat dalam bagi Laras.


Laras menatap dengan pandangan cukup menerawang dengan pendengarannya. Ketakutan semakin memenuhi ruang tubuhnya ketika tangan tua keriput itu menahannya. Awalnya sentuhan itu terasa sedingin es yang membuat Laras merinding seketika. Tapi Laras mulai menyadari sentuhan itu menghangat secara perlahan.

__ADS_1


“ Apakah aku akan mati hari ini? ” dengan gemetar Laras mengucapkan kalimat itu lalu menatap dia yang menahan tangannya. “ Benarkah hari ini kau datang untuk menjemputku? ”


Mengangkat wajah itu dan menatap lekat mata sang gadis, dia membiarkan sepasang mata itu menelisik setiap detail dari dirinya. Membiarkan sang gadis melihat seberapa menakutkannya sosoknya kini. Dengan detail tulang tengkorak yang menjadi bagian dari setengah tubuhnya, sosok Eren yang berbeda perlahan mundur dan menampakan sosok yang lain lagi  yang terkadang membuatnya harus kehilangan kesadarannya.


“ Benarkah hari ini aku akan mati? ” Laras menatap tidak percaya dengan takdir yang tiba-tiba mendatanginya. “....disini?? ” air matanya langsung membendung dipelupuk mata. Kesedihan menjalar disekucur tubuhnya, memenuhi ruang hati danpikirannnya.


“ Maukah kau ikut denganku? ”


“ Aku tahu garis hidup dan mati sudah ditentukan sejak kita terlahir… Jika memang sudah waktunya, kau tak harus memaksa karena aku pasti akan datang sendiri padamu. ” ucap Laras ditengah ketakutannya. Bendungan air mata itu sudah tidak tertahankan dan jatuh membasahi pipinya.


Sudah sejak lama Laras menyadari kematian selalu datang bagi siapapun yang telah terlahir kedunia. Karena itu, dia yang bisa melihat kematian tengah menghampiri seorang, hanya bisa berdiam diri dan mempelajari kematian itu dengan caranya sendiri. Tapi takdir kematiannya sendiri bagaikan seribu tanda tanya untuknya yang tiba-tiba mengemban tugas untuk mengantarkan beberapa jiwa yang bersemayam didalam tubuhnya.


“ Aku hanya bisa membawamu jika kau ingin ikut denganku… Laras… ”


Suara itu terdengar sangat lembut bagi Laras. Bahkan Laras merasa mengenali suara itu dari seorang yang ia kenal. Sebelum sosok itu sirna begitu saja dari sisinya, Laras pun sempat merasakan sosok itu bukan sosok yang asing baginya.


“ Apa-apaan tadi itu? ”


Seakan semua hal yang terjadi hanyalah sebuah ilusi ditengah hari yang sudah mulai gelap, Laras terdiam mengingat sosok yang sepintas ia kenali. Senja sudah turun saat Laras menengok kearah belakangnya. Lampu penerangan jalan pun sudah menyala satu persatu dari ujung jalan sampai ketempatnya terdiam kini.

__ADS_1


“ Tidak mungkin itu Eren… ” gumam Laras yang langsung menyapu pandangan kesekelilingnya. Mencari sosok yang tiba-tiba saja menghilang setelah menampakan sosoknya dengan begitu jelas.


***


__ADS_2