Abu-Abu

Abu-Abu
Sosok Lain Aksara


__ADS_3

Bermaksud menghindari Eren dengan menuruni anak tangga. Kini langkahnya sudah melewati beberapa anak tangga. Laras mempercepat langkahnya dan secara kebetulan Laras kembali hampir terjatuh kelantai dibawahnya dari ujung tangga atas. Laras terperanjat dan tersandung kaki dari sosok Aksara yang tiba-tiba muncul dengan pakaian serba hitam diujung tangga tempatnya melangkahkan kaki.


“ Jatuh lagi!!! ” seru Laras terkejut.


Aksara membalik badannya cepat dan menarik bagian pinggang Laras. Membuatnya seolah Laras mampu menyeimbangkan diri dan akhirnya berdiri dengan baik disamping sosok Aksara yang nampak cukup cuek dengan hal yang terjadi karena dirinya itu.


Laras kaget. Dipegangnya tangan yang melingkar dibagian pinggangnya itu. Dirinya sudah memastikan telah menerima bantuan dari sosok yang hampir membuatnya jatuh dari tengah-tengah ujung tangga tersebut. Menatap Aksara yang cukup cuek, Laras akhirnya benar-benar mampu menguasai keadaan dirinya.


“ Tunggu! ” ujar Laras menahan tangan Aksara.


Sosok Aksara terdiam heran. Terlihat kaget, dia memperhatikan betul tangan Laras yang menahan tangan kirinya yang tengah membawa sebuah buku tua bersampul hitam miliknya. Sosoknya kini berpaling dan menatap Laras yang sempat menatap kearahnya dengan gamang dan rasa tidak percaya. Tapi akhirnya Aksara memilih menunduk dan perlahan melepas pegangantangan itu dari tangan kirinya.


“ Anu… loe harusnya minta maaf. ” ucap Laras setengah yakin dengan maksud dari kata-katanya itu.


Aksara menyimak. Dia benar-benar meyakinkan diri kalau sosok Laras memang melihat dirinya dan tengah berbicara langsung pada dirinya. Bahkan Aksara coba meraih bagian bahu Laras untuk memastikan lagi kalau sekarang mereka memang sedang saling melihat dan menatap satu sama lain.


Ya. Saat tangan Aksara ingin meraih bahu itu, Laras sedikit mengelak dan menatap heran.


Aksara meyakinkan dirinya kalau Laras memang melihat sosoknya kini. Dirinya yang tengah mengenakan pakaian serba hitam dengan sayap tulang belulang dipunggungnya. Dirinya yang tengah membawa jam pasir berwarna hitam pekat ditangan kanannya. Dan dirinya yang tengah membawa sebuah catatan kematian dari seorang yang baru saja ia antarkan menuju perjalanan terakhirnya. Dirinya yang bukan berseragam sekolah. Dan dirinya yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh sosok manusia seperti Laras.

__ADS_1


“ .. Bukan, maksud gue, karena tiba-tiba lo muncul, gue hampir jatuh. ” sambung Laras yang tetap setengah yakin dengan apa yang ia katakan.


Gusar dan kebingunganantara dirinya harus minta maaf karena tersandung kaki Aksara oleh keteledorannya sendiri, ataukah Laras harus berterima kasih karena sudah ditolong oleh sosok Aksara yang muncul secara tiba-tiba dianak tangga itu. Laras menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


“ Makasih udah nolongin gue! ” ucap Laras akhirnya.


Tidak merespon apa-apa terhadap sosok Laras yang kembali tengah menatapnya, Aksara mengangguk ragu. Maih tidak percaya dengan sosok Laras yang memang bisa melihat sosoknya kini. Sosoknya yang tanpa penyamaran sebagai seorang teman sekelasnya.


“ Sekali lagi,…. ” Laras tidak melanjutkan kalimatnya.  Dia termenung dengan pemandangan yang dilihatnya. Dimana sosok Aksara dengan  pakaian serba hitamnya juga menunjukan hal yang cukup membuat Laras menjadi kaku seketika. Lidahnya kelu untuk melanjutkan kalimatnya. Menelan ludah, Laras memalingkan pandangannya dari sosok Aksara.


“ Apakah gue sudah mati?? ”  bhatin Laras menyadari sosok Aksara yang tidak biasa kini tengah berdiri dihadapannya.


" Hmm. "  Laras menuruni anak tangga dengan pikiran yang cukup kosong. Pandangan mata yang sangat kebingungan dan terlihat sangat shock.


Gue masih hidup!! Gue belum mati. Dan gue belum dijemput oleh malaikat maut atau sejenisnya bukan?! Laras mencubit pipinya sendiri dan merasakan sakit yang membuatnya benar-benar yakin kalau dirinya masih hidup. Kalau Eren memang sudah menolongnya saat hampir terjatuh dari balkon. Dan Aksara pun sudah membantunya agar tidak terjatuh dari ujung tangga kelasnya. Aksara yang punya penampilan yang benar-benar aneh dibenaknya.


Laras mengingat lagi pertemuan mereka disemak-semak sekolah hari itu. Hari dimana ia menemukan buku tua bersampul hitam yang dijatuhkan oleh sosok Aksara dengan pakaian serba hitamnya. Sayap tulang belulang dipunggungnya yang hampir terlihat seperti ranting dari tanaman merambat disekelilingnya dan karena hal itu Laras tidak menyadari kalau sosok Aksara hari itu sama seperti sosok Aksara yang dilihatnya hari ini.


“ Apa kamu bisa melihatku? ” Tiba-tiba Aksara sudah berdiri lagi dihadapan Laras yang terlihat masih gamang dengan keyakinan dirinya sendiri.

__ADS_1


Laras melihat. Meyakinkan diri kalau sekali lagi, Aksara secara tiba-tiba sudah berada dihadapannya. Aksara yang berbeda. Yang lebih terlihat seperti malaikat kematian bukan seorang siswa sekolah sama seperti dirinya. Pandangan itu tiba-tiba menjadi sangat kosong. Ketakutan menyergap hati dan pikiran Laras.


“ Sejak kapan kamu bisa melihatku yang sekarang?? ” tambah Aksara dengan pandangan yang tiba-tiba menjadi sangat tegas.


Laras tiba-tiba terperosok dan berjongkok. Menutup telinga dan memejamkan matanya rapat-rapat. Suara gemerincing lonceng kecil terngiang ditelinganya. Semakin berusaha untuk tidak mendengar suara gemerincing itu, semakin terdengar jelas suara gemerincing yang seakan mengitari disekitarnya.


Aksara cukup terkesiap dengan apa yang disaksikannya. Bukan hanya kali ini, sebelumnya saat menjemput Pak Dirto pun, Aksara seakan melihat Laras berada dijalanan yang tidak seharusnya manusia bisa berada disana. Entah itu secara kebetulan atau tidak. Tidak pernah ada kebetulan seperti itu didunia setelah kematian. Karena jalan kematian seseorang hanya bisa dilewati oleh 2 mahluk. Jiwa dari mereka yang telah meninggal dan para pengantarnya menuju tempat terakhirnya. Seperti kali ini, harusnya Laras tidak muncul ditempat ini, apakah ini sebuah pengecualian???


Aksara mendongak ke langit. Menikmati dan merasakan hembus angin yang sangat berbeda dari biasanya yang selalu tenang dan berbau cemara. Kini semuanya sedikit berbeda. Terdapat wewangian lain dan suara gemerincing yang seolah mengalunkan sebuah lagu. Dirinya kembali menatap sosok Laras yang masih berjongkok dan menutupi mata juga kedua telinga dengan kedua tangannya.


Semakin jelas dan semakin banyak suara gemerincing yang terdengar, membuat Laras merasa harus menyadarkan diri kalau suara gemerincing itu hanyalah sebuah halusinasi. Kedua tangan yang menutupi telinga itupun ia lepaskan sembari menghela nafas. Matanya perlahan terbuka.


Terkesima. Laras tidak memalingkan pandangan dari keindahan yang dilihatnya .


Ada begitu banyak tanaman bunga putih berbentuk lonceng kecil disekitar tempatnya berdiri. Dan dari bunga berwarna putih kecil itulah  suara gemerincing itu terdengar. Hamparan tanaman bunga yang begitu luas membuat suara gemerincing yang dihasilkan terdengar sangat merdu. Diterpa hembusan angin yang semilir, suara gemerincing itu mengalun dengan indahnya. Saling menyusul dan seakan saling bersahutan. Membentuk alunan lembut yang benar-benar memanjakan telinga saat mendengarnya.


“ Siapa kamu sebenarnya? ”


Sosok Aksara membuyarkan kekagumannya. Menatap Laras yang memperhatikan setiap detail dari dirinya, kepakan sayap dari tulang dibelakang punggungnya sempat membuat Laras mundur beberapa langkah karena kaget.

__ADS_1


***


__ADS_2